Fiance

Fiance
Ayah


__ADS_3

Aku menangis tersedu-sedu saat sampai didepan rumah dan Ayah lah yang membukakan pintu rumah.


Rasanya sangat sesak, tadi yang membukakan pintu aku di gudang aku tidak kenal.


Yang jelas saat membukakan pintu dia sempat melihatku sebentar lalu pergi tanpa berkata apapun.


"Ayaahh..." aku memeluk tubuh Ayah, bajuku juga basah tidak tau kenapa, bahkan bapak gocar sempat menawarkan untuk membawaku kerumah sakit.


"Astaghfirullah sayang kamu kenapa? Kok bisa kaya gini?" aku tidak menjawab, hanya terus menangis di pelukan Ayah.


Semuanya terasa sesak, rasanya ga ada harapan buat narik nafas selanjutnya.


~~


Setelah lama berlalu, aku mulai tenang. Mulai bisa cerita sama Ayah Bunda, tadi Bunda pulang kaget banget lihat anak gadisnya nangis kenceng banget.


Aku heran dengan dunia sekarang, ga tau mau ngomong apalagi.


"Maafin Ayah ga bisa jaga kamu." aku menggeleng sambil menangis, ini hal yang paling aku benci.


Ayah yang selalu menyalahkan diri sendiri ketika terjadi sesuatu antara aku sama Kak Rara.


"Berat ya? Mau Home Schooling aja?" aku menggeleng kearah Bunda, sebentar lagi aku bakal ujian, nanggung rasanya mau Home Schooling.


"Besok Ayah bakal ke Sekolah, Ayah urus semua ini sampai ke akar-akarnya, dulu udah dikasih peringatan masih ada yang berani."


Aku hanya diam, aku tidak bisa melarang siapapun kali ini, hatiku terlalu sakit.


Semua ini sangat tidak terasa adil, kenapa semua orang terlalu terobsesi terhadap sesuatu hingga mau mqencelakakan orang lain.


Apakah dunia sekarang yang membuat mereka bodoh? Terlalu banyak drama didunia ini.


~~


Skip hari ini, aku udah berangkat sama Ayah. Ayah sampe mundurin semua meeting-nya karena ngurus ini.


Bunda juga ikut, kata Bunda dia mau ketemu cewek yang ngelakuin ini sama aku.


Bagaimana perawakannya hingga melakukan hal yang tidak ber-otak seperti ini.


Semua orang menatap terkejut kearah ku, salah kan Ayah yang bahkan sempat membawa bodygard-nya.


Sebenarnya dari dulu Ayah ingin melakukan pengawasan kepadaku, tapi aku menolak dan aku sangat menyesal dengan semua ini.

__ADS_1


"Ada apa ini rame-rame Pak?" aku menatap Pak Jeery, kepala sekolah yang juga baru datang.


Posisi kita sekarang lagi di pinggir lapangan basket yang langsung jadi sorotan semua orang.


"Apakah sekolah ini di bayar Kakak saya untuk melakukan pembullyan terhadap anak saya?!" aku menatap Bunda.


Abi? Bayar Sekolah? Aku tidak mengerti.


"Kasus tangan di pelintir saja sampai membuat mental anak saya down! Sampai-sampai dikucilkan satu sekolah cuma gara-gara hal yang ambigu! Anak saya hampir mati pihak sekolah kemana saja!!" Bunda berteriak menunjuk Pak Jerry nyalang.


"Kalian semua! Jangan berharap bisa ikut Ujian Nasional dengan tenang! Lulus jalur apa kalian semua masuk SMA ini hah?!! Kelakuan kalian semua tidak ada otak!" aku hanya diam, aku tidak sanggup berkata apapun, kejadian kemaren masih terlintas di otakku.


"Cepat temukan siapa pelakunya, saya akan membawa hal ini ke hukum! Tidak peduli kalian mau Ujian Nasional atau apapun itu! Siapa yang memulai harus bertanggung jawab!"


Pak Jerry yang kebingungan pun mengajak kami keruangannya dan aku mulai menceritakannya dari awal.


"Kami mohon maaf atas kelalaian yang terjadi kemaren Buk, Pak. Kami akan segera mencari pelakunya, tapi bisakah hal ini tidak dibawa ke jalur hukum?"


"Jelas tidak bisa! Tidak ada yang tau anak saya sekarang psikis nya kena atau tidak, dia trauma atau tidak. Mereka harus dihukum secara setimpal!" jawab Bunda keras.


Bunda tipe yang sangat susah memaafkan kejahatan.


Sebelum keadaan Bunda ga baik, aku mengajak Bunda untuk keluar, membiarkan Ayah yang berbicara kepada Pak Jerry.


"Jangan terlalu emosi Bunda," ucapku memberi peringatan.


"Bunda ga suka lihat SMA ini, dari dulu udah Bunda bilang sama Abi kamu. Sekolahnya ditempat Rara, Abi kamu malah masukin kesini!" aku tersenyum, mengelus tangan Bunda.


Cukup geli juga, Bunda tipe yang takut sama Abi kalau Abi udah natap Bunda tajam.


"Jangan kasih tau Abi ya Bun." ucapku.


"Gimana Bunda ga kasih tau! Bunda harus kasih tau biar Bunda marahin Abi kamu!" aku lantas tertawa.


Alhamdulillah Bunda cukup menghibur dan membuat suasana pada aku tidak terlalu tegang.


"Ih kok malah ketawa?! Bunda ini lagi kesek tau ga sih!" aku kembali tertawa kemudian memeluk Bunda.


"Hmmm permisi." aku langsung melepaskan pelukan ku dengan Bunda.


Vanny? Ayah Vanny? Ada apa ini?


"Loh Pak Rangga??" aku menatap Bunda heran, jadi Bunda kenal sama Ayah Vanny tapi ayah ga kenal.

__ADS_1


"Eh iya Bu, maafin anak saya ya bu." aku akhirnya mengerti.


"Jadi kamu yang lakuin ini semua? Ayah kamu baik kok kamu? Mau saya tunangin kamu ama Darel?"


"Kalo jadi cewe ga boleh murahan kamunya, ga ada yang mau sama kamu! Kalau kamu emang suka banget sama dia! Doian dia lewat sepertiga malam!!" aku hanya diam.


Biarin Bunda ngeluarin emua unek-unek dia dulu.


"Saya tau Darel itu emang ganteng, tapi kamu sebagai cewek ga harus main kaya gini! Sampe bikin anak saya mau mati! Dimana letak akal sehat kamu?!" setelah puas aku langsung mengelus tangan Bunda.


"Udah Bunda, jangan diteriakin terus kasihan." aku menggeleng ke Bunda.


"Kamu lihat!? Hati malaikat dia luka gara-gara hal bodoh!" aku kembali mengelus tangan Bunda.


"Maafin Bunda ya Om, kalo emosi emang suka begini." aku tersenyum kearah Ayah Vanny.


"Ga usah caper lo!"


"Eh ni anak, Pak dirumah kasih makan apasih? Mulutnya itu loh!!" bentak Bunda menatap Vanny.


Nah loh, masih bisa nyaut ternyata.


Akhirnya seteleh terjadi perdebatan antara aku dan Bunda, kasus ini ditutup. Vanny and the geng cuma di skors satu minggu.


Rupanya Ayah Vanny tau hal ini pas lihat Ayah, soalnya serasa pernah lihat, dan betul Bunda sama Ayah kan narsis, sering update foto berdua.


Ya, seperti tebakan. Semua orang minta maaf sama aku, jelas sekali mereka cari muka.


Aku benci ini semua, mereka! Ah sudahlah kalo di bicarakan banyak banget, kaya dongeng lagi.


"Makasih Cikaa!!" aku memeluk Cika antusias saat bertemu dengan Cika.


"Aku ga bantuin kamu loh, malahan maaf banget ninggalin kamu." aku tersenyum kemudian menggeleng.


"Kamu ga salah apa-apa, mulai sekarang hati-hati aja." peringatku yang di angguki Cika.


Semuanya kembali normal seperti biasa, hanya saja hati aku yang belum biasa saja, masih trauma?


Masih terngiang-ngiang kata-kata pedas mereka, alhamdulillah kejadian ini ga pas aku lagi dirumah.


Kalo aku lagi dirumah, Abi wahh parah!!


Maaf gaes telat update:( sibuk banget soalnya. Jangan lupa like, terus kasih tip, masukin ke favorit! Trus coment! Itu semua membantu, makasiih💛💚

__ADS_1


__ADS_2