
Sudah dua hari ini James tidak menampak kan Batang hidung nya di sekolahan,kabar nya James sedang demam, tubuh nya bengkak akibat gatal gatal yang di sebabkan oleh beberapa Ulat bulu yang di di pegang nya secara langsung tanpa pengaman di rumah Akira kemarin,
Lapisan kulit dermis nya meradang, benjolan benjolan besar yang terasa gatal dan panas memenuhi tubuh nya, sementara kakek nya sudah berusaha menyuntikan beberapa penawar, namun gagal, ramuan yang dia buat tidak pernah cocok.
Entah sebenar nya lulusan universitas mana kakek James tersebut, tak pernah James melihat beberapa penghargaan atau medali yang terpasang di tembok rumah mereka, lantas kenapa kakek masih saja berkutat dengan ramuan ramuan nya yang tidak jelas itu, jangan kan membuat sebuah penemuan, untuk menghindari ledakan di tabung reaksi saja, kakek sangat amatir, berkali kali kumis dan alis nya hangus terbakar, menjadi korban eksperimen nya.
" James, ayo kita makan!" ucap kakek tua dengan rambut setengah botak yang sudah dikuasai oleh uban itu.
Kakek tua itu menyodorkan sebuah piring berisi roti bakar yang berwarna sedikit kehitaman, dalam bahasa Indonesia yang baku, itu disebut gosong.
" nggak mau kek!" James mendekapkan kedua tangan nya di atas perut, sambil memalingkan muka jutek ke arah jendela kamar nya yang sedikit gelap itu.
" lho, kenapa? Biasa nya kamu makan dengan lahap!" kakek itu terheran heran dengan sikap James yang berubah, dalam hitungan hari.
" Aku mau masakan Ibu!" James masih memasang wajah jutek, Kakek Edward terkejut dengan pernyataan James yang sangat mendadak itu.
dia merasa sangat kebingungan harus menjawab apa? kakek itu mondar mandir kesana dan kemari menoleh kan kepalanya yang sebenarnya tidak sedang mencari apa apa, sesekali dia menempelkan jari telunjuk ke kening nya membuat ekspresi seperti orang yang sedang berpikir.
" Ibu? Di mana ibu ya?" dia malah bertingkah seperti badut, untuk mengalihkan perhatian James, beberapa kali dia merunduk kan badan nya melihat melihat ke bawah kolong kasur, kemudian dia membuka buka laci serta apa pun itu yang bisa di buka nya untuk mencari Ibu.
James masih tidak bergeming, wajah cemberut nya belum hilang sama sekali, di tambah dengan dia harus melihat roti gosong yang ada di hadapan nya, hampir setiap hari, dia cuma bisa memakan roti gosong buatan Edward yang kata nya di panggang dengan penuh cinta itu.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, Edward merasa sangat lega, akhir nya penyiksaan nya berakhir dengan ketukan pintu. Dia paling tidak bisa melihat James cemberut seperti itu, apa lagi sampai melontarkan pertanyaan yang sama sekali tak bisa di jawab nya.
" James, kamu di rumah kan?" teriak seorang gadis kecil, James yang mendengar suara itu, segera melompat dari atas kasur nya, wajah nya yang semula cemberut, berubah menjadi cerah seketika, Edward yang hendak membuka pintu berjalan dengan lambat di depan James, Badan nya sudah renta di makan usia, tubuh nya sudah tak lagi muda, namun semangat Edward untuk merawat dan membesarkan James, masih sama seperti dulu saat masih muda. James yang tidak sabar menunggu Edward berjalan membelakangi nya, dia segera menyalip kakek nya tersebut dengan setengah berlari.
__ADS_1
" iya, Aku dirumah!" teriak James, kemudian dia membuka kan pintu rumah nya untuk Akira.
" James, kamu kenapa tidak masuk sekolah?" teriak Akira, dia sangat khawatir dengan keadaan James, matanya tertuju pada sekujur tubuh James di penuhi lingkaran lingkaran timbul yang sedikit kemerahan.
" gara gara tirex!" ucap James, Akira tertawa melihat muka James yang terlihat bengkak, karena saking banyak nya ruam ruam besar yang meradang di atas kulit nya.
" kalau wajah mu bengkak gini, semakin lucu James!" ujar nya sambil terus tertawa cekikikan.
" eh, ada tamu, pantas saja James kamu lari larian seperti itu, tamu nya cantik seperti bidadari!" ucap Edward dari kejauhan, kaki nya yang sudah tua, ber gemetaran saat menuruni anak tangga, beruntung ada pegangan untuk tangan dari anak tangga itu yang membantunya nya agar tak tergelincir dan jatuh.
" selamat siang kek!" sapa Akira dengan senyuman khas nya.
" selamat siang juga, ayo silahkan duduk nak!" Edward mengambilkan segelas air putih untuk Akira.
" ada oleh oleh dari Ibu kek!" Akira menaruh bingkisan kotak di atas meja tamu.
Edward berjalan menuju meja tamu sembari membawa segelas air untuk Kira.
" tidak apa apa kek!" ucap Akira,
Edward membuka bingkisan yang berisi banyak sekali makanan yang di olah dari tangan Ibu Akira sendiri.
James yang melihat makanan lezat di hadapan nya merasa tidak sabar untuk segera mencicipi masakan buatan ibu Akira yang sangat lezat itu.
Edwar kembali berdiri mengambil beberapa piring dan Sendok untuk mereka makan siang bersama sama.
" siapa namamu Nak?" tanya Edward kepada Akira.
__ADS_1
" Putri Akira kek,orang orang memanggilku dengan sebutan Akira.!" jawab nya dengan lugas.
" cantik sekali namamu, pantas kamu seperti seorang putri!" ujar Edward yang membawa beberapa perabot untuk makanan.
James yang perut nya sudah keroncongan, tidak sabar untuk mencomot somay yang berisi daging cincang di atas nampan yang sudah di siapkan oleh kakek nya tadi, lengkap dengan sumpit nya.
" fhu fhu fhu!" dengan menahan sakit, mulut nya yang kecil menghembuskan asap panas yang keluar dari somay tersebut, lidah nya serasa terbakar.
"panas!" ucap nya,
" memang masih panas James, mama baru saja mengambilnya dari kukusan!" Akira mengambil satu somay juga, kemudian meniup niup nya agar cepat dingin.
" ini!" dia memberikan somay yang dia tiup tadi kepada James.
" terima kasih Akira!" dia tersenyum melihat sahabat nya, mata nya terlihat menyipit tertarik oleh bibir nya yang membentuk sebuah senyuman.
Akira membalas senyuman itu.
" makanan ibu selalu enak ya?" ucap James yang bergembira bisa menyantap lagi makanan yang di buat oleh seorang ibu. Edward yang melihat cucu nya tersenyum dengan bahagia, di hatinya merasakan kesedihan yang mendalam, hati nya serasa perih tercabik cabik oleh kenyataan, tak bisa di pungkiri nya lagi, James memang terlahir tanpa seorang Ibu atau pun Ayah di sisi nya, apa lagi diri nya yang tak bisa memberikan yang terbaik untuk James, kemampuannya juga terbatas dalam memasak makanan, waktu nya hanya di dedikasikan untuk kelangsungan hidup James, melalui ramuan ramuan racikan nya.
" kalian sudah selesai makan kan?" ucap Edward yang mata nya berkaca kaca, sembari membersihkan sisa sisa makanan di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar efek usia nya yang sudah renta.
" sudah kek, biar Aku saja kek yang membersihkan nya!" Akira memunguti piring piring dan gelas kotor yang habis mereka gunakan tadi, gadis ini memang pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dia sudah biasa membantu Ibu nya beberes rumah.
" terima kasih ya Akira!" Edward menepuk nepuk pundak Akira, dan bersiap untuk meninggalkan mereka di ruangan itu.
" sama sama kek!" jawab nya, gadis ceria itu selalu tersenyum ramah kepada siapa saja yang di ajak nya berinteraksi, James ikut membantu Akira beberes sisa sisa makanan di meja, Edward sangat bahagia melihat pemandangan itu, dia tidak menyangka, James yang biasa selalu murung dan bersedih, kini bisa menemukan teman sebaik Akira, yang selalu memberikan energi positif kepada James.
__ADS_1
Selama ini Edward memang mengurung James di dalam rumah nya, dia memiliki alasan sendiri untuk tidak membiarkan James keluar dari rumah selama ini, dia merahasiakan hal itu dari James, untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi pada nya, namun James selalu mengarti kan nya berbeda, dia merasa, tindakan Edward mengurung nya selama ini adalah sebuah kejahatan.