
Persis pagi tadi Bunda sama Ayah harus pergi dinas dan Kak Rara harus ikut, karena aku malas ikut terpaksa aku pulang bawa mobil sendiri.
"Abi mau kemana?" aku menatap Abi yang mengambil kunci mobil.
"Mau ketemu temen-temen Abi." aku memberengut kesal.
"Sehari ini Abi dirumah aja dong, temenin Awa dirumah sama Umi. Serasa ga punya keluarga harmonis Awa kalo kaya gini." ucap ku mengeluh menatap Abi.
Semenjak aku SMA rasanya Abi terlalu sering menghabiskan waktunya di luar dari pada tenang dirumah.
Abi seperti anak SMA yang harus bermain dengan temannya ketika libur.
"Eh kok malah bilang kaya gitu? Selama ini kok kamu biasa aja kalo Abi keluar?" aku seketika mendelik kesal.
"Mau ga Bi nemenin Awa sama Umi dirumah? Kalo ga sana pergi main," suruh ku.
"Yaudah ayok, hari ini kita mau ngapain?" jawab Abi kemudian kembali meletakkan kunci mobilnya.
Aku tersenyum senang, walaupun aku belum ada planning mau ngapain aja sih tapi yaudah yang jelas Abi udah dirumah.
"Sekarang Abi nemenin Awa nonton dulu." jawab ku kemudian menyuruh Abi duduk disamping ku.
"Udah lama ya Abi ga nemenin kamu nonton," aku mengangguk, jangan tanyakan aku nonton apa, ya ga jauh-jauh dari kartun.
"Gimana jalan-jalannya sama Kak Rara kemarin?" Umi ikut nimbrung bersama aku dan Abi.
"Seru Umi, aku juga lihat sunset di taman kota." jawab ku, ini yang aku ingin kan.
Walaupun cuma sederhana tapi itu bikin aku nyaman.
"Oh ya? Abi jadi kapan kita bertiga pergi lihat sunset?" aku spontan melihat ke arah Abi saat Umi menanyakan hal itu.
"Lulus Rara kita ke pantai nikmatin sunrise sama sunset," aku mengangguk setuju, biasanya Abi orangnya ga ingkar janji sih.
Entah kenapa akhir-akhir ini aku orangnya negatif thinking, sering ngeraguin janji orang terdekat.
"Kenapa? Wajah kamu kaya ga percaya ucapan Abi aja." aku spontan natap Abi, lah kebaca ya ekspresi aku?
"Ha? Engga kok Bi cuma akhir-akhir ini asing aja dengar orang janji hehe." jawab ku seadanya.
"Asing gimana maksud kamu?" aku cuma menggeleng, pertanyaan Umi juga ga bisa di jawab.
Bukan ga bisa lebih tepatnya susah jelasinnya.
__ADS_1
"Abi ngerasain akhir-akhir ini kamu aneh deh, udah jarang ngomong sama cerita. Kalau bilang apa-apa selalu nanggung," aku cuma diam.
Nyadar deh sih Abi anaknya berubah wkwk.
"Ya semua orang berubah kali Bi, apalagi Awa juga masih labil kaya gini." jawab ku apa adanya.
"Ya ga berubah gitu maksud Abi, aneh aja gitu lihat kamu. Ada sangkutannya sama Adsel ya? Dia apain kamu?" aku kembali menggeleng.
Telat mah kalo mau bahasa ini, udah ga pas banget pokoknya kalau bahas Adsel.
"Ga ada apa-apa biasa aja. Baik-baik aja kok aku sama Adsel. Kok Abi tiba-tiba ngomong kaya gitu?" tanya ku heran.
"Ya selain kamu yang aneh Kak Rara juga, dia makin sinis kalo ngomong sama Abi kadang-kadang kalau ketemu Abi malah ga se ceria dulu," ya ampun Kak Rara kenapa sih.
"PMS kali Bi." jawab ku ngasal.
"Abi ga habis pikir, ada apa sama kalian berdua. Kamu juga ga cerita sama Umi kan?" aku menggeleng.
Ini tegang banget sih, Abi yang natap gue mengintimidasi sama Umi juga kaya gitu heran aku.
"Aduh Abi, jangan kaya gini dong Awa kaya lagi di introgasi polisi. Serem tau Bi!" ucapku kesal kemudian berdiri.
"Ya emang kamu lagi di introgasi ayo sini duduk lagi," aku menggeleng kemudian berlalu kedapur mencari makanan.
"Hayoloh!" aku spontan terlonjak natap Umi horror.
"Umi! Aku kaget!" teriak ku kesal, maafkan hambamu yang durhaka ini ya Allah.
"Ngapain bengong? Hoby mu udah jadi tukang bengong?" aku hanya cengengesan yakali jadi tukang bengong.
Itu bukan hoby tapi skill.
"Ya kali Mi jadi tukang bengong," aku menjawab singkat kemudian duduk di meja makan memotong apel.
"Mau batalin tunangan?" spontan aku menatap Umi dengan mata membelalak.
"Jangan becanda Mi, ini tuh masih pagi jokes Umi ga bisa ketangkep sama aku." jawab aku kemudian kembali fokus membelah apel.
"Siapa yang becanda sih Wa, Umi tu serius kamu mulu yang becanda." aku hanya menggeleng.
Sebenarnya ini bisa jadi kesempatan buat mutusin hubungan ga jelas ini tapi kasian Adsel.
"Ga usah Mi, udah biarin aja gimana kedepannya berarti itu yang terbaik." jawab ku singkat kemudian mulai melahap apel yang sudah selesai di potong.
__ADS_1
"Loh tumben bijak kamu? Umi pikir-pikir kamu bisa kok batalin pertunangan ini, dari awal kan kamu emang nolak."
"Ya ditengah-tengah kaya tiba-tiba batalin aneh jadinya Umi kuu. Nanti Mama sama Papa mikirin yang engga-engga," ucapku menjelaskan kepada Umi.
"Sebenarnya Umi bolehin kok kamu batalin tunangan ini, setelah Umi pikir-pikir kesannya Umi terlalu maksa kamu buat tunangan," aku mengangguk setuju.
"Udah telat Mi, udah terlanjur jangan salahin diri Umi sendiri." ucap ku kemudian memeluk Umi.
Mau egois tapi ga bisa, disatu sisi mau banget batalin tunangan ini, disatu sisi kasihan sama Mama.
Kayanya Mama bangga banget punya calon mantu kaya aku, walaupun agak terlalu pd sih.
Kalo ga karna Mama udah dibatalin deh ini tunangan ga guna aku sama Adsel ini.
"Umi bangga sama kamu." aku cuma senyum didalam pelukan Umi.
"Ayo ngapain, peluk-pelukan?" aku melepas pelukan Umi menatap Abi.
"Ga ngapa-ngapa in kok Bi, cuma melepas rindu." jawab ku ngasal.
"Melepas rindu? Orang tiap hari ketemu." aku cuma mencebik kesal.
Aku masih musuhan sama Abi, soalnya Abi masih ada di kubu Adsel.
"Abi ga mau kamu peluk?" aku menggeleng cepat.
"Kita beda kubu," jawab aku menatap Abi penuh intimidasi.
"Beda kubu apaan? Kamu lama-lama makin ga jelas," aku mendelik kesal, ga Adsel ga Abi sama-sama bikin orang kesal.
"Ga Abi ga Adsel sama-sama tukang bikin kesel, pantesan sama-sama saling suka." jawab aku ngasal kemudian Abi tertawa.
Ternyata omongan aku emang ga salah, nyatanya Abi malah ketawa bahagia dibilangin suka sama Adsel.
"Adsel kasih apa sih sama Abi? Sampe nyantol kaya gitu banget?" tanya ku heran.
"Oh kamu ga perlu tau masalah itu, yang jelas Abi suka Adsel dia pintar ngomong." aku hanya diam.
"Pintar ngomong orang kasar kaya gitu." cibir ku kemudian berlalu pergi.
"DAH YOK ABI TEMENIN AWA BERESIN KOLAM BELAKANG!" teriak ku kemudian Abi mengikuti ku.
Seharin penuh kami membereskan rumah dan bahkan aku sempat ngubah posisi kamar.
__ADS_1