Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
27. Widya sakit


__ADS_3

Hari sudah semakin sore. Sampai detik ini Widya masih terdiam menatap Joffa yang sibuk memainkan laptopnya.


Ia merasa sangat bosan dan resah. Suasana seperti ini juga membuatnya teringat kepada anak-anak.


Semua pekerjaan sudah ia lakukan, bahkan pekerjaan tidak penting sekalipun juga ia lakukan di ruangan itu. Tetapi tetap saja tidak merubahnya menjadi sibuk saat ini.


"Bos apa kau mau ngopi?"


Tatapan Joffa langsung tersudut kepada Widya yang baru saja bertanya padanya dengan panggilan asing itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk memanggilku bos? Apa tidak ada panggilan lain selain itu?"


"Lalu aku harus memanggilmu apa Joffa? Tidak enak dengan yang lain kan? Apalagi ini di kantor"


"Iya juga sih. Tapi apa baiknya kau panggil aku begitu, aku juga takut kau tidak nyaman dengan orang-orang kantor"


"Tentu saja Joffa. Baiklah akan aku buatkan kopi untukmu bos"


"Tidak usah. Sudah ada yang melakukan pekerjaan itu Widya. Kau tinggal duduk manis saja"


"Dihh, kau saja yang bosnya tetap bekerja masa iya aku yang duduk manis"


"Ya sudah,ayo kita keluar saja aku ada pertemuan santai dengan klien sore ini"


Jadwal sore ini Joffa memang harus bertemu dengan kliennya di sebuah kedai kopi. Sekalian menghirup udara segar dan cuci mata di sana untuk menghilangkan rasa suntuk.


Suasana kedai lumayan ramai dan di penuhi banyak orang.


Ada kantor marketing juga di dekat kedai kopi itu. Pantas saja banyak orang-orang yang datang berjas dengan tumpangan mobil mewah mereka.


Disana juga terlihat ada seseorang yang menunggu kedatangan mereka di kursi paling depan.


"Pak Joffa" Seru wanita yang sudah duduk di situ sejak tadi.


Joffa langsung tersenyum dan menghampiri wanita itu bersama Widya.


Keduanya terlihat sangat akrab dan mengobrol satu sama lain membahas pekerjaan mereka.


Sementara Widya hanya bisa tersenyum dan mendengarkan obrolan mereka.


Di lain sisi ada lelaki tampan yang perlahan masuk ke dalam kedai itu juga untuk menemui rekan kerjanya, disertai dengan sekretarisnya yang tampak sigap dan gagah mengikutinya juga.


"Siang Pak Raga"


"Siang"


Suara itu terdengar begitu menancap di telinga Widya dan terasa tak asing lagi baginya.

__ADS_1


Dan makin di dengar suara itu semakin membuat Widya yakin kalau itu suara suaminya.


"Saya sudah mengirim proposal yang Anda minta dan data-data perushaan saya. Saya harap anda dapat mempertimbangan itu semua nanti"


"Secepatnya akan saya urus. Aku harap perusahaan Anda tidak akan mengecewakan perusahaan saya"


Kali ini Widya dengan cepat menoleh ke samping kanan bangku yang ia duduki. Ia benar-benar penasaran akan panggilan dan suara itu. Dan ternyata itu hanyalah orang lain yang kebetulan nama dan suaranya sama persis dengan Raga.


Ya Tuhan apa yang ada di pikiranku sekarang. Kenapa aku mengira itu pak Raga suamiku, apa aku benar-benar merindukannya sekarang.


Kira-kira pak Raga sedang apa ya di rumah?


Widya termenung. Sesekali ia juga mengelus perutnya yang sedang hamil muda itu sambil berkata di dalam hati.


**Nak, apa Papamu akan memaafkan Mama di suatu saat nanti dengan adanya kehadiran mu?


"Widya apa yang sedang kau pikirkan?"


Widya tampak kaget tadi. Ia juga langsung menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Joffa yang tiba-tiba itu.


"Katakan padaku jika kau menginginkan sesuatu"


Walaupun sangat sibuk perhatian Joffa tidak bisa teralihkan sedikitpun untuk Widya.


Hidup dan bekerja dengan Joffa mungkin adalah impian banyak orang. Selain memiliki kepribadian yang super duper baik Joffa juga selalu ramah terhadap semua orang.


Mungkin kurang lebih sekitar satu jam Joffa dan Widya mengadakan pertemuan di tempat itu, lalu mereka pergi meninggal tempat itu untuk pulang dan istirahat.


Malam ini kepala Widya terasa berdenyut-deyut tak karuan. Ia merasakan sakit kepala yang begitu luar biasa.


Bahkan ia merasa ingin pingsan dan tenggorokan terasa begitu kering karena haus.


Kepalaku terasa sakit sekali,tidak seperti biasanya aku seperti ini.


Widya bergegas menuju ke lantai bawah untuk mengambil minum dan mencari sesuatu yang dapat dimakan.


Matanya sudah berkunang-kunang dari tangga, bahkan belum sampai ke dapur ia sudah ambruk dan pingsan terlebih dahulu.


*******


Malam ini Alfia demam tinggi.


Suster sudah berusaha keras untuk merawatnya dengan baik. Namun Alfia terus memanggil-manggil nama Widya sambil merengek dengan keadaan demam tinggi.


"Mama Yaya mana Pa? Aku mau sama Mama Yaya"


"Alfia bobo sama Papa saja ya?" Bujuk Raga sekaligus untuk menenangkan putrinya.

__ADS_1


"Nggak mau Alfia maunya bobo sama Mama Yaya"


Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan bahkan anakku saja terus memanggil namanya di saat aku ingin melupakannya.


Mendengar suara rengekan cucunya dari kamar juga membuat ibu-Nya Raga khawatir dan keluar kamar.


Raga sudah berusaha untuk menenangkan putrinya, namun putrinya terus menangis dan merengek. Tapi atas bujukan neneknya dan termasuk seorang ibu juga membuatnya menjadi luluh dan tertidur di gendongan sangat nenek alis ibunya Raga.


"Kau harus bisa membuat anakmu lupa dengan wanita itu Raga. Aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi. Cepat ceraikan dia!"


Raga hanya diam mendengar perkataan ibunya,lalu langsung masuk ke dalam kamarnya karena ia juga merasa kesal dengan semua ini.


***


Di satu sisi Widya yang pingsan sudah terbaring di kamarnya.


Joffa juga sudah ada di sebelahnya tepat sekali setelah Ia tersadar dan terbangun.


"Joffa"


"Kau tidak papa kan Widya? Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi, bahkan aku sampai panik melihatmu tergeletak di lantai"


Joffa terlihat begitu panik dan memastikan keadaan Widya baik-baik saja.


"Aku mimpi Alfia sedang sakit. Emm maksudku anakku,apa dia baik-baik saja?"


"Widya aku sedang menanyakanmu, kau baik-baik saja?"


"Iya aku baik-baik saja Joffa. Ya ampun Alfia.. "


Widya sendiri tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia justru malah terlihat panik saat tersadar dengan mimpinya tadi.


"Apa anakku sedang sakit?"


Widya terlihat termenung lemas. Sementara Joffa langsung duduk dan berusaha menenangkannya.


"Tenanglah Widya,anakmu pasti baik-baik saja di sana. Jika pun sakit ia pasti akan cepat sembuh. Kau harus positif thinking saja dan berdo'a"


*****


Sementara di dalam kamar Raga sedang bersandar dan terlihat menerima telepon dari seseorang.


"Ternyata benar Tuan muda ada kejanggalan di balik kecelakaan ini menurut adanya video bukti rekaman CCTV"


"Apa??"


"Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini untuk menjebak Nona Widya dan berusaha untuk memisahkan Anda dan Nona"

__ADS_1


"Apa lagi yang kau tahu? Selidiki secepatnya!"


Sebenarnya saat menelfon Gala tadi Raga berniat untuk membicarakan tentang perceraiannya dengan Widya, tapi setelah mendengar hal ini hatinya jadi luluh dan kembali memikirkan Widya tiba-tiba.


__ADS_2