
Ada sekitar 20 panggilan tak terjawab yang masuk ke ponsel Raga.
Karena sedang melakukan meeting penting Raga meninggalkan ponselnya di ruangan kerja.
Sementara Gala sekretarisnya itu pun juga ikut meeting dalam hal itu.
Namun setelah kembali ke ruangan Gala tampak menerima panggilan terlebih dulu sebelum Raga melakukan panggilan keluar.
"Tuan Muda. Sesuatu telah terjadi,Alfan kecelakaan, dia tertabrak mobil bersama Nona muda"
Raut wajah Sagala terlihat begitu panik dan serius mengatakan kejadian yang tidak di inginkan itu pada Raga.
"Apa???"
Raga pun terbelalak sekaligus tak percaya dengan kabar ini.
Raga yang sudah mendengar itu langsung panik, khawatir dan gelisah pergi meninggalkan kantornya untuk memastikan keadaan mereka tanpa berpikir panjang lagi ke rumah sakit.
"Gala apa yang terjadi? Dadaku terasa sesak sekali sekarang."
Dengan perasaan yang tidak karuan Raga ingin sekali turun dari mobil itu dan berlari menerobos lampu merah menuju ke rumah sakit.
"Hal ini tidak terjadi kan. Ini bohong kan Ga?"
Gala tidak bisa menjawab apa-apa dengan pertanyaan itu. Ia juga khawatir hal seperti ini akan terjadi lagi.
Ya Tuhan semoga mereka baik-baik saja. Jangan sakiti hati Tuan muda hanya karena hal begitu menyakitkan akan terjadi lagi Tuhan.
Mobil dengan cepat melaju dan sudah berada di lingkungan rumah sakit.
Raga dan Gala tampak berlari ke ruangan resepsionis untuk menanyakan ruangan anaknya dan istrinya berada.
Kini Raga sudah berada di depan pintu ruangan mencengangkan itu.
Ia benar-benar teringat akan kejadian dulu di mana istrinya berada di ruangan pasien sebelum ia meninggal hingga membuatnya mematung di depan pintu karena gemetar.
Tidak boleh terjadi apa-apa pada putraku.
Raga masuk dengan terburu-buru.
Lalu melihat putranya yang terbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa alat medis di tubuhnya.
Lalu di sebelahnya juga ada Widya yang sudah terbaring lemas dan menangis karena sudah sadar melihat kondisi Alfan yang parah itu.
__ADS_1
"Alfan"
Raga terlihat begitu syok sambil menghampiri putranya ke dekat ranjang.
Mengetahui keadaan putranya yang terlihat kritis dengan banyaknya alat-alat medis membuatnya menangis dan tidak berdaya seketika.
"Alfan,apa yang terjadi nak? Bangun sayang. Kau harus selalu sehat. Berjanjilah pada Papa kau tidak akan pernah tinggalkan Papa. Alfan bangun Alfan,bangun, bangun sayang"
Melihat putranya yang tidak merespon apa-apa dan hanya bisa berbaring membuat perasaan Raga hancur seketika.
Ia juga teringat akan kondisi mendiang istrinya dulu.
"Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Dokter! Dokter selamat putraku. Dokter!"
Tatapan Raga kosong ia begitu terpukul akan hal ini,ia juga takut hal seperti dulu akan terulang lagi.
Kelihatannya Raga begitu trauma akan semua ini.
Namun dokter belum juga kembali ke ruangan itu sejak tadi.
"Wi-Widya!bApa yang terjadi pada putraku. Apa yang terjadi pada putraku Widya. Kenapa bisa seperti ini?"
Tatapan Raga yang memerah dan begitu panik membuat Widya yang sedang sakit, cemas dan gelisah itupun gelagapan untuk menjawabnya.
"Apa yang kau lakukan Widya. Bagaimana ini bisa terjadi. Kau ini bagaimana si. Apa kau tidak melihat ada mobil?"
"Aku yakin ada yang sengaja melakukan hal ini Pak,aku tahu mobil itu berhenti saat aku menyebrang dengan anak-anak"
Ibu mertua tampak berwajah kesal dan masam mendengar Widya berbicara. Ia juga terlihat begitu marah melihat kondisi cucunya saat ini.
"Widya. Jangan mencoba menyelamatkan dirimu dari kesalahan ini. Penjelasan mu sungguh tidak masuk akal. Aku tahu Alfan begini karena kecerobohan mu. Jika terjadi pada cucuku aku benar-benar tidak akan memaafkan mu Widya"
Raga. Mama ingin berbicara denganmu"
Tatapan ibunya terlihat masam sambil menggandeng cucu perempuannya sejak tadi.
"Alfia kau tidak apa kan sayang,kau tidak terluka kan?." Raga juga terlihat cemas dengan keadaan putrinya yang masih memakai seragam sekolah.
"Sudah Mama bilang sejak awal kan Widya tidak baik untuk putra-putri mu, dia itu pembawa sial. Kenapa kau harus mengangkatnya menjadi pengasuh anak-anakmu?. Kau tidak ingat siapa yang menyebabkan mereka kehilangan ibunya, siapa lagi jika bukan keluarga dia. Apa kau tidak mengerti juga Raga?"
"Cukup Ma cukup.Aku tidak ingin mendengarkan apapun tentang ini sekarang. Dokter... dokter selamatkan putraku Dok jangan sampai terjadi apapun padanya"
Ya Tuhan selamatkan Alfan putraku,aku sungguh menyayanginya dan menganggapnya sebagai anakku sendiri. Maafkan atas kelalaian ku ini,aku mohon selamatkan dia ya Tuhan.
__ADS_1
Widya hanya bisa menangis menatap Alfan tanpa memperdulikan pembicaraan ibu mertuanya.
"Baiklah Raga jangan sampai kau menyesal karena telah menghadirkan wanita itu kepada putra-putri mu. Mama benar-benar kecewa dengan sikapmu selama ini. Jangan dibutakan oleh cinta Raga, ingatlah dia hanya wanita pembawa sial"
Sebenarnya Widya begitu sakit hati mendengar semua itu.Ia merasa bersalah dan begitu terpukul saat ini. Ia juga tidak tahu jika hal ini akan terjadi padanya,ia benar-benar tidak sengaja lalai mengurus anak-anak hingga terjadi kecelakaan begini.
Dokter kembali datang, kali ini dengan peralatan medis yang lebih banyak dan ada beberapa suster yang ikut serta mendorong Brankar rumah sakit untuk memindahkan Alfan ke ruang lain.
"Dok, ada apa ini Dok?. Putraku baik-baik saja kan Dok?"
"Kondisi putra Anda sangatlah buruk. Kita harus membawanya ke ruang ICU untuk penanganan yang lebih intensif lagi. Dan sepertinya putra Anda harus segera menjalani operasi"
"Ya ampun Alfan"Raga tampak langsung memegangi dadanya yang terasa sesak dan berat untuk bernafas.
"Duduklah Tuan muda,aku yakin Alfan akan baik-baik saja"
"Dimana Papa,apa kau sudah mengabarinya?"
"Sudah Tuan muda,Ia sedang berada di Thailand,tapi hari ini juga ia akan segera kembali ke mari"
"Apa putraku baik-baik saja,dia baik-baik saja kan Ga?"
"Insyaallah Tuan muda,dia pasti akan baik-baik saja"
Ya Tuhan berilah jalan terbaik untuk ini, semoga Alfan baik-baik saja.
"Pak Raga"Widya sudah turun dari ranjang pasiennya menghampiri Raga yang sedang syok itu.
Tampaknya ia sudah membaik dan dapat berjalan walaupun masih dengan kaki yang pincang dan beberapa luka di tubuhnya.
"Aku mohon maafkan aku,ini semua salahku Pak"
"Iya. Ini semua gara-gara kamu Widya,ini semua gara-gara kamu!. Seharusnya ini tidak terjadi!. Apa yang kau lakukan pada putraku Widya?. Kenapa kau tidak bisa menjaganya dengan benar. Bukankah selama ini aku selalu baik kepadamu"
"Sungguh aku tidak melakukan apapun Pak Raga,ini semua murni kecelakaan. Aku yakin ada orang yang sengaja melakukan hal ini padaku dan anak-anak"
"Omong kosong apa Widya?. Jika terjadi apa-apa pada putraku aku benar-benar tidak akan memaafkan mu!"
Iya Tuhan apa yang telah aku lakukan hari ini. Kenapa jadi seperti ini. Selamatkan putraku Alfan ya Tuhan.
Mulut Widya terkunci. Melihat Raga yang bersikap seperti itu membuatnya merasa sangat kecewa, sekaligus takut dan khawatir.
Sepertinya bentuk kemarahan dan kekhawatiran Raga hari ini adalah rasa cintanya kepada kedua anaknya yang begitu besar. Terlebih ibunya yang selalu memprovokasinya untuk menjadi lebih benci pada Widya.
__ADS_1