Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
Lamaran


__ADS_3

Elea memeriksa teleponnya,pagi tadi ia menolak panggilan dari Hilman karena sedang sibuk menyusun pembukuan. Ia memang kerap tidak menjawab telpon jika bukan jam istirahat, setelah istirahat ia kembali memeriksa telepon genggamnya tidak ada pesan dari Hilman, ia pun masih kesal tadi jdi ia enggan mengirimi pesan terlebih dahulu.


Andini mendekati Elea, ia menagih penjelasan kepada Elea malam ahad yangblalu ia pernah melihat Elea bersama seorang lelaki di kafe meski ia tak sempat menengur Elea karena ia buru-buru, sekarang saatnya ia bertanya. "sudah punya pacar rupanya," ungkap Andini curiga. "ia tepat sekali, ia adalah lelaki yang sangat mencintaiku" jawab Elea sedikit menyombong. "apa aku tahu siapa orangnya?" tanyanya lagi. "dia lelaki dipertigaan itu" jawab Elea berbisik.

__ADS_1


Andini menjerit sambil memegang mulutnya,ia sedikit memukul Elea ditangan sambil tersipu. "selamat yah sayang, kapan undangannya" tanyanya lagi karena ia tahu Elea tak akan membuang waktu untuk berpacaran lama-lama. "tunggu saja tanggal mainnya sayang" jawab elea menggoda. Andini masih tersenyumnia lalu meningalkan ruangan Elea dan kembali sibuk dengan pekerjaannya, pun Elea sama ia juga larut dengan pekerjaannya kembali.


Rombongan Hilman sudah sampai dirumah Sarah, ibu Hilman memperkenalkan paman dan istrinya kepada pak Madi abinya Sarah. "maksud kedatangan kami kesini ingin melamar Sarah pak imam, " terang pak made berterus terang. Pak madi sangat senang dengan kedatangan keluarga Hilman sudah lama ia menantikan tali persatuan ini. "saya menerima dengan sangat baik niat keluarga bapak. Tapi sebagai orang tua saya tentu tak punya keputusan sendiri, anak-anak yang akan menjalani hubungan ini jadi mereka lah penentu keputusan" jelas pak madi bijak.

__ADS_1


mendengar itu ingin rasanya Hilman bersuara tapi tak mampu bibirnya keluh, tak mungkin ia mempermalukan ibunya. Pak madi memanggil Sarah, dengan gamis berwarna merah muda polos dipadukan dengan jilbab segitiga besar dengan warna senada yang menutupi hampir seluruh gamisnya Sarah keluar dari dalam, membawa mampan berisi minuman dan kue hasil buatannya sendiri.


"Bagaimana menurutmu nak, apakah kamu menerima Hilman menjadi suamimu kelak?" tanya pak madi. "bismillah, abi saya ikutin maunya abi saja" jawab Sarah malu-malu. Alhamdulillah, terjadi kesepakatan kedua belah pihak. Pak made ingin segera menyegerakan pernikahan Hilman dan Sarah karena ia tidak bisa lama-lama meninggalkan tokonya.

__ADS_1


"mari kita bicarakan kapan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan, kita bikin acara sederhana saja. Akadnya dilaksanakan dimasjid saja, setelah akad kita adakan makan-makan dirumah kakaku. Begitu lebih baik kan pak imam" tanya pak made.


"iyya begitu saja, bagaimana jika pernikahannya hari Ahad saja ini seminggu lagi dri sekarang,kita hanya perlu mengurus surat-surat di KUA dan mengundang yang dekat-dekat saja." lanjut pak madi ayah Sarah. Semua sudah siap setelah pulang dari rumah Sarah, Hilman sibuk memperbaiki dapur dirumahnya, ibunya meminta tolong di angkat barang-barang kegudang. Dan Elea masih tidak mendengar kabar dari Hilman ia juga sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia sedikit teralihkan.

__ADS_1


__ADS_2