
1 bulan lagi UN, aku udah ga bisa main-main lagi. Jadwal les makin padat ditambah bimbel di Sekolah.
Pokoknya maksimal lah, kadang suka lupa buat istirahat saking ga maunya nilai rendah buat masuk perguruan.
"Awa, jangan lupa makan ya kamu!" aku tersenyum kearah Umi yang berada dipintu kamar ku.
"Iya Umi, ga bakal lupa kok." kemudian Umi keluar.
Iya, hari ini hari minggu dan aku lebih milih belajar.
Ga tau, akhir-akhir ini kayanya pelajaran menarik aja di mata aku, padahal sebelumnya ngumpulin niat buat belajar hari minggu itu susah.
Ting!!
Adsel
Wa
Wafaa T.
Paan?
Adsel
Temenin gue dong
Wafaa T.
Ogah, ajak aja pacar lo
Adsel
Lagi ga mood bawa dia
Ayuk temenin gue, gabut nih dirumah
Lo harus bersyukur gue ajakin main
Wafaa T.
Dibilangin ga mau, ngeyel banget sih lo-,
Adsel
Oke gue jemput!
Aku menghembuskan nafas kasar, ni orang perasaan ngajak berantem mulu deh.
Aku segera mengganti baju, kalau tidak bakal kena tegur lagi sama Abi.
Udah capek kena tegur sama Abi gara-gara Adsel
Setelah ganti baju aku turun kebawah, nunggu Adsel dibawah.
"Loh, anak Abi mau kemana? Udah selesai belajarnya?" aku duduk disamping Abi yang lagi asik nonton tv.
"Mau jalan bentar Bi, lagi suntuk." Abi hanya mengangguk.
"Sama siapa Wa?" tanya Umi menatapku dari meja makan.
__ADS_1
"Ga tau Mi, ini aja kalau dia ga jadi aku bakal pergi sendiri cari angin." jawab ku, nanti kalau bilang pergi sama Adsel eh orangnya cuma becanda.
"Fakhra sama Karrel udah lama ga kesini, ajakin nanti ya kalau udah selesai UN," aku mengangguk setuju.
Umi emang deket sama Fakhra dan Carrel, ga kaya Abi. Ceritanya masih inget apa yang Abi bilang kemaren.
"Aku juga udah lama ga kontak sama mereka Mi, jadi kangen bacotan mereka." Abi lantas tertawa.
"Makanya cepetan UN, habis itu main deh sama mereka." aku mengangguk.
TIIINN!!
"Assalamualaikum Awa pergii!" kemudian aku segera beelari keluar.
"Perginya sama siapa?!!"
"Sama Adsel Umi, dadaa!"
Ternyata benar, Adsel udah didalam mobil.
"Gue kira lo cuma boongan," ucapku saat sudah masuk kedalam mobil Adsel.
"Gue ga kaya lo ya." aku mendelik kesal, sejak kapan aku berbohong? Dia mau ngungkit kejadian yang dipanti lagi?
"Ga usah ungkit-ungkit deh." ucapku kesal.
"Gue juga ga niat ngungkit," aku hanya diam, debat tanpa ujung itulah keahlian Adsel.
"Yaudah jalan, lo mau ngajak gue kemana?" aku menatap Adsel.
"Pergi makan," aku langsung menggeleng, aku paling anti pergi makan, soalnya ribet kalau mau makan.
"Kan gue orangnya penurut, baik dan suka berbagi," jawab ku PD.
"Puji dikit langsung naik tingkat PD lo!" aku tertawa, ya wajarlah kita PD.
"Lo bilang sama Umi Abi kalau jalan sama gue?" aku mengangguk sebagai respon.
"Terus mereka bilang apa?"
"Ga bilang apa-apa, orang gue bilang pas udah lari kedepan," jawab ku.
"Ga sopan sekali anda." aku hanya mengedikkan bahu.
"Lo suka ya sama gue?" tanyaku menatap Adsel.
Eh, ini becanda ya jangan di anggap serius.
"Engga lah! Mana mungkin gue suka sama lo!" aku diam.
"Hilih sok ga suka lo, mau pergi main aja ajak gue." jawab ku bangga.
"Ya lo orangnya asik, ga ribet kaya Tasya." aku kembali mengangguk.
"Makasih, lo orang yang ke 1030 kali ngomong kaya gitu." jawab ku ngasal.
Setelah itu kami melalui banyak pembicaraan yang sangat tidak perlu, rasanya kangen segala hal.
Terakhir aku pergi jalan-jalan waktu ke panti asuhan terhitung sudah 2 bulan, udah kaya karantina aja.
__ADS_1
Dan, hari ini aku jalan-jalan bersama Adsel lagi. Enak ya kalo misalnya yang ajak aku Kak Darel.
Cuci mata, cuci otak mah kalo sama Kak Darel.
"Gue samain aja ama lo, yang jelas ga cofee," ucapku saat kami sampai di cafe dan telah mendapat tempat duduk.
"Pilih sendiri." aku menghembuskan nafas.
"Gue males milih, lo nolongin gue sekali-sekali." suruh ku kemudian membuka handphone dan alhamdulillah Adsel mesenin minuman.
"Lo kapan UN?"
"Satu bulan lagi, makanya tadi gue lagi belajar malah lo ganggu," ucapku kesal.
"Sok-sok an kesal lo, bilang aja seneng gue ajakin main." aku tertawa kecil.
"Lo tau ga sih, terakhir gue main-main keluar waktu ke panti asuhan sama lo," ucapku menatap Adsel serius.
"Ngapain lo dirumah? Bertapa? Merenungi dosa?" aku mendelik kesal, yakali.
"Ga lah! Belajar biar pintar! Gue mau masuk UI," ucapku menjelaskan.
"Lo mau sekampus lagi sama gue?" tanya Adsel PD.
"Ga ada yang mau sekampus sama lo! Gue mau deket sama Kak Darel!" jawabku kesal.
"Kejer aja sampe meninggal." aku mengangguk setuju, memang itu niat aku.
Ga salah kan? Ngejar Kak Darel? Ya walaupun udah tunangan sama Adsel, dianya aja punya pacar.
"Loh tumben lo pake cincin." aku salah fokus saat melihat jari Adsel.
"Biar so sweet," aku yang sedang minum pun langsung tersedak, ini dia kesambet apaan dah.
"Kalo lo mau nge lucu ga lucu!" jawab ku ketus.
"Siapa yang nglucu? Ga ada." jawab Adsel serius.
"Serah lo dah!" ucapku memutuskan untuk mengalah.
"Gue mau serius jalanin ini semua sama lo." aku yang awalnya diam langsung kicep, ga tau mau ngomong apa.
"Gue tau lo ga bakal percaya hal-hal kaya gini apalagi setelah semua yang gue lakuin sama lo bikin lo sakit hati tapi gue bakal ubah semuanya," aku hanya diam, bunuh saja aku bunuh!
Gimana mau fokus belajar kalo dia ngomong kaya gini? Auto kepikiran lah!
"Gue ga tau lo serius apa engga, tapi gue belum bisa nerima lo dan mungkin itu bakal sulit." ucap ku, itu jawaban yang tepat menurutku.
"Gue tau, tapi lo jangan terlalu megang perkataan gue. Walaupun gue mikirinnya udah dua minggu, intinya lo jangan terlalu megang perkataan gue," aku mengangguk.
Gue ga terlalu mikirin masalah ini, tapi ya namanya juga human, mau ga mau terus kepikiran.
"Bahas lain deh! Jadi canggung nih gue!" ucapku menatap Adsel.
"Ga ada serunya lo, malah cuma bales itu doang, yang panjang kek atau lo bilang lo udah suka ama gue gitu," aku hanya menggelengkan kepala.
Ga habis pikir sama orang yang sedang duduk didepan ku sekarang.
***Makasih buat kalian yang udah support aku ** jadi terharu, jangan lupa suka, coment sama masukin ke daftar kesukaan ya!
__ADS_1
Maaf gaes kalo komen kalian ga aku bales ** tapi insyaallah bakal dibales kok, thankyou***!