
Aku sekarang lagi rebahan santai di kamar Kak Rara, masa aku bohong sih soal ngambek.
"Kak aku mau kedepan ada nitip?" tanya ku natap Kak Rara.
"Terserah aja," jawab Kak Rara yang ku angguki kemudian pergi ke mini market terdekat.
Ayah sama Bunda belum pulang, cuma kita berdua di tambah mbak yang dirumah.
tiiinn!
Aku mendengus kesal, ni orang ga lihat apa aku udah di pinggir jalan kalau dia minta minggir lagi masuk nih ke got.
"Apa sih?!" jengkel ku menatap orang yang didalam mobil itu.
"Umi nyariin! Lo anak-anak banget sih!" aku menatap dia kesal, kenapa aku sih yang di bentak.
"Yaudah nanti gue telfom Umi," putusku kemudian lanjut jalan.
"Ayo pulang, gue disuruh bawa lo pulang. Untung gue lewat sini." aku cuma diam, ga berminat ngejawab dia.
"Wafaa, pulang." aku menghentikan langkah ku.
"Akhirnya lo tau nama gue yaudah byee! Nanti gue telfon Umi." aku terus berjalan, sebentar lagi sampe mini market.
"Lo ngapain ngikutin gue?" tanya ku sebal menatap Adsel, iya aku udah di mini market dan dari tadi dia ngikutin aku.
"Pulang." jawabnya singkat.
"Iya nanti ya Adsel Cirrilo Alexi." jawab ku dengan nama lengkapnya.
Ya, akhirnya dia pergi, setelah aku panggil nama lengkap dia.
~~
"Assa... lamualaikum." pandangan ku tertuju kearah Kak Rara.
"Dia ngapain kesini Kak?" tanya ku menatap Adsel heran.
"Mau jemput kamu katanya, dia juga ngancam Kakak, katanya kalau sempet ngusir dia bakal bilang ke Umi." aku menatap Adsel kesal.
"Lo ga cape? Cariin gue ini itu bla bla, emangnya lo ga mau main sama temen-temen?" tanya ku menatap Adsel.
"Siapa yang ga mau coba, gue disuruh Mama kalo ga disuruh gue ga bakal ngelakuinnya." jelas Adsel yang membuatku mengangguk.
"Yaudah ayuk pulang." ajak ku, kasihan juga lihat dia.
__ADS_1
"Kak, aku pulang dulu ya kasihan." ucapku pamit ke Kak Rara yang di angguki Kak Rara.
~~
"Makasih, maaf ngerepotin." ucap ku kemudian turun dari mobil, lama-lama aku yang kasihan sama dia.
"Gue mampir dulu," aku ngangguk kemudian masuk diikuti Adsel.
"Assalamualaikum Awa balik." ucapku kemudian menyalimi Umi yang sudah menatapku garang.
"Kamu kemana aja? Untung ada Adsel yang nyariin kamu. Makasih ya sayang udah nyariin Awa." aku mendengus kesal, sepertinya aku perlu ngomong lagi sama Umi.
"Umi, Kak Adsel ga bisa leha-leha kaya gini lagi. Dia udah kelas 2 SMA Umi, dia perlu belajar, bukan Awa prioritas dia disini Umi."
"Umi tolong ngertiin Awa sama Kak Adsel kita itu sama-sama masih remaja, masih labil perlu main sama temen sebaya bukan kaya gini."
"Apalagi Kak Adsel baru pulang, Umi dengan enaknya minta tolong sama dia, Awa udah besar Umi bukan anak TK lagi yang perlu di jagain," jelas ku menatap Umi lembut.
"Wa, gue ga papa." aku menatap Kak Adsel sinis.
"Itu, Adsel aja bilang ga papa." aku menghembuskan nafas.
"Umii ga ada yang berani nolak permintaan orang tua Umi, Awa tau gimana perasaan Kak Adsel, Awa mohon Umi. Kalau Umi sama Abi khawatir sama Awa bisa makai sopir kan?"
"Kak Adsel ga selalu ada Umi, dia juga ada tugas dan kewajiban lain dia Umi, jangan egois kaya gini mentang-mentang Ka Adsel mau Mama juga mau," jawab ku natap Umi, kalau biarin lama-lama kaya gini aku yang merasa ga enak.
"Wa,"
"Diam dulu Kak, aku ngobrol ama Umi dulu." aku natap Kak Adsel.
"Umi dengerin itu, aku mau kerumah Mama ngomong sama Mama." ucap ku kemudian pamit ngajak Adsel pulang.
"Lo kenapa ngomong kaya gitu? Gue bisa kok." aku diam sebentar.
"Lo ga mau gue nyelesain ini semua? Gue ga suka di kekang, walaupun yang jemput gue, ukuran anak SMA di cariin orang ganteng kaya gini siapa yang ga mau? Tapi, gue beda Sel gue masih mau bebas,"
"Gue kasihan sama Mama, apalagi gue bukan tipe orang yang mau serius sama cewek," aku ngangguk ngerti.
"Iya gue tau lo kasihan sama Mama, gue disini mau ngomong sama Mama. Kalo lo ga pernah serius jangan main cewe kasihan," jawab ku seadanya.
"Gue mau pacaran, nanti malam gue mau nembak dia kalo lo bisa ngebujuk Mama kita pura-pura ga kenal aja di sekolah,"
"Iya, tapi kalo gue deket sama temen lo ga usah marah." ucap ku, sebenarnya becanda siapa yang mau coba.
"Ya terserah lo, kayanya temen gue kemaren tertarik ama lo," aku ngangguk patuh.
__ADS_1
Sebenarnya ga ada yang salah dari Adsel, dia baik, ganteng, pengertian? Mungkin sayang sama orang tua.
Tapi, posisi aku sama Adsel disini masih sama-sama labil masih sama-sama pengen bebas.
Apalagi disini Adsel masih bejat banget, ga tau kalau kedepannya dia mau kasar atau gimana sama aku kan?
Siapa tau kedepannya Adsel mau batalin tunangan ini atau dia berubah jadi baik? Ga ada yang tau.
Intinya sekarang aku cuma mau fokus sama sekolah ngejar cita-cita.
"Assalamualaikum Ma." aku tersenyum natap Mama.
"Waalaikumsalam, kamu kenapa ga bilang dulu mau main kesini kalau Mama tau Mama suruh Papa pulang cepet," aku tersenyum manis.
"Hehe aku cuma ngomong bentar kok Ma," aku duduk disuruh Mama.
"Ngomong apa sayang? Kan kamu bisa lewat telfon," aku diam sebentar.
"Jadi gini Ma, Kak duduk sini," aku menyuruh Adsel yang ingin lari.
Setelah Adsel duduk baru aku ngomong.
"Kak Adsel kan udah kelas 2 SMA Ma bentar lagi mau kelas 3 SMA kasihan Kak Adsel kalo disuruh anter jemput mulu. Apalagi aku sama Kak Adsel masih sama-sama labil."
"Kita masih perlu bebas, main sama temen dan lain-lain Ma, kesannya kalo Kak Adsel antar-jemput aku terus, aku yang ga enak, apalagi Kak Adsel juga punya tongkrongan,"
Mama menatap ku berkaca-kaca.
"Jangan nangis Ma, aku ga papa ga di antar-jemput sama Kak Adsel, Kam Adsel juga butuh kebebasan," aku tersenyum mengelus tangan Mama lembut.
"Mama ngekang Adsel ya selama ini?" tanya Mama menatap ku.
"Bukan Ma, Mama ga ngekang Kak Adsel. Kalau menurut Mama emang betul berarti iya tapi, Mama perlu ingat juga Kak Adsel belum dewasa dia belum bisa nerima semua yang Mama mau,"
"Kalau Mama mau Kal Adsel kaya gitu silahkan tapi, Mama harus minta pendapat Kak Adsel dulu sebagai orang yang menjalankan,"
Ucapku menjelaskan ke Mama secara hati-hati, aku sendiri kurang yakin dengan kata-kata aku sendiri.
"Maafin Mama ya," aku tersenyum lembut kemudian memeluk Mama.
"Ini bukan salah Mama,"
"Mama ga salah cari pendamping buat Adsel," sekali lagi aku tersenyum.
Setelah itu aku pulang di anter Adsel, banyak yang kami bicarakan sebelum besoknya akan menjadi orang asing.
__ADS_1