
Hari ini ibu Raga terlihat menemui Mona di sebuah restoran ternama.
"Apa kau benar-benar mencintai putraku?"
"Tentu saja Tante aku sangat mencintai Raga"
"Aku ingin sekali kau menjadi menantuku"
Ucapan Ibu Raga kali ini benar-benar membuat Mona terkejut dan merasa senang sekali.
"Apa Tante,menantu? Tentu saja Tante Mona sangat bersedia untuk menjadi menantu Tante"
"Tapi dengan satu syarat. Kau juga harus merebut hati anak-anak dan menjadi ibu yang baik untuk mereka"
Siapa si yang gak mau jadi istri Raga. Aku juga mau kali jadi istri Raga, tapi kalau jadi ibu anak-anaknya lalu bagaimana dengan karirku?. Aku saja tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak.
"Bagaimana,apa kau siap untuk itu?"
"Ahh tentu saja Tante,aku akan berusaha untuk itu"
Aku harus memikirkan sesuatu,apa yang harus aku lakukan sekang.
******
Sehari berlalu.
Ibu Raga tampak sibuk memilih pakaian untuk berpergian. Ia tampak heboh dan mondar-mandir kesana-kemari memilih sepatu.
"Mama mau kemana?." Tanya Raga heran melihat ibunya sibuk di pagi hari. Bahkan dirinya yang akan pergi ke kantor pun masih terlihat santai.
"Aku ada reunian bersama teman-teman Mama. Mama juga ingin sekaligus bertemu dengan calon menantu Mama yang baru saja kembali. Dah sayang..."
Calon menantu? Siapa yang ia maksud?
Jangan bilang dia akan menjodohkan ku dengan wanita-wanita yang tak jelas.
Raga sudah pulih dari sakitnya berkat perawatan istrinya yang begitu memperhatikannya itu.
Kini Ia akan kembali berkerja ke kantor untuk menemui klien besarnya dari perusahaan.
Hari ini juga hari yang sangat sibuk bagi Raga setelah 2 hari tidak bekerja ke kantor.
Suasana kantor terlihat tentram dan damai seperti biasanya. Hanya riuh-riuh pekerja yang tampak bercanda tawa di jam istirahat.
Di waktu istirahat Raga juga masih terlihat sibuk menatap laptop di ruangannya.
"Permisi Tuan muda,ada kabar bahwa Tuan besar akan segera kembali ke Indonesia."
"Apa!. Kapan Papa akan kembali kemari?"
__ADS_1
"Entahlah, yang saya tahu Tuan besar akan kembali kemari secepatnya Tuan muda"
Gala pun kembali menjalankan tugasnya di ruangan kerjanya.
Waktu sore sudah datang.
Tepat di depan gedung masuk kantor terdapat mobil mewah yang terparkir dengan gesit. Lalu turun wanita cantik dan elegan dari dalam mobil dengan heels tinggi yang ia kenakan.
Apa dia seorang model?.
Intinya Ia langsung berjalan masuk ke gedung kantor melewati resepsionis dan menuju ke lantai atas begitu saja dengan lift.
Sepertinya ia orang penting dan terhormat yang akan menemui seseorang di kantor ini.
Ponsel Gala berdering adanya panggilan dari penjaga pintu depan untuk memberitahukan sesuatu.
"Tuan muda,Nona Teresa datang kemari untuk menemui Anda"
"Teresa?. Kapan dia kembali ke mari?"
Disaat mereka sedang sibuk berbicara ketukan pintu terdengar jelas dan terlihat perempuan cantik itu langsung memasuki ruangan Raga.
"Sore Raga,Sagala"
"Sore Nona"
Raga langsung mengingat perkataan ibunya yang akan pergi menemui calon menantunya yang baru pulang itu.
"Oh apa kabar Teresa?. Duduklah"
Ternyata Raga masih menyambut begitu baik diriku,itu artinya Raga masih memiliki rasa kepadaku kan.
Sagala alias Gala kembali ke tempat duduknya lagi untuk bekerja agar Tuan mudanya dapat mengobrol nyaman dengan tamunya.
"Aku baik-baik saja Raga,lalu bagaimana denganmu?"
"Aku baik dan sangat baik. Terlebih setelah mendapatkan istri yang begitu baik dan perhatian kepadaku berserta anak-anak"
Tuan muda tampak percaya diri sekali saat mengatakan itu, padahal Ia mencintainya saja tidak.
Sekretaris Raga tampak tersenyum kecil setelah mendengar itu. Sementara Teresa tampak terkejut dan terdiam seketika mendengar itu.
Istri?? Apa maksudnya istri, bukanya Rebecca sudah meninggal.
"Apa kau sudah menikah lagi?"
"Iya sudah. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku masih tetep sendiri Raga karena kepergian ku adalah untuk mengejar mimpi bukan mencari penggantimu"
__ADS_1
"Wah benarkah? Mungkin aku adalah orang bodoh karena telah menyia-nyiakan orang sepertimu. " Senyuman palsu juga tampak terlintas di bibir Raga sambil menatap Teresa yang cantik itu dengan tajam.
"Aku kira aku belum terlambat,tapi ternyata sudah ada orang lain di sisimu saat ini. Tapi aku juga merasa senang kau baik-baik saja sekarang"
Ya syukurlah aku baik-baik saja sekarang, karena aku pernah menyesal hampir gila karena kepergian mu.
Kehadiran Teresa tidak berlangsung lama disitu, karena Ia juga masih memiliki acara dan pertemuan dengan teman-temannya.
Tapi jujur saja pertemuan pertamanya kali ini justru adalah pertemuan yang menyebalkan bagi Teresa dengan sikap Raga yang terlihat sudah begitu melupakannya.
Apa Tante Nadira telah membohongiku!. katanya Raga masih sangat mencintaiku tapi nyatanya dia terlihat begitu bahagia dengan istrinya yang sekarang.
Yang dimaksud Nadira adalah Ibunya Raga.
******
Karena merasa tak terima akhirnya Teresa datang ke rumah Raga untuk menemui Tante Nadira.
"Tante Raga jahat sekali dia tidak lagi mencintaiku"Baru datang sudah terlihat begitu kesal saat berbicara di rumah Raga.
"Apa yang kau katakan Teresa, duduklah tenangkan dirimu dulu!"
Teresa pun duduk dengan raut wajahnya yang murung untuk menunjukkan kekesalannya.
"Aku mendatangi kantor Raga Tante dan dia menyambut ku dengan sangat baik. Aku kira Raga masih sangat mencintaiku tapi nyatanya saat aku mengobrol di ruangannya dia terlihat begitu bahagia dan terus menyanjung istrinya,aku jadi kesal!"
Raga apa kau sudah gila mengatakan semua itu.
"Tidak sayang percayalah padaku. Raga memang memiliki istri tapi hanya untuk menjadi pengasuh anak-anaknya saja bukan sebagai kekasih Raga yang sesungguhnya. Aku yakin Raga juga sama sekali tidak mencintainya"
Widya yang mendengar semua itu hanya bisa mematung di balik tangga yang sedang Ia turuni. Tapi entah kenapa setelah mendengar perkataan itu rasanya sangat sakit di hati padahal Widya sendiri sudah mengetahuinya.
Tapi ia memberanikan diri untuk tetap turun karena harus memotong buah untuk anak-anak.
Keduanya melihat Widya yang turun dari tangga, namun tampak tatapan sinis yang mereka langsung tunjukkan.
"Lihatlah dia! Dia adalah istri Raga sekarang. Bukankah dia sama sekali bukan seleranya. Lihat saja penampilannya, Ia hanyalah seorang pelayan yang telah berani menggantikan posisi Rebecca"
"Apa??? pelayan?"
Tatapan Teresa tampak begitu sinis dengan penampilan Widya yang sederhana. Ia juga langsung mendekati Widya dengan kesal mendengar dia hanya seorang pelayan.
"Bagaimana bisa seorang Raga bisa terpengaruh untuk menikahi mu apa kau mempeletnya hah?"
"Maaf, tanyakan saja sendiri pada Raga. Aku tidak berhak untuk menjawabnya"
"Hey!. Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku, memangnya kau siapa?. Plakkk!"
Tamparan keras tiba-tiba diberikan kepada Widya dari tangan wanita itu.
__ADS_1
"Teresa!"
Kemunculan Raga yang tiba-tiba dan terlihat begitu marah karena melihat istrinya di tampar.