Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah

Elea Mencintai Diwaktu Yang Salah
Berlibur


__ADS_3

Seluruh hidup Elea berbah kecuali satu, ia masih mengandalkan go food soal makanannya. Ia memesan makan malam sederhana cuma es teh dan sepaket ayam krispi. Bagi Elea memasak adalah hal yang sulit dan tidak menyenangkan untuknya.Elea tiba-tiba teringat dengan Maryam teman yang ia temui kemarin apa ia sudah sampai di rumahnya. Maryam perempuan yang kurang beruntung dalam percintaan sama seperti dirinya. Ia akhirnya sadar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan menjadi sesuatu yang sangat spesial ketika di dapatkan, siapa sangka Maryam akan memiliki luka yang dalam karena sebuah pernikahan yang selalu orang-orang eluh-eluhkan akan membuatnya bahagia. "kenapa menikah jika hanya ingin menyakiti" gumam Elea sambil merebahkan badannya di sofa. Tidak ada yang akan mengira pernikahan yang mereka jalani akan membuat keduanya saling membenci. Bukankah mereka menikah ingin menambah kebahagiaan tapi tak jarang setekah menikah orang-orang yang dulunya bahagia berubah menjadi yang paling tersakiti. Pernikahan memang perjalanan kisah yang kompleks, dimana kita dituntut untuk selalu bisa menyatukan perbedaan. Menyatukan dua manusia yang berbeda, yang dibesarkan dan di didik di lingkungan yang berbeda, tiba-tiba dipersatukan dalam sebuah keadaan dan hidup bersama selama berpuluh-puluh tahun. Elea membayangkan saja sudah mumet, bagaimana ia tidak memiliki pikiran untuk menikah sekarang mungkin ia akan berubah pikiran tapi setidaknya ia tak tertarik menikah. Setelah merasakan kekecewaan yang teramat dalam ia sudah menutup rapat-rapat hatinya. Banyak lelaki yang sudah mendekatinya namun trauma akan masa lalu membuatnya menjadi wanita yang tidak mudah didekati.


Pagi itu Elea siap-siap ke Makassar, ia sudah janjian dengan Maryam, mereka akan bertemu di bandara. Elea sibuk mengemasi kopernya, ia tak lama hanya ingin sedikit menghirup udara lain di dunia ini. Kotanya sekarang sudah sangat sumpek. Ayah dan ibunya menelpon ia sebenanrnya ingin berlibur ke kota orang tuanya, tapi ia urungkan. Karena kali ini ia ingin melangkahkan kaki agak jauh ke timur. Elea sudah siap,taxi online sudah menunggu didepan ia hanya memakai gamis warna hitam dan hijab warna senada,tak lupa kacamata coklat mentereng ia sematkan. Elea mengunci rapat pintu pagarnya, ia kini sudah siap menghabiskan dua minggu liburannya di kota temannya.


Elea sampai di makassar pesawatnya mendarat dengan halus di bandara megahnya Makassar ,sudah ada Maryam disana melambai-lambaikan tangannya kepada Elea. Elea ikut melambai. Maryam tersenyum melihat Elea, wanita itu selalu ceria dimata Elea. Ia menenteng tas kecil Elea sementara Elea menarik kopernya. Tidak banyak bawaan Elea hanya tas jinjing kecil dan koper besar juga tas selempang mempercantik tampilan Elea.

__ADS_1


"bagaimana perjalanmu amanji?"ucap Maryam dengat logat Bugisnya. "iyya Alhamdulillah lancar semua,tidak nyangka yah aku sampai di sini juga". jawab Elea. "maaf yah Lea, Makssar memng begini mi macat sekali he" kata Maryam memohon pemakluman. Makassar memang salah satu kota provinsi yang kalau jam-jam siang siang macet. Roda perputaran perekonomiannya sangat baik sehingga mobilitas pertumbuhan penduduknya pun cukup tinggi. Maryam menjelaskan semua yang mereka lewati, hari ini mereka akan menginap di hotel ditengah kota sebelum Maryam membawa Elea ke kampungnya.


"lea, kita nanti malam ke pantai losari nah? Iconnya kota makassar itu," Ajak maryam, Elea yang sedang berada duduk di kasur hanha mengangguk. Ia masih oleng dan ingin tertidur sebentar. Elea terlelap ia bangun tatkala sore menjelang. Setelah mandi dan shalat ashar, ia dan maryam memutuskan jalan-jalan di kota Makassar. Ia menghabiskan sore itu dengan jalan-jalan ke mall Panakukang. Ela tak lupa mengabadikan momen jalan-jalannya bersama Maryam mereka sangat ceria, sore itu mereka putuskan menyudahi jalan-jalannya dan kembali ke hotel.


Malampun tiba, setelah shalat maghrib dan murojaah sebentar Elea dan Maryam melanjutkan perjalanannya. Mereka ingin kepantai losari dengan memakai grab mereka kemudian sampai di pantai losari, menikmati angin sepoi-sepoi makassar, menyelusuri pinggir laut dan memandangi lampu-lampu diseberang rasanya mengurangi sedikit penat Elea, ia belum pernah berlibur dan merasakan aroma angin laut seperti sekarang. Ia sedikit terhibur, Elea dan maryam juga tak lupa ke masjid 99 kubah icon kota makassar.

__ADS_1


Malam semakin larut mereka akhirnya menyudahi jalan-jalannya malam itu, besok pagi-pagi Mereka akan Ke kampung Maryam. Orang tuanya sudah menunggu mereka,katanya ibunya sudah memasakkan buras dan tape. Elea sangat antusias mereka pulang malam itu ke hotel dengan perasaan yang gembira.


Seperti biasa Elea selalu bangun d sepertiga malam, murojaah dan menunggu subuhan. Ia dan Maryam sudah mandi dan bersiap ke Rumah Maryam. 4 jam perjalanan memakai mobil dari pusat kota makassar ke daerah Maryam. Elea memilih tidur diseoanjang oerjalanan,ia hanya bagun jika pak supir singgah makan,.


Jam 10 pagi Elea dan Maryam sampai di desa kecil Maryam. Sudah ada Emma dan Ambo Maryam disana, Maryam menyalami mereka begitupun Elea. Ini adalah pertemuan kedua mereka dengan Elea, setelah dulu mereka bertemu saat wisuda kelulusan mereka.

__ADS_1


Elea terkesima, rumah panggung tua yang tinggi,khas rumah masyarakat bugis. Rumah orang tua Elea masih terbilang tua, ia memiliki 12 tiang yang besar-besar.,kolong rumah mereka pun cukup tinggi 3 meter dari permjkaan tanah,diatsnya di susun dipan-dipan yang terbuat dari papan kayu. tangganya yang menjulang memiliki 11 ruas, ada teras sekitar 2x6 meter. Diruang tamu ada 3 kamar tidur yang terbuat dari tripleks yang sudah usang, dan sebuah TV didepan kamar kedua. Di samoing Tv ada kursi kayu berjejer dan dua buah meja kayu. Elea masuk dan diarahkan ke kamar pertama, itu adalah bekas Kamar Maryam dulu,disana ada foto-foto Maryam semasa sekolah. Ada poster-poster idola Maryam yang sudah usang. Elea, masuk kekamar itu hanya ada 1 lemari pakaian dan ranjang yang terbuat dari kayu. Kasurnya terbuat dari kapas yang sengaja dipetik Emmanya dan dibawa ke tukang pembuat kasur.


Elea, menikmati desa itu pemandangannya masih asrih. Elea akan betah disana. Ia sudah berbaring, ia belum mengeluarkan pakaiannya ia baring di kasur, kakinya masih berpijak ke ubin. Elea, menatap langit-langit kamar, papan-papan itu masih kokoh. Diatas tempat tidur Elea masih ada ruangan yang seing dipakai untuk menyimpan padi yang sudah dipanen. Namanya adalah "rakkiang" orang-orang bugis memakai tangga bambu untuk naik k Rakkiang itu,mereka menyimpan hasil panennya disana.


__ADS_2