Fantastic Earth ( The Journey )

Fantastic Earth ( The Journey )
SIKO part 4


__ADS_3

Matahari pagi sudah mulai menampakkan wajah nya, memberi salam kepada jiwa jiwa yang telah puas melepas rasa lelah nya.


Burung burung liar bergerak lincah mendarat dari satu pohon ke pohon yang lain nya, dengan suara ocehan yang terdengar merdu memanjakan telinga.


Siko mengendus endus wajah Viona yang masih tertidur pulas, dia mencoba membangunkan tuan nya itu, agar kembali bersemangat untuk melakukan perjalanan mencari telur Raja Elang.


"Siko, Aku masih ngantuk!" ucap Viona, yang masih bermalas malasan dengan selimut nya.


Nelly yang hanya sedikit sekali tidur, menatap aneh ke arah Binatang tersebut, kenapa dia pandai sekali berkamuflase? Bukankah dia adalah laki laki tampan yang seharusnya tak ikut dalam rombongan mereka?.


Didalam benak nya, Nelly amat ketakutan alih alih Siko adalah mahluk jahat yang akan menjadi aral dalam perjalanan mereka saat ini.


"Ada apa Nelly? Kenapa kau menatap Siko dengan pandangan aneh seperti itu?"


Florita menyadari tentang tatapan aneh Nelly tersebut.


"Tidak, Aku cuma masih mengantuk!" ucap nya mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah, lawan rasa malas mu, Ayo kita beberes untuk melanjutkan perjalanan menuju istana Dewi Bumi!" ucap Florita yang membereskan selimut serta alas bekas tidur mereka.


Perempuan itu hanya mengangguk, menyetujui perintah Florita untuk membereskan bekas tempat istirahat nya itu.


"Bangun kau Viona, dasar pemalas, matahari sudah tinggi, tapi kamu masih saja tidur kayak kerbau!" teriak Florita.


Perempuan itu mendorong tubuh Viona dan mengambil alas tidur nya secara paksa, sehingga menyebabkan tubuh adik perempuan nya itu menggelinding beberapa Senti meter dari tempat asal nya.


"Ih, itu nama nya penyiksaan Kak!"


Dengan sangat terpaksa Viona bangun dari tidur nya, sembari meregangkan otot otot nya yang kaku, mulut nya menguap terbuka lebar menyedot debu debu yang tak kasat mata.

__ADS_1


"Salah sendiri siapa suruh bermalas malasan seperti itu, cepat cuci muka Mu di sungai, biar kembali fresh!"


Florita sudah seperti ibu ibu yang mengomel kepada anak nya di pagi hari, dua kakak beradik ini memang suka sekali berselisih paham tentang siapa yang paling rajin atau yang paling malas diantara mereka, padahal pada dasar nya Florita memang lebih rajin di banding Viona, tapi sesekali adik perempuan nya itu menjadi lebih dari rajin dari diri nya dalam beberapa momen.


"Iya, bawel!" ucap Viona, yang masih mengantuk.


Dengan tubuh yang masih lemas, Viona berjalan menyusuri jalan setapak untuk mencuci muka nya di sungai, sembari mengisi beberapa botol air untuk persediaan minum nya nanti di perjalanan.


Pada akhir nya, meskipun dengan langkah yang berat, sampai juga dia di tepian sunga berbatu yang aliran air nya sangat jernih hingga menampak kan biota biota yang hidup di dasaran nya, dengan wajah yang masih mengantuk berat, Viona berjongkok dan bersiap untuk membenamkan wajah nya ditepian sungai yang paling dalam, diantara sisi sungai yang lain nya.


"Kalau masih mengantuk sebaiknya kamu tidur lagi!" Ucap seseorang dari belakang.


Viona mencoba membuka mata nya lebar lebar, untuk mencari tau siapa orang yang sudah menegur nya dari belakang itu.


"Kak Charlie!" ucap nya.


Matanya yang masih setengah mengantuk, mendadak berubah menjadi bening saat melihat wajah Charlie yang berdiri di belakang nya.


"Ah, kakak sok tau! Dari tadi malam Aku tidur nyenyak lho!" ucap Viona yang pura pura tertawa kecil.


"Apa yang kamu lihat Vio? Jujurlah kepada Ku?"


Charlie sudah memahami Viona sejauh ini, gadis itu tidak bisa berbohong, sebab ketika dia berbicara bohong, hidung nya yang kecil itu bergerak kembang kempis seperti hidung seekor kelinci yang mengendus endus makanan nya.


"Tidak ada kak! Aku cuma lihat kak Flo yang tidur sambil ngorok!" ucap Viona yang berusaha menutupi sebuah kebenaran.


"Saat itu Aku melihatmu Vio!" Charlie menundukkan kepala nya, memasang wajah kecewa.


"A,Aku lihat jejak manusia asing kak, Aku berusaha mengejar nya, tapi bayangan Manusia itu menghilang dalam kegelapan!" ucap Viona, yang berusaha meyakinkan Charlie atas apa yang di lihat nya itu.

__ADS_1


"Berarti kita sama Vio, seperti nya ada penyusup di antara barisan kita, Aku harap musuh itu bukan musuh yang terlampau kuat melebihi kekuatan Kita!" Ucap Charlie,


"Semoga dia bukan Musuh kak!" Viona mencoba membuang pikiran Negatif nya.


Sebenar nya gadis itu sama sekali tidak tidur tadi malam, bahkan dia melihat Nelly yang mengendap endap keluar dari tenda seorang diri.


Dia tau betul, jika Siko bukanlah Binatang biasa, sejak awal kemunculan nya, penglihatan Dewi Bumi ini memang tidak bisa di bohongi, namun dia tidak akan bercerita kepada siapapun mengenai Siko, meskipun beberapa orang sudah curiga dengan mahluk itu, namun Viona tidak mengendus aroma jahat di tubuh mahluk itu.


"Seperti nya Aku harus selalu berjaga malam untuk melindungi kalian semua dari musuh musuh yang menyusup!" Ucap Charlie, Pria itu masih belum menyerah untuk mengulik tentang Mahluk misterius yang berdiri di balik bayang bayang pepohonan besar yang ada di sekitaran sana.


"Sudah tugas kita memang untuk saling menjaga Kak!"


perempuan itu menenggelamkan wajah nya ke dalam sungai, untuk membasuh Muka nya yang layu lantaran buruk nya kualitas tidur yang Ia miliki, dia membenamkan wajah nya itu sembari membuang semua kegundahan dan kegelisahan yang menggelayuti hati dan pikiran nya saat ini.


Tentang Siko yang selalu mengikuti Nelly kemanapun dia pergi, bahkan mahluk itu, terus mengendus aroma tubuh perempuan itu, seolah olah ada sesuatu yang sedang di incar nya.


"Aku harus melindungi Nelly!" gumam Viona dalam hati.


***


Selepas kembali nya Viona dan Charlie dari Sungai, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju istana Dewi Bumi, untuk mencari Air kehidupan yang tersimpan rapat di dalam istana itu.


"Ayo Siko, Kamu sudah siap kan? Melanjutkan perjalanan bersama mu?" Ucap Viona yang sudah jauh lebih lebih segar dari pada saat baru bangun dari tidur nya tadi.


Siko yang semula mondar mandir di bawah kaki Nelly, segera melompat ke pundak Viona, layak nya Binatang piaraan yang sudah sangat akrab dengan pemilik nya.


Viona memperlakukan Mahluk itu dengan baik, tanpa memperdulikan pandangan Nelly dan Charlie yang menatap Mahluk itu dengan penuh curiga.


Gadis itu mengelus elus leher binatang itu dengan lembut, Ia memperlakukan nya layak nya Binatang piaraan pada Umum nya, meskipun dia tahu yang sebenar nya, bahwasanya Siko berbeda dari Binatang pada Umum nya, dia adalah Jelmaan Manusia tampan yang entah dari mana datang nya.

__ADS_1


Viona sama sekali tidak peduli dengan hal itu, sebab diri nya sama sekali tidak mencium aroma jahat dari tubuh Mahluk itu, mereka pun kembali meneruskan perjalanan yang tinggal selangkah lagi untuk sampai di titik awal petualangan mereka.


__ADS_2