
Iya, liburan udah habis gaes saatnya kembali ke realita awal.
Rencana awal aku itu sekolah ditempat Kak Rara ga papa cari temen lagi tapi Umi bilang.
'Kamu di tempat Adsel aja sekolahnya, biar di anter-jemput sama Adsel jadi Abi ga khawatir'
Ya kali oi itu ke haluan Umi sama Abi aja serius, ga ada yang namanya antar-jemput!
Ah udahlah kalo di pikir-pikir malah makin dongkol aku.
"Adsel, Awa nya di jagain ya di sekolah," pesan Abi menatap Adsel yang tersenyum hangat.
Gue cuma mendengus kesal, dijagain apa sih ha? Paling disekolah sama-sama bodoamat.
"Yaudah Umi, Abi kita berangkat dulu yuk!" aku narik tangan Adsel yang masih makan dengan tenang.
Setelah pamit sama Umi, Abi aku segera lari melipir keluar dari komplek.
"Lo mau kemana?!" aku cuma ngangkat tangan keatas, ya kali aku berangkat sama Adsel.
Walaupun aku bisa turun digerbang depan tapi ga usah nanti ada yang lihat dan jadi gosip.
"Lo yakin ga mau bareng gue?" aku menghela nafas, ini rada jengkel sih.
Aku sedang sibuk memacu lari agar cepet sampe di depan komplek dia malah santai bawa mobil sambil natap aku.
"Nebeng deh sampe halte deket sekolah." putus ku lalu masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan kita cuma diem-dieman ini yang paling aku benci, aku orangnya hiper aktif ga bisa diam intinya.
Di SMA ini ga ada OSPEK yang alay-alay cuma perkenalan minta tanda tangan dan ya sewajarnya.
"Disini aja Kak," tegur aku saat sampai didepan halte deket sekolah.
"WOI! GILA LO?! BERHENTI GUE BILANG!" Aku berteriak kesal saat Adsel dengan sengaja membawa ku masuk keparkiran.
"Lo ga sadar apa?! Gue anak baru, gila ya lo?!" aku kesal natap Adsel yang cuma bodoamat.
"Trus kalo lo anak baru kenapa? Ga ada kan?" aku menghela nafas sebentar, tenang ga boleh marah.
"LO! YA ALLAH!" aku berteriak kesal saat Adsel sudah keluar menghampiri teman-temannya.
Aku segera membuka pintu namun Adsel lebih cepat mengunci pintu mobil.
"Astaghfirullah dosa apa yang aku lakukan sehingga bisa ketemu orang macam dia ya Allah!" aku membuka kunci pintu lalu keluar dari mobil Adsel.
__ADS_1
Kemudian menghempaskan dengan keras pintu mobil Adsel yang mampu membuat atensi teman-teman Adsel termasuk dia sendiri kearah ku.
Kemudian aku berlalu sambil menatap tajam Adsel, sial hari ini aku berangkat dengan dia.
Fakhra kemana? Dia ga SMA disini jadi aku harus cari teman lagi, banyak sih sebenarnya temen pas Tsanawiyah tapi ga deket masa tiba-tiba sksd.
~~
"UDAH AYO CARI TANDA TANGAN DENGAN NAMA YANG UDAH ADA DITANGAN KALIAN!" aku menghembuskan nafas lelah.
Suara Kakak itu cempreng banget sumpah, aku segera mencari satu persatu nama Kakak-kakak yang ada namanya dibuku.
Alhamdulillah Kakak-kakak yang ada dibuku ini pakai name tag jadi ga susah buat carinya.
Setelah cukup lama akhirnya semua tanda tangan terkumpul tinggal satu lagi.
ADSEL CIRRILO ALEXI
Aku menghela nafas, apa sih pangkat dia disekolah ini ampe harus minta tanda tangannya.
Aku memutuskan untuk makan di kantin dulu, bodolah sama tanda tangan Adsel.
Sampai di kantin aku ngelihat Adsel dan genk nya duduk di pojok kantin, aku cuma bodoamat nanti aja minta tanda tangan.
~~
Aku berdiri agak jauh dari mereka, soalnya mereka gerombolan ga enak berdiri deket-deketan.
"Ini adek yang keluar dari mobil lo tadi bukan?" aku cuma diam, sibuk natap mereka yang sedang menggosip tentang aku.
"Orang nya disini kali pada kalian gosipin," ucap ku natap mereka jengkel.
"Adsel cepetaan!" aku natap Adsel jengkel sedangkan dia sibuk ngejawab pertanyaan dari temen-temen ga jelas dia.
"Apa? Mau ngapain lo?" aku menghela nafas kasar.
"Mau minta tanda tangan jaenudin cepetan ih! Gue mau pulang!" bentak gue natap Adsel jengkel.
"Yaudah pulang sana," suruh Adsel natap aku singkat.
"Nah loh ma*pus lo Mama nelfon." ucap aku ngeluarin handphone dari tas.
Sementara temen-temen Adsel sibuk nanya sama Adsel, aku ga tau mereka nanya apaan.
"Halo Assalamualaikum Ma, ada apa Ma?" sapa aku saat ngangkat telfon Mama, sengaja ga ngejauh.
__ADS_1
"Iya Ma, Kak Adsel nya disini. Awa mau pulang tapi Awa masih harus minta tanda tangan Kak Adsel tapi dia nya ga mau ngasih Ma," aku natap Adsel yang sudah mengacak rambutnya kesal.
"Iya Ma, makasih Ma." ucapku kemudian menutup telfon.
"Siniin buku lo ngajak berantem mulu lo." aku tertawa sebentar.
"Kak, gue ga tau nama lo Kak tapi tolongin kasih bukunya sama Kak Adsel dong," ucap ku memberikan buku ke salah satu temen Adsel yang dekat denganku.
"Kok ga lo yang ngasih sendiri?" aku menghela nafas pelan, emang sih agama genk nya Adsel ini pada 0, semua.
"Ga muhrim Kak, lo kira gue makai hijab kek gini cuma gegayaan." ucap ku sewot natap temen Kak Adsel.
"Yaudah lemparin aja sama Adsel." aku ngangguk setuju.
"Cepetan Kak, gue mau pulang." kesal gue kemudian memberikan paksa ke temen Adsel tadi.
"Hubungan lo sama Adsel apa sih? Sampe kenal Mama Adsel, lo pertama yang minta tanda tangan Adsel soalnya lo sendiri yang tau dia." jelas teman Adsel yang membuat aku mengangguk.
"Ga tau nih Kak, ketemu dia di kolongan, gue anterin pulang yaudah gue akrab sama Mama-nya." jawab aku baik, soalnya Kakaknya baik.
"Giliran yang ganteng baik-baik lo." aku hanya menatap Adsel sinis.
"Cepetan! Nanti lo di telfon Abi atau Umi loh ma*pus!" ucap ku natap Adsel sinis.
"Lo anti banget ya sama Adsel." aku ngangguk setuju.
"Dia nya ngeselin Kak sering ga tau diri, beda sama Mama sama Papa." jawab ku ngangguk-ngangguk.
"Dia ngerokok juga." aku membelalak kaget.
"Serius lo?!" tanya ku natap temen Kak Adsel yang bilang begituan.
"Udah yuk cantik pulang." Adsel merangkul ku menjauh dari kerumunannya.
"IH APA SIH LEPASIN WOI! GA MUHRIM!" teriak ku berusaha melepas rangkulan Adsel.
"ADSEL IH!" ku injak sepatu Adsel dengan penuh kekesalan kemudian berlalu kesal.
Dia kira aku siapa mau aja dirangkul-rangkul ga jelas.
"GUE BILANGAN MAMA LOH SEL SERIUS!" teriak ku kemudian menghilang dari pandangan Adsel.
Bodoamat sama orang yang udah natap ku heran dari tadi karena teriak-teriak ga jelas.
Aku beneran ngambek sama Umi, pokoknya hari ini aku kerumah Kak Rara kalau perlu nginap!
__ADS_1