
Akhir-akhir ini hoby ku sepertinya memang merengut dan segala yang buruk.
"Astaghfirullah Awa! Kok kamu belum siap-siap? Kita hampir telat loh." aku menatap Umi, aku paling benci ini.
"Bisa nggak Mi, aku ga ikut. Aku mau sama Ayah, Bunda aja mau pergi jalan-jalan," jawab ku menatap Umi.
"Kamu, kapan lagi sih kamu punya waktu buat Adsel, dia bentar lagi sibuk loh." aku mencibir, kapan lagi? Yakali selama ini aku mau berduaan sama dia.
Yakali selama ini dia mau sama aku, pacarnya seribu itu mau di kemanain kalo dia main sama aku?
"Kapan-kapan Umi, kalo sempet, nanti kuliah masih banyak waktu Umi," jawab ku.
"Ga ada, Umi udah janji sama Adsel dan keluarga, syukur kalo Abi mau maafin Adsel," bagusan juga ga dimaafin.
Makin ngelunjak anaknya kalo dikasih kesempatan kedua.
"Kalo aku jadi Abi ga bakal aku kasih kesempatan kedua, udah seenak jidat narik cadar orang, mau jadi apa kedepannya?" kalimat itu lolos bersamaan dengan Abi yang datang.
"Maksud kamu apa Wa?" aku menatap Abi, udah sejelas itu aku bilang.
"Aku kalau jadi Abi, ga bakal maafin Adsel. Udah seenak jidatnya narik cadar orang yang ga ngapa-ngapain pacar dia," ucap ku, sengaja aku membahas ini.
"Narik cadar kamu gimana?" tanya Umi berusaha mencerna ucapan ku.
"Iya narik, narik tau ga Umi narik? Abi juga. Udah lah ayok pergi," ajak aku, kalau kaya gini makin lama makin lambat nih Umi sama Abi cerna semuanya.
"Maksud kamu apa Wa?" aku hanya diam, tidak berniat menyauti Abi, anggap aja aku durhaka.
Ya mau gimana lagi? Setidaknya aku harus menuruti permintaan terakhir Abi sama Umi habis itu aku udah ga mau ikut-ikut lagi.
Aku mau jadi diri aku sendiri selama kelas 3 ini, jauh dari yang namanya Adsel maupaun deretan pacar-pacar dramanya.
~~
"Assalamualaikum Ma, Pa maaf Awa telat." aku salam ke Mama dan Papa kemudian duduk di samping Adsel.
Kita makan di salah satu restoran, ga tau makan tujuannya buat apa yang jelas makan malam udah itu aja.
"Jadi Adsel mau ngambil jurusan sama kuliah di mana?" aku menatap Abi yang melontarkan pertanyaan ke Adsel.
"Rencana ambil manajemen bisnis Bi terus ke UI," aku ngangguk ngerti, aku kebetulan juga pengen di UI.
"Nah Wa, kamu juga harus ke UI juga," aku menatap Abi kesal, emang selama ini anaknya ga punya tujuan apa?
__ADS_1
"Awa juga punya tujuan kali Bi, tanpa Abi suruh Awa juga mau masuk sana," jawab ku sinis yang hanya di hadiahi tawa oleh semua orang.
Serius, aku ga ngerti lagi sama orang tua. Nada aku itu udah sinis udah kesal kenapa ketawa?
Aku jadi inget Kak Sabrina yang nikah pas 16 tahun, kalo cowoknya kaya suami Kak Sabrina aku juga mau kali.
Orangnya kaya Adsel begini? Bejat. Mana ada yang mau.
Sebenarnya aku heran deh, bapak aku itu Ayah atau Abi sih?
"Abi, kayanya Ayah Awa sebenarnya itu Ayah deh bukan Abi," ucap ku polos, konspirasi terbaru dari aku.
"Kamu dapet pemikiran dari mana?" tanya Papa menatap ku.
"Kak Adsel tau jawabannya Pa, sakit ga Kak?" tanya ku menatap Adsel, aku belum sempat nanyain gimana keadaan dia setelah aku tampar, aku tendang dua kali dengan keras plus tonjokan kuat dari Ayah.
"Ada apa Adsel? Sakit kenapa?" tanya Umi menatap Adsel.
"Ah ga ada Mi, Awa cuma becanda doang." aku hanya mencibir, depan orang tua manis-manis lo.
"Kirain kenapa." jawab Abi tersenyum mengelus kepala ku.
Dasar, emang dari sananya pada ga peka.
Kapan perlu main dulu ke mall.
"Lo kenapa ungkit-ungkit masalah yang udah lalu?" aku hanya diam.
"Yakali ga gue ungkit, tamparan, tendangan sama tonjokan Ayah itu belum cukup sebenarnya. Sebenarnya gue mau bilang sama Ayah 'Tambahin lagi yah' maunya gitu," jawab ku santai.
"Tulang kering gue hampir patah tau ga lo?" wah hampir patah ya? Ya iya sih kan aku nendangnya sekuat tenaga.
"Ya kali ga hampir patah, kalo bisa sih sampe patah gue maunya," jawab aku santai, dia ga perlu di kasihani sih menurut ku.
Padahal aku maunya sekarang family time sama Umi dan Abi, tapi malah kejebak sama makhluk astral kek gini.
"Kalau ga mau mati jangan nanya-nanya yang engga-engga," ucap ku menatap Adsel kesal.
Kita lagi keliling-keliling mall ga tau ngapain.
"Masih tunangan aja udah 2 kali lo nampar gue 2 kali nendang gue, pas nikah mau berapa kali?" aku menatap Adsel heran.
Yakali mau nikah sama dia, enak aja.
__ADS_1
"Ga, ga mau nikah ama lo, nikahin aja Tasya biar sama-sama drama. Jadi hidup kalian sehari-hari serasa di panggung," jawabku.
"Gini-gini gue milih juga lah kalo mau nikah,"
"Sok-sok milih lo, kalau lo nya jelek ga bakal ada yang mau sama lo walaupun gue," jawab ku kesal.
"Berubah itu cuma sebentar," jawab dia santai.
"Otak lo sedeng berubah cuma sebentar, yang gue aja make cadar masih ada orang kayak lo dan Tasya julid yang ilmu agamanya minim."
Sok-sok an bilang berubah itu sebentar, nyatanya dia sendiri yang bikin hal itu ga mungkin jadi sebentar.
Inilah seorang Adsel Cirrilo Alexi yang bakal masuk kuliah.
"Ya mana tau gue soal begituan," jawabnya polos.
Aku menginjak sepatunya kuat.
"Ya lo pikir aja kalau lo mau cari orang kaya gue akhlak lo perbaiki dulu," jawab ku pd.
"Lo sehari aja ga pake kekerasan gimana sih? Biar apa lo pake kekerasan?" tanya nya bernada kesal.
"Biar orang batu kaya lo sadar, kalo ga pake kekerasan lo ga bakal sadar," jawab ku mulus.
"Lo ngomong ga di filter banget sih, nyinggung orang tau ga sih!" kesalnya.
"Alah, 'cadar lo bisa dilepas ga sih? Risih gue liatnya," aku mengulang kalimat Adsel dengan kejam.
"Ya. ya ga gitu juga sih," aku mendengus kesal.
"Ga gitu juga sih, otak lo taroh di dengkul? Lama-lama sama lo bukannya makin dewasa malah makin ngumpulin dosa gue,"
"Lo tadi foto ya sama Darel?" aku mengangguk senang.
"Di unggah sama dia ke Instagram." aku spontan melihat Adsel.
"Beneran lo? Ga boong kan? Lihatt!" ucap ku semangat.
Kemudian memperlihatkan unggahan Darel yang berfoto bersama ku.
"Captionnya manis hehe," ucap ku saat melihat captionnya.
πΎπ
__ADS_1