
Aku menatap Abi kesal, Umi Abi ga ada bedanya.
Hari ini, hari minggu.
Aku, diajak pergi kerumah Adsel, ngapain coba? Ngabisin waktu aja.
Grup
Namanya emang itu, sebelumnya sih Lucas ganteng, dan alhasil jadilah nama grup ini menjadi grup.
wafaa
Assalamualaikum!!
Jangan tanyain siapa yang bikin grup ini.
Kak Lucas
Waalaikumsalam, apa nih??
Wafaa
Yang lain mana?
Kak Lucas
Langsung aja Wa, yang lain sama gue
Wafaa
Oh, GUE MAU KETEMU KELUARGA ADSEL!
Kak Dylan
Kok bisa??
Kak Mark
2
Wafaa
Ya bisa! Kaya ga tau Umi sama Abi aja
Kak Riko
Rasain!!
Wafaa
Dih, malah seneng!
Kak Darel
Ya ga papa, terima aja kali
Wafaa
Bodoamat, bye!!
Ga ada untungnya aku cerita sama mereka, cuma di bully ujung-ujungnya.
"Abi, kenapa harus ajak aku?" tanyaku menatap Abi, kami udah didalam mobil.
Udah berangkat juga lagi.
"Jalin silaturrahmi terakhir." aku mendelik.
__ADS_1
"Ya ga usah bawa aku kali Bi," kesal ku menatap Abi lewat kaca spion.
"Ini terakhir kali aku nurutin Abi kalau mau ajak ke tempat Adsel atau ketemu Adsel ya Bi, sekali-sekali turutin kemauan aku Bi," ucapku kemudian memejamkan mata.
Ga sanggup lihat tatapan mata Abi yang tajam.
~~
Waah, kayanya ada permainan seru nih, pengen tau apa??
Di restoran ga cuma ada Papa Mama sama Adsel, juga ada Riri dan ya dengan dress cantiknya.
Aku senyum kearah Mama.
"Assalamualaikum Ma." aku salim dan mencium pipi Mama.
"Pa," setelah itu aku duduk disamping Adsel, karena kursi yang tinggal juga cuma itu.
"Ini siapa?" tanya Umi ramah menatap Riri.
"Riri tante, pacar Adsel," aku tersenyum menatap Umi yang juga ikut senyum.
"Gimana Wa kuliah kamu? Papa belum sempet nanya kemaren," aku tersenyum.
"Ya gitu aja Pa, cuma beda dikit dari SMA," jawabku santai, serasa jadi pemenang aja disini.
"Riri udah berapa lama pacaran sama Adsel?" emang deh Umi paling the best kalo masalah kaya gini.
Sebenarnya kasihan juga sama Riri, dihimpit cewek-cewek pake hijab semua.
"Udah jalan 6 bulan tante," nah bagus lihatnya kaya gini, adem.
"Wah udah lama ya!" aku menatap Umi, ga perlu exited gitu dong Umi.
Sebenarnya Umi kesel banget, udah pacaran 6 bulan tapi hubungan pertunangan ini baru putus kemaren.
Sampai handphone aku berdering, malah handphone ditaroh disebelah Adsel ga ditelungkupin lagi.
"Kak Dylan?" gumam ku, vidio call lagi.
Aku pamit ke semua orang untuk ngangkat vidio call dari Kak Dylan.
"Astaghfirullah, ngapain?" tanyaku menatap genk terong-terongan, ga becanda.
"Kepo Wa, gimana acara makan-makannya?"
"Baik-baik aja, cuma ada Riri,"
"Wahh, kelar dah tu Adsel. Udah pacaran 6 bulan sama Riri"
Aku mengangguk setuju, emang sih kayanya abis ini digebukin Papa.
"Mau gimana lagi, gue kaget tau dia bawa Riri," ucapku menatap mereka semua.
"Biar keren gitu Wa!" aku menatap jengkel kearah Kak Lucas, emang ga ada seriusnya.
"Yaudah gue tutup, bye!" setelah itu vidio call tadi aku matiin sepihak dan kembali ke meja.
"Maaf ya, tadi ada telfon dari temen," ucapku tersenyum menatap semua orang.
"Ngapain Dylan vidio call?" aku menatap Adsel.
"Kepo lo." ucapku.
"Sayang banget hubungan kalian harus selesai disini ya" aku langsung menatap Adsel, ini pernyataan dari Mama.
"Ya mau gimana lagi Ma, semuanya udah di atur. Toh nanti kalau aku emang jodoh sama Adsel kita bakal disatuin lagi kok." hiburku menatap Umi.
Ga mau sih sebenarnya nikah sama Adsel, cuma buat ngehibur Mama aja.
__ADS_1
"Riri satu fakultas sama Adsel?" tanya Mama menatap Riri.
"Iya hmm??" nah kan kebingungan manggil apa.
"Tante aja," aku menatap Mama heran, kenapa ga Mama juga?
Dari tadi yang diam itu Papa sama Abi, ga berminat nanya apapun, cuma tukang denger.
"Ma!" aku menatap Adsel yang lagi negur Mama.
"Kenapa?" mohon ya Allah, jangan drama lagi disini, udah cape.
"Mama kenapa sih?" Wafaa mohon ya Allah jangan drama lagi, Wafaa janji kok mau jadi anak baik-baik.
Dih, malah jadi kaya anak kecil aku! Ih pokoknya jangan drama pliss.
"Mama ga kenapa-kenapa." jawab Mama ikutan ngotot.
"Eh, Mama mau belanja ga ayo Wafaa temenin sekalian Umi juga katanya Umi kemaren bedaknya habis!" ucapku mengalihkan topik.
"Wah iya, ayo ayo!" ajak Umi semangat.
"Kak Riri juga ayo kalau mau ikut." ajak ku menatap Riri, kasihan ditinggalin sendiri.
Ya, akhirnya aku pergi sama Umi, Mama, Riri dan ya Adsel! Seharusnya dia tinggal sama Papa dan Abi!
Malah jalannya Umi sama Mama didepan dan aku dibelakang bertiga sama orang pacaran.
"Lo kenapa ganggu gue mulu sih?" aku menatap Riri kesal.
"Ga ada yang mau ganggu lo juga kali." jawabku sewot.
"Ini sebenernya cuma makan antara keluarga Adsel sama gue!!" ya Allah malah ngegas.
Aku mana tau, kalau tau ga bakal ngikut juga kali.
"Ya mana gue tau, Abi bilang mau ketemu Adsel aja gue nolak apalagi gue tau ada lo," jawabku kesal.
"Wa, sopan dikit!" kaya anak kecil aja gue, malah Adsel lagi yang negur.
"Oi!!" aku kaget melihat Kak Mark melambai kearah ku.
"Kok bisa disini?!" tanya ku exited, akhirnya ada temen.
"Cuma keliling-keliling aja, anak-anak lagi bikin cookies buat lo." aku menatap Kak Mark heran.
Tenang, Mama sama Umi tadi udah masuk kedalam store.
"Buat gue? Emang gue ngapain?" tanya ku menatap Kak Mark.
"Ga tau, kata mereka lo cuma dijadiin kelinci percobaan, kalo kuenya ada racun lo dulu yang mati." masyaallah, terharu banget aku sama mereka.
Mau dijadiin kelinci percobaan!!
"Kasihan ya lo, jalan sama orang pacaran." aku mendengus.
"Gue juga ga mau kali," jawabku.
"Yaudah yuk sama gue aja." aku mengangguk semangat, dari tadi kek ajakin.
"Baru juga kemaren putus sekarang udah jalan aja sama cowok." aku menatap Riri tidak percaya.
"Lo ngomong jaga-jaga lo, pantesan Mama nyuruh lo manggil Tante, anggap aja gue tunangan sama Adsel lo ga tau, tapi perasaan gue 2 hari sebelum kita putus dia make cincin deh dan lo ga merhatiin itu?"
"Hati-hati aja mbak, nanti dikatain ga laku kalau kelakuan kaya gini, Adsel aja anteng banget gue mau jalan sama siapapun kok lo yang baru gue kenal 3 hari yang lalu udah sok-sok an ngatur gue?"
"Jagain pacar ga ada akhlak lo, kasih dia ilmu biar mulutnya ga lemes mulu kerjaannya!"
Setelah itu aku mengajak Kak Mark pergi, tentu setelah pamit sama Mama dan Umi.
__ADS_1