Fiance

Fiance
Hukuman


__ADS_3

Hari ini terbilang cukup aneh? Atau memang seharusnya sudah terjadi?


Semua pandangan orang terpusat padaku, mereka menatapku seolah-olah aku telah melakukan kejahatan?


Aku tersenyum sebentar, benar-benar adik Tasya.


Aku tetap berjalan santai, walaupun tatapan itu sebenarnya menyakitkan.


Bahkan mengata-ngatai dengan perkataan kasar, mereka terlalu sering menonton drama korea.


Aku menahan tangisan untuk tidak keluar, kata-kata mereka tidak enak untuk didengar.


'Gue kira dia baik-baik aja'


'Pake cadar? Kelakuan bar-bar'


Aku mencoba menutup pendengaranku, mencoba biasa saja dengan semuanya.


Ayah, tolong aku. Aku benci ini semua.


Bahkan mereka tidak mendengarkan apa kata dari pihak lain, mereka hanya mendengarkan satu pihak yang bisa saja menambahkan kata-kata lain.


Aku benar-benar benci dengan semua orang yang hanya bisa menghakimi!


"Wafaa!!" aku menoleh saat seseorang memanggilku dengan keras.


Aku menatap ADSEL! Kenapa dia bisa disini? Apa yang dilakukannya??


"Kok bisa disini?" tanya ku menatap Adsel saat sudah sampai didepan ku.


"Ya gabut, makanya kesini. Lo kenapa?" aku hanya menggeleng pelan, apakah terlihat perubahan wajahku?


"Emangnya ada yang aneh dari wajah gue?" tanya ku menatap Adsel.


"Ga wajah lo yang aneh, tapi tatapan orang sama lo," aku kembali menatap semua orang memang benar apa kata Adsel.


"Ga tau gue apa salah gue, yang penting ga megang gue udah itu aja," Adsel mengangguk menyetujui.


"Yaudah ayuk." aku menatap Adsel heran.


"Gue anterin kekelas, lagi baik nih gue." aku mendelik kesal, ada apa dengan Adsel?


"Lo kesurupan apa? Tiba-tiba baik sama gue," aku menatap Adsel.


"Gue rasa gue perlu jagain lo hari ini." aku tertegun sebentar, bagaimana bisa Adsel tau?


Dia tau? Siapa yang memberi tau?


"Lo skip kelas?" tanyaku menatap Adsel.


"Iya," jawaban yang sangat santai, padahal masih tahun pertama.

__ADS_1


"Sana kuliah, gue baik-baik aja disini ga usah lebay!" suruhku kemudian mendorong Adsel untuk pergi.


"Lo serius? Ga mau gue temenin?" aku menggeleng kemudian pergi, kalau aku bersama Adsel keadaan bisa jadi bertambah parah.


Fans Adsel dan Kak Darel itu 11 12, sama-sama ganas.


Mereka sampe segitunya mengidolakan sesuatu.


Yah, seperti perkiraan awal memang benar semakin banyak yang mengutuk aku ketika berbicara dengan akrabnya bersama Adsel.


Memang tukang julid semua mereka, lebih ga tau diri dari apapun.


Aku menundukkan pandanganku, sangat tidak percaya dengan tatapan mereka yang sangat tajam.


Dengan cara apa Vanny membuat cerita? Apakah dia penulis? Bisa merancang cerita sebagus itu.


Aku ingin segera sampai kekelas agar bisa bertanya pada Cika, Cika itu teman sebangku ku.


Tidak tau apakah dia juga memusuhiku, tapi aku yakin dia tidak akan sebodoh orang satu sekolah ikut menghakimi ku.


Lihatlah, betapa bodohnya semua orang mengata-ngatai cadarku yang nyatanya mereka sendiri tidak tau kebenarannya.


Saat sampai dikelas, suasana serasa makin mencekam, ah aku sangat malas dengan hal ini.


Aku memandang tidak percaya kearah meja ku, disana semuanya sudah ada sampah dan kata-kata umpatan.


Aku menatap Cika yang tersenyum hangat kepadaku, sangat beruntung memiliki teman seperti Cika.


Aku duduk disamping Cika, menggeser semua sampah itu dan membuatnya terjatuh kearah meja si tukang bully kelas.


"Aku tau kamu melakukan itu bukan tanpa alasan." aku mengangguk, memang benar.


Setelah itu aku mulai menceritakan semua hal kepada Cika, apa yang terjadi kemaren tanpa ada yang tertinggal.


"DIA MAU NGADU SAMA CIKA GAES! GUE AJA GA TAU SIAPA CIKA!" aku tersenyum hangat, menatap si fakboy sekolah.


Baj*ngan sekolah? Memang tepat.


"Di panggil Baj*ngan aja bangga lo!" tantangku menatap Fajar.


"Wah, emang ga ada akhlak ya lo!" aku hanya diam


Ga ada yang salah kan? Dia emang gitu.


Jujur, sebenarnya hati aku sakit pake banget. Pokoknya langsung down dan bikin ga semangat ngapa-ngapain.


Malahan, rasanya pengen nangis kejer dan teriak sama semua orang mereka semua bodoh.


Tapi aku berusaha menahan itu semua, mereka tidak boleh tau aku tertekan, jika mereka tau.


Mereka bisa saja bertambah senang dan makin semangat untuk membully.

__ADS_1


~~


Ya, akhirnya aku sampai disini, diruang konseling sebelum terjadinya kekerasan dari Fajar.


Fajar hampir saja mengamuk karena ulahku tadi, alhamdulillah Pak Joko sampai dulu sebelum Fajar melaksanakan kekerasannya.


Kami ber-empat sedang menunggu orang tua masing-masing. Iya, ada Vannya dan dua orang anteknya.


Aku minta tolong sama Pak Joko ngundang Ayah aja, jangan Abi ataupun Umi.


Ya, alasannya klasik. Umi sama Abi lagi diluar kota dan yap! Pak Joko percaya.


Dosa ku semakin menumpuk setiap harinya.


"Kenapa sayang, ada apa?" aku menatap Ayah yang langsung menatapku khawatir.


"Ga ada apa-apa Yah, cuma masalah kecil. Maaf ya aku udah ngerepotin." Ayah mengangguk sambil tersenyum.


Hal yang membuat hatiku hangat, melihat Ayah tersenyum.


"Oh kamu!! Pake cadar tapi kelakuan bar-bar!!" aku terlonjak kaget saat mendengar suara bariton berteriak.


"Jangan katakan hal buruk tentang anak saya!" aku menatap Ayah yang sudah menatap Orang Tua dari Vanny?


Aku pikir benar, karena Vanny langsung mendekat kearah bapak yang aku kira seumuran sama Ayah.


"Bukankah benar?! Anak saya tangannya terkilir gara-gara anak anda!!" aku terdiam, memang benar bapak itu berhak membela anaknya tapi.


"Maaf sebelumnya Pak sudah menganggu waktu bapak, tapi saya tidak akan memelintir tangan anak bapak jika anak bapak tidak menganggu saya," jelasku, Pak Joko sudah datang namun hanya diam.


Meperhatikan pembicaraan dari aku dan Ayah Vanny.


"Jelas-jelas sudah ada vidionya!" aku bosan dibentak!


"Vidio apa? Vidio yang tiba-tiba saya memelintir tangan 3 orang didepan saya ini? Apakah saya orang seperti ini bisa menjadi bodoh? Saya tidak bodoh, hanya mereka yang bodoh, bahkan satu sekolah mau dibodohi mereka!" tunjuk ku berapi-api ke Vanny.


"Anda sopan sedikit dengan anak saya!!"


"Saya sopan jika anak anda sopan! Apa yang harus saya lakukan sekarang ha?! Saya tertekan! Mereka menatap saya seolah saya sudah membunuh anak anda! Apa salah saya?! Bukankah anak anda yang memulai!" aku menatap Ayah Vanny.


Air mata telah keluar dari mata ku.


"Bahkan, semua orang hanya mendengarkan apa yang dikatakan Vanny tanpa tahu Vanny lah dulu yang memberi peringatan kepada saya, kalau kamu memang suka dengan Kak Darel katakan saja, aku tidak akan marah, kamu tidak tau betapa susahnya sekarang! Berkat kamu," aku tidak melanjutkan kata-kata ku.


Aku berlalu pergi meninggalkan semua orang disana, sangat tidak enak dengan semua ini, aku tidak suka semua ini.


~~


Tok tok tok tok


"Ada orang diluar, to..tolong." aku berusaha mengatur nafasku, aku ada riwayat asma dan didalam sini sangat pengap.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Aku tidak ingat satupun, terakhir aku mengingat ada yang memukul kepala ku.


Aku sangat benci ini semua.


__ADS_2