
"Hidden quest?"
Moon memiringkan kepalanya.
"Iya," jawab Ryzen.
"Yang seperti apa?" tanya Moon.
"Mmm...."
Ryzen menjelaskan detailnya. Memberitahu detail dari hidden quest yang dia dapatkan sesuai dengan penjelasan aslinya.
———
Quest: Ancient Artifact
Hidden Quest: Origin
Story: Anak kecil itu sepertinya tahu sesuatu, tanyakan padanya tentang Artefak Kuno
Objective: Temukan Lucius
Reward: Exp +4000
———
"Jadi, nama anak itu Lucius," gumam Ryzen.
Moon kurang lebih dapat memahami situasinya, dia mengelus dagu dan berpikir sejenak sementara Ryzen sibuk sendiri mengatur inventory-nya meski isinya cuma ada beberapa item saja seperti Iron Sword +1, 3 jenis botol potion HP, MP dan Stamina masing-masing 2, dan 3 potong roti.
Beberapa menit kemudian, tepat saat Ryzen selesai mensortir isi inventory-nya, begitu juga dengan Moon yang selesai dengan sesuatu yang dipikirkannya tadi.
"Baiklah, aku sudah memutuskannya," ucap Moon tiba-tiba.
"Hmm, apa? apa yang kamu putuskan?" tanya Ryzen.
"Aku akan membantumu."
"Oh! Terima kasih banyak! padahal aku masih belum membalas pertolonganmu saat itu, dan sekarang aku malah ditolong lagi. Lain kali, aku pasti akan membayarnya dua—empat kali lipat."
Moon memiringkan kepalanya kembali, dengan jari telunjuknya yang ditempelkan dekat bibir. "Aku tidak ingat kapan aku pernah menolongmu, tapi, aku akan menantikannya, bantuanmu itu."
__ADS_1
"Eh? Kamu sudah lupa?" tanya Ryzen murung.
Moon lagi-lagi memiringkan kepalanya, dia sudah seperti boneka yang rusak karena mencoba mengingat kejadian yang disebutkan oleh Ryzen, pada akhirnya pun Ryzen mengiyakannya saja lalu mereka pergi mencari anak kecil bernama Lucius itu.
Setelah lama mereka mencari keberadaan anak itu, akhirnya mereka menemukan jejaknya, sebuah jejak kaki yang mengarah ke rumah gubuk yang sudah rusak, jejak tersebut menghilang di depan pintu reyot gubuk itu.
"Mungkin ini jejak palsu?" ucap Ryzen pelan.
"Tidak. Di dalam gubuk ini ada sebuah tangga yang mengarah ke bawah tanah," ungkap Moon sambil memegang pintu reyot itu.
"Tahu darimana?" tanya Ryzen curiga.
"Aku punya skill yang membuatku dapat melihat suatu kejadian yang berhubungan dengan benda yang kupegang, namanya 'Vision', itu cukup banyak menguras MP," balas Moon, wajahnya tiba-tiba terlihat lelah.
"Hmm, baiklah. Aku percaya padamu, kalau gitu, ayo kita cek," ajak Ryzen.
Ryzen mendobrak pintu yang sudah rusak itu, lalu memeriksa setiap sudut gubuk kecil tersebut yang luasnya tidak lebih dari 5x5 meter. Ryzen tidak menemukan jalan rahasia apapun disana, dia langsung melihat ke arah Moon yang sedang berdiri di dekat sudut.
"Kamu menemukan sesuatu?"
"Ya, ini pintunya."
"Ooo, ini jalan rahasianya."
Lantai di samping mereka tiba-tiba bergerak dan terbuka, menampilkan sebuah tangga yang menuruh ke bawah tanah.
"Ayo masuk," ajak Ryzen.
Moon mengangguk pelan dan berjalan di belakang Ryzen, tangga itu ternyata cukup dalam, butuh sekitar 30 detik untuk mencapai dasar lantainya lagi. Setelah sampai di dasarnya, mereka berada di sebuah jalan setapak yang tampak seperti terowongan yang diterangi oleh cahaya api dari obor yang berjauhan.
"Hee, aku tidak menduga akan ada tempat seperti ini di daerah kumuh," kata Ryzen.
"Jangan lengah, kita tidak tahu apa yang ada di depan sana," ujar Moon.
"Oke, oke."
5 menit kemudian, mereka akhirnya dapat keluar dari jalan sempit itu dan berakhir di sebuah tempat mirip goa yang dijadikan pertambangan, di ujung yang lainnya terdengar suara tawa ria sekelompok orang.
Ryzen dan Moon pergi mendekat ke sumber suara diam-diam, sesampainya disana, mereka melihat sekelompok orang yang sedang berpesta dan mabuk, tidak hanya itu, kelompok tersebut juga terlihat sedang bermain dengan empat orang wanita yang dipenuhi luka lebam akibat pukulan, tampak terlihat wajah empat wanita tersebut sudah pasrah, tidak ada lagi cahaya yang terlihat di matanya, seakan sudah menjadi orang mati.
'Mereka sampai sejauh ini, seberapa nyatanya game ini sebenarnya?!' teriak batin Ryzen.
__ADS_1
Di sisi lain, Ryzen menoleh ke sampingnya dan melihat Moon memasang wajah yang suram dan nafasnya terdengar berat. Ryzen dengan sigap mendorong Moon ke belakang agar dia tidak perlu melihat pemandangan yang seperti tadi lagi.
'Dia, apa dia ketakutan?' batin Ryzen sambil melirik Moon.
Ryzen berbalik memandang Moon, mencoba untuk menenangkannnya, "Tenanglah, jangan khawatir, ini semua hanya game. Ingat, semua ini adalah fiksi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalaupun kamu mati disini, bukan berarti kamu akan mati di dunia nyata juga."
Moon menelan ludahnya lalu menatap lurus mata Ryzen yang berwarna hijau kebiruan itu, dia mengangguk pelan dan beberapa saat kemudian dia mulai tenang kembali.
'Yah, tapi, melihat kejadian seperti ini dengan mata sendiri meskipun semua ini hanyalah virtual dan fiksi, tetap saja, membuatku sedikit terkejut.' batin Ryzen.
Melihat Moon sudah sedikit tenang, Ryzen menghela nafas lalu menjelaskan rencananya untuk menyapu habis semua mob bandit disana, yang setelah diperiksa, diperkirakan level mereka rata-rata adalah level 20.
Sebelum mengeksekusi rencana mereka, Ryzen menambahkan Moon ke dalam party-nya. Mengetahui Moon sudah level 26, Ryzen menarik nafas lega, semuanya akan menjadi lebih mudah baginya, tapi ada satu hal yang mengganjalnya. Itu adalah tanda icon debuff yang dimiliki oleh Moon, icon itu bertuliskan 'MEN' berwarna merah dan sebuah tanda panah merah ke bawah.
'MEN' disini berarti Mental. Karena Moon memiliki debuff tersebut, itu berarti mental Moon atau kejiwaannya sedikit terganggu, dengan memiliki status debuff tersebut akan mengurangi jumlah damage yang diberikan serta fokus dan pertahanan juga berkurang.
'Tapi, dia hanya akan membantuku di belakang saja. Jadi, aku tidak perlu khawatir.'
Ryzen memberikan sebuah tanda jari untuk memulai rencananya, setelah Moon mengangguk pelan. Ryzen membalasnya dengan anggukkan pula kemudian dia berdiri dan berjalan ke kelompok tersebut.
"He—huh?! Guhak—!"
Disaat pria mabuk yang sedang menyendiri itu menyadari kehadiran Ryzen, matanya terbelalak dan siap untuk berteriak, namun dia terlambat karena sebuah panah sudah terlebih dahulu tertancap di kepalanya, tubuh pria mabuk itu pecah menjadi kepingan poligon bercahaya.
Karena suara pecahan tersebut, beberapa orang yang masih sadar di kelompok tersebut langsung menoleh ke arah suara dan melihat seorang pria dengan sebuah tombak. Ryzen tersenyum sinis lalu mengayunkan tombaknya secara horizontal dan memotong tiga leher bandit disana.
Salah satu dari kepala mereka menggelinding dan berhenti di hadapan wanita yang sedang dimainkan oleh bandit, namun wanita tersebut tidak bereaksi terhadap kepala yang sudah putuh itu, yang bereaksi malahan adalah bandit yang sedang bermain dengan wanita tersebut. Setelah melihat kepala rekannya menggelinding kesana, dia terkejut dan langsung 'mencabut pedang' dari tubuh wanita itu, didorongnya tubuh tak berdaya itu ke tanah, dilumuri oleh darah yang mengucur dari kepala bandit yang terpotong.
"Penyusup! Ada penyusup!"
"Semuanya, bangun! Ada penyusup!"
"Seseorang, cepat panggil ketua!"
Dalam sekejap, para bandit yang berada disana langsung terjaga. Ada beberapa bandit mabuk yang langsung menyerang Ryzen tanpa perintah, lantas mereka langsung mati tertembak panah dari jauh.
"Pemanah! Hati-hati!"
Melihat reaksi salah satu bandit di antara para bandit itu, Ryzen cukup terkejut karena bandit tersebut dapat berbicara seperti itu dan bertarung dalam formasi.
"Wah, wah, mungkin dia adalah NPC AI. Jika memang benar, ini akan cukup menyulitkan...," gumam Ryzen, dia melirik ke belakang, "kuharap dia bisa berkompromi."
__ADS_1