
Setelah 2 hari keadaan Widya membaik. Joffa berniat mengantarnya juga hari ini sesuai permintaannya.
Mobil pun sudah stand by di parkiran untuk menunggu mereka yang akan naik.
"Sebelum mengantar kalian pulang kita mampir makan siang dulu ya. Kita bahkan tidak pernah makan bersama lagi selepas kita lulus SMA. Bertemu saja baru kali ini"
"Iya ampun Joffa aku sudah terlalu banyak merepotkan mu"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar mu bicara lagi Widya. Sebaiknya aku tidak bicara apa-apa padamu,yang penting kau cukup mengikuti aku saja kemanapun aku pergi"
Mereka pun akhirnya mampir ke sebuah resto ternama dan makan bersama disana.
Setelah itu mereka beru melanjutkan perjalanan menuju ke rumah kontrakan Widya.
Mobil sudah berada di gang kontraknya yang sempit. Bahkan tidak dapat di lalui oleh kendaraan roda empat.
Membuat Joffa berempati untuk turun dari mobil dan mengantar Widya sampai ke depan kontraknya dengan jalan kaki.
"Kau tinggal di sini?." Menatap rumah dan sekitarnya yang tampak kecil dan sempit.
"Iya aku baru saja menyewanya. Aku juga baru akan bermalam di sini malam ini"
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Widya? Kau sedang hamil dan dimana suamimu sekarang?." Joffa menutup mulutnya ia baru sadar atas apa yang telah ia katakan. "Oh maaf, lagi-lagi aku lancang menanyakan hal ini padamu."
Widya tersenyum sambil menatap Joffa yang sedang mengintai sekitaran rumahnya.
"Aku tahu kau orang yang sangat baik dan selalu setia mendengar apapun yang aku ceritakan. Kau juga orang yang pandai menjaga rahasia. Baiklah akan aku ceritakan padamu agar kau tidak terus penasaran"
Akhirnya Widya mempersilahkan Joffa masuk ke kontrakan barunya. Ia pun menceritakan kisah hidupnya yang sekarang kepada Joffa tanpa ada yang di tutup-tutupi kecuali tentang suaminya Raga.
Bahkan saking lamanya tidak bertemu Joffa juga tidak tahu tentang suaminya Widya yang dulu alias ayahnya Ainun.
"Lalu apa yang harus kau lakukan sekarang?"
"Mencari pekerjaan,pekerjaan apapun itu yang penting aku bisa menghasilkan uang dan dapat menghidupi aku dan anakku"
"Bagaimana kalau kau kerja denganku saja?"
"Tuh kan, lagi-lagi aku merepotkan mu Joffa"
"Tidak sama sekali Widya. Kau mau kerja apa? Sedangkan kau sedang hamil begini aku takut kau akan bekerja yang berat-berat dan melelahkan nantinya"
Joffa tahu kepribadian Widya dari dulu adalah mandiri dan tidak pernah mengeluh. Ia juga selalu bekerja keras dalam memperjuangkan apapun yang ia inginkan tanpa putus asa.
__ADS_1
"Entahlah aku juga tidak tahu Joffa"
"Iya sudah tutup pembayaran kontak rumahmu ini dan ikutlah tinggal bersamaku di rumah. Aku juga tinggal sendirian"
"Hah??"
Masih tidak percaya dengan perkataan temannya itu. Padahal Widya sendiri tahu kalau perkataan Joffa tidak pernah bermain-main dan bercanda.
"Kau cukup temani aku saat aku ke kantor. Dan anggap saja kau bekerja sebagai asisten pribadiku nanti. Tenang saja aku juga tidak akan memberikan pekerjaan yang berat untukmu"
"Tapi Fa"
"Nurut saja apa kata ku Widya"
Tawaran Joffa bagi Widya adalah tawaran berlian. Selain keduanya sudah saling dekat, ketika berada di dekat Joffa Widya juga merasa lebih aman. Untung Saja mereka di pertemukan kembali saat ini tanpa di sengaja.
******
Hari ini Raga menyempatkan diri untuk bermain bersama putrinya.
Sering kali putrinya menyebut dan mencari-cari kakaknya Alfan. Raga hanya bisa tersenyum pilu sambil menghiburnya dengan perkataan lain. Raga juga sedih setiap kali mengingat putranya. Ternyata Alfia begitu kesepian sekarang,selain tidak mempunyai kembaran lagi ia juga kehilangan temannya Ainun.
Disisi lain tampak ada tamu yang datang ke rumah Raga, siapa lagi jika bukan Teresa. Ia terlihat membawa beberapa tentengan yang berisi sesuatu untuk Raga dan Alfia.
Setelah menyapa ibunya Raga, Teresa langsung saja naik ke lantai atas untuk bertemu Alfia.
Ketukan pintu sudah terdengar di pintu kamar anak-anak. Raga bergegas membukanya dan ternyata dia itu Teresa.
"Kau"
"Raga, aku bosan di rumah aku ingin bermain dengan Alfia"
"Tumben. Apa obatmu habis?"
Mendengar perkataan Teresa membuat Raga mencibir. Biasanya dia tipe orang yang sibuk dan selalu tidak betah berada di rumah.
"Ih Raga bisakah kau kurangi kebencian di dalam hatimu untukku 10 % saja?"
"Yah coba saja!"
Teresa mencoba mendekati Alfia dengan gembira lalu memamerkan mainan yang ia bawa sambil menunjukannya satu persatu.
Jelas saja Alfia tampak gembira layaknya anak kecil pada umumnya yang selalu senang ketika mendapat mainan.
__ADS_1
Apa dia akan menyogok anakku dengan mainan anak-anak untuk merebut hatinya.
Raga beralih mengambil leptop lalu menemani keduanya bermain di kamar itu.
"Raga kenapa kita tidak mengajak Alfia jalan-jalan saja pasti Alfia akan sangat senang?"
"Aku sudah mengajaknya jalan-jalan tadi pagi dengan Mona. Sekarang waktunya belajar si. Jika kau berkenan ajari putriku belajar"
Ya Tuhan sungguh membosankan sekali. Mona lagi-Mona lagi Segitu bencinya dia kepadaku sekarang.
Raga tidak akan terhanyut dalam kecantikan seseorang yang hanya hobi kesana-kemari dan berdandan. Ia benar-benar ingin menikah dengan wanita yang dapat menjadi ibu untuk anak-anaknya. Namun ketika ia sudah menemukan titik terang yang ada di dalam diri Widya, kenapa ia harus merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya. Hal inilah yang benar-benar membuatnya kecewa sampai saat ini.
Kenapa disaat aku mulai mencintai Widya aku harus kecewa seperti ini, bahkan aku harus kehilangan putraku hanya karena kelalaiannya.
Memikirkan Widya sering kali memang muncul di pikiran Raga. Namun perasaan ego kerena kecewa lebih besar dari pada perasaan cintanya sendiri saat ini. Ia benar-benar terhanyut dalam perkataan ibunya bahwa Widya hanyalah wanita pembawa sial.
Sementara Mona dan Teresa sedang berjuang keras untuk merebut hati sang Papa ganteng dan tajir itu. Sama halnya dengan pihak kepolisian yang terus berusaha mengusut kasus penabrakan lari yang di alami oleh almarhum anaknya Alfan.
******
Kali ini Widya tampak tercengang dengan kemegahan rumah Joffa yang tak kalah mewah dari rumah suaminya Raga.
"Rumah sebesar ini kau tinggali sendiri Joffa?"
"Emm iya begitulah. Sebenarnya aku tidak selalu sendiri kadang kakakku pulang dia menginap di sini"
"Kakakmu? Memangnya dimana kakakmu sekarang?"
"Dia sedang sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri. Kadang dia pulang sebulan sekali bahkan bisa 2 bulan atau 3 bulan tergantung moodnya saja"
"Aku bahagia sekali Joffa kau bisa sesukses ini sekarang"
"Mungkin orang-orang mengatakan begitu,tapi nyatanya aku belum bisa sebahagia itu karena aku belum mendapatkan pasangan sampai sekarang"
"Kenapa? Yang mengantri mu pasti sangat banyak kan. Kau juga tampan dan banyak uang,lantas apa yang membuatmu belum menikah?"
"Mungkin karena aku belum bisa menemukan kriteria wanita yang baiknya sama seperti ibuku"
"Cihh,ibumu tidak ada duanya Joffa. Wanita seperti itu di dunia ini hanyalah ibumu tidak ada yang lain"
"Hehe aku tahu itu. Aku hanya beralaskan saja. Tapi setidaknya sedikit saja yang memiliki kriteria seperti ibuku"
Seandainya kau belum menikah Widya aku pasti akan menikahi mu sekarang.
__ADS_1