
Ryuei dan Nina berada di rumah sakit sampai sore, setelahnya, mereka pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Ryuei langsung berlari mengecek setiap sudut rumahnya demi mencari kamera pengawas yang terpasang. Setelah 30 menit mencari dengan bantuan adiknya, mereka berhasil mematikan bahkan menghancurkan kamera yang berukuran kecil seperti kelereng yang terletak di sudut-sudut ruangan serta disembunyikan secara baik.
Keesokan harinya, Ryuei terbangun saat hari masih muda dan sang surya belum menampakkan dirinya. Dia diam-diam pergi ke taman dengan menggunakan sepeda, sesampainya di taman, Ryuei mulai melakukan pemanasan tubuh sebelum dia mulai jogging. Sayangnya, untuk pertama kalinya itu, dia hanya dapat melakukan satu putaran saja karena fisiknya, Ryuei beristirahat di sebuah bangku sambil meminum sekaleng cola yang didapatnya dari mesin minuman.
"Aku harus mulai melatih tubuhku," ucap Ryuei.
Satu jam telah dia habiskan di taman untuk jogging dan melatih tubuhnya, dia kembali ke rumahnya sebelum jam menunjuk pada angka 6. Ryuei juga memastikan kalau adiknya masih tertidur pulas di kamarnya, tidak mau mengganggu tidur adiknya, dia pergi ke dapur dan mencoba untuk memasak sendiri. Yah, untuk seseorang sepertinya, sudah pasti yang bisa dimasaknya hanya mie instan atau telur dadar saja.
Ryuei membuat dua telur dadar untuk disajikan sebagai sarapan, tepat setelah Ryuei selesai memasak. Nina terbangun dan keluar dari kamarnya, melihat dua porsi nasi dan telur di meja makan, dia langsung menyisir ruangan dan melihat kakaknya keluar dari dapur sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Apa yang sedang kakak lakukan?" Nina melihat ke piring di atas meja makan, "Apa kakak yang memasaknya?"
"Ya, makanlah," jawab Ryuei.
"O-oke, aku mau mencuci wajah dan tanganku dulu," ucap Nina.
Nina pergi ke kamar mandi yang terletak dekat dapur, sementara Ryuei duduk di meja makan dan mulai menyantap masakannya, yang pertama kalinya dia buat. Untuk hal itu, Ryuei percaya dengan kemampuan masaknya walau tidak pernah memasak sekalipun, karena dia sering melihat acara memasak di layar monitornya selama masa mengurung diri.
Ryuei mengambil sendok lalu tepi telur itu menjadi potongan yang kecil, lalu diambilnya dengan setumpuk nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa itu adalah rasa yang pertama kalinya dia rasakan, sebuah rasa yang sangat berbeda dengan makanan yang dia dapatkan setiap hari dari adiknya, itu adalah rasa yang mengguncangkan hati serta indra pengecapnya.
"Enak! Aku tidak percaya, aku dapat memasak seperti ini! Hahaha!"
Ryuei menghabiskan sarapannya dalam sekejap, disaat Nina baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat kakaknya selesai dengan sarapannya.
'Cepat sekali!' batin Nina.
Nina duduk di kursi dan mengambil piringnya, dia melihat kakaknya yang duduk di seberangnya dengan tatapan tidak percaya, lalu pandangannya kembali pada telur dadar di piringnya. Dia mencoba sesuap, lalu setelah makanannya masuk ke dalam mulut, sama seperti yang dirasakan oleh Ryuei, rasa yang enak menyerang indra pengecapnya.
"Enak sekali! Bagaimana cara kakak melakukannya?" tanya Nina dengan semangar.
"Rahasia," ucap Ryuei.
Ekspresi Nina langsung berubah, dia mengembungkan pipinya serta memalingkan wajahnya.
"Makan dulu, nanti kakak kasih tahu caranya," ucap Ryuei, lalu menghela nafasnya.
"Janji, ya?" Nina mengulurkan jari kelingkingnya.
Mata Ryuei terbuka lebar saat Nina melakukan itu, dia teringat saat dirinya masih kecil, dia sering melakukan janji kelingking dengan adiknya setiap kali dirinya berjanji. Ryuei tersenyum tipis lalu mengulurkan jari kelingkingnya juga, dan mereka mengaitkan kedua kelingking itu lalu menggoyangkannya.
Janji, janji kelingking,
Siapa pun yang berbohong,
Harus memotong jarinya.
Meski sudah beberapa kali melakukan janji kelingking dengan adiknya, kalimat yang seringkali diucapkan adik perempuannya itu masih saja membuatnya merinding.
'Kenapa pula harus mengatakannya seperti itu,' batin Ryuei.
Setelah berjanji, Nina mulai menyantap sarapannya. Lalu, beberapa waktu kemudian, bel rumah mereka berbunyi, Ryuei pergi untuk melihatnya. Setelah pintu rumahnya dibuka, seorang kurir yang membawa sebuah kardus kotak sedang berdiri di depan rumahnya.
"Ah, apa anda yang bernama Ryuei?" tanya kurir itu.
"Ya, aku Ryuei, ada apa?"
"Ada kiriman paket untuk anda," ucap kurir itu.
Kurir itu memberikan kardus tersebut ke Ryuei, lalu dia mengambil sebuah kertas dan *** poin hitam.
"Mohon tanda tangan disini," kata kurir itu sambil menunjuk ke kertas.
__ADS_1
"Tapi aku tidak memesan paket apapun," ucap Ryuei.
"Saya juga tidak tahu, tapi pengirimnya bilang paket ini untuk Ryuei. Selain itu, dia juga menitipkan sebuah pesan—tunggu sebentar."
Kurir itu mengambil sebuah amplop dari tas kecilnya yang diselendangkan, lalu memberikannya ke Ryuei. Ryuei menyimpan kardus itu di lantai terlebih dahulu, kemudian menerima amplop itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kertas dengan tulisan yang berbunyi seperti ini.
———
Yo, bung! Maaf aku belum bisa menemuimu, tiba-tiba ada kerjaan dadakan dari luar negeri. Aku akan pergi untuk beberapa minggu, nanti aku kabari lagi saat aku sudah pulang.
Oh iya, kau sudah menerima paketnya?
Di dalamnya adalah VR-Gear untukmu bermain Fantasy Star, kuharap dengan itu kau mau bergabung di timku haha!
- Andre
———
Setelah membaca pesan itu, Ryuei tidak punya pilihan lagi selain harus mentanda-tangani paketnya. Setelah selesai, kurir itu berterima kasih lalu pergi melanjutkan tugasnya mengantar paket lain.
Ryuei membawa paket itu ke dalam rumahnya.
"Kak, itu apa?" tanya Nina.
"Paket," jawab Ryuei.
"Aku tahu, tapi apa isinya?" tanya Nina lagi.
"Sebuah VR-Gear," jawab Ryuei kembali.
"VR-GEAR?! MAKSUD KAKAK, VR YANG ITU?! YANG BISA MEMBUAT KITA BERMAIN GAME YANG SEPERTI DUNIA LAIN ITU? STAR, STAR, GITU NAMA GAMENYA, KAN?!"
"Kamu mau juga?" tanya Ryuei sambil tersenyum.
"A-apa boleh?" balas Nina.
"Tentu, nanti kakak beliin."
"Wah! Terima kasih, kak! Kakak memang yang terbaik, meskipun wajahmu rata-rata!"
Kata-kata itu menusuk hatinya, itu lebih sakit jika keluar dari mulut adiknya sendiri dibandingkan dengan pacarnya. Tapi karena Ryuei tidak mempunyai pacar, maka kata itu memberikannya damage dua kali lipat, sebuah serangan telak.
Ryuei berada di kamarnya, kamar yang dulunya berantakan dan gelap itu, kini sudah berubah menjadi kamar yang bersih dan terang, semua itu hanya disebabkan oleh uang! Sekarang sudah terbukti kalau uang memang dapat mengubah hidup seseorang!
Ryuei mengambil VR-Gear beserta perangkat lainnya di dalam kardus itu, lalu menyiapkan semuanya sesuai arahan dari buku panduan 'How To Install Gear'. Setelah semuanya siap, dia mengambil VR-Gear yang berbentuk seperti sebuah helm motor, namun hanya menutupi area kepala atas hingga matanya.
Ryuei menghela nafas sebelum memakai VR-Gear itu, lalu dia berbaring di atas kasur setelah memakaikannya di kepala.
"{Status, Online. Scanning... Player data not found. Creating account....}"
Setelah suara yang mirip dengan sistem itu terdengar di telinganya, tiba-tiba penglihatannya dipenuhi dengan kode dan database yang bergerak dengan cepat.
"{Account has been made. Welcome, VP17762! Please choose the world you want to play in.}"
"Dunia, ya. Mungkin maksudnya game? Ehh, bagaimana cara aku melakukannya... Oh, aku ingat!"
"[Command: Fantasy Star.]"
Ryuei mengatakan sebuah kalimat perintah yang sesuai dengan panduan yang dia baca tentang kata perintah atau command word.
"{World, Fantasy Star. VP17762 logging in....}"
__ADS_1
Setelah itu, pandangannya menjadi gelap. Kemudian muncul setitik cahaya putih yang kian membesar, lalu dia menemukan dirinya berada di ruangan putih.
Dia memeriksa sekeliling tempat itu, beserta mencoba menggerakkan anggota tubuhnya yang kini dapat dia rasakan kembali. Saat dia melihatnya, tangan serta seluruh tubuhnya itu terlihat berwarna biru transparan.
"Oh, kukira tahap pertama masih akan menampilkan tubuh asliku."
Beberapa detik kemudian, muncul sebuah kolom panel transparan yang sering dia lihat di sebuah game RPG. Panel itu memberikan rentetan daftar pilihan.
"{Please choose the language to use.}"
Seperti yang dibilang oleh sistem, panel tersebut berupa panel daftar untuk memilih sebuah bahasa yang akan digunakan oleh sistem suara itu dalam Fantasy Star. Misalnya, jika memilih 'English' maka sistem suaranya akan terus menggunakan bahasa Inggris. Namun, dalam sistem ini, meskipun memilih bahasa selain 'English', nama sebuah barang di Fantasy Star masih akan tetap menggunakan 'English'.
Ryuei menggeser daftar tersebut lalu berhenti pada urutan abjad 'B' dan menekan pilihan 'Bahasa Indonesia'. Seketika itu, bahasa dari sistem dan suaranya yang digunakan pun langsung berubah.
"{Selamat datang di Fantasy Star! Silakan untuk membuat karakter!}"
Setelah itu, muncul 7 sosok yang masing-masing terlihat berbeda. Itu adalah sosok-sosok yang menampilkan 7 ras berbeda yang pada umumnya ada di dalam game RPG, diantaranya adalah; Manusia, Elf, Were-being, dan 4 ras lainnya disana.
"{Silakan memilih ras anda!}"
"[Command: Human!]"
"Aku tidak mau ambil resiko untuk memilih ras selain manusia jika mekanisme bermainnya seperti bergerak di dunia nyata. Karena aku sudah terbiasa menjadi seorang manusia juga."
Yap, bayangkan saja jika dirimu yang sudah terbiasa bergerak sebagai manusia, dan tiba-tiba saja berubah menjadi makhluk seperti naga. Tentu kalian akan kesulitan bergerak karena pada dasarnya manusia dan naga itu berbeda, yah perbandingan itu terlalu jauh.
Kita bandingkan saja manusia dengan elf—sebuah ras ikonik cerita fantasi, memiliki paras cantik dan tampan, serta telinga panjang yang runcing—kedua makhluk ini tidak jauh berbeda, sama-sama memiliki dua tangan, dua kaki, dua telinga, satu kepala, dan satu hidung. Meski tampak sama, namun, elf cenderung memiliki berat tubuh yang lebih ringan daripada manusia, hal itu menjelaskan mengapa mereka sangat lincah dalam bergerak. Dan sama seperti yang sudah dikatakan, jika seseorang yang sudah terbiasa bergerak seperti manusia, tentunya akan kesulitan untuk bergerak sebagai elf yang memiliki berat tubuh yang lebih ringan.
Oke, cukup sampai sini saja penjelasannya.
Setelah Ryuei memilih rasnya sebagai manusia, tubuh yang awalnya berwarna biru transparan tersebut sekarang sudah memiliki sebuah kulit dan perawakan seorang manusia, lebih tepatnya, dia mendapatkan kembali tubuh serta penampilan aslinya.
"{Silakan memodifikasi karakter anda!}"
"Ini dia yang kutunggu!" kata Ryuei sambil mengepalkan tangannya.
Meski tampak semangat untuk memodifikasi penampilan avatarnya, Ryuei ternyata hanya mengubah warna rambut dan matanya saja. Memiliki rambut berantakan berwarna kecoklatan, iris berwarna hijau seperti rumput, tinggi sekitar 170 cm dengan wajah yang tampak sekali berbeda dengan wajah aslinya. Ya, itu adalah wajah aslinya yang sehat, tanpa kantung mata yang berwarna hitam dan selalu tampak lesu, wajah-wajah siswa yang populer di kalangan para siswi di sekolahan.
"Haha, aku hampir melupakan wajah asliku ini, aku merasa tidak percaya diri sih, apa aku tidak bisa mengubahnya walaupun hanya sedikit?"
Sistem scanning di awal itu telah membentuk kembali penampilan aslinya yang sehat, sebenarnya ini adalah kasus yang jarang terjadi juga di antara para pemain. Ada juga pemain yang masih ditampilkan dengan rupanya yang memiliki beberapa goresan di wajah, tidak dibentuk kembali ke bentuk aslinya yang sehat.
Lalu untuk modifikasi karakter ini pun, pemain tidak dapat mengubah bentuk tubuh, suara, dan jenis kelamin mereka, untuk wajah mereka masih dapat mengaturnya sendiri secara manual.
Setelah selesai mengatur avatar atau karakternya, Ryuei mengangguk puas, dia sedikit mengubah wajah tampannya itu menjadi seorang pria dengan wajah rata-rata. Tapi, dia masih kepikiran dengan kata adiknya yang mengatakan wajahnya bahkan di bawah rata-rata.
"Nina sampai bilang wajahku di bawah rata-rata karena kantung mataku yang hitam dan wajah yang lesu. Aku sudah memutuskannya, aku akan melatih tubuhku dan mendapatkan kembali penampilan asliku."
"{Masukkan nama karakter anda!}"
Sebuah panel transparan yang sering dilihatnya di game RPG saat memasukkan sebuah nama karakter, muncul di depannya. Kali ini, tidak hanya panel saja yang muncul, tapi ada juga sebuah papan ketik transparan bersamanya.
Ryuei mengetikkan nama karakternya yang akan dipakai di Fantasy Star, setelah selesai, dia menekan tombol 'Enter'.
"{'Ryzen', yakin menggunakan nama ini?}"
"[Command: Yes!]"
"{Pembuatan karakter telah selesai! Memasuki dunia Fantasy Star... Selamat bermain, Ryzen!}"
Setelah pernyataan suara sistem tersebut, ruangan putih itu tiba-tiba mati seperti sebuah televisi yang dimatikan, tubuh Ryuei terasa seperti terjatuh dan dia tidak dapat kembali merasakan tubuhnya. Disaat bersamaan, pandangannya dipenuhi oleh kode dan database yang tidak dia mengerti, sama seperti saat proses scanning.
__ADS_1