Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
29. Keresahan Raga


__ADS_3

"Raga. Kau percaya dengan semua ini? Siapa tahu Widya hamil dengan lelaki itu? Kapan terakhir kali kau mengusirnya coba? Aku yakin dia hanya ingin kembali bersamamu karena harta yang kau miliki."


Mona sendiri sudah panas. Ia tidak bisa membiarkan Raga akan kembali dengan Widya dan bersama lagi seperti dulu.


Ia terus mencoba menghasut Raga agar Raga tidak langsung percaya dengan semua ini.


Aku tidak akan tinggal diam Raga. Aku juga tidak ingin kesempatan ini lepas dari genggamanku. Setelah sekian lama aku menantikan keluluhan hatimu tidak mungkin aku menyia-nyiakannya kali ini.


Perkataan Mona sungguh membuat suasana hati Raga semakin gaduh dan bimbang. Disisi lain Raga begitu menyayangi Widya dan sangat merindukannya. Ia hanya bisa terdiam menghela nafas sambil menata pikiran yang bersliweran di kepalanya yang membuatnya pusing.


*****


Mereka sekarang sedang berada di dalam ruangan khusus sekolahan ini untuk menunggu kesadaran Widya.


Sebenarnya ruangan itu adalah ruangan pribadi milik Joffa,namun tidak ada yang mengetahui bahwasanya sekolahan ini adalah miliknya.


Raga masih terdiam membisu menatap istrinya yang terbaring pingsan itu. Sesekali ia terus menatap istrinya dan merasa belum yakin atas kabar kehamilan istrinya itu. Sejak tadi pikiranya ke mana-mana, bahkan tentang hal negatif sekalipun kepada istrinya.


Apa semua ini bohong? aku tidak yakin jika ia benar-benar hamil dan sedang mengandung anakku.


Atau mungkin ini caranya untuk membujuk dan menghasut ku agar kita dapat bersama kembali begitu?


"Apa yang kau pikirkan? Kau tidak dengar apa yang dikatakan dokter tadi? Dia sedang mengandung dan butuh ketenangan. Jadi jangan membuatnya terus bersedih. Apa kau masih tidak percaya juga bahwa istrimu sedang hamil dan mengandung anakmu?"


"Cihh. Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan semua ini? Siapa tahu ini hanyalah siasat dan akal-akalan kalian saja. Dan mungkin juga dia hamil denganmu bukan dengan ku"


"Apa?? Kau bilang apa? Apa kau gila! sempat-sempatnya kau berpikiran seperti itu kepada wanita sebaik Widya" Joffa terlihat semakin emosi dan tidak bisa menahan dirinya. Ia ingin sekali menghajar lelaki yang ada di depan matanya itu.


"Hey! Jangan sekalipun kau menyentuhnya!" Mona tampak menghalang-halangi Joffa agar mendapat perhatian dari Raga.


Sementara Raga masih tenang dan santai melihat Joffa yang akan memukulnya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak percaya lagi dengannya. Dan aku juga takut kesialan akan terus datang ketika aku bersamanya kembali"


"Minggir!" Joffa juga merasa kesal dengan wanita sok baik itu.


"Kau percaya dengan semua itu? Aku harap kau tidak menyesal nanti jika suatu saat Widya pergi darimu!!"


Joffa yang mendengar semua itu juga merasa semakin kesal dan marah sendiri. Ia sudah berusaha untuk meyakinkannya, namun tampaknya lelaki itu benar-benar tidak memberi kesempatan untuk istrinya.


"Ya sudah, kita lakukan tes DNA setelah anak ini lahir nanti!"


"Cih, mungkin jika sikapmu seperti ini bukan tes DNA yang akan keluar setelah anak ini lahir, melainkan surat perceraianmu dari Widya!!"


"Brengsek!!"


Perkataan Joffa yang sudah kelewat kesal juga berhasil membuat telinga Raga memanas, ia merasa kesal sekaligus marah karena tidak nerima perkataan itu. Namun ia masih telihat tenang dan hanya mengepalkan tanganya kuat-kuat.


Siapa lelaki ini? Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku!


Selang beberapa waktu Widya pun kini telah kembali sadar.


"Kau baik-baik saja Widya? Kau tidak papa kan?"


Joffa lah yang justru terlihat begitu mengkhawatirkannya sekarang.


Widya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil menatap ke Joffa.


Sebenarnya hal ini membuat suasana hati Raga goyah dan sedikit memanas. Ia sudah lama tidak melihat senyuman manis itu dan sekarang justru ia harus menatap istrinya yang tersenyum kepada lelaki lain setelah sekian lama.


"Aku perhatikan kalian tampak begitu dekat. Apa kalian berpacaran? Hal ini yang membuatku ragu untuk mempercayai bahwa kau sedang mengandung anakku Widya"


"Aku tahu Raga,kamu masih belum bisa memaafkan ku. Tapi asal kamu tahu kejadian itu juga membuatku terluka,bukan hanya kamu saja"

__ADS_1


Setiap kali membicarakan tentang hal itu selalu membuat jiwa Raga down dan bersedih. Begitu juga dengan Widya yang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.


Raga sangat merindukan putra kesayangannya itu. Ia tidak bisa berkata-kata dan hanya mampu pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berbicara lagi.


******


"Raga kau sudah pulang?"


Suasana hati Raga sedang buruk. Bahkan mendengarkan bicara ibunya pun tidak.


Kenapa dengan anak itu? Bukankah habis bersenang-senang. Kenapa wajahnya asam sekali?


Semakin malam justru suasana hati Raga semakin resah.


Ia justru semakin memikirkan kabar baik atas kehamilan istrinya itu.


Apa dia benar-benar sedang hamil anakku? Lantas, siapa lelaki itu?.


"Ya Tuhan beri aku jalan untuk semua ini"


Drettt..Drettt..Drettt...


Ponselnya tiba-tiba bergetar. Tentunya ada panggilan masuk dari anak buahnya Sagala.


"Halo.."


"Tuan Muda. Kita sudah menemukan mobil yang menabrak Alfan waktu itu. Tapi belum diketahui pemiliknya. Soalnya orang yang kita temui sekarang adalah orang yang baru membeli mobil itu dengan harga murah"


"Segera selidiki! Aku akan membayar berlipat-lipat padamu Sagala jika kau berhasil menemukan orang yang menabrak putraku"


"Baik Tuan Muda"

__ADS_1


Sagala mematikan teleponnya dengan membuang nafas lega. Sebenarnya ia sendiri tidak mengharapkan apapun dari Raga. Karena selama ini Kebaikan Raga sudah terlalu banyak padanya.


Jujur aku tidak mengharapkan apapun dirimu tuan muda. Justru aku ingin memecahkan masalah ini untuk membalas semua kebaikan Anda.


__ADS_2