
Suasana kantor.
Sagala kembali ke ruangan Tuan mudanya setelah beberapa saat pergi.
Ia terlihat membawa surat undangan acara yang di berikan kepada Tuan mudanya.
"Tuan muda ada undangan pertemuan dari perusahaan Tuan besar. Di anjurkan membawa pasangan karena adanya pagelaran pesta dansa. Jadi undangan ini khusus untuk dua orang setiap orang yang menerima 1 undangannya"
"Sudah ku duga Papa pasti akan mengadakan acara pesta bersama rekan kerjanya untuk merayakan bisnis majunya di luar negeri. Tapi kenapa harus ada pesta dansa segala si! Lalu dengan siapa aku harus pergi?"
"Siapa lagi jika bukan istri Anda Tuan muda. Jika Anda membawa wanita lain, ini akan menjadi petaka untuk anda dari Tuan besar."
"Aku tidak mungkin membawa wanita itu ke pesta. lagi pula dia tidak mengerti apa-apa akan acara besar seperti ini kan. Aku takut dia akan mempermalukan dirinya disana nanti"
"Tidak akan terjadi apa-apa selama Anda selalu disampingnya Tuan muda. Nona Widya pasti bisa menyesuaikan dirinya disana"
"Kau menyuruhku untuk selalu mengawalnya begitu?"
"Ini demi kebaikan anda Tuan muda"
"Lalu bagaimana dengan tatapan para karyawan nanti, sedangkan yang mereka tahu kekasihku adalah Mona?"
"Ini demi mata pemilik saham perusahaan terbesar Tuan muda, yaitu ayah Anda sendiri,bukan mementingkan mata karyawan semata. Jika di mata Tuan besar sendiri Anda tidak bisa berkomitmen tentang pasangannya lalu bagaimana anda akan berkomitmen dengan baik untuk perusahaan"
Aahh seharusnya Papa tidak mengetahui tentang pernikahan ku. Aku pasti akan membawa Mona ke pesta bukalah dia.
"Jangan khawatir Tuan muda,Nona muda akan terlihat lebih cantik dari wanita lain"
Gala juga mengerti apa yang ada di pikiran atasannya itu. Ia takut jika ia membawa istrinya nanti justru akan mempermalukan dirinya di pesta.
******
Waktu pesta telah tiba.
Raga dan Gala sedang menunggu Widya yang berada di ruang ganti salon kecantikan.
Setelah urusan penampilan Widya selesai mereka baru akan berangkat ke tempat pesta yang sudah di tentukan.
"Kenapa dia lama sekali?"
"Sebentar lagi pasti selesai Tuan muda"
Tak lama setelah itu Widya keluar dengan gaun pestanya yang sangat cantik, anggun dan elegan. Ia tampak cantik sekali, bahkan hampir tidak bisa dikenali.
Raga masih belum berkedip sejak tadi.
Mata dan bibir Widya terlihat begitu mempesona dan menggoda di matanya, terlebih saat ia mengingat malam itu bersama Widya membuatnya ingin memukul kepalanya sendiri karena kesal telah mengingat hal itu.
"Sebaiknya aku tidak ikut saja. Aku tidak terlalu pandai memakai heels tinggi. Aku takut akan memalukan Pak Raga di sana nanti"
__ADS_1
"Tenang saja Nona akan aku ajari anda berjalan pakai heels dengan benar."
Gala mendekati Nona mudanya, lalu memakaikan sepatu itu dengan lembut ke kaki mungil Nona mudahnya.
Melihat itu Raga merasa kesal sendiri, entah karena cemburu atau bagaimana.
"Mari ikuti aku berjalan Nona. Pandangan Nona harus tegak lurus ke depan dan tidak boleh kaku"
"Ehem. Biar aku saja yang mengajarinya, kau cukup berbicara saja. Bukankah nanti disana ia harus berjalan di samping ku kan"
"Tentu saja Tuan muda"
Raga mulai merangkul tangan istrinya ke lengan tangannya. Lalu menuntun dengan lembut sesuai arahan yang di berikan Gala. Walaupun Widya hampir tergelincir namun Raga dengan sigap menangkap dan membekapnya untuk menolong.
"Hati-hati"
Pandangan mereka bertemu seketika.
Membuat keduanya semakin canggung tadi.
"Kau ini bagaimana si baru jalan disini saja kau sudah tidak becus!. Lalu bagaimana kalau di sana nanti?"
"Maaf Pak"
Raga sudah berusaha keras untuk merasa kesal kepadanya,tapi setiap kali melihat mata wanita itu membuatnya merasa luluh tiba-tiba.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera berangkat ke acara pesta.
Di dalam gedung itu acara terlihat begitu megah dan meriah.
Semua orang juga terlihat bergandengan tangan dengan pasangannya masing-masing.
Semua orang tampak menghormati dan begitu menyanjung kehadiran Raga. Termasuk teman-temannya yang sudah lebih dulu berada di tempat itu.
"Apa kabar Raga,lama tidak berjumpa?"
"Aku baik, bahkan sangat baik. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat sekarang. Apa dia istrimu?"
"Ya dia istriku, namanya Widya"
"Seneng bertemu denganmu Nona. Istrimu juga terlihat sangat cantik Raga"
Keduanya berjabat tangan saling menyapa masing-masing.
Mereka juga melanjutkan ngobrol bersama dengan para tamu lainnya.
Tak di sangka, saat acara baru akan di mulai Raga baru sadar kalau acara ini akan di pandu oleh pembawa acara terkenal,yaitu Teresa mantan kekasihnya yang baru saja pulang dari luar negeri.
__ADS_1
Acara pun segera di mulai setelah Teresa membawakan beberapa lagu pembuka acara. Sambutan para orang-orang penting perusahaan pun terdengar bergema dimana-mana memenuhi seluruh penjuru ruangan yang ada.
Tidak terlepas dari pandangan Teresa untuk memantau lelaki kesayangannya itu dari kejauhan.
Aku yakin Raga memang tidak mencintai wanita itu, buktinya ia terlihat sekali menjaga jarak dengan wanita yang katanya itu istrinya.
Di tengah-tengah acara santai dan hiburan Teresa menyempatkan diri untuk bertemu dengan keduanya agar bisa meminta maaf.
"Raga"
"Mau apa kau kemari?" Sambil merangkul erat istrinya yang sedang berdiri di sampingnya itu untuk membuat Teresa panas.
Teresa tersenyum manis melihat keduanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf kepada istrimu, tindakanku kemarin sangatlah keterlaluan. Aku kira kau masih memiliki perasaan sama kepadaku tapi ternyata tidak. Aku sungguh meminta maaf kepadamu Widya"
Aneh, cepat sekali wanita ini berubah.
Widya hanya menganggukkan kepalanya lalu berjabatan tangan sambil menerima pelukan lembut wanita itu. Dan ternyata Teresa hanya ingin berbisik kepada Widya.
"Mulai sekarang kau telah mengambil nyawaku, selamat datang Widya"
Apa maksudnya dia berbicara seperti itu.
"Aku harap kalian benar-benar memaafkan ku dengan tulus"
"Iya aku juga harap kau meminta maaf dengan tulus"
Kini tinggal acara terakhir. Yaitu acara dansa untuk para tamu yang hadir di pesta itu.
Pembukaan pesta dansa di awali dengan penampilan Teresa dan seorang lelaki yang menjadi pasangannya.
Karena Widya tidak pandai berdansa ia hanya bisa terdiam saat ini sambil menyaksikannya.
Namun ternyata rekan-rekan kerja Raga menginginkan Raga untuk berdansa dengan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Emm sebaiknya jangan. Aku benar-benar tidak bisa berdansa Pak." Bisikan lembut Widya ke telinga suaminya karena sudah panik terlebih dahulu.
"Tenang saja cukup ikuti aku dan jangan kaku. Aku tidak ingin kau mempermalukan aku di sini. Mau tidak mau kau harus berdansa denganku"
Akhirnya keduanya pun berdansa.
Hal ini juga baru pertama kalinya Widya melakukan dansa. Ia berusaha untuk mengikuti arahan yang di berikan suaminya itu dengan baik walaupun kakinya lecet dan terasa perih akibat sepatu yang ia kenakan terlalu lama.
Tapi belum lama Ia berdansa ia terkilir karena sepatu yang ia kenakan itu licin hingga membuatnya terjatuh.
"Aww.."
Dasar melakukan!
__ADS_1