
2 bulan telah berlalu.
Hubungan Widya dan Joffa semakin hari semakin dekat.
Bukan hanya itu saja bahkan perut Widya yang sedang berisi sudah semakin besar dan nampak buncit.
Sama halnya dengan hubungan Joffa dan Ainun. Keduanya juga semakin dekat dan bahkan sangat dekat layaknya seorang putri dan ayah.
Saat ini Widya sadang terdiam menatap surat undangan Wali murid yang diadakan di sekolah putrinya besok.
"Joffa apa aku boleh datang kesekolah besok pagi?"
"Tentu saja dan itu memang harus"
Mendengar jawaban itu membuat widya tersenyum senang.
Joffa juga berniatan untuk mengantarkan Widya besok ke sekolahan putrinya.
*****
Hari esok telah tiba.
Joffa sudah stand by di dalam mobil untuk bersiap-siap mengantar Widya ke sekolahan.
Tak lama Widya muncul dengan balutan baju baru pemberian dari joffa yang nampak elok dan elegant, bahkan harganya sangat mahal hingga membuat Widya yang memakainya merasa tidak nyaman.
"Apa penampilanku tidak terlalu berlebihan Joffa?"
"Sama sekali tidak Widya.Kau terlihat sangat cantik"
"Aku merasa tidak nyaman,ini rasanya terlalu.. "
"Sudah ayo kita berangkat nanti terlambat,acaranya pasti akan segera di mulai"
Tanpa pikir panjang lagi mereka langsung berangkat ke sekolahan.
Suasana di sekolahan juga sudah padat dan ramai di penuhi para Wali murid yang sudah pada hadir.
"Tante Mona aduh aku kelilipan" Suara anak kecil yang terdengar merengek membutuhkan pertolongan kepada wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
Yah, dia adalah Alvia anak Raga yang sedang mengucek-ucek mata dan meminta pertolongan kepada wanita itu. Siapa lagi jika bukan Mona, wanita yang Widya kenal dan tepat di hari ini juga Widya melihat kehadiran orang-orang yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Suara lembut Mona yang jongkok di depan gadis kecil itu seraya meniup matanya.
" Mana yang kelilipan sayang?"
Joffa tidak mengerti apa yang sedang di perhatian Widya hingga membuatnya temenung dan terdiam menatap mereka.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" Tampak Raga yang menghampiri Mona dan putrinya yang sedang panik itu.
Pak Raga!
Mata Widya terlihat berkaca-kaca. Ia merasa senang telah melihat mereka kembali hari ini. Namun melihat mereka yang semakin dekat pun sekaligus membuatnya sedih.
Apa mereka semua bahagia sekarang? Apa pak Raga juga semakin dekat dengan Mona sekarang?
Apa pak Raga sama sekali tidak mengingatkanku juga?
Mengingat perkataan Raga yang menyebutnya wanita pembawa sial waktu itu juga membuatnya merasa takut jika Raga sampai melihatnya lagi.
Sebenarnya Widya sendiri ingin sekali memanggil Alfia dan memeluknya karena rindu.
"Kau kenal mereka?"
"Joffa ayo kita pergi dari sini"
Saat Widya mencoba menarik tangan Joffa untuk pergi tiba-tiba suara anak kecil dengan antusias memanggilnya dengan keras.
"Mama" Membuatnya berhenti melangkah karena ragu jika ini panggilan untuknya.
"Mama Yaya" Terdengar lagi. Kali ini lebih jelas saat anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan Yaya.
Alfia sangat mengenali postur tubuh Widya. Terlebih saat melihat Ainun yang ada di gandengan tangan wanita itu.
"Sayang" Widya langsung memeluk Alfia dengan erat dan hangat begitu ia sampai menghampirinya.
Ia bahkan sudah berkaca-kaca karena ingin sekali menangis.
Joffa terdiam juga melihat tingkah mereka yang saling merindukan. Kini ia paham karena sepertinya anak ini adalah anak tiri Widya.
Dan sementara lelaki yang sedang menetapnya lama itu adalah suaminya.
Widya!
Dengan siapa dia? Siapa lelaki itu?
Raga pun tertegun setelah melihat kehadiran Istrinya di sekolahan itu. Melihat penampilan Widya yang amat sangat cantik juga membuatnya tidak berkedip dari tadi. Perut Widya juga terlihat sudah membesar saat mengenakan dress cantik itu.
"Mama ayo pulang sama Alfia. Alfia kangen banget sama Mama Yaya"
Apaan si Raga! Kenapa dia diam saja melihat putrinya memeluk Widya coba.
Mona juga sudah terlihat kesal melihat Raga yang justru terdiam menatap mereka berdua.
Mata Widya dan suaminya dengan cepat bertemu. Widya pun bergegas melepaskan pelukannya dengan Alfia untuk menghindari kemarahan Raga.
__ADS_1
"Alfia" Hanya panggilan kecil yang di ucapkan Raga untuk memanggil putrinya agar secepatnya menghampirinya kembali.
Alfia justru menggelengkan kepalanya dan memeluk kaki Widya kembali karena begitu merindukan kasih sayangnya.
Sementara Raga mendekat, ingin mengatakan sesuatu yang sudah terngiang-ngiang di kepalanya sejak tadi.
"Beginikah hidupmu sekarang? Setelah membuatku kehilangan putraku Alfan kau bahkan sudah tampak bahagia sekali bergandengan tangan dengan lelaki lain!"
Perkataan yang tampak santai di denger di telinga Widya namun terasa menyudutkan baginya.
"Tunggu. Apa yang kau bicarakan? siapakah kau? " Joffa justru yang merasa terusik dengan perkataan lelaki itu.
"Aku yang seharusnya bertanya siapa kau? Kau kekasihnya? Kenapa kau mau memiliki wanita pembawa sial sepertinya?"
"Heh! Jaga ucapanmu!. Memangnya kau Tuhan mengatakan dia pembawa sial"
"Cukup Joffa"
Widya terlihat langsung menenangkan hati Joffa yang tampak langsung kesal itu. Widya bahkan menyentuh bagian dada Joffa tadi untuk mencegahnya yang akan melangkah karena hampir emosi.
Hal ini juga membuat Raga menjadi kesal saat menyaksikan tangan Widya yang menempel di dada lelaki itu.
"Maaf Kau tidak tahu apa-apa Joffa, ini masalahku. Aku yang salah kepadanya" Widya berusaha menjelaskannya pada Joffa dan mencoba berbicara tenang dengan Raga.
"Beribu-ribu maaf pak Raga. Sungguh tidak ada niatan sedikitpun aku untuk lalai apalagi mencelakakan Alfan. Aku juga menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri tepat di sebrang sana bahwa mobil yang menabrak Alfan dan aku adalah berhenti. Namun ketika aku dan anak-anak menyebrang,mobil itu justru terlihat langsung melaju kencang dan menabrak kita yang sedang menyebrang, begitulah yang aku lihat dan aku ingat pak Raga"
Widya sangat ingat kejadian pasti di sebrang jalan gedung itu hingga membuatnya berkeringat dingin dan menangis.
Bahkan tidak lama setelah menjelaskan semua itu pada Raga ia kelewat pingsan tiba-tiba.
"Wi-Widya" Joffa yang kaget dengan Widya yang tiba-tiba pingsan itu merasa panik.
Joffa sudah berusaha untuk membangunkannya namun Widya benar-benar pingsan dan tak sadarkan diri.
"Widya"
Joffa menatap Raga dengan kesal yang sedang terdiam menatap istrinya itu.
"Apa kau suaminya? Seharusnya kau bersyukur memiliki wanita sepertinya yang begitu tulus mencintaimu dan anak-anakmu. Bahkan di setiap malam dia tidak bisa tidur hanya karena memikirkan mu dan anak-anak. Tapi kau bersikap seperti ini di saat ia butuh ketenangan dan kesehatan untuk menjaga kehamilannya?"
"Hamil?"
"Cihh,bahkan istrimu hamil saja kau tidak tahu. Dan dengan teganya kau mengusirnya di saat dia sedang mengandung anakmu 4 bulan! "
"4 bulan?"
Raga terlihat begitu kaget setelah mengetahui hal ini. Dan Widya memang pergi dari rumahnya kurang lebih sekitar 2 bulan yang lalu.
__ADS_1
Melihat perut istrinya yang terlihat bunting juga membuatnya percaya kalau istrinya telah hamil 4 bulan.