Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
Mona datang lagi


__ADS_3

Cihh, Raga benar-benar menjemput wanita itu kemari!.


Melihat kehadiran Widya membuat Ibunya Raga kembali berwajah masam. Bahkan ia langsung pergi meninggalkan kamar itu begitu saja tanpa memperdulikan cucunya.


Widya yang melihat Alfan sakit merasa begitu cemas.


"Alfan,kau tidak papa sayang?." Widya juga mencoba mengecek suhu tubuh Alfan. "Ya ampun panas sekali"


Dahi dan lehernya sangatlah panas. Saat di cek dengan termometer suhu tubuhnya pun menghasilkan angka derajat yang sangat tinggi.


Raga sudah datang ke kamar itu juga setelah mengantar anak Widya ke kamar tamu.


"Tunggulah sebentar, aku akan ambil air dingin untuk mengompresnya Pak"


"Kenapa harus air dingin?"


"Jika suhu tubuhnya sangatlah panas sebaiknya di kompres dengan air dingin, agar lebih cepat menurunkan suhu tubuhnya yang panas itu, jangan air hangat"


"Ohh gitu,baiklah aku akan menjaganya"


Widya segera keluar dari ruangan kamar itu untuk menyiapkan kompres-an.


Tak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa kompresan yang sudah ia persiapkan dengan baik.


"Iya ampun kakinya dingin sekali,aku rasa panasnya naik semua ke kepala"


Widya segera mengompres dahi Alfan dengan lembut.


Raut wajah Widya terlihat khawatir sekali dengan anak sambungnya itu.


Mungkin begitulah perasaan seorang ibu jika melihat anak kecil yang sakit.


Ia juga terlihat mengoleskan minyak hangat ke kaki Alfan yang sedang menggigil itu.


"Mba Yaya aku mau bobo.."


"Iya sayang,ayo kita bobo yah..."


Widya langsung memeluk Alfan dan membelai kepala lembut untuk menidurkannya.


Sementara Raga menjadi salting sendiri karena tak sadar terus memperhatikan Widya yang begitu lembut mengurus anaknya sejak tadi.


"Cepat sembuh ya Alfan. Muach.."


Setelah mencium putranya Raga pergi begitu saja meninggalkan ruangan kamar itu untuk kembali ke kamarnya.


Namun suara anak kecil dari kamar tamu tampak memanggil-manggil ibunya karena sendirian.


Membuat Raga berhenti melangkah dan menghampiri kamar itu.


"Ma..Mama..."


Ehh...,apa anak itu bangun?.


"Mama.."


Lalu terlihat Ainun yang sudah turun dari ranjangnya mencari Widya.


"Iyah..,kamu cari Mama ya. ?" Raga sudah muncul di balik pintu untuk masuk ke dalam kamar itu.

__ADS_1


Namun Ainun yang pemalu malah terlihat takut dengan datangnya Raga.


"Om,Mama mana?." Memberanikan diri untuk bertanya walaupun ia sedang menahan rasa ngantuk-nya saat ini.


"Mama lagi tiduri De Alfan dulu yah, soalnya Alfan lagi sakit. Kamu kenapa bangun?"


"Dingin banget Om"


"Ohh Ainun ke kedinginan yah,iya udah Om kurangi suhunya yah"


"Iya makasih Om"


"Ainun gak mau bobo lagi"


"Mau, tapi gak berani sendirian Om"


"Oh iya sudah Om temenin yah"


"Tapi Om"


Iya elah pake tapi segala anak kecil.


"Kenapa?,Om gak gigit kok,ayo Om temenin tidur"


Jika bukan karena ibunya sibuk mengurus putranya yang sakit,Raga pasti tidak akan melakukan hal ini kepada Ainun.


Ia juga masih memiliki hati dan perasaan kasian si dengan anak itu, makanya ia mau menemani Ainun yang tidur sendirian.


Bahkan anak kembarnya saja jarang sekali tidur dengannya, kali ini Ainun benar-benar merasa beruntung dan bisa tidur dengan seorang Ayah.


Karena terlalu capek dan ngantuk Raga benar-benar ketiduran di ranjang itu dengan anak Widya.


Ia bahkan terlihat pulas sekali saat ini.


Setelah Alfan dapat tertidur dengan tenang, Widya meninggalkannya dengan hati-hati untuk menengok putrinya di kamar sebelah. Biasanya Ainun memang kadang terbangun di tengah malam.


Namum setelah membuka pintu dengan perlahan Widya malah terkejut melihat kehadiran Raga di samping putrinya yang sedang tertidur.


Ya ampun Pak Raga,dia tidur dengan Ainun, bagaimana bisa?.


Dia terlihat pulas sekali tidurnya.


Iya sudah baiklah,aku akan kembali ke kamar si kembar saja daripada aku harus menganggu tidur mereka.


Widya masih tertegun melihat itu semua.


Melihat putrinya yang tertidur pulas di samping Raga membuatnya merasa sedih. Seakan ia teringat akan perkataan putrinya yang menyuruhnya untuk mencari Papa baru.


Ainun pasti merasa senang sekali bisa tidur nyenyak dengan Pak Raga,setahuku anakku tidak bisa berdekatan dengan orang asing, apalagi sampai tidur begini dengannya.


Senyuman kecil tampak terlukis di wajah manis Widya. Ia pun kembali meninggalkan ruangan itu dengan hati-hati tanpa meninggalkan suara agar tidak mengganggu keduanya yang sedang tertidur pulas itu.


Widya juga memutuskan untuk tidur bersama Alfan yang sedang sakit itu takut kebangun di tengah malam juga.


Waktu terus bergulir semestinya.


Tak terasa hari sudah mulai siang.


Raga pun terbangun dari tidurnya dan baru sadar ia tertidur di kamar itu bersama Ainun.

__ADS_1


"Iya ampun,aku sampai ketiduran di sini. Jam berapa ini?"melihat jam ponselnya. "Ya ampun aku kesiangan."


Melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh,dia benar-benar kesiangan karena kurang tidur juga semalam.


Ia beranjak dari tidurnya perlahan karena Ainun masih tidur. Lalu ia masuk ke dalam kamar anak kembarnya untuk memastikan keadaan mereka.


Widya sudah tidak ada di kamar itu, karena ia sedang membuatkan bubur ayam sehat untuk Alfan dan makanan sehat lainnya untuk anak-anak.


Raga sedang mengecek suhu tubuh putranya. Tampak dingin di bagian leher dan kepalanya tidak seperti yang semalam.


"Syukurlah jika kau sudah membaik Sayang"


Raga tampak mencium kedua anaknya dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk bersiap-siap ke kantor.


Tak lama setelah itu tampak mobil seseorang terparkir di depan rumah Raga.


Lalu wanita itu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam setelah memencet bel rumah.


Siapa lagi kalau bukan Mona, gebetan Raga yang terlihat sangat cantik dan seksi itu.Tentunya sangat berbeda sekali dengan penampilan Widya saat ini yang bahkan ia masih memakai clemek masaknya.


"Hay..., pagi Mona, Cantik sekali kamu"Sapa ibunya Raga yang baru saja turun dari tangga.


"Ehh Tante, pagi juga Tante, makasih. Tante juga cantik banget hari ini, Tante kelihatan awet muda lagi..."


"Ah masa.."


"Beneran Tante gak bohong deh"


"Haha..ya sudah mari duduklah,kita menikmati kopi bersama"


"Owh.. makasih Tante"


Widya sama sekali tidak menggubris keduanya. Ia menganggap tidak ada siapa-siapa saat ini. Ia terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk ke 3 anaknya.


Mona tampak memerhatikan wanita itu dari tempat duduk, dengan tatapan yang tak bisa di artikan sepenuhnya.


Itukan pengasuh yang di bandingkan Alfia dengan ku kemaren,jelas cantik aku lah,masa cantik dia.


Menyibakkan rambutnya sendiri ke belakang.


Ternyata Mona masih mengingat perkataan Alfia beberapa hari lalu, karena ia merasa kesal sekali di bandingkan dengan pengasuh lusuh sepertinya.


Sebenarnya Mona sendiri tidak tahu jika Widya sudah menikah dengan Raga.


Karena itu sangat tertutup dan hanya anggota keluarga dan beberapa orang tertentu saja yang menjadi saksi pernikahan mereka.


Raga terlihat turun dari lantai atas dengan kemeja putih yang sangat rapi dan tampan itu.


"Eh Sayang kau sudah siap"


"Ayo kita langsung berangkat"


Sayang, mereka itu pancaran?.


Widya memang mendengar itu semua. Tapi ekspresi wajah dan tingkahnya masih tetep sama. Ia terlihat begitu cuek dan tidak perduli soal mereka.


"Widya.."


"Ya Pak"

__ADS_1


"Wa saja jika ada apa-apa!"


"Baik Pak"


__ADS_2