
Hari rasanya cepet banget berlalu, detik, jam, hari, minggu, bulan. Semuanya ga kerasa.
Dan hari ini, aku udah harus lihat genk terong-terongan make toga, ga ikhlas banget lihat mereka lulus.
Aku menatap mereka satu persatu, ya Allah ganteng banget, kalau kalian mau tau aku dimana. Aku dirumah Kak Darel.
Jadi berangkatnya sama-sama, kalau Bunda nyusul belakangan.
"Huwee ganteng banget! Kecuali Kak Lucass!!" ucapku menatap mereka semua.
"Dasar dajjal lo." aku tertawa, sebenarnya nahan nangis karena udah mau pisah sama mereka.
Ga ada temen berantem lagi, ga ada yang ngingetin lagi, ga ada yang mau antar jemput, huwee jadi sediih.
"Lulusnya sama aja, tungguin gue." ucapku menatap mereka semua.
"Kalau gue ga pake cadar udah gue peluk satu-satu." ini aku udah beneran nangis.
"Bundaaa!!" aku memutuskan untuk memeluk Bunda, mereka cuma ketawa.
"Tuh kan! Malah diketawain!!" aku menghapus air mataku dan melepas pelukan dengan Bunda.
"Ayo sini-sini foto dulu." kemudian kami berfoto sebanyak mungkin.
"Lo ga ngasih kita bunga atau apa kek gitu?" aku menatap Kak Lucas.
"Berharap banget sih lo dikasih." ucapku santai.
"Udah mau ditinggalin masih aja durhaka ya lo!" aku tertawa senang kemudian mengeluarkan kartu kecil yang mirip ktp.
"Ini hadiah gue bikin sendiri, berharga dari pada bunga!" ucapku kemudian memberikan kepada mereka satu persatu.
"Ini doang?" aku menatap Kak Riko kesal.
"Simpan, kalau ilang itu bakal balik lagi sama kalian. Disana ada kode QR Line masing-masing." ucapku menjelaskan.
"Nah ini satu lagi," aku mengeluarkan medali dari tasku.
"Ini kok nama lo sendiri?" aku tertawa menatap Kak Mark.
"Sengaja, biar orang tau itu gue yang ngasih, sekalian kenang-kenangan buat kalian." jawabku santai.
"Ini aslinya lo niat ga sih ngasih hadiah?" aku menggeleng, yakali niat.
"Ga ada akhlakers banget lo." aku tertawa senang, yakali aku ga niat bikin hadiah buat mereka.
"Udah-udah berantem mulu kalian, sana berangkat nanti telat!" kemudian kami segera pergi dengan 2 mobil.
Mobil pertama isinya aku, Kak Dylan, sama Kak Lucas.
Mobil kedua Kak Darel, Kak Mark sama Kak Riko.
"Lo seharusnya duduk dibelakang Wa." aku menggeleng, bagus duduk berdampingan dengan Kak Dylan.
"Mentang-mentang Dylan cakep, lemah lembut lo ya!" aku tertawa.
"Sifat gue ini tergantung gantengnya seseorang tau ga sih lo." ucapku santai, padahal mah engga sama sekali.
__ADS_1
"Rasis banget sih hidup lo!" aku kembali tertawa.
"Ga kerasa kan, bentar lagi lo mau kerja terus nikah dapet anak. Tapi, kira-kira ada ga sih yang mau sama lo?" tanyaku menatap Kak Lucas heran.
"Yaudah sama lo aja gue nikah!" aku menatap Kak Lucas tajam.
"Lah iya bentar gue baru nyadar, jurusan kita kriminologi semua tolong, lo mau jadi apa?" tanyaku menatap Kak Lucas.
"Kayanya gue bakal kerja di BIN tapi ga mungkin, gue udah mau nerusin perusahaan bokap, soal kuliah mah cuma main-main." aku menatap Kak Lucas takjub, enak ya jadi anak cowok.
"Kalo lo Kak?" tanyaku menatap Kak Dylan.
"Ya gue juga ngurusin kantor bokap, kita berlima semuanya gitu, masuk kriminologi cuma buat cari pengalaman aja." aku tersenyum bangga.
Kenapa mereka tidak ambil jurusan yang sesuai dengan pekerjaan yang bakal mereka lakuin kedepan sih? Heran sumpah.
Emang mereka aja yang ga jelas selama kuliah, main-main lah, skip kelas. Eh taunya cuma cari pengalaman aja ambil jurusan kriminologi.
"Emang ngerti ngurusin perusahaan?" tanyaku menatap Kak Dylan.
"Kita kalo jadwal kosong atau senggang manggil tutor kerumah masing-masing," aku mengangguk, anak orang kaya mah bebas.
"Mau ketemu Adsel buat terakhir kalinya ga?" aku menggeleng, semoga aja ga ketemu Mama.
Kalo ketemu Mama otomatis ketemu Adsel, jangan sampai deh.
"Lo putus tunangan bukan berarti putus silaturrahmi sama Mama Papa Adsel ya Wa!" aku mengangguk mengerti.
Tuhkan kena ceramah lagi.
"Aman Kak, kalo sama Mama Papa masih tetep komunikasi kok," jawabku.
"Mau ditraktir apa nih nanti?" aku berfikir sebentar.
"Makan lah!" ucapku semangat, memang Kak Dylan paling pengertian.
"Wa, mau ga?" aku menoleh kebelakang menatap Kak Lucas.
"Apaan?" tanyaku.
Aku menatap Kak Lucas intens.
"Apaan?"
"Buka aja," kemudian aku membuka kotak dari Kak Lucas.
"Wah makasiih, tumben otak lo jalan," candaku menatapnya. Kak Lucas kasih aku hadiah cadar.
6 macam warna, warnanya juga lembut semua.
"Kok ga ada warna hitam?" tanyaku menatap Kak Lucas.
"Cadar lo kebanyakan warna hitam, ampe gue mikir lo make itu terus. Kalo lo ga ngirim vidio kemaren mungkin gue udah suudzon ama lo." aku tertawa.
Kak Riko sempet nanya sama aku, katanya cadar hitam aku ada berapa sih, perasaan aku make hitam terus.
Itu dibilang sama dia, terus aku vidio-in berapa banyak cadar hitam aku. Pada heboh semua gara-bara terlalu banyak.
__ADS_1
"Makasih yaa hadiahnya!" ucapku tersenyum menatap Kak Lucas.
"Lo ga ngasih gue hadiah Kak?" tanyaku menatap Kak Dylan.
Kami udah sampe diparkiran tapi aku masih nunggu jawaban dari Kak Dylan.
"Rencana gue mau ngasih nanti aja, karena lo udah minta yaudah gue kasih." aku menatap pemberian Kak Dylan.
Ini udah bisa ditebak sih, ini tuh kalung gaes.
"Makasiih, beruntung banget dapet kalian!" ucapku senang kemudian turun dari mobil.
"Ya Allah!!" aku menatap Kak Mark, Kak Darel dan Kak Riko bersamaan.
Mereka ngasih aku paper bag dan bunga.
"Ini yang lulus siapa yang ngasih hadiah siapa sih!" aku tertawa senang menerima hadiah dari mereka.
Ini semua orang pada ngelihatin aku loh, pegang banyak bunga dan hadiah.
Aku memutuskan menunggu di luar karena yang boleh masuk cuma mahasiswa sama orang tua.
"Ya Allah Awa!" aku tertawa senang saat Ana menatapku terkejut.
"Kamu belum wisuda kan? Kok banyak banget hadiahnya!?" aku kembali tertawa.
"Ini tuh dari Kak Darel sama temen-temen, gue cuma ngasij id card sama medali mereka ngasih ini semua." ucapku bangga.
"Wahh beruntung banget jadi kamu." aku kembali tertawa senang.
~~
Ketika acara didalam sudah selesai genk terong-terongan nyamperin aku, ya Allah aku ga kenal.
Cuma kenal Bunda.
Kemudian aku menyalimi satu-satu Mama dan Papa mereka, ribet ya sebenarnya.
"Ini jeng, kenalin satu-satunya princess di genk mereka. Malah cantik kaya gini lagi." ucap Mama yang membuatku tersenyum manis.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan, perhatian ku ga berasak dari adiknya Kak Mark.
"Kak! Adeknya kenalin!!" ucapku mendekat ke tempat Kak Mark.
"Halo, nama kamu siapa?" tanyaku menatap adek Kak Mark, dia cowok gaes tapi imut.
Setelah berfoto dan bercakap-cakap aku juga udah akrab sama adeknya Kak Mark.
Orang tua genk terong udah pulang semua, humble banget lagi semuanya.
Aku juga udah foto lagi sama mereka satu-satu dengan hadiah yang mereka kasih.
"Mama!" sapa ku langsung salam sama Mama terus cepika cepiki, lanjut sama Papa.
"Loh hadiah siapa? Kok banyak banget?" ku tertawa kemudian nitip semua hadiahnya sama Kak Lucas.
"Dari mereka semua Mi." jawabku menunjuk kearah ya kalian taulah.
__ADS_1
Akhirnya aku bincang-bincang bentar sama Mama habis itu pulang, bener-bener momen berharga.