
Keadaan Alfan semakin memburuk akibat benturan keras yang ada di bagian kepala yang mengenai sistem syaraf otaknya.
Dokter sudah berusaha melakukan penanganan sebaik mungkin untuk Alfan.Tapi sepertinya takdir akan berkehendak lain, setelah menjalani operasi yang cukup panjang justru membuat kondisi tubuh Alfan semakin memburuk.
Bahkan alat pendeteksi jantung yang ada di tubuh Alfan sudah tidak lagi beraksi diagram naik turun melainkan sudah hampir garis lurus. Ini membuat para medis panik dan terus berusaha untuk memompa detak jantung Alfan.
"Dok apa tidak ada harapan?"
"Hanya Tuhan dan keajaibannya yang dapat memberinya kesempatan"
Para medis sudah berjuang keras untuk mencoba menyelamatkan hidup Alfan. Namun takdir berkehendak lain dan alat pendeteksi jantung pun ikut memperlihatkan takdir yang telah datang.
"Dia sudah tidak ada"
Dokter sudah meletakkan alat pemompa jantung itu ke meja medis. Segala usaha sudah di lakukan oleh para dokter dan medis, namun takdir tetap berjalan semestinya.
Raga yang ada di ruang tunggu sudah lemas sejak lama menunggu. Entah kenapa jantungnya berdetak begitu kencang membuatnya semakin gelisah dan khawatir dengan kondisi putranya di dalam ruangan ICU.
Tak lama setelah itu dokter pun muncul dari dalam ruangan itu.
Raga tampak bersemangat untuk mengetahui kondisi anaknya. Ia berharap anaknya bisa membaik dan terselamatkan.
"Bagaimana Dok anak saya baik-baik saja kan. Dia bisa tertolong kan Dok?"
"Mohon maaf Pak Raga,kami sudah melakukan yang terbaik untuk putra Anda. Bahkan operasi pun berjalan dengan lancar dan sebaik mungkin sesuai kemampuan yang kita punya. Tapi takdir berkehendak lain. Putra Anda tidak bisa di selamatkan. Ia meninggal dunia"
"Apa??? Tidak Dok tidak. Apa yang kau lakukan Dok,Ini bohong kan? Selamatkan putraku berapapun biayanya yang kau mau akan aku berikan. Tapi aku mohon selamatkan putraku. Anak saya baik-baik saja kan"
Dokter hanya bisa menghela nafas lemas sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Tidak mungkin. Alfan...hiks..hiks..Alfan jangan pergi sayang. Jangan tinggalkan Papa begini"
Ya Tuhan apa yang telah terjadi, yang aku takutkan bersama Tuan Raga benar-benar terjadi.
Sagala juga mematung dan begitu terpukul, terlebih ia harus melihat keadaan Raga yang terpuruk untuk yang kedua kalinya.
"Dokter selamatkan putraku. Aku mohon selamatkan putraku dokter. Aku yakin dia masih bisa di selamatkan"
"Maaf Pak Raga saya benar-benar minta maaf akan ini,tapi takdir telah berkehendak lain. Saya sungguh tidak bisa melakukannya lagi,saya juga sudah berusaha berulang-ulang kali untuk memberikan penanganan yang terbaik tapi saya tidak bisa"
__ADS_1
"Alfan..kau tidak boleh pergi Nak,kau tidak boleh pergi hiks...hiks"Raga sampai tertunduk ke lantai karena sedih dan menangis. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun sekarang kecuali menangis dan menerima kenyataan yang ada.
Dokter akhirnya permisi dan pergi meninggalkan tempat untuk menjalankan tugasnya kembali.
Widya sedang berdiri dari kejauhan dengan kaki yang penuh perban memandangi suaminya yang sedang menangis terpuruk. Derai air mata juga membasahi pipinya setelah mengetahui kenyataan ini. Bahkan ia tidak bisa berkata apa-apa kecuali ikut menangis dan merasa bersalah sambil memandangi suaminya.
Langkah terasa begitu berat untuk menghampiri suaminya dan mengajaknya berbicara.
Sementara Sagala yang awalnya mematung berdiri langsung terduduk menatap Raga yang begitu sedih saat ini.
"Tuan Muda,percayalah segala yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita semua. Aku yakin Alfan akan kembali dengan tenang dan bahagia menyusul ibunya di sana"
"Kenapa aku harus kehilangan dua orang yang sangat aku cintai secepat ini. Kenapa Gala? Kenapa harus aku?"
Maafkan aku Tuan muda aku tidak bisa melakukan apapun sekarang.
Widya dengan lemas mendekati Raga dan Gala yang sedang berbicara itu.
"Pak Raga"
Raga yang mendengar suara Widya langsung menatapnya sengit dan penuh dengan kemarahan. Bahkan pandangan terlihat begitu marah besar dan tidak terima dengan kenyataan.
"Ini semua gara-gara kamu! Apa yang telah kau lakukan pada putraku,apa?!"
Ya Tuhan aku sungguh tidak melakukan apapun,apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku sungguh tidak percaya ini. Aku tidak melakukan apapun Pak Raga aku mohon maafkan aku"
"Pergi kau dari hadapanku Widya, Pergi!"
"Pak,aku mohon"
"Apa yang terjadi Raga, kenapa kau menangis seperti ini?"
Ibunya Raga tiba-tiba datang dan merasa gelisah dengan sikap putranya yang begitu terpuruk.
"Alfan sudah tidak ada Ma. Alfan sudah tidak ada..hiks..hiks"
Kali ini ibu mertuanya terlihat begitu kaget dan tak percaya. Bahkan dadanya terasa sesak seketika.
__ADS_1
"Apa??? Tidak mungkin. Kau bercanda kan sayang?"
Raga menggelengkan kepalanya dengan air mata yang bercucuran dan matanya yang memerah.
PLAKKK!
Spontan Nadira langsung menampar menantunya karena marah.
"Kau! Ini semua gara-gara kamu. Seharusnya kau tidak ada di dunia ini. Kenapa aku harus kehilangan cucuku hanya gara-gara kamu!"
Widya hanya bisa menangis tersedu-sedu dan menahan rasa sakit di pipinya. Ia tidak bisa menyangkal apapun yang di katakan ibu mertuanya itu.
Ia hanya bisa merasa bersalah dan tidak bisa membela diri.
"Apa yang kau lakukan disini? Pergi dari sini sekarang! buat apa kau disini?"
"Bu,aku mohon jangan usir aku dari sini. Aku ingin melihat Alfan Bu. Untuk yang terakhir kalinya"
"Ini semua gara-gara dirimu. Tak pantas kau melihat Alfan. Pergi kamu dari sini. Pergi! Dasar wanita pembawa sial. Pergi!"
"Pak Raga aku.."
"Pergi!" Sama halnya dengan ibunya. Raga mengusir begitu saja Widya dari hadapannya karena tidak mau melihat Widya yang sudah membuatnya kehilangan anaknya.
Ya Tuhan maafkanlah aku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukan hal ini. Alfan aku sangat mencintaimu sayang. Maafkan Mama.
Widya pergi sambil menangis. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan mereka dan suaminya. Namu karena emosi dan kesedihan Raga memuncak ia memutuskan untuk pergi.
Ini ada yang tidak beres. Aku yakin Nona Widya sangat perhatian dalam mengurus anak-anak. Apalagi perihal menyebrang jalan.Aku harap penabrak itu secepatnya dapat di tangkap.
Kasian juga Tuan muda, padahal baru saja ia berbicara tentang ketertarikannya kepada Nona Widya kemarin. Tapi hari ini Ia harus kecewa dan membencinya.
Hari ini adalah hari yang begitu sedih dalam hidup Raga dan Widya.
Selain di larang bertemu dengan Alfan untuk yang terakhir kalinya Widya juga sudah kehilangan tempat tinggalnya sekarang (kontrakan).
Sementara Raga terlihat begitu pendiam dan lebih dingin lagi dari yang sebelumnya. Semenjak kepergian Alfan dia jarang sekali tersenyum dan berbicara. Bahkan selama bekerja di kantor ia tidak pernah lagi tersenyum kepada karyawannya setiap kali ada yang menyapanya.
Raga benar-benar berubah drastis semenjak kepergian anak lelakinya. Ini adalah hal yang paling menyakitkan yang terjadi untuk yang kedua kalinya baginya.
__ADS_1