
Di dekat pintu, dua orang sedang berdiri, laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu memiliki rambut hitam pekat, mata dengan iris hitam yang tampak lelah ditambah kantung matanya yang hitam, cara dia berdiri juga sedikit lesu, dia mengenakan jaket hoodie untuk menutupi penampilannya. Sementara di sampingnya, seorang gadis berambut hitam pendek dan berwajah imut, kelopak matanya cukup besar dengan iris berwarna coklat.
Di seberang mereka, seorang wanita yang terlihat memakai pakaian pasien rumah sakit, sedang tersenyum ke arah mereka.
"Senang melihatmu lagi, Ryuei."
Laki-laki lesu itu, Ryuei, tersentak saat mendengar suara wanita yang melihat ke arah mereka dengan senyuman hangatnya yang sudah lama tidak dilihatnya. Ryuei berniat untuk menyapa, mulutnya sudah terbuka, namun suara tidak keluar dari mulutnya. Bukanlah suara yang keluar dari mulut, namun air mata yang mengucur dari sudut matanya hingga ke dagu dan tetesan jatuh ke lantai.
"Ibu," ucap Ryuei pelan, dan perlahan berjalan mendekati wanita itu yang terduduk di ranjang.
Gadis yang datang bersamanya, yaitu adiknya yang bernama Nina, menghela nafas lega sambil mengelus dada. Dia juga ikut berjalan perlahan di belakang kakaknya.
Disaat kakaknya sedang memeluk ibunya sambil terisak tangis, Nina dan ibunya saling berpandangan dan tertawa kecil, bersyukur melihat satu-satunya anggota keluarga mereka yang telah mengurung diri selama dua tahun, telah keluar dari sangkarnya.
Waktu sudah terlewati cukup lama, setelah mengeluarkan semua perasaannya, Ryuei kemudian menceritakan tentang uang yang dia dapatkan. Dengan penuh semangat, Ryuei, bercerita bagaimana dia bermain game kesukaannya yang akan ditutup, dan tepat sebelum game itu ditutup, dia berhasil mendapatkan uang ratusan juta, dengan alasan bahwa seorang teman baiknya di game itu ingin membantu Ryuei untuk perawatan ibunya.
"Dengan uang ini, ibu akan segera sembuh dan kita bisa berkumpul kembali!" ucap Ryuei dengan semangat, sepertinya dia sudah tidak peduli lagi dengan niat menyembunyikan penampilannya.
Ibunya menggeleng pelan, melihat reaksi itu, Ryuei sontak membuka matanya lebar, pikirannya seolah ditelan oleh awan gelap.
"Itu tidak mungkin, uang itu belumlah cukup untuk perawatan ibu disini. Lagipula, kita juga belum membayar hutang kita beberapa tahun lalu, untuk biaya pengobatan ibu."
"Memangnya, berapa banyak yang harus dikeluarkan untuk biaya pengobatan?" tanya Ryuei.
"Sekitar sembilan ratus juta hingga satu miliar," ceplos Nina menimbrung percakapan ibu dan kakaknya.
"Sembilan?!"
Ryuei terkejut dan langsung memasang wajah murung, ibunya hanya tertawa kecil melihat reaksi putranya itu, meskipun sudah besar tapi kelakuannya itu seperti anak kecil setiap kali putranya berbicara dengannya.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk... Tidak perlu khawatir, ayah kalian pasti akan—"
"Ibu!" bentak Nina.
Ibunya langsung terdiam dan menutup mulutnya, mereka berdua tahu, bahwa menyinggung soal ayah mereka akan membuat Ryuei merasa kesal. Setiap kali mendengar kata 'ayah' yang merujuk pada orang tua Ryuei, hal itu adalah sesuatu yang sangat dibencinya. Alasan Ryuei mengurung diri juga ada kaitannya dengan ayahnya ini.
Melihat Ryuei yang menunduk terdiam, ibunya khawatir akan terjadi apa-apa pada putranya itu, dia mencoba menggenggam tangan putranya.
"Ryuei...."
Ryuei mengangkat kepalanya dan memandang ibunya yang memasang muka sedih, setelah berpandangan, yang terkejut adalah ibunya, dia tidak menyangka Ryuei akan membuat wajah penuh senyum seperti itu.
"Tenang saja, aku pasti yang akan terlebih dahulu membayar biaya pengobatan ibu."
Ryuei berdiri dan melepaskan genggaman tangan ibunya, "Fuhh, aku ingin pergi beli minum dulu."
Ryuei kemudian meninggalkan ruangan itu. Nina dan ibunya saling memandang beberapa saat lalu melihat ke arah pintu dengan perasaan khawatir.
"Bagaimana caranya aku mendapatkan uang sebanyak itu...."
Ryuei merenung, memikirkan cara terbaik dan tercepat untuk mendapatkan uang sebelum seseorang yang sangat dibencinya terlebih dahulu datang dan membayar biaya pengobatan ibunya. Ketika dia sedang merenung, sekelompok orang berjas berdiri di depannya.
"Woi!" seru suara berat itu.
Ryuei tersentak, langsung mengangkat wajahnya dan melihat sosok orang berkulit kecoklatan dengan rambut kriting pendek, di belakangnya berdiri tiga orang pria berbadan kekar. Setelah beberapa saat menatap pria kriting itu, barulah Ryuei mengingat sosok pria tersebut.
"Kudengar kau mendapatkan sejumlah uang, apa itu benar?" ucap pria itu.
"Darimana kau mengetahuinya?!" tanya Ryuei panik.
__ADS_1
Pria itu tertawa, lalu berkata, "Jangan remehkan kelompok kami," ucapnya.
Tangannya terulur ke samping, hendak seperti meminta sesuatu, salah satu pria kekar di belakangnya langsung mengangguk dan memberikan sebuah buku berwarna hijau dan sebuah pulpen. Setelah mendapatkan kedua barang itu, pria kriting itu tersenyum menyeringai.
Pria itu membuka buku itu dan membalikkan hingga halaman tengah, disana, terselip beberapa kertas foto dan sebuah kartu memori.
"Mau tahu bagaimana kami mengetahuinya?" ucap pria itu sambil memegang kertas empat foto dan kartu memori di tangannya.
Dia melempar kertas foto itu ke lantai, sementara kartu memorinya dia masukkan ke dalam smartphone-nya. Ryuei mengambil empat kertas foto itu, dan melihat sebuah gambar yang memperlihatkan empat tempat yang berbeda; ruangan kamarnya yang gelap, ruang keluarga disaat dia berbicara dengan adiknya, depan rumahnya, dan kamar dimana ibunya dirawat.
"Kau memasang kamera pengawas di rumah kami, sejak kapan?!"
"Coba tebak?" pria itu memberi pertanyaan.
Ryuei tidak menjawabnya melainkan menatapnya tajam, ditambah dengan kantung matanya yang hitam, membuatnya sedikit terlihat menyeramkan jika dilihat dari sudut atas.
"Tidak mau menjawabnya? Hah, membosankan sekali. Baiklah, aku beritahu saja, dari awal orang tuamu meminjam uang, kami sudah memasang kamera pengawas di rumah kalian. Lalu, disaat ibumu sakit, kami juga memasang kamera di ruangan kamarnya," ungkap pria itu.
"Kenapa?" suara Ryuei bergetar.
"Apa perlu kujawab? Yang lebih penting sekarang adalah, tujuan kami kesini, untuk menagih hutang dua ratus juta kalian."
"Dua—?! aku hanya punya seratus juta," ucap Ryuei.
Pria itu mengelus dagunya dan menatap sinis Ryuei, kemudian memanggil seseorang melalui teleponnya, dia berbicara dengan orang itu tentang masalah hutang Ryuei. Setelah 5 menit, pria itu menutup teleponnya dan melihat kembali Ryuei.
"Kalau tidak salah, bukannya kau punya seratus enam puluh juta," ucap pria itu menyeringai.
Ryuei merapatkan giginya, tangannya mengepal keras seperti batu. Menyadari hal itu, pria kriting memerintahkan pria kekar di belakangnya untuk bersiaga.
__ADS_1
Ryuei tiba-tiba berdiri, membuat pria kriting itu terkejut dan melangkah ke belakang, sementara ketiga pengawalnya—pria kekar—berdiri di depannya dengan siaga. Namun, tidak disangka, mereka terkejut saat melihat pemuda yang mereka tagih hutangnya itu, sekarang bersujud di hadapan mereka.
"Tolong beri kami—tidak, aku, waktu lagi untuk membayar seluruhnya. Untuk sekarang, aku hanya bisa membayar setengahnya saja!"