Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
17. Mabuk lagi


__ADS_3

Di hari ulang tahun Raga bukanya hari kebahagiaannya malah hari yang amat sangat menyebalkan bagi Raga.


Selain ia tidak bisa menentukan pilihan,ia juga belum bisa membukakan pintu hatinya untuk orang lain.


Akhir-akhir ini justru yang ada di pikiran Raga adalah Widya. Setiap kali melihat sikap lembut dan kasih sayang Widya kepada anak-anak membuatnya merasa nyaman jika anak-anaknya terus berada disampingnya.


Menurutnya Widya juga bisa melakukan apapun selain mengurus anak,baik pintar memasak, melakukan pekerjaan rumah, pejuang keras,mandiri dan tidak Manja.


Selama ini kehadiran Mona adalah hanya sebatas pelampiasan saja bagi Raga yang selalu merasa kesepian.


Namun Mona justru merasa sebaliknya dan amat sangat menyukainya. Tapi Raga sendiri tidak tahu apa isi hati Mona yang sesungguhnya. Menurut pandangan yang ia tahu Mona terlihat begitu mengejar-ngejarnya semenjak ia menjadi seorang Duda.


Setelah ribut tadi pagi,siangnya Raga terlihat langsung bersiap-siap untuk pergi menemui teman-temannya.


Ia bahkan masih berwajah masam dan tanpa berbicara sedikitpun meninggalkan rumah.


Tak terasa hari sudah malam.


Raga belum juga pulang ke rumah.


Sementara Widya sudah lama tidak pulang ke kontrakannya. Sebenarnya jadwal hari ini adalah pulang ke kontrakan,tapi berhubung suaminya belum pulang ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke kontrakan.


Widya terlihat turun kelantai bawah untuk makan malam. Karena sedari tadi Widya mengurus ke-tiga anaknya hingga tertidur,kini tinggal ia istirahat dan makan malam.


"Wah Nona muda lagi makan malam nih. Suamimu belum juga pulang ya. Aku rasa si dia lagi jalan sama Mona"


Tiada angin tiada hujan tiba-tiba badai datang menerpa suasana adem Widya yang sedang menikmati makan malam.


"Biarkan saja Bu biar suamiku bahagia. Toh aku sama sekali tidak memperdulikannya. Entah jalan sama Mona ataupun Teresa ya silahkan, tapi yang aku tahu Pak Raga hanya mencintai Nona Rebecca kok"


Mendengar jawaban enteng Widya membuat ibu mertuanya semakin kesal.


Bagaimana dia bisa tahu tentang Rebecca. Menyebalkan sekali wanita ini, apa Raga menceritakan mendiang Rebecca padanya.


"Widya aku akan berikan kamu uang seberapapun yang kamu mau, asalkan kamu tinggalkan putraku dan pergi dari sini sekarang"


"Maaf Bu, aku harus merawat anak-anak dan suami sesuai kewajiban ku. Sebelum Pak Raga menceraikan ku aku tidak bisa meninggalkannya"


"Cihh, memang ada yang menganggap mu sebagai istrinya?"


Sebenarnya Widya sendiri sudah mencoba untuk selalu menahan emosi pada ibu mertuanya itu,tapi setiap kali mendengar ucapnya selalu membuat hatinya benar-benar terasa sakit.


"Mungkin tidak ada Bu,tapi aku yakin Pak Raga lah satu-satunya orang yang menganggap ku sebagai istrinya"


"Jangan mimpi kamu! Selera Raga hanya sekelas Mona ataupun Teresa. Sementara kamu,kamu hanyalah babu!"


"Aku memang hanyalah babu Bu,tapi apa boleh buat jika putra anda berselera dan bahkan bersedia untuk bersetubuh denganku. Apa itu yang di namakan tidak berselera?"


"Widya!" Mendengar semua itu membuat telinga Nadira memanas. Terlebih ia pernah melihat keduanya sekamar waktu itu.

__ADS_1


Maafkan aku yang Tuhan atas perkataan ku ini.


"Ehem,apa yang sedang Mama bicarakan?"Tiba-tiba Ayah Raga muncul dari tangga.


"Eh Papa,enggak Mama hanya mengobrol saja dengan Widya"


"Mengobrol kok serius banget. Biarkan Widya menghabiskan makanannya kasian kan dia capek ngurus anak-anak"


"Iya Pa , maaf"


Cih,ternyata nenek lampir ini bisa selembut itu dengan suaminya. Untung saja Tuan besar baik, jika tidak aku pasti sudah pergi dari rumah ini sejak lama.


Urusan makan malam sudah selesai.


Waktu tentunya sudah berjalan semakin malam.


Sekretaris Raga langsung menelpon Widya untuk memberitahukan tentang kepulangan suaminya itu.


Widya dengan cepat menyambut ke bawah dan membukakan pintu untuk suaminya.


"Tuan muda sedang mabuk Nona. Aku akan bantu Tuan muda menuju ke kamarnya"


"Oh baiklah silahkan"


Mabuk lagi!. Suka sekali dia mabuk, apakah setiap rasa kesal dan masalah harus di selesaikan dengan cara mabuk?.


Menyebalkan!.


"Apakah semuanya harus di selesaikan dengan cara mabuk Pak? Baik senang maupun tidak apa itu baik? Anak-anak bahkan terus mencari Anda sejak sore. Tapi jam segini Anda bahkan baru pulang dalam keadaan mabuk." Widya seperti merasa kesal dengan sikap lelaki ini yang masih suka mabuk.


"Untuk apa kau berbicara seperti ini, memangnya kau siapa?"


"Istrimu"


"Haha istri?. Apa kau mengkhawatirkan ku?"


"Aku mengkhawatirkan Anda karena aku masih memiliki perasaan. Ini sudah malam tapi pekerjaanku belum juga selesai. Aku juga harus menyiapkan keperluan mandi Anda kan sekarang, seharusnya aku istirahat!"


"Aku tidak ingin mandi istriku. Kenapa kau marah-marah begitu?"


Lihat kan, mulai gila dia. Seharusnya aku tidak berbicara apapun padanya.


"Istriku, kenapa kau diam saja kau tidak mencintaiku? Aku tidak mau mandi. Muach"


Tiba-tiba satu kecupan lembut mendarat di bibir Widya tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan?"


"Supaya kau tidak terus marah, bukankah ini obat terbaik"

__ADS_1


"Jangan mengobati seseorang jika kau sendiri sedang gila! Kau bahkan tidak tahu kalau kau lagi mabuk sekarang"


"Ma-mabuk?"


"Aku tidak mabuk sayang,aku mabuk darimana?"


Widya hanya menatapnya kesal lalu beranjak pergi meninggalkannya untuk menyiapkan air hangat.


Tapi Raga justru menyusulnya dengan sergap dan memeluknya dari belakang.


"Aku tidak ingin mandi. Jangan hukum aku istriku, aku benar-benar tidak ingin mandi"


"Kamu bau kalau tidak mandi,bau alkohol!"


Raga terus memeluknya begitu erat.


"Lepaskan aku Pak!"


"Apa?"


"Lepaskan aku Pak!. Apa Anda gila sadarlah?"


"Kenapa panggil aku Pak. Bukankah aku ini suami mu?"


"Tanyakan pada dirimu sendiri. Lepaskan aku sekarang, jangan gila!"


"Apa aku salah jika aku tergila-gila pada istriku sendiri?"


Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Sepertinya aku harus segera menyiramkan air padanya.


Widya mencari celah untuk kabur dari pelukan suaminya ke kamar mandi.


"Istriku aku tidak mau mandi, aku mohon jangan memaksaku untuk mandi"


Raga justru mengikutinya masuk ke kamar mandi.


"Suamiku ayo kita mandi,akan aku persiapkan air hangat untukmu"


Widya tetap menyiapkan air mandi untuk suaminya di bathtub. Sementara suaminya terus mengganggunya agar Widya tidak mempersiapkan air mandi untuknya.


"Aku mohon sayang aku tidak mau mandi. Ini terlalu dingin. Ayo kita mandi bareng"


Widya spontan menyemprotkan air ke wajah suaminya yang mabuk gila itu hingga terdiam seketika.


Apa ini?.


Raga terdiam, sambil mengusap wajah yang penuh dengan air. Perlahan ia mulai sadar akan apa yang terjadi padanya.


"Pak Raga maafkan aku,aku mohon sadarlah. Ayo mandi"

__ADS_1


Apa yang dia lakukan disini,aku mabuk lagi kan?. Aku pasti menggila tadi kan?. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?


__ADS_2