Fiance

Fiance
Darel


__ADS_3

Kemaren Umi sama Abi ga banyak nanya aku pergi sama siapa? Anak mana? Kenapa cowok? Sejak kapan aku punya temen cowok?


Mungkin Umi sama Abi udah biarin aku nentuin jalan aku sendiri asal masih tetap menjaga hijab.


Baik kalau gitu, apalagi di umur aku sekarang emang harus-harusnya sosialisasi sama lingkungan.


Apalagi, jurusan aku emang menuntut kaya gitu.


"Kalian beneran jadiin gue kelinci percobaan??" tanyaku menatap mereka yang sudah tersenyum manis.


"Ya ga papa kali Wa, kalo kita yang mati stock cogan menipis, kalo lo yang mati ga bakal ada yang berkurang." aku menatap Kak Lucas tajam, enak ya ngomongnya.


"Gue anak satu-satunya tau ga sih, kalau gue mati malahan kalian semua dipenjara ga bisa cari jodoh lagi, percuma jadi cogan tapi membusuk dipenjara!" kesalku menatap mereka semua.


Aku menatap mereka sambil menahan tawa, semuanya langsung melahap cookies yang mereka buat kemaren kecuali Kak Dylan.


Kan, Kak Dylan itu emang paling waras diantara mereka ber-lima.


"Gimana? Enak?" tanyaku menatap mereka semua.


"Lo tau kan cookies-nya emang ga enak makanya lo suruh kita buat coba dulu!!" aku tertawa menatap Kak Riko.


Mana tau aku cookies-nya ga enak, lagian mereka sok-sok an buat cookies, padahal ga punya riwayat masak didapur satu orang pun.


"Besok deh gue buatin buat kalian, makasih dulu sama gue." ucapku sambil mengibas-ngibaskan tangan.


"Ga sudi banget makasih sama lo!" aku menatap Kak Lucas jengkel.


"Sana lo pada masuk, ber-lima kerjaannya skip kelas mulu!" suruhku mengusir mereka.


Aku menatap mereka semua yang seakan-akan tidak mendengar ucapanku, emang anak dajjal semua.


"Heh! Kalian dengerin gue ga?!" tanyaku kesal menatap mereka satu persatu yang sudah sibuk bermain handphone.


"Apa?" tanya Kak Mark seolah-olah menjadi orang paling polos didunia.


"Ipi!" kemudian aku memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk, sebenarnya aku ga ada kelas hari ini, tapi gara-gara genk terong-terongan aku diseret ke kampus.


Emang ga ada akhlaknya mereka.


"Lo kemana?" tanya Kak Darel.


"Pulang, ngapain lagi gue disini?" tanyaku menatap Kak Darel.


"Sini gue anterin, tadi kan lo kesini gue yang jemput," aku menggeleng.


"Sana masuk kelas lo pada, suka banget skip kelas." pesanku kemudian pergi, sebelum itu memesan gocar untuk pulang.


Kak Darel

__ADS_1


Hati-hati!


Wafaa


Iya


Nah kan, ini untungnya punya genk cowok, diperhatiin terus.


Kak Dylan calling..


"Kenapa Kak?"


"Hati-hati, kalau gocarnya ga jelas telfon gue aja!"


"Iya,"


"Kasih gue dulu wajah mas-mas gocarnya."


"iya,"


Setelah itu aku menutup telfon, mengirim Kak Dylan foto mas-mas gocarnya. Kayanya sih baik.


"Wafaa!" aku menatap orang yang memanggilku, seingat aku itu teman sekelas.


"Iya??" tanyaku menatapnya saat sudah didepan ku.


"Ah, nama aku Ana kita teman sekelas, Pak Suho kasih tugas kelompok masing-masing kelompok 2 orang kebetulan lihat kamu disini mau sekelompok ga?" kok aku ga tau?


"Boleh-boleh, kapan nih ngerjainnya?" tanyaku menatap Ana, teman baruku?


"Sekarang bisa? Cuma sebentar kok ngerjain laporan," aku mengangguk, mumpung lagi mood juga kan.


Akhirnya aku memutuskan untuk buat tugas di cafe dekat kampus kebetulan Ana juga bawa laptop.


"Kamu tertutup banget ya? Anak kelas banyak banget yang mau deket sama kamu, tapi ga berani gara-gara kamu deket sama pentolan kampus." aku tertawa.


"Gak kok, aku orangnya friendly tapi ya ga berani deketin duluan." ucapku mnejelaskan.


"Trus kok kamu bisa kenal sama Kak Dylan dan genknya?" ternyata banyak yang kepo ya.


"Aku SMA lumayan deket sama Kak Darel jadi ya gitu makanya bisa deket sama mereka, lagian mereka juga open banget sama aku," jelasku yang membuat Ana mengangguk mengerti.


"Kamu ga punya Line atau apa kek gitu? Kelas punya grup Line tapi cuma kamu sendiri yang belum masuk," aku mengangguk mengerti.


"Nah ini, tolong masukin ya," ucapku saat memberi ID Line ku kepada Ana.


"Kalo ada kelompok-kelompok berikutnya ajak aku ya!" aku menatap Ana semangat, semoga Ana bisa dijadiin temen.


"Pasti!" aku tersenyum, setelah itu Ana pulang karena tugasnya udah selesai.

__ADS_1


Aku harus nunggu Kak Darel dulu, dia minta nemenin makan siang dulu katanya.


"Langsung aja Kak." saat Kak Darel menghampiri ku.


"Kok bisa masih disini?" tanya Kak Darel saat kami udah didalam mobil.


"Tadi tiba-tiba ketemu temen sekelas, katanya ada tugas kelompok yaudah diajakin satu kelompok sekalian buat tugasnya sekarang," ucapku menjelaskan kepada Kak Darel.


"Btw, yang lain langsung pulang Kak? Kok ga diajakin juga?" tanyaku menatap Kak Darel.


"Iya, katanya mereka nitip aja, langsung kerumah gue," aku mengangguk, mau jadi cowok juga.


"Eh Kak, habis makan gue ikut dong kerumah lo. Mau ketemu Mama lo, udah lama ga ketemu, sekalian nepatin janji," ucapku.


"Boleh," aku mengangguk semangat, mau tau betapa hebohnya genk terong-terongan ini kalo dirumah Darel.


"Mark bilang lo habis cek-cok lagi sama Riri," aku mengangguk.


"Bukan cek-cok sih, cuma ya kasih peringatan aja sama dia, lagian main nuduh orang sembarangan," kesalku menjelaskan kepada Kak Darel.


"Kapan sih cara bicara lo adem, gue nunggu-nunggu nih," aku menatap Kak Darel kesal.


"Kapan-kapan, mungkin setelah gue ga ketemu sama lo lagi," jawabku santai.


"Durhaka banget lo sama gue," aku mengangguk setuju.


"Lo ga pernah suka sama Adsel?" aku menatap Kak Darel.


"Kenapa tiba-tiba lo nanya kaya gitu sama gue?"


"Ya gue kepo aja kan, siapa tau lo suka sama Adsel setelah hampir 4 tahun tunangan sama Adsel."


"Ga akan bisa gue suka sama dia, ketemu aja jarang gue sama dia." jawabku simpel.


Lagian kenapa tiba-tiba Kak Darel bahas ini? Biasanya dia bukan tipe yang bahas ini sama gue.


"Adsel kayanya suka sama lo,"


"Mau gue bunuh lo? Mau gimana? Masuk Rumah Sakit dulu atau langsung mati?" tanyaku menatap Kak Darel.


"Ya, ga gitu juga Wa, gue ngomongin opini gue aja."


"Ya walaupun opini lo aja itu bikin gue kepikiran tau ga sih? Makin merasa bersalah gue sama Mama tau ga sih lo?!" tanyaku menatap Kak Darel kesal.


"Lo seharusnya merasa bersalah sama Adsel bukan Mama Adsel," aku menatap Kak Adsel sebentar.


"Lo nyimak ga sih gue ngomong? Eh belum gue ceritain ya? Jadi, awalnya gue ga terima tunangan ini tapi Adsel terima yaudah gue marah-marah dong sama dia, tapi dia kasih alasan kasihan sama Mama,"


"Yaudah gue terima kan ya, habis itu gue deket sama Mama Adsel, Mama baik banget, pokoknya defenisi orang tua kedua lah bagi gue, itu alasan gue pas SMA punya masalah besar sama Adsel ga mutusin tunangan ini, gara-gara kasihan sama Mama,"

__ADS_1


"Lagian ya udah lalu, biarin aja lagi," kemudian Kak Darel mengangguk dan segera masuk kedalam cafe.


Kami udah sampe dari tadi tapi aku masih ngomong.


__ADS_2