Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
19. Semakin dekat


__ADS_3

Raga sudah keluar dari kamarnya. Ia juga terlihat sangat segar, sepertinya ia baru saja membersihkan dirinya.


Anak-anak sudah mandi dan wangi juga.


Melihat kehadiran ayahnya membuat mereka langsung bergembira.


"Papa"


"Hay anak-anak Papa sudah pada mandi ya"


"Sudah dong, Alfia wangi kan?"


"Aku juga wangi"


Alfan dan Alfia saling berebut untuk mendapatkan perhatian sang ayah.


Widya dan Ainun sudah muncul mendekati mereka juga yang sedang asik mengobrol.


Kecanggungan terlihat sekali dari wajah Widya yang mengalihkan pandangannya dari Raga.


"Ayo kita jalan-jalan hari ini"


Mendengar perkataan Raga membuat kedua anaknya semakin riang gembira.


Sementara Ainun yang sangat kalem dan jarang sekali berbicara hanya tersenyum kecil melihat kedua adiknya bergembira.


Mereka semua mengikuti kemauan Raga untuk refreshing dan keliling kota.


Di dalam mobil Widya terus terdiam sambil mengusap-usap lembut rambut Ainun agar ia bisa tertidur. Widya terlihat sekali sangat menyayangi putri kandungnya. Membuat anak-anak Raga yang melihat itu tampak iri untuk mendapatkan belaiannya juga.


"Aku mau dipangkuan Mbak Yaya"


Alfia terusik dari pangkuan Raga karena ingin beralih tempat duduk ke Widya, namun Raga terlihat mencegat kemauan anaknya itu.


"Tunggu Alfia,Alfan, kalian pengin punya Mama baru ya?"


Keduanya terlihat langsung menganggukkan kepalanya dengan bersemangat mendengar ucapan Raga.


"Kalau begitu panggil Mbak Yaya Mama, karena Mbak Yaya Mama baru kalian sekarang"


Widya tampak terkejut. Awalnya ia mengira Raga akan menawarkan wanita lain pada anak-anaknya seperti Mona ataupun Teresa, tapi nyatanya dialah yang ia tawarkan. Ini membuat hati Widya terguncang dan merasa haru.


"Yeay kita punya Mama baru"


"Baiklah Alfia dan Alfan boleh duduk di pangkuan Mama sekarang"


Widya tampak tersenyum senang matanya juga terlihat berkaca-kaca ingin menangis. Raga tahu selama mengasuh putra-putrinya Widya terlihat begitu tulus mencintai kedua anaknya.

__ADS_1


"Ainun apa boleh kita bertukar tempat?. Sini duduklah di pangkuan Papa"


Papa. Apa aku tidak salah dengar tadi?


Ainun sedikit malu-malu,tapi karena rayuan Raga akhirnya Ia mau duduk di pangkuan Papa tirinya.


Kenapa ini berbeda sekali dari perjanjian sebelumnya, bahkan sikap Pak Raga akhir-akhir ini memang perlahan berubah. Apa karena obat semalam benar-benar membuatnya stress?.


Widya terlihat begitu bahagia, walaupun tidak di tunjukan dengan ekspresi namun mata Widya terlihat berkaca-kaca penuh dengan genangan air haru.


Ainun pasti sangat canggung,tapi aku yakin sekali kalau dia sangat nyaman berada di pangkuan Pak Raga.


Mobil terus berjalan mengikuti jalan yang ada, entah dimana supir akan berhenti nantinya tapi yang jelas supir itu yang tahu kemana Raga ingin pergi.


"Tempat apa yang kau sukai?"


Untuk memecahkan keheningan Raga mencoba mengajak istrinya berbicara namun Widya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan tidak mendengarkan bicaranya.


"Kau tidak mendengar ku?"


"Hmm, kepada Pak?"


"Oh tidak jadi"


Ya Tuhan apa yang dia katakan tadi,aku benar-benar tidak mendengarnya.


Mungkin aku butuh waktu untuk bersikap seperti ini kepadanya,aku juga harus menerima kenyataan yang ada kalau aku tertarik kepadanya sekarang.


Mobil berhenti di tempat yang indah yang terkenal di tengah-tengah kota yang besar ini.


Banyak orang-orang kota yang juga berdatangan kemari hanya untuk mencari udara segar.


Di kawasan kota yang elit dan elok tentunya.


Pemandangan pantai yang indah dengan semilir angin yang begitu segar menembus ke pori-pori tubuh, membuat orang-orang yang sedang menikmati angin itu serasa ingin tiduran di pasir-pasir yang luas dan putih.


Mereka masih terdiam di dalam mobil dan belum juga turun.


Widya juga tampak terdiam membisu melihat sekeliling mobilnya yang di penuhi banyak pengunjung yang berdatangan.


"Kita kesini?"


"Iya, kita main di pinggiran pantai. Aku ingin mengajari anak-anak mengenal alam bermain dengan pasir"


Widya terdiam lagi,Ia terlihat pias dan memikirkan sesuatu.


"Apa kau tidak suka tempat ini?." Tanya Raga heran dengan ekspresi wajah istrinya yang tampak pias dan terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Emm bukannya aku tidak suka Pak,tapi aku takut dengan pantai dan air yang begitu banyak"


"Karena apa,apa kau phobia air?"


"Tidak juga tapi.."


Widya teringat akan momen terkelam yang pernah ia rasakan di sebuah pantai.


Iya tenggelam dan terseret ombak laut yang besar karena kelalaian sang pengasuh waktu ia kecil dulu. Kejadian itu memang sudah terjadi sangat lama, namun karena kejadian itu membuatnya trauma dan tidak ingin mendatangi pantai lagi.


"Apa kau memiliki kenangan yang buruk dengan pantai?"


Widya menganggukkan kepalanya pelan dan masih ingat sekali akan kejadian itu.


Namun ia tidak berani menceritakannya pada Raga, karena ia juga tahu Raga pasti juga tidak akan memperdulikannya.


"Baiklah sebaiknya kita bermain di mall saja"


"Tapi anak-anak pasti akan lebih senang bermain di tepi pantai kan"


"Tapi menurutku tempat ini juga berbahaya untuk anak-anak sekecil mereka"


Widya tidak tahu entah karena apa Raga bisa berubah pikiran begitu cepat, entah karena kepeduliannya pada Widya ataupun pada anak-anak, yang jelas ia bersikap sangat baik hari ini.


Mobil pergi dengan cepat meninggalkan parkiran yang disediakan di tempat itu untuk menuju ke mall terdekat.


Mereka akhirnya menghabiskan waktu di tempat Playground di sebuah mall sambil belajar tentang benda-benda yang ada.


Raga dan Widya semakin terlihat begitu dekat dan saling tertawa masing-masing untuk menghibur anak-anak.


Mereka juga terlihat sangat antusias dan semangat saat momong anak-anak, hingga membuat anak-anak begitu bahagia hari ini.


Sementara di sisi lain di sudut mall ini juga terlihat gerombolan wanita cantik sedang berjalan dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Kamu kenapa si,sejak kemaren gak mood banget?." Tanya salah satu wanita yang berada di sebelah wanita itu.


"Kau tahu,sejak lama aku menginginkan Duda tajir itu, tapi tanpa sepengetahuanku ternyata ia telah menikah dengan pengasuh anaknya. Padahal aku sudah berusaha untuk mendekatkan diri padanya, namun ia lebih memilih wanita itu di hadapan orang lain. Aku juga tidak tahu siapa wanita yang ada di rumah Raga itu,tapi yang jelas aku dengannya diusir begitu saja tanpa memikirkan perasaanku"


"Apa pengasuh anak Raga itu sangat cantik. Kenapa Raga yang kaya raya itu mau menikahi pengasuhnya sendiri,apa dia itu buta. Apa dia benar-benar lebih cantik darimu"


"Ihh beda jauh lah,Cermin juga tahu kalau aku dengannya itu jelas cantik aku"


"Eh eh tunggu bentar. Itu bukanya si Raga?"


Salah satu teman Mona yang lain melihat Raga dan istrinya yang terlihat begitu bahagia bermain di tempat Playground bersama anak-anak.


Raga!. Dia terlihat dekat sekali dengan wanita itu, itu Raga kan?.

__ADS_1


Ohh Jadi gini Raga sekarang,ia lebih memilih wanita itu daripada aku,dia bahkan sampai cuekin aku 2 hari. Ini tidak boleh dibiarkan,aku harus melakukan sesuatu.


__ADS_2