Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
Bibirku dan Bibirmu


__ADS_3

"sayang, apa kamu keberatan jika aku mencium bibirmu?" bisik Hilman manja. Bulu kuduk Elea berdiri, nafasnya tak beraturan, darahnya mendidih dan jangan tanya tanya jatungnya kini berdetak tak normal. Elea hanya mengangguk, menginzinkan Hilman menciumi setiap jengkal tubuhnya jika perlu, ia kini siap menyerahkan seluruh tubuhnya untuk Hilman.


Kini Hilman dengan sigap mendekatkan bibirnya ke arah bibir Elea, Elea masih memejamkan matanya kini bibir Hilman menyentuh dengan lembut bibir Elea. Elea masih berusaha mengatur nafasnya, dengan sigap Hilman ******* bibir Elea semakin dalam dan semakin bernafsu, tangan Hilman memegangi kepala elea dan tangan yang satunya lagi memgangi pundaknya dengan nafsu yang membara Hilman ******* bibir Elea.


Elea mengimbangi ******* itu dengan lidah yang beradu tangannya melingkar dipundak Hilman yang sesekali menekan dan mengubah arah kepalanya, dua sejoli ini sudah melewati batas yang mereka buat sendiri. Elea menikmati setiap ******* Hilman meski ia tidak berpengalaman dalam berciuman tapi dengan bantuan Hilman ia memasuki puncak kenikmatannya.


Hilman sekali ingin menarik bibirnya namun dengan cepat Elea menekannya kembali. cukup lama mereka beradu ciuman hingga kini mereka menarik diri secara pelan-pelan, ciuman yang panas setiap gerakannya seakan membuat tubuh mereka terbakar.

__ADS_1


Elea memandangi Hilman tangannya masih melingkar di leher Hilman sedang Hilman melingkarkan tangannya dipundak mungil Elea jika saja ia tidak takut berbuat lebih jauh mungkin Hilman sudah melucuti gardigan Elea. Berkali-kali Elea mengecup bibir Hilman sambil tersenyum, dengan menggoda ia berujar " kamu mau melihat aku tanpa sehelai benang?" ucapnya genit.


Hilman tertawa sambil mengangkat tubuh Elea keatas meja, ia memegangi tangan Elea "jika saja aku sudah menjabat tangan ayahmu mungkin kau tak akan tidur semalaman." jawab Hilman. "yasudah ayo datang ke ayahku, jabat tangannya dan nikahi aku.


Aku siap melayanimu sepanjang malam disepanjang hidupku" Elea menjawab dengan penuh semangat. Hilman bergeming dengan jawaban Elea ia kembali teringat dengan ibunya tapi malam ini ia ingin menikmati malam bersama Elea, "kita jadi nonton atau kita dirumah saja bermesraan seperti ini,?" Tanya Hilman mengalihkan.


Elea dengan cepat melepas pelukannya ia lalu mengambil sepatu dan memakainya. "ayo, calon ibu anak-anakmu kini sudah siap kemanapun kau kan bawa" jawab Elea dengan nada manjanya. Ia menggandeng tangan Hilman. Mereka berboncengan bersama, Elea dengan erat memeluk Hilman tidak ada celah diantara mereka, seperti halnya manusia-manusia yang sedang merasakan mabuk asmara. Sesekali Hilman menciumi tangan Elea, sesampainya di bioskop mereka berdua mebeli tiket filem Romantis.

__ADS_1


"Aku tahu kamu terluka begitupun denganku tapi percayalah tak pernah ada takdir yang berkahir duka, akan Allah ganti kekecewaan kita dengan kebahagiaan" sang perempuan kini pergi meninggalkan lelaki itu di pelantaran masjid. Ia pasrah ditinggalkan kekasihnya,sedari awal ia sadar ia tak pantas buat perempuan tersebut.


Elea nangis sesegukan, Hilman menatapnya dengan penuh makna. Dialog tadi apa aku juga akan berkata seperti itu nanti kepada gadis yang sedang aku permainkan hatinya ini. Hilman kini ikut sedih, ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti perasaan Elea jika ia tahu ia bukanlah yang dipilihkan Allah untuknya.


Elea masih menangis sambil memegangi tangan Hilman, ia menatap Hilman seakan berkata jangan pernah tinggalkan aku. Hilman mengerti maksud tatapan Elea dengan lembut Hilman mencium tangan Elea dan berkata.


"aku mencitaimu, percayalah". Elea menyeka air matanya,mereka berdua keluar bioskop tak menghabiskan filemnya, ia kemudian bergandengan menuju tempat parkir, mengendarai motor lagi mereka masih mengelilingi kota malam itu hingga larut.

__ADS_1


Mereka kemudian singgah di angkringan, memesan nasi goreng dan teh hangat, mereka asyik bercerita hingga akhirnya telepon genggam Hilman berdering. Elea menatap layar Hp Hilman sebuah nama tertulis disana sedang memanggil Sarah, Elea sempat menatap Hilman dengan penuh tanya,Hilman kemudian menjauh sebentar dan mengangkat teleponnya. "bilang sama ibu saya akan pulang larut,"jawab Hilman kemudian menutup teleponnya.


Hilman kembali duduk disamoing Elea, seakan mengerti apa yang dipikirkan Elea dengan cepat ia menjelaskan "Sarah,keponakan ibuku ia yang selalu menemani ibu kalau aku tak dirumah". Jelas Hilman,Elea mengangguk dan melanjutkan makanannya meski ia sedikit merasa aneh dengan tingkah Hilman tapi ia selalu berharap Hilman jujur padanya.


__ADS_2