
Ren yang telah menemukan tempat sewa rumah tersebut langsung menelepon sang pemilik rumah..
...
Panggilan tersambung..
"Halo saya melihat situs penyewa rumah dan tertarik untuk menyewa, apakah ini benar pemilik rumah tersebut ?"
"Ya itu benar saya menyewakan rumah"
Ren bahagia mendengar hal itu dan juga suara di balik telepon tersebut adalah seorang gadis..
Ren tahu bahwa gadis di balik telepon ini adalah seseorang yang sangat cantik..
Kenapa ?
Karena suaranya begitu lembut dan manis..
"Halo"
"Ah maaf karena melamun.. kalau boleh tahu kapan kita bertemu secara langsung untuk membahas ini lebih lanjut"
"Kalau begitu bagaiman jika sekarang ? datang saja ke alamat yang tertera di sana.. saya akan menunggu"
"Oh baik kalau begitu saya akan secepatnya ke sana"
"Kalau begitu sampai jumpa nanti"
"Ya sampai jumpa"
Ren menutup telepon miliknya dan sekali lagi melihat cermin untuk memperbaiki penampilannya..
"Kenapa kakak tiba tiba ingin menyewa rumah" Lina tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Bukankah kos ini cukup kecil untuk kita berdua"
"Tapi apakah kakak punya uang"
"Jangan remehkan kakak, kau tahu uang kakak cukup banyak"
"Kalau begitu kenapa kakak masih jomblo"
"Guha"
Ren terkena damage secara tidak langsung..
"Lina katakan sejujurnya apakah wajah kakak ini tampan"
"Biasa saja.. rata rata lah"
Ren menerima damage lagi dari perkataan Lina..
"Lina dengarkan kakak.. kakak memilih untuk jomblo karena terlalu banyak gadis yang mengejar kakak.. jadi takutnya jika kakak memiliki pacar bukankah nanti akan terjadinya perkelahian yang menyakitkan.."
Lina menatap Ren dengan penuh rasa kasihan..
"Tunggu Lina jangan berikan tatapan itu kepadaku"
...
...
...
Ren sampai di depan rumah yang ingin dia sewa..
Saat sampai Ren sangat terkejut dengan besarnya rumah ini..
Tentunya dia datang sendirian karena adiknya ingin beristirahat setelah perjalanan jauhnya.
Ren dengan gugup menekan bell rumah tersebut..
"Tunggu sebentar"
Suara tersebut datang dari dalam rumah..
Ren merapikan kerah bajunya dengan gugup..
Saat pintu tersebut terbuka mereka berdua saling menatap satu sama lain..
"Ah"
"Ah"
Mereka berdua saling terkejut akan hal ini..
Karena kebetulan ini sungguh mengerikan..
__ADS_1
"Erna ?"
"Ren ?"
Mereka saling bertanya nama satu sama lain..
"Aku tidak menyangka untuk bertemu denganmu di dunia nyata"
"Aku juga"
"Mari silahkan masuk"
Erna berjalan menggunakan tongkat penyandang cacat miliknya membawa Ren masuk ke ruang tamu.
Ren menyadari bahwa kaki kanannya lumpuh..
Sepertinya Ren mengerti kenapa Erna menjawab pertanyaannya tentang bahwa dia menyukai alam dengan jeda waktu dan sorotan mata yang sedih..
"Silahkan duduk, aku akan mengambil minuman.. minuman apa yang kau mau ?"
"Tidak usah.. aku tidak ingin merepotkanmu"
"Tidak apa apa"
Erna menatap Ren dengan lembut menunggu jawaban Ren..
Ren menyerah akan kemauan Erna..
"Air putih saja" Balas Ren dengan tersenyum.
Erna mengangguk dan berjalan pergi..
Tidak memerlukan waktu yang lama Erna telah kembali membawakan air putih dan beberapa cemilan kecil di sebuah nampan yang ada di tangannya..
Erna meletakkan minuman tersebut di meja..
Erna lalu duduk dan meletakkan tongkat miliknya di sebelahnya..
"Apakah kau akan menyewa rumah"
"Benar kau tahu adikku akan masuk kuliah dalam minggu ini jadi jika dia tinggal di kos kecil milikku mungkin tidak nyaman bagi dirinya"
"Begitu rupanya" Balas Erna dengan memegang dagunya. "Kalau begitu kalian bisa menyewa di sini dengan harga satu juta perbulan, bagaimana ?"
Ren terkejut mendengar bahwa biaya sewa hanya satu juta perbulan.. bahkan biaya kos miliknya sebesar 1,5 juta perbulan..
"Eh ? apakah kau tidak membaca keterangan di situs itu" Balas Erna dengan bingung.
"Eh ?"
"Kami menyewa rumah namun hanya kamarnya saja"
"Tunggu dulu... berarti kau juga tinggal di sini"
"Iya.. karena rumah besar seperti ini hanya ditinggal oleh aku dan adikku bukankah itu terlalu menyisakan banyak ruang"
Apa yang dikatakan Erna memang benar.. semenjak orang tua mereka meninggal. rumah peninggalan orang tua mereka menjadi sunyi dan begitu sepi karena besarnya rumah tersebut hanya ditinggali oleh dia dan adiknya saja..
Oleh karena itu Erna memutuskan untuk menyewa kamar yang ada di rumah mereka.
Tentu Ren yang mendengar hal itu langsung senang dan membayangkan hal hebat..
(Bukankan ini seperti kita suami istri)
"Selamat pulang sayang"
"Sini aku pijitkan bahu"
"Makanan udah siap"
"Malam ini--"
Ren tersenyum dengan mesum..
Melihat hal itu Erna mengambil tongkat miliknya dan memukul kepala Ren..
"Aw.. apa yang kau lakukan"
"Aku tahu kau berpikiran mesum"
"Mesum ? aku tidak tahu apa yang kau pikirkan"
Ren berpura untuk tidak tahu apa yang dibicarakan Erna.. karena ini adalah salah satu strategi ampuh miliknya..
"Terus kapan kau akan pindah ?" Tanya Erna dengan penasaran.
"Mungkin besok.. karena masih banyak barang yang harus aku bawa"
__ADS_1
"Baiklah ini kunci cadangan rumah"
Ren menerima kunci tersebut dari Erna..
"Apakah kau tidak curiga denganku"
"Curiga ? aku sangat yakin tidak perlu mengkhawatirkan itu karena aku tahu kau bukan orang seperti itu.." Ucap Erna menatap kearahnya dengan lembut sebelum melanjutkan perkataannya "walaupun aku masih takut dengan pikiran mesum milikmu"
"Tunggu.. aku akan senang jika kau tidak mengatakan kalimat terakhir tersebut"
Ren hanya tersenyum mendengar hal itu..
Karena dia tahu bahwa Erna sangat mempercayai dirinya oleh karena itu juga dia tidak ingin menghilangkan kepercayaan yang diberikannya..
Walaupun Ren mesum dia tetaplah orang baik..
Setelah itu Ren mengobrol singkat dengan Erna hingga waktu tidak terasa menjelang sore.
Ren berpamitan kepada Erna untuk pulang..
Erna mengantar dirinya hingga ke depan pintu rumah..
Ren hanya tersenyum bahagia melihat hal ini..
Entah kenapa dia merasa seperti pasangan suami - istri saat ini..
Maafkan tentang hal ini karena jiwa jomblo Ren ini terlalu lama ngenes hingga memikirkan hal ini..
...
Ren sudah sampai di kos miliknya.
Karena tempat Erna yang memang tidak terlalu jauh dari tempatnya jadi dia hanya perlu beberapa menit menggunakan gojek online untuk kembali ketempat kos miliknya.
Ketika dia sampai di kos miliknya dia mencium bau makanan yang enak..
Saat Ren membuka pintu dia melihat adiknya begitu sibuk memasak.
"Ah kakak selamat datang, tunggu ya makanan akan siap"
"Aku bersyukur kau ada di sini karena aku tidak perlu lagi makan mie instan"
"Apakah kehadiranku di sini hanya pembantu ?"
"Wah makanannya terlihat enak"
"Woah sungguh kakak yang pintar dalam mengalihkan pembicaraan"
Seperti biasa hubungan Ren dengan adiknya sangat dekat satu sama lain..
Ren sudah lama tidak bertemu adiknya mengingat dia pulang ke kampung halaman saat hari raya idul fitri atau saat tahun baru..
Jadi saat ini Ren merasa sangat bersyukur akan kehadiran adiknya yang imut ini..
...
Hari ini adalah hari yang begitu indah yang diberikan kepadanya..
Seandainya saja saat itu dia tidak menjelajahi gunung dan tidak bertemu dengan Quest yang menuntunnya untuk mendapatkan pedang pahlawan..
Apakah dia bisa mendapatkan uang yang banyak.. bahkan gaji dia dapatkan selama bekerja di perusahaan terbilang sedikit.
Jadi Ren hanya dapat bersyukur bahwa tuhan telah memberikan jalan ini..
Sungguh yang namanya takdir tidak dapat kau perkirakan..
Bersambung..
Seperti yang ada di judul.. aku sangat bersyukur kalian pada suka dengan novel ini..
Walaupun aku tidak terlalu berharap banyak dengan tokoh utama milikku..
"Oi" (Ren)
Jadi aku sangat berterimakasih..
Mungkin ada takdir yang mempertemukan kalian dengan novel ini.. hahaha..
Jadi jangan lupa berikan like yah.. supaya aku semangat updatenya..
"Takdir seperti angin kau tidak tahu kapan dia akan berhembus dan kearah mana dia akan membawamu" (Ren)
Kata kata bijakmu tidak cocok dengan karaktermu..
"Sesekali lah bikin kata kata bijak, biar jalan haremku mudah aku dapatkan" (Ren)
-_-
__ADS_1