Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
15. Saingan Mona


__ADS_3

"Sudah aku bilang kau harus berhati-hati"


"Maafkan aku"


Walaupun Raga merasa begitu kesal tapi ia masih memiliki hati nurani untuk istrinya. Ia langsung menggendong istrinya keluar dari pesta itu untuk membawanya ke dalam mobil.


"Maafkan aku telah membuatmu malu tadi, memang seharusnya aku tidak ikut ke acara pesta ini. Aku pasti akan membuatmu malu dan ternyata benar kan"


Mata Widya terlihat berkaca-kaca, Ia juga menahan rasa kesal yang ia rasakan di dalam hati.


Apa aku begitu keterlaluan kepadanya.


Lagi-lagi setiap kali menatap wajah istrinya ia merasa terhipnotis dengan perasaannya sendiri.


"Lihat kakimu"


"Jangan!! Kakiku tidak kenapa-kenapa"


Widya terlihat menyembunyikan lukanya yang terasa amat sangat perih.


Namun Raga memaksa untuk melihat kakinya. Ia pun melihat kaki Widya yang lecet dan berdarah.


Ya ampun pantas saja Ia tidak bisa berdansa tadi, mungkin aku yang salah terus memaksanya berdansa.


"Gala kita mampir ke Minimarket terdekat"


"Baik Tuan muda"


Mobil segera melaju pergi dari tempat pesta berlangsung.


Tak lama mobil sudah berada di parkiran Minimarket.


"Kau tahu kan apa yang harus kau beli?"


"Tentu saja Tuan muda"


Apa yang akan mereka beli?. Bahkan aku saja tidak mengerti apa yang Raga katakan. Apa otak Gala itu otak komputer yang selalu mengerti akan perintahnya.


Raga dan Widya menunggu Gala yang sedang berbelanja,tapi tak lama setelah itu ponsel Raga berdering keras.


Raga pun langsung turun dari dalam mobil meninggalkan istrinya begitu saja di dalam.


Pasti itu salah satu kekasihnya.


Widya hanya bisa memperhatikan suaminya dari dalam mobil yang sedang bertelepon.


"Halo Mona ada apa?"

__ADS_1


"Besok kita ketemu ya sayang,aku akan membicarakan hal penting tentang kita berdua"


"Baiklah aku akan.."


"Pak Raga awas!"


Seseorang tak di kenal datang dan ingin menyerang Raga tiba-tiba dari belakang.


BRUGGHH!.


Keduanya jatuh. Untung saja Widya dengan gesit menolong suaminya.


Raga juga jatuh di bekapan istrinya yang ternyata sudah pingsan terkena cor-coran patung yang ada di dekat parkiran mobil.


"Ya ampun Widya. Widya bangun Widya"


Raga terlihat begitu panik melihat istrinya pingsan.


Ternyata orang yang akan menyerang Raga dan membawa batu tadi adalah orang gila yang sedang di kejar-kejar penjaga keamanan di sekitaran ruko.


"Iya ampun Tuan muda,apa yang terjadi pada Nona?"


"Entahlah,tadi tiba-tiba ada orang gila yang akan menyerang ku dengan batu. Dan Widya yang menyelamatkan ku tadi tapi dia malah pingsan. Ayo kita bawa ke rumah sakit"


Dengan cepat mereka sudah berada di rumah sakit. Kondisi Widya baik-baik saja Ia hanya mengalami syok dan kelelahan saja. Namun saat ini ia memang mengalami kekurangan darah yang membuatnya lemas dan merasa pusing.


"Kau tidak papa kan?"


Widya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menjawab pertanyaan Raga.


"Aku tidak papa. Ayo kita pulang,aku merindukan anak-anak"


Yang di pikirkan Widya saat ini adalah tentang anak-anak, Ia tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama di luar rumah. Karena kebiasaannya yang selalu bersama anak-anak membuatnya tidak bisa melupakan mereka sedetik saja.


Ketika sampai rumah. Anak-anak terlihat begitu menantikan kepulangan Widya dan Raga. Bahkan mereka tidak ingin tidur terlebih dahulu sebelum keduanya pulang.


"Mama." Ainun langsung menghampiri kehadiran ibunya berserta kedua anak Raga.


Mereka memang sedang di titipkan oleh salah satu asisten rumah tangga kepercayaan Raga,jadi tentunya mereka aman dan baik-baik saja sekarang.


"Mbak Yaya cantik banget deh kaya princess"


"Hehe makasih sayang, habis ini kita bobo ya sudah malem"


Ternyata Widya terlihat begitu menyayangi anak-anak walau Ia sedang sakit sekali pun.


******

__ADS_1


Hari ini Raga memiliki janji dengan Mona untuk bertemu sekaligus makan siang bersama.


Mona terlihat begitu cantik saat ini,sepertinya ia habis melakukan pemotretan buat majalah di kantornya.


"Kau habis pemotretan?"


"Iya,aku harus menyelesaikan kontrak foto ku hari ini untuk produk xxxx"


"Baguslah kau nampak sangat sibuk, semoga harimu menyenangkan"


"Aku ingin bertanya kepadamu dan aku harap kau menjawab ku dengan jujur".


Mona terlihat membuka layar ponselnya untuk menunjukkan sesuatu yang telah ia lihat semalam. "Dengan siapa kau menghadiri acara?. Kenapa kau tidak mengajakku?. Dan siapa wanita ini?"


"Aku pergi bersama Widya. Aku juga tahu kau sangat sibuk kan kemarin jadi aku memutuskan untuk tidak mengajakmu"


"Kau mengajak dia? Raga apa kau ingin mempermalukan dirimu sendiri? Dia pembantu mu Raga"


"Iya itu benar. Sebenarnya dia bukan hanya pembantuku untuk merawat anak-anak tapi aku juga sudah menikahinya"


"Apa!. Menikahinya,kau bercanda kan Raga?"


"Tidak Mona,aku serius. Aku mengajaknya ke acara ini karena setahu Papa dia adalah istriku,jadi aku tidak mungkin membawa mu. Maafkan aku juga jika ini membuatmu kecewa"


Mona terdiam lama. Ia tidak bisa berkata-kata untuk kenyataan ini. Bagaimana bisa seorang Raga yang terkesan sangat cool dan tampan bisa memiliki pemikiran untuk menikahi pengasuh anaknya sendiri.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita. Sampai saat ini kau belum juga mencintaiku Raga?"


"Aku bukan hanya ingin mencari kekasih dan pendamping hidup Mona. Tapi aku ingin mencari seorang ibu yang baik untuk anak-anakku juga. Aku tidak terlalu suka dengan wanita berkarir karena ia akan selalu mementingkan karirnya ketimbang keluarganya, karena aku juga sangat mengerti itu. Cukup akulah sebagai lelaki yang mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Begitulah kehidupan yang aku inginkan"


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?. Apa aku harus berhenti menjadi model agar bisa menikah denganmu dan menjadi ibu seutuhnya untuk keluarga kecil kita nanti dan mengurus anak-anak dengan baik?"


"Aku rasa begitu. Tapi aku rasa belum ada wanita sehebat Widya yang aku lihat selama ini. Dia sangat menjaga anak-anakku dan bahkan dengan sabar menjaga mereka. Dia juga dengan mudah merebut hati anak-anakku layaknya ibu kandungnya"


"Apa ini?. Kau jatuh cinta padanya?. Tidak Raga!. Jika ini yang kau mau aku akan berusaha sebisaku untuk menjadi wanita seperti yang kau inginkan"


Tidak,ini tidak boleh di biarkan. Aku tidak mau jika posisiku harus di rebut oleh wanita pengasuh sepertinya.


Dan apa-apaan si Raga, dia mengaguminya tadi?. Menyebalkan!.


"Aku harap juga begitu. Sekarang habiskan makananmu, nanti dingin tidak enak"


Raga kau membuatku gila!. Kau membuatku mati-matian untuk bersaing dengan wanita itu sekarang?.


Mona sendiri belum tahu jika akan ada satu pesaing lagi yang sepadan dengannya untuk bersaing merebut hati Raga.


Sampai detik ini pun Raga memang belum bisa melupakan almarhumah istri tercintanya.

__ADS_1


Bahkan setiap bayangkan istrinya selalu terbayang-bayang saat ia berada di dalam kamarnya. Namun kehadiran Widya saat ini juga membuatnya lebih teralihkan pikirannya saat melihat sosok Widya yang menjadi ibu untuk anak-anaknya saat ini.


__ADS_2