Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
24. Bertemu Joffa


__ADS_3

Sepulang dari menjual perhiasan Widya dan Ainun mampir ke sebuah toko roti untuk membeli beberapa roti juga untuk


sarapan hari besok.


Selepas ia keluar dari toko ternyata ia bertemu dengan pejambret yang jahat.


Bahkan tas yang ia bawa berisi uang jual perhiasannya hampir di ambil oleh orang jahat itu.


"Tolong... tolong, jambret!!"


Widya terlihat begitu melindungi putrinya dengan erat dari penjambret itu. Sampai-sampai tas yang ada di pegangannya beralih ke tangan penjahat itu dengan kasar.


Untung saja ada supir baik hati dan pemberani yang buru-buru menolong dan menghajar penjahat itu.


Ia juga terlihat pandai bela diri dan menang melawan penjambret itu.


Dan uangnya berhasil di selamatkan oleh supir itu dan di kembalikan ke tangan Widya.


"Anda baik-baik saja?"


"Iya aku baik-baik saja, terimakasih banyak atas bantuannya."


Tapi baru sekejap Widya mengatakan itu,ia tiba-tiba langsung pingsan di bekapan lelaki baik tadi.


"Ya ampun Nona"


"Ma..Mama.." Ainun panik juga melihat ibunya pingsan.


"Iya ampun,apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Ridwan,apa yang sedang kau lakukan? Itu siapa?."


Tanya salah seorang lelaki yang penasaran menghampiri supirnya yang sudah ia cari-cari sejak tadi.


"Maaf Pak tadi ada jambret,aku berusaha menolongnya tapi dia malah pingsan tiba-tiba."


"Ya sudah bawa dia ke rumah sakit"


Setelah melihat wajah wanita itu sekilas membuat majikan supir itu terkejut.


"Tunggu-tunggu sepertinya aku mengenalnya"


Lelaki itu dengan antusias menghampiri supirnya yang menggendong wanita itu menuju ke dalam mobil.


"Di-dia,dia itu...Widya??"


"Anda mengenalnya Pak?"


"Iya dia sepertinya Widya yang aku kenal,tapi dia terlihat berbeda sekali. Tapi aku rasa dia temanku waktu SMA"


"Syukurlah jika Anda mengenalnya Pak"


"Nak,siapa nama ibumu? Apa namanya Widya?"


Ainun menganggukkan kepalanya dengan malu dan takut. Ia selalu takut dengan orang yang baru kenal.


Orang itu juga sedikit pangling dengan wajah Widya yang semakin cantik, jadi ia memberanikan diri untuk memastikan dan bertanya kepada anak itu.


Setelah itu mereka buru-buru membawa Widya ke rumah sakit dan langsung di periksa dokter secara VVIP.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Kandungan istri anda melemah, sepertinya dia syok dan terlalu stress akhir-akhir ini"


"Maaf dok tapi dia bukan istri saya." Sudah kesal sekali wajah lelaki itu mendengarkan perkataan sang dokter.


"Oh maaf,aku kira Anda terlalu mengkhawatirkannya tadi." Dengan senyuman meledek sambil mencatat resep obat untuk wanita itu.


"Jangan bilang kau sedang meledekku dok! Menyebalkan sekali mentang-mentang aku belum menikah"


Dokter itu terlihat tertawa kecil,sepertinya mereka terlihat saling mengenal.


"Intinya dia perlu istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak pikiran. Karena aku sangat mengkhawatirkan kandungannya yang lemah."


"Baiklah aku akan menjaganya"


"Apa kau juga yang menghamilinya hingga membuatnya stress??"


Sekali lagi dokter itu membuat lelaki itu kesal seraya tertawa sambil memberikan kertas catatan itu kepadanya.


"Tutup mulutmu dok! Aku pecat kau sekarang juga dari rumah sakit ini. Memang aku seburuk itu apa?"


"Baiklah aku hanya bercanda. Jaga dia baik-baik Joffa, sungguh aku takut di pecat."


Ternyata majikan supir itu yang baik bernama Joffa. Ia juga teman baik Widya waktu mereka sekolah SMA dulu.


"Siapa suaminya? Kenapa dia menelantarkan istrinya di jalan tadi. Bukanya mengantarnya pergi, diakan sedang hamil"


"Dia baik-baik saja kan Pak?"


Tanya supir yang menolong tadi.


"Sepertinya tidak Pak,aku melihatnya bersama anaknya itu naik ojek ke toko roti yang saya hampiri tadi"


"Oh baiklah. Tolong ambilkan leptopku Wan, aku akan urus pekerjaanku di sini saja"


"Baik Pak"


Ainun menunggu di ruangan VVIP itu sambil bermain dan menonton TV.


Sementara Lelaki itu terlihat mendampinginya dari kejauhan sambil menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk sekaligus memantau Ainun yang sedang bermain.


"Mau sampai kapan dia akan sadar? Apa kondisinya begitu buruk?"


Melihat jam yang ada di tangannya.


Widya ternyata pingsan cukup lama bahkan putrinya sudah terlihat mengantuk sejak tadi.


"Apa kau mengantuk?" Tanya lembut Joffa sembari mendekati putri kecil itu untuk menemaninya bermain.


Ainun tampak menggelengkan kepalanya namun tidak dengan matanya yang tidak bisa berbohong karena mengantuk. Ia juga terlihat menghindari lelaki itu karena takut.


"Jangan takut.Om orang baik kok"


Mau kamu baik mau kamu enggak baik tetap saja yang namanya tidak kenal pasti merasa takut dan canggung walau anak kecil yang merasakan sekalipun.


Sayup-sayup suara keduanya membuat Widya tersadar dari pingsannya.


Suara lelaki itu benar-benar membuatnya langsung mengingat akan suaminya.

__ADS_1


"Raga!"


Merasa bingung dengan keadaannya sendiri yang entah ada di ruangan mana. "Aku dimana?"


"Kau sudah bangun?"


Widya tampak terkejut melihat lelaki lain yang menghampirinya. Ia juga sedang mengingat siapa gerangan yang menurutnya tidak asing lagi.


"Kau..kau Joffa kan?"


"Iya,lama tidak bertemu Widya"


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku ada disini?"


Ainun juga terlihat menghampiri ibunya yang telah sadar untuk mencari perlindungan.


"Kau pingsan waktu pencopetan dan pria yang menolong mu itu adalah supirku"


"Ohh benarkah? Sungguh maafkan aku. Aku telah merepotkan mu"


"Sama sekali tidak Widya"


"Dia anak pertamamu?"


"Iya dia anak pertamaku. Dia juga satu-satunya anakku"


"Apa yang kau katakan Widya? Bagaimana bisa kau bilang dia anak satu-satunya, bahkan kau sedang hamil sekarang"


"Ha-hamil?" Terkejut lagi sambil mengelus perutnya lembut.


"Kenapa kau tampak terkejut? Bukankah kau punya suami?" Lelaki itu juga terlihat memberikan selembar kertas dari dokter untuk Widya sebagai bukti kehamilannya.


"Ini bukti kehamilan mu. Kandungmu juga lemah,kau harus bisa menjaga diri dan banyak-banyak istirahat sekarang"


Widya masih belum berbicara apapun. Ia tampak berkaca-kaca sambil menerima lembaran kertas itu. Ia juga ingin sekali menangis karena senang sekaligus sedih dengan kabar baik ini.


Ya Tuhan aku hamil. Aku merasa bahagia sekali sekarang. Aku hamil anak Pak Raga? Apa ini sungguh mimpi??


"Emm ngomong-ngomong dimana suami mu? Kenapa tidak menjagamu di saat kamu pergi hamil muda begini"


"Entahlah aku juga tidak tahu aku masih di anggap istrinya atau tidak"


"Maksudnya?"


Widya sendiri merasa tidak berdaya untuk menjelaskan permasalahan yang panjang ini pada Joffa.


Setiap kali mengingat Raga ia juga ingin menangis dan ingin meminta maaf padanya. Walaupun ini bukan sepenuhnya kesalahanya namun Widya tetap merasa bersalah atas kepergian Alfan.


"Emm baiklah aku tidak akan menanyakan apapun padamu, mungkin ini privasi. Tapi jika kau ingin meluapkan perasaanmu tinggal cerita saja"


"Terimakasih banyak Joffa. Sejak dulu kau memang selalu baik dan tidak pernah berubah walaupun kau sudah sesukses sekarang"


"Semua ini hanyalah titipan. Lalu apa yang harus aku banggakan dan sombong kan?


"Aku sangat bersyukur kau masih tetap  sama seperti dulu. Tapi aku baik-baik saja kan? Aku sudah boleh pulang kan? Aku tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit ini jika aku sampai menginap Joffa. Aku tahu rumah sakit ini sangat mewah"


"Iya ampun Widya jangan pikirin hal itu. Kondisimu belum membaik, sebaiknya kau istirahat di sini dulu dan pentingkan kesehatanmu. Setelah kau membaik besok aku akan antar kau pulang"


Beruntungnya Widya sekarang bisa bertemu dengan Joffa yang baik hati. Percayalah orang baik pasti akan selalu ada jalan di setiap kesulitannya.

__ADS_1


__ADS_2