
Hari ini salah satu supir mengantar Ainun untuk berangkat ke sekolahnya,itu semua atas seizin dari Raga juga.
Karena kondisi Alfan yang belum terlalu pulih tentunya tidak bisa di tinggal begitu saja oleh Widya.
"Sekarang kamu hidup enak yah,kamu bahkan sudah mendapatkan perhatian kecil dari Raga, anakmu jadi kecipratan deh di antar mobil ke sekolah"
"Oh terimakasih Bu atas pujiannya"begitulah jawaban santai Widya.
"What!"
Siapa yang memujimu?.
Mendengar jawaban itu membuat ibu mertuanya malas untuk berbicara lagi dengannya.
Sebenarnya niat awal wanita itu adalah untuk mengajak Widya debat,tapi mendengar perkataan Widya yang sok-sokan sudah membuatnya kesal dahulu.
Wanita itu semakin di biarkan semakin ngelunjak juga yah!.
Lihat saja nanti setelah kepulangan menantuku,kau pasti akan di tendang dari rumah ini oleh Raga, suamimu sendiri!.
--------------
Setelah selesai meeting Raga langsung duduk dan istirahat sejenak di ruangannya.
Mona terlihat datang lagi ke ruangannya itu.
"Sayang,ayo kita makan siang di luar yuk?"
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana, aku ingin istirahat saja di sini"
"Ihh... sayang,ayo kita makan keluar,temani aku"
"Mona!"Sudah terlihat tidak bisa di ganggu gugat,suasana hati Raga jika sudah memanggil nama seperti itu dengan sedikit nada tinggi artinya sudah memberikan peringatan.
"Iya sudah baiklah jika itu mau mu,aku akan keluar dulu yah untuk makan siang"
"Iya sudah sana"
Sebel deh sama si Raga!, bisa gak sih jadi orang jangan ketus banget kalau lagi bad mood!.
Kalau bukan duda keren dan kaya aku juga gak mau!.
Gerutu Mona dalam hati sambil kesal meninggalkan ruangan CEO itu.
Tepatnya di depan ruangan CEO ia juga berpapasan dengan direktur keuangan.
Bisa di bilang lelaki dambaan para wanita di kantor ini.
Ahh... mumpung ada Bisma sebaiknya aku ajak dia saja untuk makan siang bareng.Lagian Raga sedang sibuk bukan.
Yang di maksud Bisma adalah direktur keuangan itu.
Mona pun pergi makan siang dengan lelaki itu.
Sementara Raga kali ini sedang terlihat pusing sambil memegangi kepalanya.
Ia menatap layar iPad-nya penuh dengan keseriusan untuk memantau aktivitas anak-anaknya di rumah.
Melihat pengasuhan Widya yang begitu sayang dan menjaga putra-putrinya membuat Raga sedikit tenang saat bekerja di kantor.
__ADS_1
Bahkan ia merasa ingin mengistirahatkan badannya terlebih dahulu.
Saat ia mulai memejamkan matanya ponselnya tiba-tiba berdering keras.
Dan ternyata hanya panggilan dari orang tidak penting yang selama ini masih menghantuinya.
"Tak ada bosan-bosannya dia menggangguku!, menyebalkan sekali"
Bahkan ia terlihat menaruh ponselnya dengan kasar ke atas meja kembali setelah melihat panggilan itu.
Makan siang pesanannya pun tiba-tiba datang dari anak buah kepercayaannya.
Orang itu terlihat menaruh di atas mejanya dengan sopan dan santun.
"Apa ada keperluan lain yang anda perlukan Tuan muda?"
"Tidak ada, pergilah makan siang!"
"Baik Tuan muda"
Ketika Raga akan memulai makan siang ketukan pintu kembali datang ke ruangannya.
"Siapa lagi si!"
Sudah kesal Raga, namun yang terlihat itu adalah ibu kandungnya yang datang ke kantor.
"Mama, Mama kenapa kemari?"
"Mama hanya ingin berbicara penting denganmu"
"Apa tidak bisa di bicarakan di rumah saja Ma?"
"Iya sudah Mama duduklah"
"Kau makanlah dulu Raga. Mama akan menunggumu sampai selesai makan"
"Memang hal penting apa yang akan Mama bicarakan? Coba bicarakan saat ini saja, setelah makan siang Raga mungkin akan mengadakan meeting kembali"
"Begini sayang, ini tentang Widya"
Raga yang akan menyuap makanan itu ke mulutnya pun langsung berhenti seketika mendengar pembukaan awal pembicaraan ibunya.
Ia bahkan terlihat menaruh sendok-nya kembali dan tidak jadi makan.
"Iya ampun Mama, bisakah tidak membahas dia sehari saja!"
"Ini penting sayang,ini tentang hubungan kalian berdua"
"Apalagi yang akan di bicarakan?, Raga muak Ma,Raga muak dengan ini. Apalagi si yang akan Mama bicarakan?"
Raga terlihat menutup makan siangnya. Ia terlihat tidak memiliki selera untuk menyantap makanan itu.
"Raga,bukalah sedikit hatimu untuk ini! Mama tahu kalau kau tidak menginginkannya, setidaknya akhiri hubungan ini dan nikahi Mona"
"Kenapa Mama begitu yakin dengan Mona?"
"Dia baik,dia juga pengertian denganmu. Dia juga berasal dari keluarga yang lumayan terpandang untuk kita."
"Aku belum memikirkannya sampai sejauh itu Ma. Di hatiku cuma ada Rebecca"
__ADS_1
"Lalu apa bedanya dengan posisi wanita itu sekarang? Setidaknya kau gantikan dia dengan Mona,bukan malah wanita itu."
"Mona belum berpengalaman tentang mengurus anak,aku juga belum yakin tentang dia, yang ku lihat dari dia masih suka jalan-jalan"
"Baiklah jika kau tidak mau bersama Mona. Tapi setidaknya kau mau kembali menjalin hubungan dengan Teresa setelah ia pulang dari Italia. Aku rasa ia masih sangat mengharapkan mu Raga"
"Cihh, tidak penting! Demi siapapun itu tidak penting Ma, Raga sudah membuang jauh-jauh dia dari dalam hidup Raga"
"Apakah karena perempuan janda itu? Karena Widya? Apa karena dia Raga kau bersikap seperti ini sekarang?"
"Bukan urusan Mama,dan bukan karenanya juga!"
"Iya sudah,Mama setuju jika kau membuang jauh-jauh Teresa dari dalam kehidupanmu. Tapi please sayang!, jangan wanita itu. Jika kau mau sama Mona pun,oke Mama akan restui."
"Ma please! Bisa gak Mama tidak mencampuri urusan perasaan Raga dulu. Raga masih ingin sendiri Ma.Raga belum mau menginginkan siapa-siapa. Dan please Ma, jangan mengganggu makan siang Raga."
"Iya sudahlah terserah kau saja.
Kau benar-benar susah di atur Raga!"
Ibu Raga tampak kesal sendiri dan merasa sia-sia telah datang ke kantor untuk berbicara dan membujuk putranya itu.
------------
Widya terlihat asik bermain dengan anak-anaknya sambil tersenyum suka ria di ruangan tengah.
Mereka terlihat belajar bahasa Inggris sambil menunjuk gambar binatang dan berbagai benda-benda lainnya melalui gambar.
"Eh... Alfan,Alfia udah ngantuk belum? Ini waktunya kalian bobo siang loh,mau bobo gak?"
Keduanya terlihat menganggukkan kepalanya bersama menyetujui ajakan Widya itu.
"Tapi kita mau di dongeng-in ya Mba Yaya"
"Iya pasti dong sayang, ayo kita bobo siang"
"Yeyyy..."mereka tampak gembira dan bergandengan tangan menuju ke lantai atas untuk tidur bersama Widya.
Sekitar setengah jam anak-anak sudah pada tidur,kini waktunya Widya untuk makan siang.
Biasanya mereka sekolah juga seperti Ainun,tapi karena Alfan sakit membuat keduanya tidak sekolah hari ini.
Widya mulai melangkahkan kakinya ke dapur. Biasanya ia selalu makan siang di dapur itu bersama-sama temen-temen sekerjanya.
Namun kali ini statusnya sudah berubah membuat pandangan temen-temen mereka yang terdahulu tampak sedikit canggung melihat kehadirannya ke dapur.
"Anda mau makan siang Nona?"
"Iya ampun,apa yang kalian katakan? Aku masih tetaplah Widya yang sama seperti dulu, jangan panggil aku seperti itu menyebalkan sekali rasanya "
"Tapi posisi kita sekarang sudah berubah Widya,mau tidak mau kita harus menghormati mu karena kau adalah istrinya Pak Raga."
"Aku hanyalah istri di buku nikah, tidak di kehidupan nyata"
"Kata siapa Widya?. Seorang Pak Raga pasti tidak akan mengambil keputusan untuk menikahi seseorang jika ia tidak memiliki perasaan padamu, iya kan?"
Cihh, tidak mungkin.
Orang sekelas Pak Raga tidak mungkin menyukai orang seperti ku.
__ADS_1
Aku juga masih penasaran, seberapa banyak wanita yang ia miliki. Menjijikkan sekali!.