Fantastic Earth ( The Journey )

Fantastic Earth ( The Journey )
SIKO part 3


__ADS_3

Setelah selesai menikmati hidangan makan malam, mereka bersiap siap untuk istirahat sejenak, melepaskan rasa lelah setelah seharian menghadapi berbagai macam rintangan yang menghadang perjalanan mereka.


Dengan menggunakan tenda yang sudah mereka bangun sebelum nya, Nelly kembali memasang mantra pelindung yang membentuk lengkungan setengah lingkaran, agar keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh musuh yang bisa menyerang mereka kapan saja.


"Ayo SIKO, kita tidur di dalam tenda perempuan!" Viona memaksa hewan kecil itu untuk mengikuti perintah nya, meskipun berulang kali hewan itu mencoba untuk memberontak.


Grrr,grr,grr


SIKO mengerang, menunjukan ekspresi marah nya kepada Viona, selaku tuan Putri yang di takdirkan menjadi tuan nya itu.


"Ada apa SIKO?!"


Nelly menghampiri binatang itu, sembari mengelus elus kepala SIKO dengan lembut, tak nampak pergerakan yang mengancam seperti saat Viona memaksa nya tadi, SIKO berubah menjadi lebih tenang.


"Padahal Aku kan yang menjadi Tuan Mu!"


Viona merasa jengkel dengan hewan tunggangan nya itu, dia melipat kedua tangan nya dengan posisi bersedekap, sembari memalingkan wajah nya yang manyun ke arah lain, tak ingin melihat kemesraan Nelly dengan Hewan tunggangan nya itu.


George tertawa melihat ekspresi Viona yang menggemaskan itu saat dia sedang cemburu berat.


"Jadi kamu cemburu dengan Binatang?" George terkekeh, meledeki Viona yang sedang kesal.


"Reputasi ku sebagai Dewi Bumi pemelihara Binatang sudah lenyap!" Ucap Viona dengan bibir yang di monyong monyong kan.


"Sudah, kamu tidur saja, nanti juga SIKO mau nurut sama kamu, mungkin dia sedang ingin bermanja dengan Nelly!" ucap George,


Viona hanya melihat George dengan mata yang sedikit melotot, kemudian meninggalkan tempat itu menuju tenda yang sudah ada Florita di dalamnya.


"SIKO, malam ini kamu mau tidur dengan Ku kan?" tanya Nelly, yang masih mengelus kepala SIKO dengan lembut.


Binatang itu tak memberi reaksi, dia malah tidur melingkar di atas pangkuan Nelly.


"Binatang yang menggemaskan!" ucap Nelly,


yang kemudian membawa SIKO ke dalam tenda untuk di berikan kepada Viona.


" Vio, SIKO sudah tertidur, ini!" Nelly mencoba memberikan SIKO kepada Viona, namun Viona memalingkan Muka, wajah nya meringus kecut, malas sekali memandang Nelly yang sudah menaklukan hati SIKO.


Nelly hanya terdiam, dia tau betul apa yang dirasakan Viona, saat Binatang yang seharusnya menuruti perintah Tuan nya, malah memberontak dan memilih untuk bermanja dengan orang lain.


"Kamu lihat kan SIKO, Dewi Bumi marah kepadaku!" ujar Nelly, kemudian menurunkan SIKO di samping Viona yang sedang berputar pura tidur, selanjut nya perempuan cantik itu bersiap untuk tidur di samping Florita yang sudah pulas.

__ADS_1


Dia memilih posisi sebelah Florita, guna untuk menghindari rasa canggung diantara diri nya dan Viona.


"Selamat malam Vio, selamat malam SIKO!" ucap Gadis tersebut.


Kemudian memejamkan mata nya, berharap untuk bisa bertemu dengan hari esok yang lebih baik.


***


Malam semakin larut, membuai tubuh mereka dengan udara dingin, Nelly tak kunjung jua memejamkan mata nya, ada perasaan resah di dalam hati nya, rasa kesepian dan ketakutan menjalari akal pikiran nya.


Bagaimana kelak jika perjalanan ini sudah usai? Ketika semua yang ada disini kembali bersama keluarga nya masing masing? Hanya dia satu satu anggota yang tak punya tempat untuk kembali, Air mata nya meleleh membasahi alas tenda tempat nya beristirahat itu.


Tubuh nya yang ringkih, meringkuk sendirian dalam dingin nya malam, menahan rasa sakit masa lalu seorang diri, bagaimana kekejaman Raja Awan Hitam yang membantai seluruh Klan nya, hingga menyisakan diri nya seorang, kenangan kenangan itu terus bermunculan di dalam ingatan nya, tak apa apa bagi nya jika hidup harus menderita dalam kekalahan, tapi yang paling dia benci adalah rasa kesepian ini.


Dia rela, meskipun harus seumur hidup menjadi budak hamba sahaya dari Raja Awan Hitam, asalkan tangan nya masih bisa bergandengan dengan orang orang yang di cintai nya, asal kan mata nya, masih bisa melihat senyuman tulus dari orang orang yang di kasihi nya.


Namun Nasi sudah menjadi bubur, sejauh apapun diri nya menyesali, semua itu tak akan berguna apa lagi bisa menghidupkan kembali semua anggota Klan nya yang telah mati.


Disaat diri nya larut dalam kesedihan yang tiada akhir, terdengar suara langkah yang mendekati pintu tenda, Nelly yang sedikit ketakutan, berpura pura tidak mendengar suara itu dan kembali memejamkan mata nya.


Terdengar suara langkah itu berbelok ke arah diri nya yang sedang berbaring di sebelah Florita, jantung perempuan itu berdetak dengan kencang, memompa aliran darah lebih deras ke sekujur tubuh nya, menciptakan hawa panas di area wajah dan tengkuk nya.


Suara itu semakin mendekat, kemudian berhenti tepat di wajah Nelly, hembusan nafas mahluk itu terasa hangat menerpa wajah perempuan itu, seperti nya mahluk itu sedang mengendus endus aroma tubuh nya.


Nelly berusaha sekuat tenaga untuk tidak bergerak, dia mencoba untuk tetap tenang dalam keadaan situasi yang seperti ini, dia mengumpulkan tenaga untuk memberanikan diri sedikit membuka mata nya yang terpejam, agar dia tau mahluk apa yang sedang mengintainya tersebut.


Terlihat siluet binatang kecil yang sedang mengitari tubuh nya.


"Siko?" gumam nya dalam hati.


Saat mengetahui mahluk itu dengan membuka sedikit mata nya, Nelly tidak tau apa maksud Siko mengendus aroma tubuh nya, sebab baru hari ini dia bertemu dengan Binatang tersebut.


Pada Akhir nya Siko pergi dari tempat Nelly berbaring, Binatang itu kembali mendekati pintu tenda, dan bersiap menembus pintu itu dengan kekuatan nya.


Nelly menghela nafas panjang, sedikit lega sekaligus penasaran, sebenarnya apa yang di lakukan Siko malam malam begini, dengan memberanikan diri, Nelly mulai mengendap endap mendekati pintu tenda, kemudian melihat situasi di luaran tenda, dengan mengintip sedikit dari lubang kecil yang tepat berada di depan nya itu.


"Tidak ada apa apa!" Gumam nya.


Namun rasa penasaran kian menggerogoti otak nya, dengan menggunakan mantel tembus pandang pemberian Raja Elang, dia memberanikan diri untuk keluar dari dalam tenda, perempuan itu bergerak sangat berhati hati, untuk meminimalisir timbul nya suara,supaya tidak membangunkan Viona dan Florita agar mereka tidak curiga dengan sikap Nelly.


Saat tubuh nya sudah berada di luar tenda, dia tak mendapati sesuatu yang mencurigakan, atau pun atmosfer jahat yang menyelubungi Perisai nya, dengan rasa penasaran yang membuncah, dia mencoba menyusuri setiap sudut area yang di lindungi oleh perisai untuk mencari keberadaan Siko.

__ADS_1


Dalam keheningan malam, dia berjalan di antara rerumputan yang tersibak Kekanan dan ke kiri mengikuti arah pergerakan angin, mencari Siko yang sudah meninggalkan tenda beberapa waktu lalu.


Dia terus menyusuri area itu, berharap menemukan sebuah titik terang dari kejanggalan kejanggalan yang menyelimuti hati nya, hingga pada akhir nya, di bawah sebuah pohon besar yang berdiri dengan gagah di lembah itu, terlihat sebuah bayangan seorang laki laki yang sedang berdiri menghadap langit, lebih tepat nya dia sedang memandangi Bulan yang saat in sedang bersinar penuh.


Laki laki bertubuh tinggi dengan rambut panjang menjuntai yang tersibak angin, mengeluarkan cahaya terang dari tubuh nya, laki laki itu terus menatap Bulan, Solah olah sedang bercengkrama dengan mahluk penduduk langit.


Dari punggung laki laki itu, mengeluarkan sayap putih yang indah, yang siap untuk membawa nya terbang menyusuri gelap nya langit nan luas.


"Siapa dia?!" Nelly bertanya tanya.


"seperti nya Aku mengenal nya!" dia kembali bergumam.


Disaat laki laki itu sudah hampir terbang menyusuri langit, tiba tiba James yang masih setengah sadar, keluar dari tenda nya, dengan mata yang masih terpejam sembari menahan rasa ingin buang Air kecil, dia mencari cari tempat untuk membuang hajat nya.


laki laki itu terkejut tatkala Melihat James yang mendekat ke arah nya, Sontak laki laki berpawakan tinggi gagah itu, berubah kembali menjadi Siko, hewan kecil yang menjadi tunggangan Dewi Bumi selama ini.


"Apa? Jadi selama ini Siko adalah seorang laki laki?" ucap Nelly yang sangat terkejut dengan kebenaran yang di sembunyikan oleh Siko dari mereka semua.


"Pantas saja dia tidak mau tidur di dalam tenda perempuan, lantas apa alasan laki laki itu bersembunyi di balik tubuh hewan kecil tersebut?!" Ucap Nelly, yang bergumam sendiri melontarkan pertanyaan dan menjawab nya sendiri, seperti orang yang kurang waras.


Siko menghilang secara misterius dalam kegelapan malam, Nelly yang masih penasaran, Kini kehilangan jejak Binatang jelmaan Manusia tampan itu, sembari setengah berlari dia mencari cari keberadaan Siko.


Angin yang berhembus cukup kencang itu, menanggalkan penutup kepala nya, hingga menampak kan tubuh Nelly yang kini bisa di lihat dengan mata telanjang.


"Nelly, sejak kapan kau ada disini?"


James terkejut, melihat Nelly yang tiba tiba berdiri di belakang nya.


"Sejak sebelum kamu keluar tenda?"


jawab Nelly dengan polos.


"Jadi, kamu melihat ku yang sedang kencing disini?" James berbicara dengan nada malu.


"Maaf, Aku tak bermaksud melihat mu!" ucap Nelly, dengan wajah yang bersemu merah.


Kemudian gadis itu segera berlari masuk kembali kedalam tenda perempuan.


"Dasar Mahluk Bulan, aneh sekali!" Gumam James, yang sama sekali tidak menyadari, dia atas pohon tempat nya kencing, berdiri seorang laki laki tampan dengan sayap Putih bercahaya sedang memperhatikan dirinya.


Dengan perasaan yang penuh teka teki akan sikap Nelly yang di nilai nya aneh tersebut, James mencoba menghempaskan perasaan itu, kemudian mengikuti jejak Nelly untuk masuk ke dalam tenda khusus laki laki.

__ADS_1


__ADS_2