
Weekend datang lagi.
Semakin hari hubungan Widya dengan ketiga anaknya semakin dekat.
Mereka juga terlihat sudah bersuka ria dan tertawa bahagia walaupun dunia masih pagi.
Raga yang sedang menyaksikan dari kejauhan tampak tersenyum senang juga melihat tingkah lucu anak-anaknya setiap pagi.
"Papa.." Alfia terlihat menghampiri ayahnya dan mengajaknya bermain ke ruangan bermain. "Ayo kita main Papa Mama sama Mba Yaya"Dengan imutnya Alfia berkata demikian kepada ayahnya. Membuat Raga hanya menggelengkan kepala seraya mengikuti kemauannya.
Widya yang melihat kehadiran suaminya justru merasa canggung dan terusik. Kehadirannya justru mengganggu ketenangannya saat bermain dengan anak-anak.
Raga duduk sesuai arahan dari putrinya di samping Widya.
"Nah ini Papa ini Mama, kita sudah punya Papa Mama yeyyy. Ayo kita main"
Anak-anak pasti sangat merindukan Rebecca.
Lagi-lagi Raga teringat akan mendiang istrinya, membuatnya tersenyum kecil menatap anak-anaknya yang terus mengajaknya bermain.
Kasian Pak Raga,dia pasti sangat merindukan sosok istrinya. Tapi sayang ceweknya banyak.
Sementara di tempat lain terlihat Mona yang sedang sibuk memilih baju.
"Aku harus ke rumah Raga hari ini, baiklah jika aku harus merebut hati anak-anaknya terlebih dahulu"
Mona sedang berpikir keras untuk dirinya saat ini.
Setelah berpikir panjang ia memutuskan untuk mencoba mendekatkan dirinya pada anak-anak Raga terlebih dulu.
Ia juga berniatan akan bertamu ke rumah Raga hari ini sambil membawakan mainan untuk anak-anaknya.
******
"Pagi Tante"
"Pagi sayang. Akhirnya kau datang juga"
Melihat kehadiran Teresa membuat Nadira merasa senang." Duduklah"
"Aku bawakan makanan kesukaan Tante loh sama mau kasih surprise buat Raga"
"Wah makasih sayang"
"Anak-anak dimana Tante,apa mereka belum bangun?"
"Mereka sudah bangun kok, lagi main di lantai atas"
"Tante"
Tiba-tiba Mona datang juga dengan beberapa tas belanjaan di tangannya.
__ADS_1
Ia tampak cantik dan menawan sekali di pagi hari. Ia berpenampilan seperti ini juga demi memikat hati Raga.
"Mo-Mona. Kau datang juga?"
Nadira tampak kaget, biasanya Mona selalu mengabarinya jika akan datang ke rumah.
"Maaf Tante aku gak ngasih kabar, karena aku mau ngasih surprise buat Raga dan anak-anak"
"Dia siapa Tante?"
Gawat
"Kenalin aku pacarnya Raga?"
"Apa!. Pacarnya Raga. Tunggu-tunggu aku gak salah denger?." Teresa terkejut sekaligus tidak percaya mendengar jawaban Mona secara langsung. Sedangkan Raga di depannya terlihat begitu memuji istrinya kemarin.
"Ihh apaan si orang gak jelas banget"
Mona langsung berjalan ke lantai atas sambil memanggil Raga dengan sebutan Sayang.
"Sayang. Sayang"
Sayang. Apa wanita itu gila.
"Tante, apa-apa ini dia siapa lagi?"
"Di-dia Mona Teresa,wanita yang memang sedang dekat dengan Raga"
"Teresa. Jika kau benar-benar menginginkan putraku Raga maka kau harus berusaha keras untuk ini.Kau juga harus bisa merebut hati Raga kembali. Tante juga tidak bisa menolak jika Raga memang dekat dengan Mona sekarang. Kau yang pergi meninggalkan Raga waktu itu. Tante juga tidak tahu mana yang terbaik untuk Raga, semuanya ada di tangan kalian. Yang jelas Tante tidak menginginkan wanita itu untuk menjadi menantuku"
Apa-apaan ini, bisa-bisanya Tante bersikap seperti ini. Jadi sainganku 2 sekarang.
Sedangkan di dalam kamar Raga dan Widya terlihat berbenturan jidat karena ulah anak-anak yang rese.
"Aduh maaf Pak. Aku benar-benar tidak sengaja"
Widya spontan mengelus jidat Raga yang berbenturan dengannya tadi.
Sementara Raga terdiam menatap penuh wajah istrinya yang di pandang semakin manis di matanya.
Tapi Mona terlihat menyaksikan semua itu tadi.
"Raga"
"Mona. Kau kemari?"
"Apa-apaan Raga. Jadi sikapmu begini di belakangku?"
Raga langsung berdiri menghampiri Mona.
"Pelan kan suaramu ada anak-anak, tunjukkan sikap yang benar dan lembut. Jangan membuat keributan di rumahku Mona"
__ADS_1
"Aku baru datang Raga tapi kau sudah bersikap seperti ini. Kau benar-benar telah berubah Raga"
Teresa tampak menyusul ke lantai atas untuk menemui anak-anaknya juga. Ia juga mendengar percakapan keduanya tadi hingga membuatnya tersenyum.
Aku benar-benar mengerti permainan apa yang harus aku mainkan sekarang. Aku tidak ingin kehilangan Raga untuk yang kedua kalinya.
"Hay Raga"
Teresa!. Ngapain lagi dia kesini.
Teresa masih tersenyum sambil membawakan hadiah yang di bawanya tadi.
"Aku bawakan hadiah untuk mu dan istri tercintamu. Sebagai ucapan selamat atas hari lahir mu dan permintaan maaf ku kemarin karena telah membuatmu marah. Aku benar-benar tidak tahu jika kau sayang sekali pada istrimu yang sekarang. Intinya aku sangat meminta maaf"
Teresa!. Lagi-lagi kau mengatakan hal ini untuk mematahkan hidungku di hadapan Mona kan. Kenapa semaunya menjaga kacau begini si!.
"Hey apa yang kau katakan? Yang Raga sayangi itu cuma aku"
"Cihh,kamu itu siapa? Dia adalah istrinya. Bahkan Raga kemaren membawa Widya ke acara besar untuk berdansa. Jika Raga menyayangimu kenapa tidak kau yang di bawa. Sadarlah Mona jangan menjadi Pelakor, karena sejatinya kita itu bernasib sama"
"Tutup mulutmu ya! Yang Pelakor itu dia. Dia telah merebut pacarku dan menikahinya. Raga menikahinya juga hanya sebagian pengasuh doang kok,aku juga tahu. Apa maksudnya juga kita bernasib sama!"
Widya memang menyaksikan mereka dari balik ruangan bermain. Namun ia hanya bisa terdiam dan mendengar perkataan yang mereka katakan sambil mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak keluar ruangan.
"Cukup! Cukup!bKenapa kalian malah Ribut. Aku bilang jangan membuat suasana gaduh di sini. Pulang saja kalian berdua!"
Raga langsung terlihat kesal karena ia paling benci suasana ribut seperti ini.
"Ya sudah aku pulang. Raga selamat bersenang-senang dengan istrimu nanti malam ya,ini adalah hari spesial mu kamu jangan sia-siakan itu!." Terasa dengan penuh senyuman senang pergi meninggalkan ruangan itu setelah bermain halus dengan Mona.
Lihat saja,siapa yang akan bertahan untuk mendapatkan Raga nantinya.
Raut wajah Mona sudah terlipat kusut karena kesal. Terlebih mendengar Raga yang ikut mengusirnya juga dari rumah tadi.
"Kau benar-benar tega Raga. Di depan orang lain kau mengakuinya sebagai istrimu. Tapi di depanku kau bersikap lain. Aku kecewa dan ini hadiah mu. Selamat ulang tahun!"
Mona terlihat begitu kesal dan kecewa sambil memberikan seluruh bawaannya kepada Raga. Ia juga pergi begitu saja untuk turun ke bawah.
"Mona Mona"
Tidak ada sahutan darinya. Sepertinya Mona benar-benar kesal dan kecewa dengan sikap Raga tadi.
"Aarrgh! Semuanya membuatku kesal!"
Teriakan Raga yang kesal membuat anak-anak kaget termasuk anak Widya.
"Mbak Yaya, Papa kenapa?"
"Tidak Papa kok sayang, mungkin Papa hanya bercanda saja"
Jadi Pak Raga hari ini ulang tahun. Aku benar-benar tidak tahu akan hal ini. Seharusnya ini hari kebahagiannya kan.
__ADS_1