Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
6. ke pemakaman


__ADS_3

Aku rasa aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak rela jika putraku terus bersama wanita kampungan itu.


Apalagi sampai putraku jatuh cinta denganya.


Lihat saja apa yang dilakukan mereka semalam?. Ini benar-benar membuatku sakit kepala.


Ibu Raga tampak begitu kesal mendapati kenyataan ini, melihat Widya yang keluar dari kamar putranya pun membuatnya sakit kepala sampai saat ini.


Raga terlihat sudah berpenampilan rapi dengan kemeja kerjanya. Kali ini ia harus kembali bekerja ke kantor seperti biasanya. Ia juga terlihat berangkat lebih awal dari hari biasanya, mungkin ada acara yang akan ia tuju terlebih dahulu.


Tapi sebelum itu ia menemui anak-anak terlebih dulu untuk memberinya kecupan manis di pagi hari seperti rutinitas biasanya.


Widya terlihat sedang memberikan anak-anak sarapan pagi secara berbarengan di kamar itu bersama Ainun juga anaknya.


"Pagi sayang"


"Pagi Papa." Keduanya tampak berbarengan dan saling merebut perhatian dari ayahnya.


Raga juga langsung memeluk keduanya dengan hangat sembari menyium kening mereka berdua.


"Papa berangkat ke kantor dulu ya sayang. Jangan nakal-nakal harus jadi anak yang baik." Sembari memberikan belaian lembut juga untuk kedua anaknya sebelum pergi.


"Tapi hari ini Papa pulang cepet ya,Alfan kan juga pengin main bareng sama Papa"


"Iya Alfia juga pengin main bareng sama Papa, Papa pulang cepet ya"


"Iya sayang, Papa usahakan akan pulang cepat hari ini"


"Hore."kedua anaknya tampak gembira mendengar perkataan ayahnya itu.


"Widya.."


"Iya Pak"


Memberikan lipatan kertas untuknya.


"Bacalah ini! Aku tidak sempat berbicara denganmu. Aku harap kau juga mengerti apa yang aku bicarakan"


Raga terlihat begitu cuek saat berbicara, namun terlihat jelas dari wajahnya yang sedang merasa canggung atas kejadian mereka berdua semalam.


Raga pun bergegas pergi meninggalkan ruangan itu untuk berangkat ke kantor.


******

__ADS_1


"Berhenti di tempat biasa,aku ingin menenangkan diriku disana"


"Siap Young master"


Tak lama mobil berhenti di sebuah tempat yang indah menghadap ke sebuah danau yang ada di kota ini.


Disinilah tempat Raga meluapkan kekesalan dan amarah sambil melempar batu ke air.


Benar-benar bodoh. Apa yang telah aku lakukan dengannya semalam!.


AARGHHH!


Mengerang,Raga terlihat meluapkan seluruh amarahnya yang sedang ia tahan sejak tadi.


Sekretarisnya hanya bisa terdiam dan menunggunya dengan setia, sesekali ia juga melihat perputaran waktu yang ada di jam tangannya.


"Sudah hampir pukul setengah 9 Tuan muda, sebaiknya kita segera pergi ke pemakaman"


"Baiklah,kita pergi sekarang!"


Raga terlihat meneteskan air mata karena begitu sedih.


Kesedihan Raga dihari ini adalah hari tepat dimana istri tercintanya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tak terasa sudah 1 tahun berlalu. Segala kenangan indah teringat dengan jelas di benak Raga. Sejak semalam ia merasa begitu merindukannya namun ternyata malam tadi adalah malam yang kelam baginya karena telah mengkhianati janjinya terhadap mendiang istrinya.


Tak lama setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya keduanya sampai juga di tempat pemakaman mendiang istri Raga.


"Maafkan aku Rebecca,aku benar-benar tidak bisa menjaga janjiku sendiri padamu. Aku telah mengkhianati janjiku semalam.Aku benar-benar tidak sadar saat aku melakukannya, maafkan aku,aku telah bersentuhan dengan wanita lain semalam"


Raga sudah berusaha untuk menghilangkan rasa sedihnya di danau tadi, namun perasaan sedih masih belum bisa terbendung juga. Ia pasti akan menangis setelah melihat makan istrinya karena teringat akan kepergiannya.


Sedangkan semasa hidupnya Rebecca selalu berseri-seri dan mengajak suaminya untuk selalu setia kepadanya.


Bahkan permintaan Rebecca yang selalu ia ingat adalah melarang Raga untuk menangis,tapi kesedihan ini sungguh tidak bisa di bohongi karena rasa cinta yang begitu besar terhadap mendiang istrinya membuatnya tetap menangis.


Sesungguhnya Nona pasti merasa sangat senang dengan semua ini Tuan muda, apalagi jika ada seorang wanita yang benar-benar tulus menyayangi dan merawat Alfan dan Alfia dengan baik.


******


Setelah mendapatkan waktu senggang akhirnya Widya menyempatkan diri untuk membuka kertas pemberian dari suaminya itu.


Isi kertas itu adalah penjelasan tentang kejadian semalam dan hubungan di antara keduanya.


"Lupakan kejadian semalam! Sungguh aku tidak menyadari apa yang telah aku lakukan padamu. Anggap saja ini semua adalah kecelakaan. Ucapkan ku semalam juga hanya mimpi bagi kita berdua dan jangan pernah mengharapkan lebih dariku karena ini semua hanyalah mimpi. Aku menikahi mu agar kau tidak dapat kabur untuk melunasi hutang-hutangmu dan mengurus anak-anakku dengan benar secara terikat, tidak lebih"

__ADS_1


Surat ini memang membuat hati Widya sakit,bukan berarti karena ia tidak mendapatkan hak istri yang semestinya dari Raga,tapi ia harus berada di posisi yang rumit dan harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya.


"Kau pikir aku ini orang yang sangat buruk dan bukan tipe orang yang tidak mau bertanggung jawab hah, dasar menyebalkan!"


Kembali ke suasana kantor.


Raga sudah kembali ke kantor setelah urusannya selesai dari pemakaman.


Ia juga terlihat sedang mempersiapkan rapat koordinasi bersama karyawan tertentu di ruangannya.


Setelah itu ia memiliki janji makan siang bersama Mona di sebuah tempat yang sudah mereka janjikan untuk bertemu.


Kali ini raut wajah Raga tampak murung dan kusam saat bertemu dengan Mona.


Tidak seperti biasanya ia bersikap seperti ini.


Sejak makanan yang di pesannya datang ia hanya memandanginya saja sambil memainkan garpu dan sendok.


"Raga..,kau tidak papa kan,apa kau sakit?"


Melihat hal ini membuat Mona bingung dan heran dengannya.


"Oh e'mm tidak"


"Kenapa kau hanya menatapi makanan mu,kau tidak suka makanannya?"


"Ohh suka kok,aku hanya sedang memikirkan masalah kantor,biasalah.."


Dan nyatanya Raga sedang memikirkan kejadian semalam bersama wanita itu.


Ia masih tidak menyangka dan tidak terima dengan ulahnya sendiri.


"Iya sudah rileks kan pikiranmu dulu. Sebaiknya lupakan masalah itu dan kita makan sekarang yuk.."


Keduanya makan siang di tempat itu cukup lama sambil mengobrol santai.


Setelah makan siang Raga berniat untuk segera pulang ke rumah karena ia memiliki janji dengan anak-anaknya.


"Aku harus segera pulang, anak-anak sedang menungguku di rumah."


"Tapi. Oh maksudku baiklah, titip salam buat anak-anak. Maaf aku tidak bisa ikut ke rumah karena aku masih ada pemotretan di kantor"


"Baiklah,aku akan kirimkan salam mu pada mereka"

__ADS_1


Sebenarnya Mona belum puas jalan dengan Raga hari ini, namun ia harus ngertiin akan posisi Raga demi mendapatkan hatinya.


Raga pun pulang terlebih dahulu ke rumah untuk menepati janjinya kepada anak-anak untuk bermain bersama.


__ADS_2