Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
30. Menabrak istri


__ADS_3

Sagala berjuang keras untuk memecahkan kasus ini. Dimana ia sudah mulai menemukan titik terang mobil yang menewaskan tuan kecilnya Alfan.


Pemilik mobil itu masih menutup mulutnya rapat untuk tidak memberitahukan pemilik mobil sebelumnya kepada Sagala dan gerombolannya.


"Cepat katakan kepadaku! Siapa pemilik mobil ini sebelumnya?"


"Mohon maaf Tuan. Saya benar-benar tidak tahu. Saya juga tidak mengenalnya"


"Tidak mungkin. Sekalipun kau tidak mengenalnya kau pasti punya nomor HPnya kan, lalu bagaimana bisa kau bertemu dengannya dan membeli mobil ini?"


"Ampun Tuan. Saya benar-benar tidak tahu Tuan"


"Bohong! Penjarakan saja dia. Biarkan dia hidup didalam sel!" Ketus Sagala dengan kesal kepada para anak buahnya karena merasa lelaki itu terus berbohong padanya.


"Jangan Tuan. Jangan. Saya mohon. Saya masih memiliki keluarga yang harus aku cukupi kehidupannya"


"Makanya cepetan katakan! Kita bisa memberikan apapun yang kau mau. Termasuk membiayai kehidupan kalian"


"Sebenernya saya benar-benar tidak mengenalnya Tuan. Sungguh. Tapi saya punya foto orang yang menjual mobil ini kepadaku. Saya juga tidak mau terlibat atas kasus ini Tuan. Karena sejak awal saya bertemu dan bertransaksi dengan orang itu terlihat sangat mencurigakan,terlebih dengan harga mobil yang begitu murah"


"Tenang saja. Kau tak perlu takut untuk itu. Aku yang akan menjamin kehidupanmu. Kau hanya cukup membantu kami untuk memecahkan kasus ini. Mana fotonya?"


Akhirnya titik demi titik mulai ditemukan. Sagala sudah melihat lelaki pemilik mobil itu sebelumnya lewat foto.


Foto itu segera dicetak oleh Segala lalu diserahkan ke pihak kepolisian agar dapat ditindaklanjuti lebih cepat.


******


3 hari kemudian.


Pria itu tampak lari terbirit-birit setelah melihat foto dirinya menjadi kejar-kejaran polisi disetiap sudut penjuru kota.


"Brengsek! Lelaki itu benar-benar kurang ajar. Berani sekali dia memotretku diam-diam"


Lelaki itu tampak bersembunyi dibalik pohon besar sambil menelpon orang dengan terburu-buru.


"Nona angkat Nona. Apa yang harus aku lakukan sekarang!"


Kali ini Teresa sedang sibuk menemui reunian mantan sekolah xxxx bersama teman-temannya di cafe ternama di kota ini.


Ia tidak memperdulikan telepon masuk yang ada. Bahkan ponselnya tampak berdering berulang-ulang hingga membuat teman-temannya menjadi greget sendiri saat melihat ponsel itu berulang-ulang bergetar.


"Angkat dulu lah Sa. Siapa tahu penting"


Hi... Apa si ni orang! Ganggu saja


Teresa menjauh dari kursinya untuk menerima telpon itu. Ia juga sangat hafal itu pasti nomer telepon dari anak buahnya.


"Hey! Bisa ga si kau tidak menggangguku hari ini!"


"Tolong aku Nona. Aku sedang dikejar-kejar oleh polisi. Sepertinya orang yang membeli mobil kemarin sudah tertangkap oleh anak buah Raga"

__ADS_1


Teresa langsung membisu. Bahkan ia sedang terbelalak penuh mendengar berita itu.


Sagala!...Sudah kuduga lelaki itu tidak akan tinggal diam dalam suatu perkara.


"Apapun itu kau harus melakukan sesuatu Malik! Kau tidak boleh tertangkap. Kau harus bertanggujawab atas kecerobohan mu ini! Aku sudah membayarmu mahal. Jika kau berhasil menanganinya akan aku bayar 2 kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Tapi jika kau tidak berhasil kau benar-benar akan habis ditanganku Malik!!"


Gawat! Jika Malik sampai tertangkap polisi aku pasti bisa masuk penjara karenanya. Tidak akan! Aku harus membuat Malik terus menutup mulutnya.


Aku bahkan belum mendapatkan cinta Raga sampai saat ini. Ini semua gara-gara wanita brengsek itu juga!.


******


Saat ini Widya sedang terdiam menatap pemandangan disekitaran rumah Joffa.


Mungkin pemandangan yang sedang ia lihat-lihat, tapi suasana hati dan pikirannya bertolak belakang dan terus memikirkan sesuatu karena merindukan seseorang.


Raga... Seandainya saja kau tahu aku sangatlah mencintaimu, tapi kenapa takdir berkata lain. Bahkan takdir telah menghancurkan semuanya disaat kita mulai semakin dekat.


"Widya. Kamu sedang memikirkan apa? Ingat kata dokter kamu tidak boleh stress dan banyak pikiran"


Bahkan sekarang aku harus merepotkan orang lain. Joffa benar-benar terlalu baik padaku.


"Emm..tidak ada. Aku hanya sedang menghirup udara segar"


"Nanti sore kita ajak Ainun jalan-jalan dan makan di Mall. Aku juga merasa suntuk dirumah"


"Emm baiklah. Tapi apa tidak merepotkanmu?"


"Baiklah... "


Waktu sudah sore bahkan hampir gelap. Mereka bertiga jadi mengagendakan acara mereka untuk berjalan-jalan ke Mall menyenangkan diri.


Mereka bertiga sudah memasuki restoran mewah ternama, lalu segera pesan makanan sesuai selera mereka.


Beberapa saat pun berlalu.


Kini setiap hidangan sudah tertata rapi dimeja makan. Waktunya mereka menikmati makanan mereka.


"Joffa. Aku mau kebelakang dulu ya. Kebelet"


"Oh mau aku antar"


"Tidak usah Joffa. Aku bisa sendiri"


"Iya udah ati-ati"


"Tunggu ya Sayang. Mama kebelet"


Ainun pu langsung mengangguk dan menikmati makanan yang ada dengan penuh ketenangan.


*

__ADS_1


Raga tampak terburu-buru masuk ke Restoran itu untuk menemui kliennya.


"Bagaimana. Kita bisa memulai pertemuan ini sekarang juga? Aku sedang terburu-buru sekarang"


"Tunggulah sebentar Pak Raga. Ada banyak sekali yang harus anda tahu tentang prodak kami"


"Iya tunjukkan sekarang juga"


Klien itu pun langsung menunjukkan segala prodak terbaru pengeluaran dari perusahaannya.


Namun baru beberapa prodak yang baru saja ditunjukkan kepada Raga, Ponsel Raga sudah berdering kembali memberikan kabar.


"Tunggu sebentar"


Raga pun mengangkat panggilan itu. Dan mengetahui kondisi putrinya yang pingsan karena demam yang begitu tinggi.


"Apa???"


Raga buru-buru mematikan panggilan itu. Dan tentunya membatalkan pertemuan itu begitu saja.


"Akhiri pertemuan ini. Urus jadwal pertemuan berikutnya. Ada urusan yang lebih penting daripada ini"


Raga begitu terburu-buru pergi dari restoran itu dan tak sengaja menabrak seseorang.


Bragghh!


"Aww... "


"Maaf..maaf kau tidak papa?" Namun saat menatap orang itu. Ia terdiam karena sudah lama tidak menatapnya dari dekat.


" Widya?. Kau tidak papa? Maafkan aku. Aku tidak melihatmu tadi"


Widya juga tampak memegangi perutnya yang tersenggol tangan leleki itu tadi.


"Kau tidak papa? Apa perutmu tidak papa?"


Saking panik dan buyarnya pikiran Raga saat ini membuatnya memegang perut buncit Widya tanpa sadar karena khawatir.


Widya masih terpaku dengan kehadiran Raga saat ini. Terlebih melihatnya memegang perutnya tiba-tiba membuatnya merasa bahagia dan terharu juga.


"Kau tidak papa kan??"


Widya langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Raga yang tampak terburu-buru itu. Sebenarnya ia masih ingin sekali memandangnya dari dekat.


"Baiklah. Maafkan aku. Aku harus pergi sekarang" Bahkan Raga tampak berlari kecil meninggalkan Widya dari restoran itu.


Ya Tuhan,, ada apa dengan suamiku. Semoga tidak ada apapun yang buruk-buruk. Selalu berikan segala kebaikan atasnya Ya Tuhan. Aamiin.


Widya masih tersenyum kecil. Mengingat tangan Raga yang menyentuh perutnya tadi.


Tadi itu tangan bapakmu Nak. Semoga saja kita bisa kembali bersama lagi ya suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2