
Selesai makan Hilman dan para lelaki dirumahnya asyik mengobrol diruang tamu, Sarah dan para ibu-ibu membersihkan piring-piring dan menyimpannya. Sarah masuk kamar rasanya badannya remuk seharian ia melayani mereka bersalaman, malam ia menyiapkan makan malam. Sarah mengganti mengganti pakaiannya dan masuk kekamar mandi, kamar Hilman memang ada kamar mandi didalamya.
Ia mandi, sudah bercampur bau keringat dan bau bawang putih di badannya. setelah mandi ia hanya memakai handuk, menutupi bagian atas tubuhnya sampai ditengah pahanya saja. Rambutnya masih basah ia urai saja sambil menunggu kering. Ia berjongkok-jongkok membuka kopernya, masih belum sempat ia rapikan baju bawaannya dari rumah. Hasanah salah satu murid mengajinya yang membawaknnya tadi, memang sudah ia masukkan baju yang akan ia bawah kerumah Hilman tinggal diangkut saja.
Belum sempat Sarah berpakaian ia masih terus mencari piyama tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ia lupà mnguncinya tadi. Ia kemudian terduduk saking terkejutnya memegani handuk yang melekat dibadannya. Hilman buru-buru menutup pintu kembali dan menguncinya,ia tercengang dengan pemandangan yang ada didepannya kini.
Sarah wanita yang tak pernah ia lihat lekukakan badannya kini setengah badannya tak tertutup di depan matanya. ia lelaki normal, jantungnya berdetak kencang, sarah berdiri tadinya ia terkejut sekarang cuek melanjutkan pencarian piyamanya, ia masih menunduk dengan jelas Hilman melihat pahanya sepenuhnya.
Handuknya sedikit terangkat, kulit mulus dan putih Sarah membuat Hilman berkali-kali menelan air liur. Malam itu menjadi malam pertamanya, Sarah mungkin menyiapkan semuanya termasuk piyama malam pertamanya yang sejak tadi ia cari, namun Hilman masih enggan membuka hatinya. Masih ada Elea disana dengan semua cintanya.
__ADS_1
Semakin lama Sarah menunduk semakin terangkat handuk putih itu, Hilman mendekati Sarah bukan bermaksud apa-apa Hilman hanya ingin kekamar mandi ia juga ingin membersihkan diri. Bukannya Hilman tidak tertarik dengan Sarah, hanya saja rasa cintanya kepada Elea masih tak kalah dengan godaan tubuh ranum Sarah setidaknya begitu pikir Hilman, namun otak dan hatinya tak sejalan, baru saja Hilman berjalan kearah tepat dibelakang Sarah, aroma wangi tubuh Sarah membuat pertahanan Hilman goyah seketika, rambut sarah terurai panjang dan basah memacu jantung Hilman semakin tak karuan.
Tiba-tiba tangan Hilman memagang kedua lengan Sarah dan mencengkramnya dengan kasar, Sarah yang asyik menunduk sontak berdiri dan berputar arah kearah Hilman, ingin rasanya ia menjerit karena tekanan tangan Hilman namun ia tahan. Bukankah Hilman suaminya dan ia siap melayani setiap perlakuannya.
Dua mata itu tertuju sarah mendongak memandang Hilman dengan penuh cinta sedangkan Hilman memandang Sarah dengan penuh nafsu liar. Sarah tahu tatapan Hilman, ia tahu ia tak menemukan tatapan cinta di mata lelaki yang sudah menjadi suaminya ini. Ingin rasanya sarah berpaling namun, ia tahu kewajibannya sekarang adalah melayani suaminya.
Tak apa-apa menggoda suaminya dengan menjajal tubuhnya toh ia tak berdosa mungkin dengan begitu suaminya akan mulai pelan-pelan mencintainya. Sarah malu-malu, ia tak kuasa memandang Hilman terlalu lama ia kembali menundukkan pandangannya, namun Hilman dengan keras meraih dagunya. Pertahanan Sarah runtuh, tatapan liar Hilman membuatnya tak bisa berkutik. Ia hanya memandang wajah Hilman yang semakin seperti singa kelaparan.
kini Hilman sudah melucuti pakaiannya yang tersisa hanya celana pendek saja, Sarah meraung ia merasa tak siap diterjang tiba-tiba namun Hilman semakin ganas menciumi bibirnya. Sarah memegang erat-erat leher Hilman, ada kenikmatan setiap kali tubuh mereka bersentuhan hanya saja semakin ganas Hilman semakin merasa ia terintimidasi. Hilman mulai aktif, mulai menciumi kearah leher Sarah sampai meninggalkan bekas merah, Sarah merintih namun ia semakin dihujani ciuman. Bukan hanya bibirnya yang menjajal tubuh Sarah namun kedua tangan Hilman pun sudah sedari tadi menjajal setiap sudut subuhnya yang ranum .Kini handuk sarah sudah turun ke bawah, atasannya itu kini telah tak tertutupi.
__ADS_1
setelah puas menciumi leher bagian depan Sarah, kini Hilman membalikkan Sarah dengan keras ia mulai menciumi leher bagian belakang sarah, sarah kembali mencengkram seprai Hilman yang menyadari cengkraman sarah semakin menggila dengan ciumannya. Hilman ganas menciumi setiap jengkal leher bagian belakang Sarah hingga seluruh belakangnya, aroma tubuh sarah semakin membuat Hilman tergoda. Sarah kini pasrah ia menikmati setiap gerakan lidah Hilman, ada yang mulai basah dibagian bawah tubuhnya ia sabar meladeni setiap ciuman mendarat dengan
kali ini Sarah mulai bereaksi sebelum Hilman membalikkan badannya sarah sudah melepas seluruh Handuknya, ia menerjang Hilman yang ada diatasnya, ia meraih kepala Hilman ia menciuminya dengan penuh gairah. Bibir mereka kembali beradu, ia menciumi bibir Hilman semakin dalam ia memakai lidahnya dan hilman kini meladeni Sarah mereka berdua asyik saling beradu ciuman hingga tangan Sarah mulai menjajal bagian tubuh Hilman dengan lembut.
Hilman melepas ciumannya ia mengangkat tubuhnya ia tiba-tiba sadar bukan ini yang ia harapkan malam ini, namun sarah ikut bagkit memegangi Hilman dan memeluknya dengan lembut,Hilman luluh ia tahu kini ia sudah tak berdaya menahan gejolak di dalam dirinya. ia semakin bernafsu dengan suara lembut Sarah.
Kembali Hilman mendorong sarah keranjang kini sarah sudah siap melayani Hilman dengan penuh hasrat. Hilman kembali mencium Sarah kali ini sambil memainkan tangannya. tangan sarah menggenggam erat pundak Hilman. Hilman kini memasuki puncak keganasannya,. Semakin keras genggaman sarah semakin buas Hilman. Kini sarah tak tahan ia berkali-kali mencium bibir hilman dengan bergairah.
Nafas kedua pengantin baru itu saling beradu, Hilman semakin menggila ia beralih kebawah menciumi setiap jengkal tubuh sarah. Hilman melakukan setiap adengannya dengan kasar seakan melampiaskan kemarahan dalam dirinya yang tak tahu harus ia lampiaskan kemana.
__ADS_1
Sarah menikmati setiap gerakan Hilman seakan kenikmatan yang ia rasakan malam ini tak pernah ia rasakan lagi, Hilman semakin ganas menekan Sarah membuat sarah semakin terintimidasi. Sarah malam ini benar-benar puas dimalam pertamanya meski ia tahu Hilman tak menganggapnya beradu kenikmatan dengan orang yang dicintainya, ia hanya menyalurkan kelakia-lakiannya kepada sarah.