
Seorang gadis bangun dari tidurnya. Dia menguap begitu anggun dan merenggangkan tubuhnya dengan menampilkan postur tubuhnya yang cantik..
Wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang dengan indah, posturnya tubuhnya bisa membuat seluruh gadis dunia ini ingin menangis..
Benar gadis ini adalah heroine kita Erna..
Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan mengambil tongkat untuk penyandang cacat..
Kaki kanannya sudah lama mengalami kelumpuhan sejak dia kecelakaan dua tahun yang lalu..
Walaupun kakinya terlihat baik baik saja namun kenyataannya kakinya tidak bisa untuk dia gerakkan..
Gadis tersebut berjalan menggunakan tongkat dari kamarnya menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya..
Saat berjalan menuju dapur dia melihat adiknya yang sedang sibuk membuatkan sarapan..
"Ka silahkan duduk, bentar lagi sarapan hampir siap"
"Maaf selalu merepotkan"
"Sudah berapa kali kaka berkata seperti itu.. dan juga beberapa kali aku mengatakan bahwa ini tidak merepotkan sama sekali"
"Haha aku sangat beruntung memiliki adik sepertimu"
Mendengar hal itu wajah adiknya langsung memerah..
"Apa yang kakak katakan"
Nama adiknya adalah Vian..
Dia adalah siscon sejati..
Vian memanggang roti dan menggoreng telur dan juga membuat salad dan tidak memerlukan waktu yang lama Vian sudah menyajikan makanan di meja..
"Kelihatan enak"
Vian menjadi senang mendengar kakaknya berkata begitu..
Melihat senyum kakak sudah menjadi sarapan baginya..
Lalu mata Vian jatuh kearah tongkat kakaknya yang dia letakkan tepat di samping kursi tempat dia duduk.
Erna menyadari bahwa Vian masih merasa bersalah akan hal itu lagipula..
Mereka berdua sudah bersama sejak orang tua mereka meninggal..
Mereka hidup dengan layak dikarena asuransi milik orang tua mereka berdua..
Mengingat kejadian itu masih tergiang di benak mereka berdua..
Karena hanya mereka berdua yang selamat di kecelakaan mobil tersebut..
Vian dan Erna yang berada di kursi belakang mobil secara ajaib terhindar dari maut ketika truk yang menabrak mobil mereka..
Vian masih ingat saat kakaknya memeluknya untuk melindunginya saat itu..
"Vian, apa yang sedang kau lamunkan"
"Ya bukan apa apa"
Vian menyantap sarapan paginya dengan lahap.
Setelah selesai sarapan Erna bangkit dari tempatnya duduk dan membereskan piring yang ada di meja.
"Aku bisa membereskan--"
"Tidak apa apa untuk hal ini adalah pekerjaan mudah"
"Tapi--"
Erna menatapnya dengan lembut dan Vian tidak berkata apa apa lagi karena Vian tahu bahwa kakaknya orang yang sangat keras kepala.
Vian yang melihat kakaknya berjalan menggunakan tongkat membawa piring di satu tangannya..
Vian merasakan sakit di hatinya saat melihat kakaknya..
Vian tidak bisa diam dan bangkit untuk membantu..
"Aku tidak bisa membiarkan kakak membersihkannya sendirian"
Erna tersenyum mendengar itu dan pagi itu menjadi begitu hangat saat keluarga saling membantu..
"Kak aku akan berangkat ke sekolah"
"hati hati di jalan"
Vian dengan semangat mengambil tasnya dan melambai pergi dengan bahagia..
__ADS_1
Erna berjalan menggunakan tongkat miliknya menuju kamarnya dan bersiap untuk memasuki dunia virtual yaitu Fake World Online..
...
...
...
Ren yang keluar membawa uang 20 juta di tas bahu yang dia bawa..
(Sialan berapa martabak telor yang dapat aku beli dengan ini)
Ren memikirkan makanan favorit miliknya..
(Tunggu kenapa martabak telor yang aku pikirkan)
Ren tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bahagia..
Karena ini adalah hari yang begitu indah..
Bahkan rasa cahaya matahari menyinarinya dengan begitu lembut.. walaupun sebenarnya cahayanya begitu menyengat..
Pandangan Ren menjadi begitu berbeda..
Sungguh orang bahagia dapat melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda..
Ren yang sangat gembira itu tiba tiba menerima sebuah panggilan telepon..
Melihat siapa yang memanggil Ren tidak dapat menahan diri untuk tidak terkejut.
"Kakak kau ada dimana ?"
"Eh !? aku sedang diperjalanan pulang.. emang kenapa ?"
"Aku sudah tiba di depan kos kakak"
"Tunggu aku akan ke sana dengan cepat"
Ren mematikan telepon dan mempercepat langkahnya untuk menuju kos nya..
Dia berjalan turun dari bus dan melihat seorang gadis yaitu adiknya sendiri..
Dengan rambut pendek berwarna hitam, mata coklat, wajahnya yang imut, postur tubuh yang mungil,
Gadis tersebut tersenyum melihat Ren datang..
"Aku ingin mengejutkanmu"
Ren yang mendengar perkataannya hanya bisa tersenyum kecut akan hal itu..
"Kau tunggu di sini sebentar oke"
"Kenapa"
"Ini sesuatu yang harus lelaki lakukan"
Ren ingat bahwa kos miliknya sangat berantakan jadi dia tidak dapat membiarkan adiknya tahu akan hal itu..
Bisa dikatakan image seorang kakak yang sempurna harus ada pada dirinya..
Ren masuk ke dalam kosnya dan membereskan semua hal yang ada di sana..
Ren memakan waktu yang lumayan lama untuk membereskannya..
Entah kenapa dia seperti tidak sedang membersihkan kamar manusia tapi kamar binatang..
Tunggu itu kamar Ren jadi.. dia sendiri binatang..?
"Kau bisa masuk" Ucap Ren sembari membuka pintu kosnya..
Adiknya terlihat capek berdiri di luar untuk waktu yang lama..
Namun adiknya tidak menampilkan wajah marah atau tidak senang akan hal itu..
Melihat adiknya membawa barang yang banyak Ren tidak bisa diam dan ikut membantu untuk membawanya..
"Jadi kakak masih belum punya pacar"
"Kenapa kau bertanya seperti itu"
"Takutnya kalau pacar kakak datang ke kos dan aku ada di sini bukankah kalian akan terganggu"
"Tidak mungkin dia akan terganggu.. lagipula dia juga tidak ada.."
"Dia tidak ada"
"Aku tidak punya pacar"
__ADS_1
Lina tersenyum mendengar hal itu..
"Kau mengejekku"
"Ya tidak"
Lina meletakkan barang barangnya dan terlihat kos milik Ren terlihat penuh dengan barang miliknya..
(Sepertinya aku harus mencari kos yang agak besar dari sini, apartemen mungkin bagus mengingat aku sudah memiliki banyak uang)
Ren memutuskan hal itu namun dia harus mencari tempatnya dimana terlebih dahulu..
"Lina kau kapan masuk kuliah"
"Hmm tanggal 20 sepertinya"
"Masih ada waktu satu minggu"
Ren mengambil laptop miliknya dan mulai mencari di situs penyewa tempat tinggal..
Dia mencari tempat tinggal yang mana harus tidak jauh dari tempatnya dan juga tidak jauh dari tempat kuliahnya Lina..
Beberapa menit kemudian dia menemukan tempat yang bagus, biayanya murah dan juga tempatnya tidak jauh dari sini..
Walaupun Ren ingin sebuah apartemen namun dia tidak menemukannya yang tempatnya dekat dari sini..
Namun sebagai gantinya dia menemukan rumah yang dimana itu disewakan..
"Lina kita akan pindah dari sini"
"Eh!?"
Lina yang masih sibuk untuk mengeluarkan barang yang dia bawa tiba tiba Ren mengajaknya pindah..
Lina dengan sedih mengembalikan barangnya lagi..
....
....
....
Disisi lain..
Staff pengawas terburu buru menghampiri ruangan Grid.. "Jalan cerita Fake World mulai bergerak" Ucapnya dengan cepat dan panik..
Grid yang saat itu sedang beristirahat menikmati teh miliknya langsung terkejut mendengar hal itu dan alhasil teh yang dia minum tersembur keluar dari mulutnya..
Air yang tersembur tersebut terkena staff pengawas tersebut namun staff tersebut tidak marah akan hal itu..
"Apa katamu konflik Fake World sudah bergerak"
"Benar tuan Grid"
"Siapa yang memulai ? apakah suatu Guild Besar"
"Tidak tuan.. ini terjadi karena pemain FLoxRen"
Grid terkejut karena dia tidak menyangka pemain ini yang akan menjadi titik kunci untuk menggerakkan konflik Fake World..
"Terima kasih atas laporan.. saya akan memberitahukan kepada atasan tentang hal ini"
Staff pengawas tersebut pamit untuk pergi..
Grid menutup matanya sejenak..
Fake World memang game yang dibuat tanpa memiliki batasan..
Bahkan NPC nya sendiri memiliki pikiran tersendiri yang dibuat oleh sistem komputer yang sangat rumit..
Orang akan berpikir mustahil jika komputer memiliki pikirannya sendiri..
Namun sayangnya ini memang terjadi..
Grid sendiri masih belum mengetahui alasan kenapa ini bisa terjadi..
Hanya atasan yang lebih tinggi darinya yang mengetahui hal ini..
Grid hanya pemimpin dalam pengawasan Fake World jadi dia tidak mengetahui lebih lanjut tentang Fake World ini..
Namun Grid yakin..
Bahwa Fake World ini bukanlah sebuah game..
Melainkan kenyataan dari dunia yang berbeda..
Bersambung..
__ADS_1