
Teresa tampak kaget dan gelagapan saat melihat Raga yang tiba-tiba muncul itu.
"Ra-Raga"
"Apa yang kau lakukan padanya? Beginikah adab lulusan mahasiswi dari luar negeri?"
"Raga aku hanya.."
"Apa?. Widya tampar dia kembali!"
Widya tidak menggubrisnya. Ia langsung pergi dari ruangan itu ke dapur untuk menyiapkan buah untuk anak-anak. Ia juga masih memegangi pipinya, sepertinya tamparan itu memang sangat keras dan sakit tadi.
"Beraninya kau menampar istriku. Plakkk"
Satu tamparan keras pun mendarat ke pipi Teresa dari Raga. Baru kali ini juga Raga berani menampar seorang wanita.
Ibunya pun terkejut melihat semua itu saat Raga begitu membela istrinya.
Sekarang Teresa tampak kesakitan dan memegangi pipinya juga, sesekali ia terlihat berkaca-kaca akan menangis.
"Aku peringatkan kepada mu jangan datang kesini lagi jika kau tidak memiliki adab saat bertamu. Aku saja tidak pernah menyentuhnya dengan kasar tapi kau berani sekali menamparnya!"
"Raga." Melihat Raga yang emosi berat membuat Teresa takut dan menghampiri ibunya untuk berlindung.
"Tante maafkan aku. Hiks...hiks. Aku emosi tadi Tante"
"Raga!!! Tak seharusnya kau bersikap seperti ini kepada Teresa ini sungguh keterlaluan!"
"Mama tidak lihat tadi. Lebih keterlaluan mana sikapnya dengan istriku tadi? Dia istri Raga Ma, seharusnya Mama lebih membelanya,bukanya wanita ini!"
"Raga!"
Raga terlihat begitu kesal lalu meninggalkan ruangan itu untuk menemui Widya yang sedang memotong buah.
Pipi Widya tampak memerah, matanya juga terlihat berkaca-kaca, namun ia tidak mudah untuk menangis selagi ia masih mampu menghadapinya.
"Apa kau tidak Papa?"
Raga tanpa sadar memegang pipi istrinya dengan lembut sambil mengamati. Widya yang canggung langsung mengalihkan wajahnya dari tatapannya.
"Aku tidak papa"
"Tapi pipimu memerah, akan aku obati"
Langsung menggandeng tangan Widya dan mengajaknya pergi dari dapur.
"Tapi aku belum selesai"
__ADS_1
"Biar bibi saja yang menyelesaikannya"
Raga masih menggandeng tangan Widya sambil naik ke lantai atas di hadapan Ibunya dan Terasa. Mereka berdua juga terlihat semakin kesal dan geram saat melihatnya tadi.
Raga langsung mengambil kotak obat untuk mencari salep penghilang memar di kamarnya.
Setelah menemukan salep itu Raga yang akan mengoleskannya ke pipi istrinya, namun Widya segera mengambil salep itu dan akan mengoleskannya sendiri ke pipinya.
"Biar aku saja,aku bisa sendiri. Lagian mereka sudah tidak lagi melihat kita, bapak tidak perlu bersandiwara lagi untuk menunjukkan ku sebagai istri"
"Oh baiklah" Raga tampak terdiam sebelumnya, namun ia segera sadar dan menyerahkan salep itu ke tangan istrinya.
Kenapa aku merasa sakit hati ketika Ia berbicara seperti itu, bukankah yang dikatakannya itu benar.
Widya tidak berbicara apapun lagi. Ia langsung mengolesi mukanya dengan salep.
Aku tidak tahu seberapa banyak Ia memiliki wanita. Bukannya Mona itu kekasihnya lalu siapa lagi wanita itu.
******
"Lihatlah Tante apa yang telah ia perbuat pada diriku, ternyata sia-sia aku kembali ke Indonesia hanya untuknya"
"Sabarlah sayang, mungkin suasana hati Raga saat ini sedang buruk. Aku akan mencoba berbicara padanya nanti. Kau tenang saja,hal seperti ini tidak akan terjadi lagi padamu. Aku akan membuatnya meminta maaf kepadamu"
Berbanding terbalik dengan sikap ibu Raga ke menantunya,ia terlihat sekali menyayangi Teresa yang sedang bersedih itu.
Di waktu setelah makan malam ibunya Raga menyempatkan diri untuk berbicara lagi dengan putranya. Namun putranya masih bersikap sama seperti siang tadi.
"Maaf Ma,yang seharusnya meminta maaf bukan aku melainkan dia"
"Raga,aku harap kau benar-benar tidak jatuh cinta dengan wanita itu. Apa kau sudah gila terus membelanya?"
"Jatuh cinta kepada istri sendiri itu tidak gila Ma. Yang gila itu ketika Mama jatuh cinta kepada lelaki selain Papa"
Merasa terpojokkan ibu Raga. Ia bahkan tidak bisa menjawab apapun setelah putranya mengatakan hal itu. Mungkin ada masa lalu yang kelam yang telah di lakukan ibunya Raga beberapa tahun lalu.
Ternyata sampai detik ini Raga belum bisa melupakan hal itu. Tapi bukan berarti aku harus menerima wanita itu sebagai menantuku kan.
*******
Hari berganti.
Anak-anak sibuk mempersiapkan perlengkapan sekolah khusus mereka dengan Widya di sebuah sekolah swasta ternama.
Walaupun umur mereka masih terbilang kecil namun belajar dan mengenalkan wawasan yang lebih luas adalah hal terpenting bagi mereka untuk kedepannya.
Selain menjaga kedua anak tirinya dengan baik, Widya juga memiliki cara tersendiri untuk menjaga dan merawat Ainun putri tercintanya secara ketat dari kejauhan. Ia rela memperkejakan seseorang dari sebagian gajinya untuk putrinya Ainun, saat berada jauh dari jangkauan ibunya untuk menjaganya.
__ADS_1
Sementara saat ini Raga berada di sebuah bandara internasional menunggu kepulangan ayahnya tanpa sepengetahuan dari ibunya.
Pesawat tak lama mendarat dengan sempurna.
Raga pun sangat menunggu dan merindukan ayahnya yang baru saja kembali.
Mereka memutuskan untuk segera kembali ke rumah setelah di pertemukan agar ayahnya dapat beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
Anak-anak terlihat sudah pulang dari sekolahnya. Melihat kehadiran kakeknya membuat mereka riang gembira tak terkira. Bahkan kedua cucunya hampir lupa dengan kakeknya sendiri karena lama tidak bertemu.
Sementara Nyonya rumah sedang terbengong melihat kehadiran suaminya yang tiba-tiba pulang ke rumah.
"Pa-Papa. Kapan Papa kembali? Kenapa Mama sama sekali tidak tahu"
"Ini suprise Ma. Bagaimana kabarmu, kau baik-baik saja kan?"
Keduanya langsung berpelukan mengobati rasa rindu.
"Aku sangat baik Pa. Papa juga baik-baik saja kan?"
"Tentu saja Papa sangat baik"
Ayah Raga terdiam setelah melihat kehadiran wanita asing turun dari tangga sambil memegang piring makanan anak-anak.
"Siapa dia? Kenapa Papa baru melihatnya". Melepaskan pelukan istrinya dan mendekat ke arah wanita itu.
Membuat semua orang yang ada di ruangan itu merasa tegang termasuk Widya. Karakteristik yang dimiliki oleh Ayah Raga adalah tegas dan susah untuk di pengaruhi. Sekali Ia tidak suka maka tidak. Kepribadiannya juga susah di mengerti banyak orang.
"Siapa namamu?"
"Wi-Widya"
Widya juga tampak menundukkan kepala untuk menghormatinya.
"Raga apa dia istrimu? Setahuku kau menikah tanpa sepengetahuan dari Papa kan. Tunjukkan dimana istrimu dan meminta restu dulu dari Papa. Lancang sekali menikah tanpa sepengetahuan dari Papa."
Aku harap setelah suamiku mengetahui hal ini dia juga tidak setuju dengan pernikahan ini.
Raga masih berdiri mematung.
Darimana Papa tahu tentang pernikahanku?. Semua orang pasti tidak berani untuk memberitahukan hal ini padanya kan.
"Di-dia..dia benar istri Raga Pa"
Ayah Raga terdiam menatap Widya setelah mendengar secara langsung dari mulut putranya bahwa dia istrinya.
"Baiklah, kau tampak baik dan perhatian. Aku harap pernikahan kalian juga bukalah permainan"
__ADS_1
Ayah Raga terlihat menepuk pundak menantunya dengan lembut, menandakan kalau Ia tidak bermasalah dengan pernikahan mereka.
What!. Apa yang terjadi pada suamiku apa dia juga sudah tidak waras?!.