
Suasana rumah sangatlah sepi di siang hari.
Terutama rumah yang terlalu besar untuk mereka tinggali ini.
Bahkan satu mobil terlihat tidak ada di halaman rumahnya. Menandakan ada salah satu orang yang pergi dari rumah itu.
"Mama kemana?." Tanya Raga kepada salah satu supirnya yang sedang menikmati makan siang. karena satu mobil terlihat tak ada di halaman rumahnya.
"Sepertinya ibu pergi reuni bersama teman-temannya pak,tadi ada teman ibu yang nyamperin kemari"
"Oh gitu,ya sudah habiskan makan mu nanti habis ini aku akan pergi bersama anak-anak ya"
"Siap pak"
Raga langsung masuk ke dalam dan menuju ke lantai atas.
Sementara anak-anak masih sibuk mewarnai mengikuti tingkah Ainun yang lebih dewasa dari mereka.
Ainun suka sekali belajar dan mengenal hal baru.
Mereka tampak berebut kertas, rebutan pensil warna dan rebutan alat gambar lainnya adalah hal biasa bagi Widya.
Widya begitu lembut dan adil dalam momong mereka, membuat mereka akur kembali sekaligus nyaman dengan mainannya itu.
Tiba-tiba Raga datang dari arah pintu.
Kedua anak kembarnya langsung dengan semangat menyambut kehadirannya.
"Papa...." Keduanya langsung merangkul ayahnya hangat.
Kasian sekali Ainun saat melihatnya,ia pasti sangat merindukan sosok ayahnya saat ini.
"Kok kalian belum tidur si?, muach..muach.." Mencium kening keduanya seperti biasa.
"Mereka menunggu Anda sejak tadi dan tidak mau tidur siang. Mereka juga sedang sibuk mewarnai sepertinya mereka suka dengan semua ini"
"Iya, katanya Papa mau ngajak kita bermain kan?"
"Iya sudah bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota. Sekalian tidur siang di mobil yah?"
"Yeyyy..."
Mereka tampak senang sekali sambil bersiap-siap untuk pergi.
Supir sudah senantiasa menyiapkan mobilnya.
Raga dan Widya pun segera masuk ke mobil bersama anak-anak untuk jalan-jalan muter-muter kota.
"Papa nanti aku mau beli ice cream coklat ya..?"
"Ice cream coklat?? Boleh tapi jangan banyak-banyak ya sayang"
"Yeyyy... ice cream..ice cream..ice cream"
Kedua anak Raga terlihat bahagia sekali hari ini.
Memang mereka jarang sekali jalan bersama seperti ini karena Raga yang terlalu sibuk kerja, makannya hari ini mereka terlihat begitu senang.
Di lain sisi Ainun sangatlah pemalu dan pendiam.
__ADS_1
Ia memang ikut jalan-jalan cuma tidak ada satu perkataan yang muncul dari mulutnya itu.
Ia terlihat sangat anteng dari tadi menjaga suasana, terlebih jika ia berdekatan dengan orang asing yang belum ia kenal. Ia pasti akan terdiam seperti patung dan begitu kalem.
"Kamu ngantuk ya sayang, tidurlah." Melihat anaknya yang terus terdiam membuat Widya iba sendiri kepada putrinya.
Ia langsung memeluknya hangat dan menyuruh putrinya tidur di pelukannya.
Widya juga terlihat sayang sekali kepada putri kecilnya itu.
Kecupan sayang pun selalu di berikan kepada putrinya sebelum tidur.
"Mba Yaya aku juga mau bobo sama Mba Yaya.." Alfia sudah ikut merengek melihat Ainun yang sedang di sayang-sayang oleh ibunya di pangkuannya.
"Aku juga mau bobo.." Alfan malah ikutan juga.
Seperti itulah anak kecil. Tidak ada yang mengalah dan saling iri satu sama lain.
"Ohh...gak ada yang mau bobo sama Papa nih?. Iya sudah kita gak usah beli ice cream yah."
"Alfan mau bobo sama Papa aja,tapi jadi beli ice cream-nya."
Sementara Alfia masih kekeh ikut tiduran di pangkuan ibu sambungannya itu.
Setelah lama mobil muter-muter keliling kota mereka tampak tertidur anteng di pangkuan masing-masing.
Mobil tampak berhenti sejenak di parkiran supermarket.
Supir pun turun untuk membeli ice cream pesanan anak-anak.
Ya ampun aku lapar sekali.
Ternyata Widya sedang menahan rasa laparnya sejak tadi.
Di dalam mobil Raga dan Widya saling terdiam satu sama lain.
Raga terlihat sangat sibuk membelai putranya.
Hanya suara mesin mobil yang menciptakan kebisingan di dalam mobil itu walau begitu lirih.
Kryukk...kryukk!
Aduh... perutku bunyi lagi.
Terdengar keras suara perut keroncong yang berbunyi karena lapar.
Membuat Raga langsung melirik ke arah Widya yang tampak bersandar lemas di sampingnya.
"Apa kau belum makan?." Tanya Raga tanpa basa-basi.
"Aku tidak sempat makan jika anak-anak belum pada tidur"
Sedikit malu sebenarnya Widya untuk mengakuinya, namun apa boleh buat perutnya tidak bisa di ajak kompromi.
Raga langsung menelfon supirnya yang telah turun dari mobil itu untuk membelikan makanan.
Tidak ada pilihan lain bagi Widya untuk berbicara,ia lebih memilih terdiam membisu di tempat mendengar suaminya yang menelfon supirnya itu.
Sekitar 10 menit berlalu, supir kembali ke tempat sambil membawa tentengan makanan untuk majikanya.
__ADS_1
"Jika kau mau ngopi, ngopi lah dulu." Raga terlihat memberi uang kepada supir itu untuk menyuruhnya ngopi dan istirahat sejenak.
"Baik pak"
Supir itu tampak pergi lagi untuk membeli kopi dan istirahat sejenak di warung kopi tepat di samping supermarket.
"Makanlah dulu,isi perutmu!"
Raga memberitahu bahwa makanan itu adalah untuknya.
"Iya nanti.."
"Nunggu apa?"
Ini orang benar-benar tidak tahu akan posisi ku yah. Kau tidak lihat bukankah aku sedang memangku dua anak saat ini!.
Widya tidak menjawab apapun.
Lelaki itu juga mengerti akan posisinya, namun ia juga gengsi harus bersikap bagaimana sekarang?.
Masa iya aku harus menyuapinya?.
Tapi percayalah Raga juga manusia. Ia tidak mungkin tega melihat wanita kelaparan di sampingnya.
Terlebih karena ia sibuk mengurus anak-anaknya hingga susah memiliki waktu makan.
Raga mulai membuka tentengan makanan itu.
Ada sayur dan ayam yang terlihat enak sekali bersama lauk lainya.
Tentu saja tidak mungkin bagi Widya makan dengan satu tangan.
Mau tidak mau ia pasti akan menyuapinya kali ini.
"Ini makanlah." Dengan cepat Raga sudah mengambil sesuap nasi berserta lauk yang ada di kotak makan itu untuk Widya.
"Hah".
Widya sedikit terkejut dengan ini.Seorang Raga yang angkuh itu akan menyuapinya. Batinnya tidak percaya.
Ia bahkan masih terdiam menatap tangan Raga yang mengulurkan sendok itu.
"Kenapa kau terdiam? Kau tidak mau ini, iya sudah aku.."
"Jangan saya lapar Pak,iya aku mau.."
Akhirnya Widya menerima suapan pertama itu dari suaminya.
Entah karena mimpi apa semalam hingga Widya sampai di suapi pak Raga saat ini.
Ya ampun, kenapa aku jadi yang di suapi seperti anak kecil begini?.
Jujur aku benar-benar tidak mengerti akan semuanya.
Ternyata orang ini ada sisi baiknya juga.
Tampang Raga masih tetap sama datar dan cuek seperti tidak memiliki perasaan,tapi nyatanya ia menyuapi istrinya hingga makanannya habis dengan sabar.
Tak lama setelah itu akhirnya anak-anak mulai sadar dan terbangun. Mereka tampak menagih ice cream yang mereka minta dari tadi.
__ADS_1
Kebetulan Raga sendiri memborong banyak ice cream untuk stok di rumah. Anak-anak pun hanya boleh memakan secukupnya demi kesehatan mereka termasuk Ainun juga.
Setelah puas mereka kembali pulang ke rumah untuk istirahat dan bermain bersama Raga di rumah agar lebih nyaman.