
James merasakan kembali kehidupan didalam dirinya, setelah sekian lama berkutat dengan kesendirian.
melalui Akira dan Ibunya, dia bisa mencicipi sedikit kehidupan keluarga yang harmonis dan hangat, dia tidak pernah menyangka, bisa menemukan sosok ibu yang selama ini belum pernah dia di lihat nya. Apalagi bisa merasakan masakan lezat yang di buat oleh tangan seorang ibu.
Selama ini, James hanya tinggal dengan seorang kakek tua yang selalu sibuk dengan laboratorium nya,
Setiap hari yang dia lihat hanyalah tabung tabung reaksi yang ber isi cairan warna warni yang kadang menimbulkan ledakan dan membakar habis kumis dan alis nya yang sudah memutih itu.
Jarang sekali dia memperhatikan James, apa lagi untuk urusan gizi, bisa menemukan selembar roti di atas meja makan saja sudah menjadi keajaiban yang luar biasa bagi James.
Sering kali yang dia lakukan untuk James hanyalah menyuntikan bermacam macam cairan ke tubuh James, entah tujuan nya untuk apa? James Harus berkali kali menahan sakit akibat jarum suntik yang di tusuk kan kedalam lapisan kulit dermis nya setiap hari, meronta pun tak ada guna nya, kakek mengikat tubuh nya dengan rantai rantai besi agar dia tidak bisa kabur seenak nya.
" James, mau Aku kasih tau sebuah rahasia?" James tersentak, suara Akira membuyarkan lamunan nya,
" mau!" James menganggukkan kepala nya dengan memasang senyuman yang lebar dari bibir nya, dia terlihat sangat antusias melihat rahasia kecil Akira tersebut.
" Ayo ikut Aku!" Akira menyahut tangan James yang belum sempat turun dari kursi meja makan,
Tubuhnya terpelanting mengikuti langkah Akira yang setengah berlari.
Akira terlalu bersemangat untuk mengajak nya berlarian melewati anak tangga yang menuju ke lantai dua rumah nya.
baru setengah perjalan mereka lalui, Akira menghentikan langkah nya,
" Aduh, kelupaan..!" dengan tangan kanan menepuk kening nya yang tak begitu lebar itu.
James, mengikuti jejak Akira untuk menghentikan langkah nya.
" James, kamu tunggu di sini dulu y! Aku mau ambil sesuatu di tas Aku!" Akira memutar badan nya untuk bersiap menuruni anak tangga yang sudah di naiki nya tadi.
James menuruti perkataan Akira, sambil menunggu Akira kembali, dia duduk diantara anak tangga terakhir yang di naiki nya tadi, dari atas dia menikmati pemandangan interior rumah yang sangat indah dan tertata sebegitu rapi nya, di sisi meja makan yang dia duduki tadi, James melihat Ibu Akira yang sedang membersihkan dapur kotor nya, beberapa piring kotor bekas makan siang tadi, menumpuk di tempat pencucian piring.
" Apakah semua ibu selalu baik ya?" gumam nya, sembari memangku kan wajah nya diantara dua tangan yang dia lipat diatas lutut.
__ADS_1
di dinding atas yang berhadapan langsung dengan meja meja makan itu, dia melihat sebuah lukisan besar berisikan gambar wajah Akira dengan kedua orang tua nya yang sedang tersenyum manis.
" Apakah orang yang di samping Akira dan ibu nya itu yang mereka sebut Ayah ya?" James bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Dia tenggelam dalam pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini tak pernah terpecah kan, dia baru menyadari, cukup banyak spesies manusia yang memiliki nama di bumi ini, mereka menyebut laki laki dewasa dengan sebutan Ayah, kemudian mereka menyebut wanita dewasa dengan sebutan Ibu, dan sebutan anak untuk laki laki dan perempuan se usia diri nya dan Akira. Entah mengapa dia baru menyadari semua itu sejak usia nya sudah 10 tahun di Bumi ini, kenapa kakek tidak pernah membicarakan tentang Ayah, tentang Ibu, atau bahkan tentang siapa diri nya yang sebenar nya.
" James, sudah ketemu!" lagi lagi suara Akira yang lantang dan ceria itu membuyarkan lamunan nya.
Dia melihat Akira yang tersenyum menaik turunkan alis nya, sembari menunjukan dua toples berisi ulat ulat yang dia taruh sejajar dengan wajah nya. Sungguh gaya tengil Akira memang tidak ada obat, kepribadian nya yang periang, membuat siapa saja betah berada di sisi nya.
" Ayo James, kita lanjut ke atas!" dia memberikan satu toples ulat nya untuk di bawakan oleh James, langkah mereka semakin dekat menuju rahasia kecil yang hendak di tunjukan Akira kepada nya tadi.
"Tara...!" dengan bahagia nya, Akira menunjukan sebuah taman yang terdapat banyak sekali bunga dan pepohonan kecil yang rimbun di atas rooftop rumah nya.
" indah nya!" James terperangah, melihat pemandangan yang begitu indah di depan mata nya tersebut, banyak nya bunga yang berwarna warni seketika memanjakan matanya yang selama ini hampir tak pernah melihat pemandangan hijau se indah itu di rumah nya.
" tutup mata mu James,!" ujar Akira, perempuan bertubuh sedikit lebih tinggi dari diri nya itu memang sangat penuh dengan kejutan.
" kenapa?" James tak langsung menuruti permintaan nya.
" jangan lepaskan tanganku ya James!" tutur nya, sembari menggandeng tangan James, sedangkan tangan yang satu nya memeluk toples berisi ulat ulat besar yang di ambil dari tas nya tadi, Akira memimpin James untuk melewati jalan setapak yang berada di taman tersebut, tak begitu jauh mereka melangkah, terdengar suara pintu sedang di buka, lantas Akira menghentikan langkah nya.
" James, kamu boleh membuka mata sekarang!" ucap Akira yang kembali menutup pintu ruangan tersebut.
Dengan perlahan James membuka matanya yang semula dia pejam kan, dia terkejut dengan ratusan kupu kupu dengan corak dan warna warna yang sangat memukau sedang berterbangan di dalam sebuah Aquarium rumah kaca, yang ukuran nya lumayan besar itu.
" indah kan James?" Akira tersenyum manis, melihat koleksi ulat nya yang sudah berubah menjadi kupu kupu itu.
" Indah sekali Akira!" James yang masih terpukau dengan ke indahan rumah kaca itu, mencoba menyentuh beberapa kupu kupu yang hinggap di dedaunan, namun kupu kupu itu terbang dan memilih hinggap di tempat lain, tubuh nya terhanyut oleh keindahan hamparan hijau dengan kupu kupu yang saling berterbangan silih berganti, untuk menghisap sari sari nektar dari ratusan bunga yang sengaja di tanam Akira untuk memberi makan kupu kupu tersebut. James berjalan menyusuri rumah kaca itu, pandangan nya teralihkan oleh sebuah kolam kecil dengan air yang terus mengalir di atas nya, dia melihat beberapa ikan kecil berenang dengan gesit menghiasi kolam tersebut dengan warna warni yang tak kalah cantik dengan ratusan kupu kupu yang ada disana.
" Wah, ada kolam ikan juga!" teriak James,
Akira hanya tersenyum melihat James yang terlihat sangat bahagia dari sebelum nya.
__ADS_1
" Ayo James, kita lepaskan Diego di dedaunan, supaya dia bisa makan!" teriak Akira, James yang sedang Asik memandangi ikan ikan kecil yang sedang berenang itu, segera beranjak untuk menghampiri Akira yang sudah melepaskan beberapa ekor ulat koleksi nya tersebut.
" Akira, kenapa kamu suka sekali dengan Ulat?" tanya James yang sudah ikut melepaskan beberapa ekor ulat sembari melihat nya menggeliat geliat di atas dedaunan.
" Ulat akan berubah menjadi kupu kupu James!" jawab Akira, yang masih sibuk berkutat dengan ulat ulat nya.
" sungguh?" James terkejut, kemudian dia membandingkan seekor ulat yang gemuk dengan kaki nya yang banyak lagi pendek, dengan seekor kupu kupu dewasa yang memiliki sayap yang indah dengan tubuh yang ramping disertai sedikit kaki yang lebih panjang dari kaki kaki ulat tersebut.
" sungguh James, ulat akan berpuasa dalam kegelapan untuk menjadi seekor kupu kupu yang sangat indah seperti mereka!" Akira menghentikan aktifitas nya, kemudian merentangkan kedu tangan nya, dan membiarkan beberapa kupu kupu menghinggapi nya.
" keren sekali!" lagi lagi James terperangah melihat banyak nya kupu kupu yang hinggap di tangan dan kepala nya, seperti sudah mengenal Akira dengan baik, mereka tak sungkan untuk hinggap di tubuh gadis cantik bergigi ompong tersebut.
" James, kamu mau tau kegelapan itu?" Akira menurunkan kedua tangan nya, agar kupu kupu yang hinggap tadi segera pergi dari tubuh nya.
James menganggukkan kepala, lagi lagi Akira menggandeng tangan nya, mengajak nya mengeksplore kembali tempat tersebut, tangan Akira dengan cekatan menyibak dedaunan rimbun dari sebuah pohon yang tidak begitu tinggi.
" lihat James, itu lah kegelapan yang Aku maksud!" Akira menunjuk kan sebuah benda kecil berbentuk lonjong yang menggantung di sela sela dedaunan.
" apa itu Akira?" James bertanya kepada Akira, dia tampak polos seperti anak yang baru lahir, yang tak tau apa apa. Tapi dia merasa sangat berterima kasih kepada Akira yang sudah memberikan kejutan demi kejutan untuk nya yang sama sekali tidak mengetahui apa apa tentang dunia ini.
" itu yang di sebut kepompong James, ulat yang menjijikan itu akan membuat rumah dari air liur nya, dan berpuasa di dalamnya, dia tidak makan lagi tidak minum selama berhari hari!" ujar Akira, dia sudah seperti guru yang menjelaskan pelajaran kepada murid nya yang polos itu.
" wah, hebat nya!" lagi lagi James di buat takjub oleh keajaiban demi keajaiban yang terjadi di muka Bumi ini. Ternyata Bumi ini sangat Fantastis, dia menyuguhkan bentangan alam yang penuh keajaiban dan misteri di dalam nya. James merasa bersyukur, sudah ada di Bumi yang indah ini.
Kemudian Akira menggandeng tangan nya lagi, dan mengajak James kembali ke tempatnya semula, untuk melepaskan sisa sisa ulat yang telah di cari nya di taman taman kota tadi pagi.
" Ayo James, kita lepas kan lagi ulat ulat yang lain, tapi ingat, gunakan sarung tangan untuk menghindari ulat yang memiliki bulu di tubuh nya!" lagi lagi Akira memberikan instruksi,
" kenapa?" tanya James dengan polos.
" nanti kamu akan gatal gatal luar biasa, tubuhmu akan bengkak, beberapa spesies ulat bisa akan mengeluarkan racun dari bulu nya James, sebagai bentuk perlindungan diri!" ucap Akira sembari menggunakan sarung tangan baru yang sudah dia sediakan sebelum nya.
" hah?" dengan ekspresi terkejut, James melihat kedua tangan nya, dengan beberapa ulat berbulu yang dia pegang secara langsung.
__ADS_1
" tidak......."! Suara teriakan menggema di dalam ruangan tersebut.