
Penguji tersebut berdiri perlahan sambil tetap mengangkat tangannya ke atas. Ryzen menarik nafas lega, kemudian menurunkan senjatanya, pada waktu yang bersamaan, penguji itu menendang tangkai dari tombak kayu milik Ryzen dan melemparkannya jauh ke tepian arena.
"What the-?!"
Disaat matanya sedang tertuju pada tombak yang terlempar, lalu ketika Ryzen mengalihkan pandangannya kembali ke depan, sebuah tinju tiba-tiba sudah berada di depannya. Untungnya, dengan reflek yang seratus persen karena keberuntungan, dia dapat menghindari tinju yang melayang padanya.
Penguji mundur beberapa langkah setelah serangan dadakannya gagal, lalu meraih kedua tangannya pada posisi bertahan layaknya pertarungan tinju.
'NPC ini kenapa?!' batin Ryzen.
Disaat Ryzen sedang kebingungan dengan situasi yang dihadapinya, empat orang yang menonton pertandingannya hanya bisa tertawa kecil karena mereka mengetahui hal seperti tadi akan terjadi.
"Tah, siah, kabiasaan si Cagor nu dirumorkeun tea."
"Heeh, si embung eleh."
"Ceuk di forum mah, eta NPC teh sabenerna di pasang program AI, kan, nya?"
Pada pernyataan mereka, dapat disimpulkan bahwa NPC yang menjadi penguji bagi Ryzen adalah sebuah program yang dipasang dengan AI (Artificial Intellegience) atau disebut Kecerdasan Buatan yang dipasang pada suatu sistem komputer. Mereka tidak bertindak sesuai data program, melainkan mereka akan bergerak secara otomatis sesuai keinginan program yang belajar pada pengalaman, jika dibilang, NPC di dalam Fantasy Star Online sudah seperti manusia biasa yang tinggal di dunianya sendiri. Semua tindakan mereka diputuskan berdasarkan keputusan sendiri, bukan dari sebuah skrip yang ditetapkan seperti NPC pada umumnya.
Di sisi lain tribun, Laiten mengernyitkan dahinya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Dia juga sudah tahu hal itu akan terjadi, karena merasa kesal, dia akhirnya memutuskan untuk memberitahu Ryzen.
"Hati-hati, dia adalah NPC dengan kecerdasan buatan," teriak Laiten, suaranya menggema di arena yang tertutup itu.
Karena mendengar suara keras tersebut disaat sedang terpikir dalam, seluruh tubuh Ryzen langsung bergidik ketika suara tersebut masuk ke telinganya.
'AI, kah? sekarang aku paham,' batin Ryzen.
Ryzen pun langsung memasang kuda-kuda bertarung tangan kosongnya yang asal dan tidak berprinsip kepada gaya bertarung apapun. Melihat hal tersebut, penguji itu tertawa terbahak-bahak sampai terguling-guling.
"Eh?!"
"Apa-apaan itu?! Bwahahaa!"
Ryzen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 'Apanya yang apa? mungkinkah dia menertawakan cara kuda-kuda ku tadi?'
Bukan Ryzen saja yang terkejut dengan sikap penguji yang tiba-tiba tertawa itu, Laiten serta empat orang lainnya pun ikut terkejut, itu kali pertamanya mereka melihat penguji yang sering dipanggil Cagor itu tertawa sampai terbahak-bahak.
Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya NPC yang dipanggil Cagor oleh salah satu dari keempat orang yang menonton itu, berhenti tertawa. Dia mengusap air matanya yang keluar karena tawa tanpa hentinya, dia melihat pada Ryzen sesaat lalu melempar sebuah lencana yang tadi diberikan pada awal pertandingan.
"Aku mengakui teknikmu dalam permainan tombak, meskipun memang pergerakanmu masih seperti seorang pemula, tapi setidaknya kamu menggunakan otakmu juga untuk bertarung. Selamat, kamu lulus ujiannya dan sudah resmi menjadi Spearsman," kata NPC itu.
"Oh, begitu...," balas Ryzen singkat.
__ADS_1
"Tapi, yah, jujur saja ak-fufufu! maksudk-fufu!" NPC tersebut berdeham, mencoba untuk menahan tawa, lalu dia melanjutkan, "Ma-maksudku, seorang Spearsman tidak hanya mengandalkan tombak untuk menyerang, selalu ingat untuk memakai anggota tubuhmu yang lain untuk menyerang juga. Oleh karena itu, aku sarankan padamu untuk melatih teknik bertarung tangan kosongmu itu!"
"Oh? oke, kurasa itu tidak masalah."
"Bagus, kalau begitu, kuucapkan selamat sekali lagi."
Di tribun dimana empat orang yang daritadi menonton pertandingannya itu pada menggaruk kepala sebelum pergi meninggalkan arena itu. Sedangkan Laiten, dia melompat ke dalam arena dari tribun penonton.
"Ei!!" seru Laiten.
Plak!
Laiten menampar punggung Ryzen dengan keras, terdengar dari suaranya yang memantul dan menggema di arena yang tertutup tersebut. Bahkan Cagor si penguji yang masih berada disana dan menyaksikan perempuan berambut oren itu menampar Ryzen, sampai terkejut dibuatnya.
"Aw, salahku apa?!"
"Salahmu adalah karena kamu itu memang salah," ucap Laiten asal.
"Eh??" Ryzen bingung dengan kalimat yang diucapkan oleh Laiten itu.
"Oh, dia temanmu?" tanya NPC itu menimbrung dalam percakapan.
"Ah, ya, namanya Laiten, dia seorang blacksmith," jawab Ryzen.
NPC itu memandang Laiten dari atas ke bawah, membuat Laiten merasa tidak nyaman karenanya. Lantas, Laiten langsung bersembunyi di balik Ryzen dan diam-diam malah mencubitnya.
"Aw, aw, aww!!" rintih Ryzen.
"Ah! Aku ingat, apa kamu itu murid dari si kakek tua?" tanya NPC tersebut, sekarang ditujukan untuk Laiten.
"Ba-bagaimana kau tahu? apa kamu seorang stalker?!"
"setal-apa? yah, pokoknya aku tahu, karena aku selalu memesan perlengkapan ke kakek tua itu, dan kebetulan saat itu aku berkunjung sekali dan melihatmu sedang fokus membuat sebuah tomba—tunggu!"
"???"
NPC itu terlihat seperti sedang merogoh sesuatu di dalam tas kecil yang diikatkan di sekitar pinggangnya itu.
"Hei, sebaiknya kita segera pergi dari sini," bisik Laiten ke telinga Ryzen.
"Kenapa?" balas Ryzen pelan.
"Aku punya firasat buruk soal ini."
__ADS_1
Tanpa lama lagi, Laiten langsung berlari meninggalkan arena tersebut bersama Ryzen yang dia paksa tarik bersamanya. Sementara itu, NPC yang sedang asik merogoh tas kecilnya, akhirnya hampir selesai dengan urusannya.
"Nah, ini."
Dia menarik keluar sebuah tombak panjang dengan bentuk mata tombak yang unik, disaat dia selesai mengeluarkan seluruh bagian tombak tersebut yang entah bagaimana caranya itu bisa ada di sebuah tas kecil, dia melihat kembali ke arah dua orang tadi berada. Tapi, setelah melihat ke arah tersebut, dia sudah tidak menemukan sosok dua orang tersebut.
"Kemana perginya?"
....
Laiten dan Ryzen sedang berada di lobby Class Center yang luas itu, tempat yang tadinya hanya terdapat sedikit orang, sekarang sudah dipenuhi oleh pemain dan juga NPC. Kebanyakan dari mereka sedang berkumpul di dekat sebuah papan kayu yang panjang terpampang di dinding sebelah kanan dari pintu keluar.
"Sedang apa mereka?" Ryzen menunjuk pada kerumunan tersebut.
"Oh, itu. Mereka sepertinya sedang mencari quest yang cocok."
"Quest? ah, maksudmu seperti quest board?"
Laiten mengangguk. Lalu, dia tiba-tiba murung, Ryzen menyadarinya dan langsung menanyakan keadaannya.
"Kenapa?"
"Ah, maaf. Aku harus logout, ngomong-ngomong selamat karena sudah menjadi Spearsman. Ya, sampai nanti, bye-bye!"
Sedetik setelahnya, saat Ryzen belum sempat membalas dan bertanya lebih jauh, Laiten sudah menghilang dan hanya meninggalkan partikel poligon yang mengapung di udara dan perlahan menghilang menjadi transparan.
Ryzen hanya bisa menarik nafas, lalu memimirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mengingat tujuannya adalah untuk mendapatkan uang di dalam game, namun tidak tahu bagaimana caranya—setidaknya untuk sekarang—oleh karenanya, dia memutuskan untuk melakukan beberapa quest yang dipampang di quest board yang panjang itu.
***
Di sebuah ruangan yang bersih, angin sejuk yang menerpa melalui jendela yang terbuka serta pemandangan kota yang cerah, dapat dirasakan di ruangan tersebut yang terlihat seperti sebuah kamar untuk pasien rumah sakit. Di atas tempat tidurnya, seseorang tengah berbaling sambil mengenakan VR-Gear di kepalanya yang baru saja dimatikan.
"Ah, anda sudah selesai bermain?" tanya suster yang bertugas di kamar itu.
"Ya...."
Suara balasan itu terdengar pelan dan lemah, walau sedikit dapat terdengar suara semangat di baliknya.
"Wajah anda terlihat cerah, apa ada sesuatu yang bagus terjadi saat anda bermain?" tanya suster itu lagi sambil membantu pasiennya bangkit ke posisi duduk.
Orang yang baru saja bangkit dari posisi terbaringnya dan sekarang sedang terduduk itu, melihat ke arah wajah suster yang merawatnya. Kulitnya seputih salju, matanya besar dan berwarna kuning memberikan kesan seseorang yang memiliki sifat ceria, paras wajahnya bisa dibilang cantik, tapi daripada dibilang cantik, kata yang lebih cocok adalah imut. Memiliki rambut keabu-abuan panjang hingga ke punggung, dan tubuh yang ramping serta tinggi yang tidak lebih dari 170 cm, dapat terlihat dari postur badannya meskipun dia sedang duduk sekalipun.
Dengan semua keterangan penampilan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang sedang menjadi pasien disana adalah seorang gadis imut, yang sedang tersenyum ke suster yang merawatnya.
__ADS_1
"Ya, akhirnya aku memiliki teman," ucap gadis tersebut.