
Widya terlihat sibuk membuka kopernya untuk mencari surat-surat penting yang ia butuhkan.
"Kau sedang cari apa Widya?"
"Aku berniat untuk memindah sekolah Ainun besok, agar tidak terlalu jauh dari sini"
"Tak usah repot-repot Widya. Aku akan memasukkan putrimu ke sekolah ternama"
"Aku tidak mempunyai biaya Joffa. Tolong jangan aneh-aneh"
"Tenang saja aku yang akan melunasi biaya sekolah Ainun sampai tuntas"
"Joffa jangan membuatku tidak nyaman dan berhutang budi begitu banyak kepadamu,ini membuatku tidak nyaman"
"Baiklah aku akan memotong sebagian gaji mu untuk Ainun agar kau tidak menganggap ini berhutang budi"
Tingkah Joffa memang selalu membuatnya tepuk jidat, namun apalah daya Widya, Joffa akan selalu memaksa akan kemauannya.
Benar-benar di hari ini juga Joffa mengajak Widya dan ainun untuk datang ke sekolahan barunya.
Begitu terkejutnya Widya saat berada di depan gerbang sekolahan itu. Tempat sekolah yang tentunya biasa ia datangi bersama anak-anak Raga.
Ada TK,SD, SMP dan juga SMA di sana.
"Ini sekolahnya Fa?"
"Iya. Bagaimana kau suka?"
Widya terlihat langsung menghadap ke sebrang jalan sambil membayangkan sesuatu dimana kejadian buruk itu terjadi. Di depan jalan gedung sebrang kiri adalah tempat dimana ia kecelakaan bersama Alfan.
Mata Widya juga terlihat berkaca-kaca ingin menangis karena merindukan Alfan.
"Alfan apa yang telah terjadi nak"
"Widya kau tidak papa?"
Mendengar Widya berbicara sendiri membuat Joffa heran.
"Disinilah tempat kecelakaan itu terjadi Joffa"
"Maksudnya?"
"Di seberang sana. Aku benar-benar ingat akan kejadian itu"
"Sungguh aku tidak tahu Widya. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak berniatan untuk membawamu kesini dan mengingat itu kembali"
Widya terlihat meneteskan air mata. Joffa yang melihat itu langsung mengusapnya dengan tisu.
"Ini sekolahan yang paling mahal kan Fa? Kau akan menghabiskan biaya banyak untuk menyekolahkan Ainun di sini"
"Tenang saja Nona sekolahan ini juga punya..."
"Uhuk...uhuk. Ridwan ambilkan tisu"
Sepertinya Joffa mencegah supirnya untuk berbicara apapun tentang sekolahan ini. Ia juga terlihat menutupi sesuatu.
"Lalu bagaimana Widya? Kau masih menyetujui Ainun sekolah disini kan?"
__ADS_1
"Sebenarnya sekolahan ini sangat mahal. Ini begitu berat untukku menerimanya"
"Sungguh jangan pikiran biayanya Widya. Ini demi masa depan Ainun juga kan"
"Apa aku boleh jika sewaktu-waktu aku jemput Ainun ke sekolah ini dan aku ingin bertemu anak suamiku,aku sangat merindukannya"
"Bilang saja jika kau mau. Dengan senang hati aku akan mengantarmu ke sini dan bertemu dengannya"
"Terimakasih banyak Joffa"
Semoga saja kau juga di pertemukan dengan suamimu Widya. Dan semoga saja suamimu bisa membukakan pintu hatinya untukmu dari kenyataan takdir yang pahit ini. Karena aku lihat kau begitu mencintainya.
Urusan sekolah sudah selesai.
Kini waktunya mereka melanjutkan kegiatan ke kantor untuk bekerja.
Tugas Widya hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah Joffa.
Kantor kerja milik Joffa tampak begitu besar dan megah, bahkan parkiran terlihat penuh dengan mobil-mobil dan motor karyawan.
"Pagi Pak Joffa"
"Pagi.."seraya menganggukkan kepalanya sambil menjawab satu persatu sapaan dari mereka.
Melihat semua ini membuat Widya menjadi minder saat berdekatan dengan Joffa. Ia juga teringat akan bayangkan suaminya saat di kantor.
Joffa benar-benar terlihat disegani di kantor ini. Apa pak Raga juga seperti itu saat berada di kantornya. Apa mukanya lebih datar lagi tanpa senyuman.
Orang-orang di kantor ini juga terlihat cantik-cantik dan bening sekali, berbeda sekali denganku.
"Tapi aku belum bekerja bagaimana bisa kau menyuruhku untuk istirahat Joffa? Kasih aku pekerjaan!"
"Kau pasti akan bekerja setelah aku kembali ke ruangan nanti"
"Iya sudah baiklah"
"Jika kau bosan mainkan saja iPad-ku,kau boleh nonton sesukamu saat aku pergi"
Widya mencibir mendengar semua perkataan Joffa yang sama sekali tidak seperti seorang bos baginya, melain seperti teman dekat bahkan kakaknya.
"Kau sama sekali tidak menunjukkan citra mu sebagai bos Joffa,kau masih menanggap aku teman dekatmu di ruang kerja"
"Maaf Widya aku sungguh tidak bisa berakting. Aku lebih senang bersikap apa adanya"
"Baiklah, terimakasih banyak Joffa. Semangat!!"
"Terus saja berterimakasih sampai aku bosan mendengarnya. Semangat Itu pasti Widya"
Joffa menggelengkan kepalanya sambil menatap Widya. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan meeting bersama rekan karyawannya.
Widya tidak bisa diam begitu saja, ia mencoba membereskan barang-barang yang sedikit berantakan di ruangan kerja itu.
Ternyata di ruang kerja Joffa terdapat ruangan perpustakaan yang cukup besar dan indah di balik dinding ruangannya.
"Ya tuhan ada perpustakaan juga disini. Aku tidak menyangka ternyata Joffa menjadi orang yang sangat kaya raya sekarang"
Widya sendiri tidak tahu bahwasanya Joffa adalah anak orang kaya sejak dulu. Hanya saja ia ingin belajar mandiri dan pura-pura miskin di waktu sekolah.
__ADS_1
Dan pada saat itu juga Joffa dikucilkan oleh teman-temannya dan bahkan di buli karena miskin. Namun hanya Widya lah yang selalu menemaninya dan bermain bersamanya di waktu sekolah.
Padahal keluarga Widya dulu sangat berkecukupan dan tergolong anak orang yang berpunya, namun karena kebangkrutan usaha keluarganya membuat hidupnya miskin sampai sekarang.
Ketulusan hati dan kebaikan Widya lah yang selalu membuat Joffa kagum dan menyukainya sampai sekarang.
Tapi apalah daya Joffa setelah mengetahui Widya sudah berumahtangga. Ia hanya ingin membahagiakannya dan membalas semua kebaikan Widya.
Setelah membereskan ruangan Widya beralih ke ruang perpustakaan itu untuk membaca buku.
Buku yang begitu banyak dan menarik membuatnya ingin membaca semuanya satu persatu.
Tapi belum juga habis satu buku Widya sudah terlelap karena mengantuk di perpustakaan.
"Belikan aku sate tusuk pedas manis"
Sehabis meeting Joffa menyuruh sekretarisnya untuk membelikan makan siang seperti biasanya. Namun baru kali ini makanan asing yang terdengar di telinga sekretaris itu hingga membuatnya mengerutkan dahinya.
"Mohon maaf Pak bukanya anda tidak suka pedas? Apa aku salah pendengaran?"
"Tidak, itu bukan untukku"
"Ohh saya paham Pak"
"Jadi belikan aku seperti biasa"
"Baik Pak"
Joffa langsung masuk ke ruangannya, sementara sekretaris itu pergi keluar untuk menjalankan perintahnya.
Suasana di ruangannya tampak begitu sepi.
Bahkan batang hidung Widya tidak terlihat sama sekali di ruangan itu.
"Dimana Widya? Apa dia kabur?"
Joffa mencari kesetiap sudut ruangan yang ada dengan bingung.
Ternyata Widya masih ketiduran di ruang perpustakaan itu dan terlihat begitu terlelap nyaman.
"Iya ampun Widya apa yang kau lakukan disini? Tidur di ruangan ku kan ada"
Joffa mencoba untuk membangunkannya dengan lembut. Sebenarnya ia tidak tega untuk membangunkannya, namun posisi Widya tidak baik jika terus tidur di bawah sambil bersandar dinding dan rak buku, terlebih ia sedang hamil muda.
"Maaf Joffa aku ketiduran." Widya terlihat kaget dan bingung dengan kehadiran Joffa yang sudah ada di depan matanya.
"Maaf aku membangunkan mu Widya. Tidak baik kau tidur seperti ini tidurlah di ruangan ku"
"Tidak Joffa maafkan aku,aku hanya ketiduran"
"Aku sedang membelikan mu sate tusuk pedas manis. Sehabis makan siang kau boleh tidur lagi"
"Kau masih ingat makanan kesukaanku?"
"Tentu saja Widya aku tidak mungkin lupa"
Ya Tuhan kenapa aku merasa Joffa bersikap seperti suamiku bukannya seorang bos.
__ADS_1