
"Hyat!"
Sret...! Krek.. Clang...!
"{Level Up!}"
———
Name: Ryzen
Level: 6
Guild: —
SP: 18
STR 5, AGI 5, INT 8, VIT 4, LUCK 5
Karma: 1
———
Namaku Ryuei—tidak, Ryzen! Seorang top player juga Spearsman terbaik, setidaknya di game yang lama. Sekarang aku, sedang memburu monster level rendah di Greenfields menggunakan senjata baruku, sebuah pedang yang kudapat dari seorang Blacksmith bernama Laiten.
Sudah satu hari sejak aku memulai perburuanku, dan sudah satu hari juga sejak Laiten memintaku menjadi partnernya, kupikir kata tersebut merujuk pada sesuatu seperti pa-pa-pasangan! I-itu loh, se-se-sema-semacam kencan! Hah... Aku terlalu memikirkan tentang hubungan spesial seperti itu, tapi ternyata yang dia maksud adalah partner kerja atau rekan bisnis....
Kemarin, dia memintaku untuk menjadi rekan bisnisnya, dimana aku akan bekerja untuknya sebagai pengumpul bahan produce yang akan dia gunakan untuk membuat perlengkapan. Dan sekarang disinilah aku, bertempur di Greenfields bertujuan untuk menaikkan levelku dan juga mengumpulkan bahan untuknya.
Di dataran lapang hijau yang luas itu, sang surya sebentar lagi akan terbenam, oleh karenanya, langit pun menjadi berubah warna jingga. Dikala itu, seorang pemain bersenjatakan pedang pendek, masih terus melakukan aktifitasnya berburu monster level rendah, dan pemain itu tak lain adalah Ryzen.
Clang...!
Suara kaca pecah yang berasal dari jasad monster yang hancur menjadi kepingan poligon dan menghilang ke udara itu, telah menjadi bel terakhir bagi Ryzen untuk menyudahi perburuannya.
"Fuh, capeknya..., tapi, karenanya levelku sekarang sudah mencapai level 7."
Ryzen, berhasil menaikkan satu level lagi. Dia menyimpan pedang pendeknya di inventory dan memberikan pesan pada Laiten. Setelah itu, dia bergegas kembali menuju kota.
"Oh, ya..., sepertinya tadi aku mendapat beberapa Achievement yang belum kuterima."
Achievement, adalah sistem pencapaian atau prestasi, yang mana jika pemain telah memenuhi syarat dalam suatu Achievement, maka mereka akan dihadiahi sesuatu seperti uang, barang, atau terkadang juga sebuah gelar.
"Aku akan memeriksanya nanti saja."
Ryzen terus melanjutkan perjalanannya ke kota. Sesampainya disana, dia langsung pergi ke rumah pandai besi kecil dan menemui Laiten untuk memberikan barang yang dia inginkan. Tetapi, Laiten tidak berada disana.
"Ah, anak muda. Apa kamu mencari nak Laiten?"
Suara itu datang dari seorang pria tua yang tidak memiliki kursor di atas kepalanya—yang berarti seorang NPC. Ryzen melihat NPC tersebut dan mengangguk pelan.
"Iya. Apa bapak tahu, dimana dia berada?" tanya Ryzen.
NPC tersebut menggelengkan kepalanya pelan, dia berjalan menuju tempat peleburan besi, dengan sebuah batang logam putih yang terlihat mengkilap di tangannya.
'Apa itu perak di tangannya?' batin Ryzen ketika menyadarinya.
__ADS_1
NPC itu menaruh batangan logam putih tersebut di atas sebuah meja kayu di dekat tempat peleburan, padahal Ryzen mengira NPC tersebut mau meleburkannya. Lalu, NPC itu melihat ke arah Ryzen berdiri.
"Nak Laiten itu, dia seorang gadis yang rajin. Bakatnya sungguh hebat dalam menempa, sejujurnya aku sendiri iri, karena waktu aku masih muda, aku tidak dapat melakukan sebagus yang gadis itu lakukan...."
Ryzen memiringkan kepalanya terhadap perkataan tiba-tiba NPC itu, yang kemungkinan akan menjadi sebuah cerita jika tidak segera dihentikan.
'Ke-kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? jangan-jangan, ini adalah sebuah storyline yang biasa ditemukan sebelum mulainya sebuah Quest?!' pikir Ryzen panik.
Memang benar, pada awalnya, Ryzen menginginkan sebuah Quest cerita yang ingin dia lakukan, tapi itu ketika dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sekarang, setelah mengetahui apa yang harus dia lakukan, Ryzen sudah tidak membutuhkan lagi yang namanya Quest—tapi yah, bukan berarti dia sepenuhnya akan menolak sebuah Quest dari NPC.
Pada akhirnya, Ryzen menjadi pendengar yang baik ketika NPC tersebut bercerita panjang lebar tentang masa lalunya dan kehidupan seorang pandai besi.
NPC tersebut bernama Logus, sejak kecil dia selalu melihat ayahnya yang juga seorang pandai besi, membuat peralatan bagi para petualang—panggilan untuk orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk menjelajah dunia sambil membunuh habis para monster, na, walau kebanyakan dari mereka adalah para pemain.
"... Jadi, nak! Apa kamu tertarik menjadi seorang Blacksmith?!"
'Sudah kuduga akan seperti ini!!' batin Ryzen menjerit.
Dalam waktu nol koma persekian detik, Ryzen membuat otaknya bekerja keras dan mendapatkan jawabannya. Ryzen berdeham, lalu menghela nafasnya.
"Aku tahu seorang Blacksmith itu adalah pekerjaan yang menyenangkan...."
"BENAR, KAN?!" sela NPC itu dengan semangat seorang anak muda.
"TAPI..!!"
Ryzen mengacungkan jarinya ke atas, membuat NPC itu terdiam sejenak. Kemudian, Ryzen tersenyum lebar dan menepuk dadanya.
"Menjadi yang terkuat jauh leb—waaa?!"
Disaat sedang bangganya, tiba-tiba seseorang mendobrak pintu di belakangnya, membuatnya tertabrak dan terjatuh ke lantai.
Bruk!
Orang yang membuka pintu itu adalah Laiten, tidak seperti biasanya, dia sedang mengenakan sebuah set baju besi komplit mengkilap yang terbuat dari logam perak, serta membawa sebuah tameng di punggungnya.
"Wah, Ryuzen! Kau tidak apa-apa?!" tanya Laiten ketika menyadari Ryzen terjatuh ke lantai.
Ryzen mengelus punggungnya sambil mencoba berdiri, "Ya, aku tidak apa-apa."
Kemudian, muncul bar HP merah dan MP biru yang sudah dia hilangkan ketika akan menjalani quest Laiten, tepat di depan pandangannya. Ryzen melihat bar HP merahnya itu berkurang beberapa milimeter.
"H-HAAAA?!!!"
Ryzen berteriak karena terkejut HP-nya akan berkurang meskipun disebabkan oleh beberapa hal sepele seperti tertabrak pintu kemudian terjatuh.
"Ke-ke-kenapa HP ku berkurang..., padahal hanya terjatuh."
Laiten hanya bisa menahan tawa kecilnya, dia menutup pintu rumah pandai besi kecil itu dan berjalan ke depan Ryzen.
"Yah, game ini sudah mirip seperti dunia nyata. Saat kamu terjatuh seperti tadi di dunia nyata, kulitmu pasti akan meninggalkan luka dan akan merasakan sakit meskipun sedikit. Begitu juga disini, sebagai ganti dari luka dan sakit itu, HP mu akan berkurang, yah meskipun hanya satu atau dua poin saja sih."
Laiten menghadap Ryzen yang masih berada di lantai sedang melihatnya. Laiten membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan sambil tersenyum bahagia.
"Nah, ayo. Kamu tidak perlu terkejut pada hal kecil seperti tadi, Ryuzen," ucap Laiten.
__ADS_1
Ryzen menghela nafasnya juga dan tersenyum kecil sesaat, dia meraih tangan Laiten lalu dia dibantu berdiri olehnya. Ryzen memiringkan kepalanya, dan menatap Laiten dengan bingung.
"Kenapa kamu memilihku?" tanya Ryzen.
"Hmm?" Laiten ikut memiringkan kepalanya, "Apa maksudmu?"
"Maksudku, kenapa kamu memilihku menjadi rekan untuk bisnismu. Bukankah masih banyak pemain lain yang bahkan levelnya sudah tinggi?" tanya Ryzen lagi.
Laiten menatap Ryzen cukup lama. Dia sudah mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu, tapi untuk mendapatkannya dari orang yang terlihat akan menerima apapun selama ada hadiahnya, dia cukup terkejut.
"Karena aku percaya padamu," ucap Laiten tersenyum sambil memukul pelan Ryzen di dada kirinya.
"Kau pasti hode...!"
"Apa katamu?! kamu pasti sudah tahu kalau game ini tidak mengijinkan pemainnya untuk merubah gender mereka, kan?!" kata Laiten dengan nada tinggi.
"Itu benar, tapi...."
Ryzen memegang dagunya sambil menatap Laiten, mengamatinya dari atas sampai bawah dengan mata penuh kecurigaan.
"Masih tidak percaya?! Kalau begitu, aku akan memberitahumu kontakku agar kau percaya!" celetuk Laiten.
Mendengar kalimat tersebut, telinga Ryzen menerimanya dengan jelas. Irisnya bergerak ke sudut matanya, lalu menatap Laiten dengan tajam sambil memasang wajah kemenangan yang terlihat licik.
"Benarkah?!"
Pada akhirnya, Laiten memberikan kontaknya kepada Ryzen karena merasa sudah kalah, maksudnya kalah dalam adu kata. Mereka sedikit berbincang masalah rekan bisnis tersebut, Ryzen memberikan semua item yang rekannya minta, lalu logout.
Waktu di dunia nyata sudah hampir larut malam, Ryuei sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melihat smartphone-nya dengan tegang. Dia terus menatap layar yang menyala itu sementara tangannya terus bergetar dan keringat terus mengucur.
"Wa-wa-walaupun tadi aku sangat senang ketika mendapatkan kontaknya! ta-ta-tapi, kenapa sekarang aku malah gu-gu-gugup?!" gumam Ryuei.
Ryuei gugup bukan tanpa sebab. Itu semua dikarenakan karena isi dari layar smartphone-nya itu. Dia sedang melihat isi chatnya dengan teman barunya, dan itu adalah pengalaman pertamanya untuk mengobrol dengan seorang perempuan di dunia nyata, setelah 2 tahun mengurung dirinya.
———
L: Aku sangat ingin bertemu denganmu!
R: Bukannya kita selalu bertemu di game?
L: Aku ingin melihat wajah aslimu! Kirimkan foto selfiemu, Ryuzen!
R: Eh.... Enggak ah, lagian namaku itu Ryzen bukan Ryuzen. Na, di game sih.
L: Oh! Benar juga! Nama asliku Laila! Sekarang, beritahukan nama aslimu juga!
R: Eh?! Kau tidak bisa asal memberitahu namamu pada orang asing, tahu!
L: Hmm, tapi kamu kan temanku!
———
Melihat kalimat tersebut, mata Ryuei langsung terbuka lebar begitu juga dengan mulutnya. Ekspresinya itu tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata, tapi yang pasti, itu adalah ekspresi bahagianya.
"Teman, kah," gumam Ryuei tersenyum kecil.
__ADS_1
Ryuei langsung menggerakkan jari-jarinya untuk membalas pesan tersebut.
Namaku Ryuei, pastikan kamu mengingatnya dengan baik!