Fiance

Fiance
Panti Asuhan


__ADS_3

Kelar sudah semuanya, sekarang aku lagi diruang tamu. Bersama tunangan tercinta dan keluarganya.


Boleh ga bawa Tasya kesini? Biar masalahnya tambah panas gitu.


"Maaf ya Kak." ucapku langsung, ga mau perpanjang masalahnya lagi.


"Kenapa bisa dipelintir gitu tangannya Adsel sayang? Tangan kanan pula," aku mendengus pelan.


"Pas di mall ada masalah, terus Awa ditahan Kak Adsel katanya minta maaf dulu sama orangnya sambil megang Awa. Awa ga suka dipegang, peringatan pertama Kak Adsel ga denger akhirnya aku pelintir." ulasan jujur yang tidak detail.


Sudah yang penting masalah kelar.


"Ayo sini duduk di samping Mama," aku kemudian berpindah duduk di antara Mama dan Papa.


"Papa rasa hubungan kalian kurang baik ya? Sampe Adsel ga tau Wafaa ga suka dipegang tangannya." aku hanya tersenyum kecil.


Nah loh, gimana mau jelasinnya? Dahlah serahin sama Adsel aja gimana dia jawab.


Sekali-sekali nyerahin masalah yang ambigu kaya gini sama dia ga papa.


"Baik kok Pa, baik banget. Tapi, kemaren ada salah paham dikit bikin Adsel lupa." aku mengangguk setuju.


"Lulus Adsel kuliah kalian nikah ya?" aku menatap Abi, ini tuh lebih ke pemaksaan sih Abi ngomong kaya gitu.


"Aamiin Abi, kalo ga ada halangan," jawab ku, ga ada alasan nolak lagi kan?


"Awa mau kemana? Kok rapi banget?" aku menghela nafas, ini pasti nyuruh Adsel ikut.


"Mau ke panti asuhan Ma, udah lama ga mampir," kataku yang membuat Mama tersenyum.


"Adsel ikut sana sama Awa." dan akhirnya disini aku sama Adsel sekarang.


Diatas mobil setelah masukin barang-barang yang akan aku kasih sama anak-anak di panti.


Aku yang ngendarain mobil kok, tangan Adsel belum sembuh, orang baru kemaren aku plesetin.


"Beneran mau ikut lo? Ga punya dendam dalam hati kan? Udah bikin pacar tersayang lo nangis." pertanyaan sekalian ejekan sih, masih kesel.


"Udah diem deh lo, ayo berangkat." spontan aku mendelik kesal.


Makin lama makin ngeselin ya kamu Adsel,


untung ini masih didepan rumah. Kalo udah ditempat lain udah aku turunin.


Akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk menjalankan mobil ke panti asuhan. Semoga nanti sampai panti mood aku naik.


"Lo ngapain ke panti?" aku menatap Adsel sekilas.

__ADS_1


"Mau daftar disana." jawab ku santai.


"Gue serius nanya sama lo, kenapa lo ga pernah jawab serius sih?" idih malah kesel sendiri.


"Pernah kok, kemaren serius," jawab ku.


"Bukan yang kaya gitu, kaya pertanyaan gue nih. Kok lo malah jawab kek gitu?" aku hanya mengedikkan bahu.


"Terus gue mau jawab kek gimana lagi? Ya jelas lah kalau gue ke panti pengen ketemu sama anak-anak disana, terus ngasih mereka makanan sama mainan," jawab ku kesal, ini sebenarnya otak siapa sih yang miring.


"Mana tau kan lo mau adopsi anak," aku hanya mendelik kesal, ngapain adopsi anak? Masih SMA kali.


"Makanya main tu jangan sama temen-temen aja, sekali-sekali ikut acara amal lo!" ucap ku.


"Gue ga suka ribut-ribut, apalagi denger anak-anak nangis."


"Terus lo ga mau punya anak gitu?" tanya ku menatap Adsel sekilas.


"Engga." ya Allah dosa apa ketemu orang macam Adsel.


"Ga ada cewek yang ga mau sama anak kecil, ga usah nikah kalo lo punya pemikiran kaya gitu." ucapku santai.


"Tasya ga suka anak kecil," alah Tasya lagi.


"Yaudah lo nikah aja sama Tasya, ga usah punya anak." jawab ku santai.


"Gue masih mau nikah sama orang yang waras." jawab aku menatap Adsel kesal.


"Gue waras kok, lo-nya aja yang ga waras!" aku hanya diam, tidak menjawab kekesalan Adsel.


~~


Setelah sampai di panti asuhan, aku ditolong Ibu panti nurunin barang-barang karena anak-anak lagi belajar.


Minggu aja mereka belajar, aku yang minggu ini biasanya leha-leha dikamar hanya diam.


"Ini siapa Wa? Ibu belum pernah lihat kamu bawa cowo kesini." aku tersenyum, menunggu Adsel memperkenalkan dirinya sendiri.


"Saya Adsel Bu, tunangannya Wafaa," aku spontan membelalakkan mata, menatap Adsel tajam.


"Loh Awa, kamu udah jarang kesini sekalinya kesini malah bawa tunangan." aku hanya tersenyum menatap Ibu.


"Ayo masuk anak-anak udah pada nanyain kamu, lama banget ga main kesini," aku mengangguk semangat kemudian mengangkat barang dan mengajak Adsel masuk.


"Halo adek-adeek!! Iih kangen kalian udah lama ga ketemuu!!" aku menatap mereka yang terkejut menatapku.


Hanya sebentar, setelah itu semua menyerbu ku untuk berpelukan.

__ADS_1


"Kak Wawa!!" aku memeluk Nana, salah satu anak yang dekat denganku.


"Ihh, kamu udah besar bangett!!" aku memeluk Nana hangat.


"Kakak ga pernah datang lagi sih, padahal kita pengen main sama Kakak lagi," aku tersenyum hangat.


"Yaudah sekarang kita belajar apa?" aku menatap semua anak-anak.


"Kak, dia siapa?" aku menatap Nana, oh iya aku lupa kenalin Adsel.


"Nah, adek-adek ini namanya Kak Adsel. Temen Kak Awa." ucapku memperkenalkan Adsel.


Sementara Adsel hanya diam, tidak berminat sama sekali.


"Sapa Kak, nanti malah diasingin loh." ucapku menyuruh Kak Adsel menyapa anak-anak.


Tapi ya begitu, kalau namanya Adsel ya ga disapa.


"Oke, biarin Kak Adsel, Kak Adsel agak sariawan ayo kita belajarr!!" aku menuntun anak-anak kembali ketempat duduk masing-masing.


Setelah cukup lama bermain dengan anak-anak, akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena telah diajak Adsel dari tadi.


"Kak Awa pulang dulu ya, kalau ga sibuk nanti Kak Awa balik lagi. Dada!!" setelah pamit ke Ibu aku akhirnya pulang.


"Lo ngomingin apa aja sama Ibu?" tanya ku menatap Adsel.


Saat aku asik mengajari anak-anak tadi, Adsel ngobrol-ngobrol sama Ibu.


"Ngomingin kejelakan lo." jawabnya santai yang membuatku mendelik.


"Pantesan lo kaya gini, hobynya bohong," jawab ku sinis.


"Kaya lo engga aja."


"Kapan gue bohong?" tanyaku heran.


"Tadi, didepan anak-anak." aku melongo menatap Adsel sekilas.


"Yakali gue bilang sama anak-anak 'Halo adek-adek ini tunangan Kakak loh!' gitu?" tanya ku menatap Adsel tak percaya.


"Iyalah kaya gimana lagi?" aku mendengus.


"Mereka banyak yang ga tau kali Sel, kalau gue bilang panjang nanti gue jelasin sama mereka tunangan itu apa. Anak-anak sebesar mereka banyak tanya." jawabku menjabarkan.


"Sama dong kaya lo, banyak tanya," aku hanya diam, malas menanggapi Adsel.


"Lo mah gue anter pulang atau kerumah gue dulu?" tanya ku menatap Adsel.

__ADS_1


"Langsung pulang, gue ngantuk." aku mengangguk, dan sampai dirumah Adsel hanya keheningan yang terjadi.


__ADS_2