Fairy Good Mother

Fairy Good Mother
23.Hidup Widya


__ADS_3

"Ma kenapa kita harus pergi dari rumah Papa Raga. Aku pengin main bareng sama Alfia"


Widya tampak tersenyum lalu menunduk menatap putri kecilnya yang sedang mengajaknya berbicara.


"Ainun suka ya sama Papa Raga?"


Ainun menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, termasuk kepergian Alfan pun ia sama sekali tidak tahu.


Ya Tuhan aku kangen sekali dengan pak Raga. Aku juga kangen sekali dengan Alfan dan Alfia. Walaupun Alfan sudah tidak ada tapi kau tetap ada di hati Mama nak. Maafkan Mama yang tidak bisa menjagamu dengan baik.


"Widya kamu jadi pergi hari ini?"


Tanya salah satu perempuan cantik di rumah itu. Ternyata setelah kejadian pengusiran itu Widya di tolong teman sekolahnya dan menginap beberapa hari untuk tinggal di rumah itu agar Widya dapat menenangkan dirinya.


"Iya,aku mau cari kontrakan sekaligus pekerjaan. Aku tidak mungkin juga terus tinggal di rumah mu. Maaf ya Mila aku terlalu banyak merepotkan mu"


Teman sekolahnya itu bernama Mila. Dari dulu keduanya memang selalu berhubungan baik dan saling membantu.


"Ya ampun Widya jangan begitu. Kita sudah lama temenan kan. Lagian aku sudah menganggap mu seperti saudaraku sendiri"


"Makasih banyak Mila kau teman terbaik yang aku punya"


"Ya sudah kamu nginap lah dulu disini beberapa hari lagi, sambil cari-cari lowongan kerja juga"


"Ya sudah satu hari lagi, tapi besok aku harus tetap pergi ya Mila"


"Iya sudah terserah kau saja,aku juga tidak berhak untuk memaksamu tinggal di sini. Aku akan berusaha untuk mencarikan lowongan pekerjaan untukmu juga"


*******


Suasana di rumah Raga yang besar itu semakin hari semakin terasa sepi.


Biasanya selalu ada anak-anak yang bermain dan bersuka ria dengan suara yang memenuhi seluruh penjuru ruangan rumah.


Namun kali ini Alfia tampak kesepian dan bermain sendirian bersama suster barunya.


Sesekali ia juga selalu menanyakan keberadaan Widya yang sudah ia anggep sebagai ibunya sendiri seperti perkataan Raga waktu lalu.


Namun setiap pertanyaan yang di lontarkan Alfia tentang Widya selalu di alihkan oleh Raga.


"Papa,Mama kok belum kesini?"


Raga tersenyum pilu. Ia merasa menyesal karena telah menyuruh anaknya untuk memanggil Widya Mama.


"Eemm Mama masih sibuk sayang. Kapan-kapan pasti Mama kesini. Papa berangkat ke kantor dulu ya. Muach.."

__ADS_1


Raga masih belum sembuh dari kesedihannya. Bahkan ia lebih pendiam dari sebelumnya. Setiap kali menatap ruangan bermain ia juga selalu teringat akan kebersamaannya dengan mereka semua.


Sepertinya kebencian Raga juga semakin tumbuh kepada Widya setiap kali ia mengingat akan kebersamaan mereka di rumah.


"Kenapa semua ini harus terjadi"Raga terlihat melamun sejak tadi, bahkan ia juga berbicara sendiri memecahkan kesunyian di dalam mobil tiba-tiba.


"Kenapa Tuan Muda?"


"Kasihan Alfia. Dia pasti sangat kesepian sekarang"


"Lalu kenapa Nona Widya harus pergi dari rumah Tuan muda? Setidaknya jika ada Nona Widya Alfia pasti tidak akan kesepian karena bermain dengan Ainun kan"


"Bagaimanapun juga dia adalah penyebab utama atas kepergian Alfan. Aku yakin dia hanyalah perempuan pembawa sial"


Lalu bagaimana rasa ketertarikan mu padanya waktu itu Tuan muda apakah sudah menghilang begitu saja? Bahkan aku saja merasa janggal dengan kepergian Tuan kecil.


"Pihak kepolisian juga sedang mendalami kasus ini Tuan muda,aku harap penabrak itu segera di temukan dan tertangkap agar semuanya dapat terlihat dengan jelas tentang masalah ini"


"Iya,aku harap juga begitu"


Sesampainya di parkiran Raga langsung turun begitu saja untuk masuk ke dalam gedung kantor,tapi baru selangkah ia turun dari mobil sudah ada yang menyergapnya dari arah lain.


"Raga.."


Wanita itu memeluk erat Raga dengan membawa tentengan makanan yang sudah ia persiapkan dari rumah untuknya.


"Aku sangat merindukanmu Raga. Apa suasana hatimu belum juga membaik? Aku bawakan makanan juga untukmu. Aku yang masak sendiri loh buat kamu"


"Terimakasih Mona,tapi aku sedang tidak enak makan. Kau makan saja sendiri"


"Raga aku tahu kamu masih sedih dengan kenyataan ini,tapi setidaknya jagalah pola makan dan kesehatanmu. Raga.. Raga.."


Raga hanya diam dan pergi begitu saja meninggalkan Mona. Sagala juga langsung mengikutinya dari belakang untuk masuk ke dalam gedung kantor.


"Sebaiknya anda jangan membicarakan hal ini saat berada di kantor Nona, karena ini akan begitu mengganggu suasana hati Tuan muda"


"Ihh.. dua-duanya benar-benar tidak punya hati. Tidak tahu apa aku sudah susah-susah masak untuknya"


Mona terlihat begitu kesal, rasanya ia ingin sekali melempar makanan yang sedang ditentengnya itu ke Raga dan Gala.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang tampak mendekati Mona dengan santai


Ternyata sainganku tinggal satu lagi, sepertinya dia sedikit sulit untuk aku singkirkan.


"Hay, senang bertemu denganmu"

__ADS_1


Suara wanita yang membuat Mona terkejut sekaligus kesal saat melihat wajahnya.


Siapa lagi jika bukan kehadiran Teresa yang sedang mati-matian untuk merebut Raga kembali di pelukannya.


"Kau,mau apa kau kesini?"


"Cihh, bukan urusanmu. Lagian aku bebas kok keluar masuk kantor ini"


"Hey, memangnya kau siapa?"


"Kenalin. Calon istri baru Raga"


Mendengar perkataan itu benar-benar membuat emosi Mona melonjak.


"Aku yang akan menjadi istri barunya bukanya dirimu"


"Oh benarkah? Kita lihat saja nanti"


Apa lagi si nih orang, kemaren Widya dan sekarang aku harus menghadapinya.


*******


Sehari setelah menginap di rumah temannya Widya memutuskan untuk keluar hari ini juga dari rumah itu.


Ia juga sudah membereskan barang-barang untuk pergi.


Sementara Mila masih mematung di depan pintu kamarnya. Ia merasa iba dan tidak tega jika Widya akan segera pergi dari rumahnya.


"Bisakah kau menginap satu hari lagi,aku pasti akan sangat kesepian jika kau pergi"


"Ya ampun Mila aku sudah sangat merepotkan mu. Aku tidak mungkin di sini terus"


"Ahh seharusnya aku memiliki lowongan pekerjaan untukmu,kau pasti tidak akan seperti ini"


"Tenanglah aku akan baik-baik saja.Aku juga akan cari kontrakan dekat sini biar bisa ketemu kamu Mila"


Dengan berat hati Mila membiarkan Widya pergi. Mila juga tahu sikap dan kepribadian Widya itu sangatlah baik dan ia bahkan selalu mementingkan perasaan orang lain.


Beruntungnya setelah pergi dari rumah temannya Widya sudah menemukan kontrakan dan tempat tinggal untuk bertahan hidup dengan anaknya. Kini tugasnya hanyalah pekerjaan saja yang belum ia dapatkan.


"Mama aku lapar"


"Iya ampun sayang Mama lupa kalau kau belum makan sejak tadi, maafkan Mama nak Mama sibuk mengurusi urusan lain"


Widya mencari sisa-sisa uang yang ia miliki di dalam tasnya,tapi sepertinya tidak cukup untuk hari besok. Ia menjadi sangat bingung dan mencoba untuk berpikir jernih agar ia bisa memegang uang hari ini.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Ia pun memutuskan untuk menjual kalung satu-satunya perhiasan yang ia miliki di sebuah toko perhiasan terkenal. Karena kebetulan kalung itu pemberian dari Raga dan tentunya harganya sangat mahal dan lebih baik di jual di toko dimana perhiasan tersebut di beli.


Maafkan aku Pak Raga jika bukan karena untuk makan aku pasti tidak akan menjual kalung ini. Ini adalah satu-satunya kenang-kenangan yang aku miliki. Jika aku punya uang aku pasti akan membelinya lagi.


__ADS_2