
Ryzen
Level: 15
Class: (Go to Class Center to get your Class)
Guild: —
SP: 49
STR 18, AGI 8, INT 11, VIT 8, LUCK 7
Karma: 2
———
"YES! Level 15!"
Ryzen mengepal tangannya sambil memendam rasa senang dibaliknya, dia menutup semua panel yang ada lalu mendapatkan sebuah notifikasi yang memberitahukannya bahwa dia sudah dapat mengambil class-nya.
Class disini maksudnya adalah peran atau jenis keahlian seorang pemain, hampir di setiap game RPG, yang sudah menjadi Class umum adalah Warrior, Archer, Mage, dan Support. Fantasy Star Online juga masih membawa empat Class umum tersebut ke dalam sistem Class mereka yang sangat banyak. Untuk sekarang, Class yang sudah diketahui oleh para pemain adalah Class tingkat satu dan dua saja, untuk yang ketiga masih belum ada satu pemain pun yang mendapatkannya.
"Hmm, hmm, aku ambil class apa ya...?" gumam Ryzen.
"Ei!!!" teriak suara Laiten dari kejauhan.
Ryzen sempat terkejur dan tubuhnya bergidik, lalu dia berbalik ke belakang dan melihat seorang pemain perempuan dengan baju besi dan berambut oren sedang lari ke arahnya.
"Oh, Laiten," ucap Ryzen ketika pemain itu telah sampai di depannya dan sedang terengah-engah.
Laiten mengatur nafasnya setelah berlari seperti tadi, beberapa detik kemudian, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Laiten mengangkat wajahnya dan melihat Ryzen dengan wajah yang kagum dan pupil mata yang berbintang-bintang.
"A-apa-apaan jurus tadi?!! bor topan?! aku belum pernah melihat jurus yang seperti itu!! Hei, cepat beritahu aku, tadi itu apa?!"
"Aku aja gak tahu...," ucap Ryzen sambil menggeleng kepala.
Laiten langsung cemberut dan mencubit Ryzen dengan keras.
"Aww, aww! baik, baik, aku akan beritahu!" teriak Ryzen dalam rintih.
__ADS_1
Sebelum melepasnya, Laiten mencubit lebih keras sampai kulit Ryzen merah—walau tidak sepenuhnya begitu, karena di dalam game—lalu Laiten menghela nafasnya dan berjalan untuk mengambil sebuah benda yang dia lempar sebelumnya.
Ryzen melihat pada bekas luka cubitan tersebut dan berbatin, 'Kenapa rasanya sakit ya? ini kan cuma game..., HP-ku juga berkurang empat poin?!'
Kemudian dia mendekati Laiten yang sedang memeriksa sebuah benda berbentuk bola dan terlihat seperti dilapisi oleh logam baja, yang dimana terdapat sebuah tombol merah diantaranya. Jika dilihat lagi, itu mirip dengan sebuah bom kejut yang mampu mengeluarkan aliran listrik, seperti yang ada di dalam film dan game yang berlatar di dunia dengan teknologi canggih, namun kehidupannya sangat kacau.
"Apa itu?" tanya Ryzen.
"Ini? ini disebut Ball Skill Record. Dengan item ini, seseorang dapat menciptakan skill mereka sendiri, lalu setelahnya, item ini akan merekam dan menyimpan semua gerakan dan menentukan persyaratan untuk skill yang baru saja dibuat tersebut," jawab Laiten tanpa berbalik melihat Ryzen, dan terus memandangi bola itu dengan antusias.
"Heh, berarti bola itu mahal, dong?" tanya Ryzen lagi.
Laiten menyimpan bola tersebut di inventory miliknya lalu berbalik memandang Ryzen dengan senyum. Dia mengangguk dan berkata, "Benar! kalau tidak salah, aku membelinya seharga tujuh puluh ribu Riil."
"Tujuh?! ka-ka-kalau gitu, bu-bukankah itu sekitar tujuh ratus ribu rupiah?!"
"Hmm, mungkin? aku tidak tahu soal itu?" Laiten dengan polos berkata seperti itu.
"Kamu tidak tahu? itu sungguh parah."
Ryzen menggelengkan kepalanya berkali-kali, seolah tidak memahami dan bahkan tidak mau lagi untuk memahami apa yang dipikirkan oleh pemain perempuan di hadapannya itu.
"Oh iya! levelmu sudah lima belas, bukan?" celetuk Laiten.
"Kalau begitu, lebih baik kita segera menuju Class Center! Ayo!!" teriak Laiten sambil menarik tangan Ryzen.
"Woe, santai aja...."
Mereka berdua berjalan bersama kembali menuju kota awal, di sepanjang perjalanan, mereka saling berbincang untuk menghabiskan waktu. Kemudian, tibalah mereka di depan bangunan yang tampak lebih besar dan megah dari bangunan lain di sekitarnya, dan bentuknya mirip seperti sebuah stadion serta terpampang sebuah papan nama yang terbuat dari emas, bertuliskan 'Class Center'.
Ketika memasuki bangunan tersebut, Ryzen mendadak merasakan perubahan suasana yang berbeda setelah melewati pintu yang membatasi antara ruangan di dalam bangunan dan jalanan di luar. Rasa sejuk dalam ruangan tersebut memadamkan kegerahannya ketika berada di luar.
Ruangan itu memiliki luas sekitar ratusan meter yang berbentuk setengah lingkaran, setelah mengamati seluruh ruangan tersebut, Ryzen pun dapat berasumsi bahwa masih ada ruangan lain di balik pintu mewah di ujung sana yang berada jauh di depannya. Pintu tersebut diapit oleh dua buah meja resepsionis yang juga berbentuk setengah lingkaran, dan disamping kedua meja itu ada tangga yang mengarah ke lantai selanjutnya.
Laiten membawa Ryzen ke salah satu meja resepsionis, setelah sampai disana, seorang NPC perempuan yang bertugas disana langsung menyapa mereka, "Selamat datang di Class Center, ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, aku ingin mendaftarkan orang ini untuk mengikuti ujiannya," ucap Laiten mewakili Ryzen.
NPC itu melirik Ryzen untuk sesaat lalu kembali pada tugasnya, dia mengeluarkan sebuah kertas dan pena tinta dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Saya mengerti. Tapi, sebelumnya, saya ingin menjelaskan beberapa hal terlebih dahulu...."
Class, yang berarti Kelas. Dan Center, yang berarti Pusat, jika digabungkan maka akan menjadi Class Center atau Pusat Kelas. Maksudnya itu, Class Center ini adalah pusatnya untuk melakukan sebuah ujian atau tes dalam pengambilan Class suatu karakter.
Class disini diartikan sebagai keahlian atau profesi seseorang. Ketika mereka memilikinya, tidak peduli siapapun itu, mau pemain ataupun NPC, kemungkinan mereka harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan Class mereka jika ingin bertahan hidup.
Class di Fantasy Star Online sangat banyak dan beragam, mulai dari yang umum hingga unik sekalipun. Petarung, Penembak, Penyihir, Pembunuh, lalu ada pula Class lain yang bukan termasuk ke dalam Class pertempuran melainkan untuk kebutuhan hidup misalnya memasak akan menjadi koki, lalu berdagang akan menjadi pedagang. Laiten sendiri memilih menjadi Blacksmith, yang merupakan Life Class, profesi sebagai pembuat senjata dan lainnya. Untuk kategori unik, yang terbilang langka, sangat susah untuk mendapatkannya, di dalam game ini pun, pemain dengan Class unik masih dapat dihitung dengan jari.
NPC tersebut menyarankan Ryzen untuk mengambil Class yang mudah seperti Swordsman—sebuah profesi yang bertarung menggunakan pedang—namun, Ryzen menolaknya mentah-mentah.
"Aku ingin mengambil ujian untuk Spearsman," ucap Ryzen.
NPC tersebut mengangguk dan mulai menuliskan data diri dari pendaftar setelah mewawancarainya.
"Pendaftaran kali ini adalah atas nama Ryzen, level lima belas dan memohon untuk melakukan ujian untuk Spearsman. Bagi penguji Class tersebut, harap untuk bersiap di lapangan B," ucap NPC itu pada sebuah bola bercahaya yang diletakkan di atas bantalan merah di dekat pintu yang berada di sisi lain meja tempat Ryzen sedang berdiri.
Beberapa menit kemudian, NPC itu memberikan sebuah lencana kayu yang terdapat ukiran sebuah tombak di permukaannya kepada Ryzen.
"Anda sudah didaftarkan untuk melakukan ujian. Bawa lencana tersebut dan berikan kepada penguji di lapangan B," kata NPC tersebut.
"Baiklah, terimakasih."
Laiten mengantar Ryzen menuju tempat ujiannya, yaitu di lapangan B, yang terletak di sisi lain ruangan tempat mereka berada yang dipisahkan oleh sebuah pintu dan tembok yang berwarna merah. Mereka berdua pergi menuju pintu tersebut, dan ketika memasukinya, mereka berada di sebuah lorong dengan karpet merah dan lampu menggantung yang menyala, sekilas tempat tersebut terlihat seperti sebuah lorong koridor dari sebuah kediaman mewah keluarga bangsawan yang sering Ryzen lihat di manga.
Di ujung lorong tersebut, ada pintu lagi; satu adalah pintu yang sejajar dengan mereka, dan satunya lagi adalah pintu yang berada di samping atau menempel di tembok dekat pintu tersebut.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke pintu sebelah sini," ucap Laiten menunjuk pada pintu yang lebih kecil dari pintu double di depan mereka.
"Oke, terimakasih, Laiten," kata Ryzen.
Laiten malah kembali cemberut mendengar ucapan dari Ryzen, dia tidak jadi membuka pintu tersebut dan memandang Ryzen dengan kesal.
"Sudah kubilang, kan?!"
"Bi-bilang apa??" Ryzen kebingungan.
"Hmph, lupakan."
Laiten membuang muka, lalu pergi ke pintu kecil itu setelah membukanya, dan menutupnya dengan keras. Ryzen menggaruk pipinya yang tidak gatal melihat sikap pemain berambut oren tersebut.
__ADS_1
"Dia itu kenapa sih?"
Menepis pikirannya, Ryzen melihat pada pintu double di depannya. Dia menghela nafasnya, lalu mendorong pintu tersebut dengan kedua tangannya.