Fantasy Star Online

Fantasy Star Online
Prolog


__ADS_3

"Ini akan menjadi pertarungan terakhir kita, huh?"


"...."


"Hah, tidak mau bicara? Baiklah, kurasa ini akan berakhir dengan cepat."


Di sebuah puncak gunung, sedang berdiri dua orang dengan perlengkapan bertarung lengkap; satu menggunakan tombak, satunya lagi menggunakan broadsword. Orang yang membawa pedang mengangkat pedangnya yang tertancap di tanah dan menahannya di pundaknya oleh satu tangan, sementara tangan lainnya mengulur ke depan untuk memprovokasi lawannya.


"Ayo, maju!"


"Hyaa!"


Orang itu mengangkat tombaknya dan berlari ke arah pria dengan broadsword. Dia mengayunkan tombaknya secara diagonal, dan lawannya menahan serangannya dengan pedang lebar itu hanya dengan satu genggaman tangan. Senjata mereka saling bertemu, terdengar suara logam yang saling bergesekan juga percikan api yang dihasilkan dari gesekan tersebut.


"Apa hanya ini kemampuanmu, Gloofy?" ejek pria bersenjatakan pedang.


"Ini baru permulaan, jangan besar kepala dulu, Emperos," balas pria dengan tombak.


Emperos memberikan sedikit dorongan pada pedangnya dan memukul mundur Gloofy beberapa meter, hal itu sangat dipengaruhi karena Emperos memiliki tenaga yang besar jika dilihat dari tubuhnya. Berbeda jauh dengan Gloofy yang memiliki tubuh lebih kecil darinya, karena dia seseorang dengan tipe yang lebih mengandalkan kelincahan dan kecepatan daripada kekuatan semata.


Gloofy berdiri dengan kedua kakinya, memegang tombaknya di belakang punggungnya, lalu membawanya ke depan sambil memberikan sedikit permainan tombaknya.


"Haha! Kau ingin bertarung atau berkontes?" tanya Emperos dengan wajah mengejek.


"Bukannya dua hal itu sama saja?"


"Maksudku—lupakan! Aku datang!" seru Emperos.


Emperos bersama pedangnya maju dan menyerang Gloofy dengan kekuatan yang brutal, hanya dengan satu kali ayunan, Emperos dapat melempar Gloofy yang menahan serangannya dengan tombak, hingga ke tepi. Gloofy menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah dan kalah seketika.


"Bagaimana? Kau terkejut?" kata Emperos sambil tertawa lantang.


"Lumayan, tapi, kau terlalu lambat sehingga aku masih dapat menahannya."


"Heh! Semua itu harus seimbang, kalau aku fokus pada kekuatan, pastinya kecepatanku sangatlah lambat. Begitu juga denganmu, yang fokus pada kecepatan dan membuat kekuatan serangmu lemah!"


"Langka sekali, kamu dapat berpikir seperti itu," ejek Gloofy.


"Apa katamu?!" teriak Emperos murka, dia menyerang Gloofy tanpa berpikir.


Gloofy tersenyum licik saat melihat Emperos bergerak untuk menyerangnya ketika terpancing oleh perkataannya.

__ADS_1


"Pemenangnya sudah ditentukan!!" teriak Emperos.


Emperos melompat dengan pedang besar yang digenggam di atas kepalanya, siap untuk mengayunkan dan membelah lawan menjadi dua kapan saja. Tapi, itu semua tidaklah berguna!


"Kau benar, pemenangnya sudah ditentukan," ucap Gloofy sambil tersenyum tipis.


Gloofy bergerak ke samping dan menghindari Emperos yang melompat ke arahnya. Emperos yang melihat itu langsung memaksakan tubuhnya mendarat sebelum terjatuh ke bawah—mereka berada di sebuah puncak tebing yang curam.


"Aku pemenangnya," kata Gloofy dengan senyuman lebar yang menghias wajahnya.


"Sialan, pengecu–"


Belum sempat Emperos menyelesaikan kalimatnya, Gloofy menendang bokong Emperos sehingga membuatnya terjatuh ke bawah dan kalah pada pertarungan itu.


"Terkutuk kau, GLOOOOFFFFY!" teriak Emperos yang kini sedang jatuh.


[YOU WIN!]


***


Di sebuah kamar sempit, dimana cahaya hanya berasal dari sebuah layar komputer. Sedang terduduk seorang pria dengan kantung mata yang hitam, muka lelah serta kulit pucat, sedang meregangkan tubuhnya setelah menyelesaikan game favoritnya. Ya, selesai, artinya game itu akan ditutup.


"Hoaaahhh."


"Guhuk!"


Dia terbatuk, lalu menggulingkan badannya hingga posisinya berubah menjadi terlentang menatap langit-langit kamarnya, terdapat lampu yang menggantung namun tidak ada cahaya yang keluar dari lampu tersebut. Dia melamun untuk beberapa lama sampai akhirnya, smartphone miliknya berbunyi dan layarnya menyala membuat ruangan gelap itu mendapat sumber cahaya baru setelah layar komputernya mati.


Orang itu langsung tersadar dari lamunan dan mengambil smartphone-nya, menyalakannya dan melihat pesan yang diterima dari nomor seseorang, pesan itu berbunyi, "Oke, aku tahu aku kalah karena ceroboh tapi, tadi itu pertandingan yang menyenangkan walau sebentar, haha!"


Orang itu membalas pesan tersebut, "*Ya, kau memang bodoh, seperti biasa."


"Apa maksudnya?! Haaa, ngomong-ngomong, aku sudah mentranferkan sejumlah uang ke rekeningmu, sesuai janji... Dah, ya, aku ada urusan sebentar, sampai jumpa, bung*!"


Orang itu tidak membalas lagi pesan tersebut, namun dia langsung bergegas bangkit dari tidurnya lalu membuka aplikasi banking untuk memastikan jumlah uang yang terdapat pada rekeningnya. Setelah melihatnya secara langsung dengan mata kepala sendiri, dia sangat terkejut sampai jantungnya mau copot dan keluar melalui mulut, uang di rekeningnya yang awalnya hanya beberapa ratus ribu rupiah, kini telah berubah menjadi ratusan juta ribu rupiah, tepatnya 160 juta rupiah.


Badannya bergetar hebat, giginya terus menggigil dan bertubrukan, lalu kemudian dia berseru lantang di ruangan sempit nan gelap itu.


"Woohooo!!!"


Dia langsung berhenti berseru seketika dan pergi keluar dari kamarnya setelah sekian lama mengurung diri, mungkin sudah sekitar dua tahun dia tidak keluar dari kamarnya, terlihat dari kondisinya saat ini. Dia berlari menuruni tangga, berdiri di tengah-tengah ruang tamu sambil berputar mencari seseorang, dia tidak berani untuk berteriak, jadi dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan murung.

__ADS_1


Saat hendak menaiki tangga, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan juga suara lembut milik seorang gadis yang masih berusia sekitar belasan tahun.


"Aku pulang."


Pria tadi menghentikan langkahnya dan melihat ke arah pintu keluar yang kini ada seorang gadis mengenakan seragam sekolahnya, mata mereka saling bertemu lalu pria itu langsung bersembunyi.


"Kakak? Itu kamu, kan? Kak?"


Suara dari gadis itu kian bergetar di setiap katanya yang diucapkan, dia perlahan berjalan mendekati kakaknya yang sedang bersembunyi itu.


"Ja-jangan kesini," ucap pria itu ketakutan.


"Itu benar kakak! Syukurlah," ucap gadis tersebut.


Si gadis sudah berada di depan pria yang dipanggil kakak sambil tersenyum lebar serta mata yang berkaca saat melihat kakaknya, sementara pria itu menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.


"Kakak...."


Gadis itu memeluk kakaknya yang terlihat ketakutan, setelah dipeluk, perlahan rasa takur pria itu menghilang dan mendapat keberaniannya untuk menggerakan mulut serta anggota badannya yang lain, dia memeluk kembali adiknya yang kini menangis di dalam dekapannya.


"Maafkan aku, sudah menjadi kakak yang buruk," ucap pria itu sambil mengelus kepala adiknya.


Beberapa waktu telah terlewati sejak kejadian itu, sepasang adik-kakak itu kini sedang berbicara sambil menikmati camilan di ruang keluarga, hanya ada mereka berdua disana. Sang kakak menceritakan tentang dia mendapatkan uang ratusan juta untuk mengobati ibu mereka, sang adik terkejut mendengarnya, merasa tidak percaya dengan omongan kakaknya. Namun, setelah melihat ekspresi kakaknya itu, tidak mungkin dia sedang berbohong tentang itu, sang adik mengiyakan semua perkataan dari kakaknya sambil tersenyum.


"Kakak, besok kita akan ke rumah sakit, menjenguk ibu, oke? Jadi, persiapkan dirimu!"


Sang kakak mengangguk beberapa kali dan hal itu membuat adiknya tertawa, sepasang adik-kakak itu mendapatkan keharmonisan mereka kembali setelah dua tahun.


Esok harinya, sepasang adik-kakak tersebut sudah berada di rumah sakit, dan sedang dalam perjalanan menuju kamar ibu mereka di lantai tiga. Itu adalah rumah sakit terbaik yang ada di kota, memiliki lima lantai serta peralatan yang lengkap. Di dalam perjalanan, sang kakak terus mencoba menutupi wajahnya walaupun sudah mengenakan tudung jaketnya, adiknya tertawa kecil melihat kelakuan kakaknya itu.


"Tidak apa-apa, kak. Tidak akan ada yang mencoba menyakiti kita disini," ucap gadis itu mencoba menenangkan kakaknya.


Si adik kemudian memegang tangan kakaknya itu dan akhirnya sang kakak merasa sedikit lebih tenang. Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di kamar dimana ibunya dirawat. Melihat ibunya sedang memandang ke jendela dengan ekspresi yang tenang seperti air, membuat hati mereka sedikit tersembuhkan.


"Ibu," kata gadis itu.


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, wanita tersebut mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, menemukan dua orang yang membuatnya tersenyum hangat.


"Ah, Nina, dan...." Wanita itu melirik pada pria yang berdiri di samping gadis yang bernama Nina, "Ryuei."


Mendengar namanya disebut oleh orang yang paling disayanginya, hatinya terasa senang, tapi dia tidak dapat menunjukkannya perasaannya itu.

__ADS_1


"Kalian berdua, selamat datang," ucap wanita itu, lalu tersenyum.


__ADS_2