
1 bulan udah berlalu dari pertemuan awal aku sama Adsel, dia jadi suka ngintilin kemana-mana.
Aku pulang ke Indonesia, dia juga. Aku mampit kerumah Kak Rara, dia juga! Ga tau apa mau dia.
Sampai di titik dimana, dia dateng nemuin Abi sama Umi. Disini aku ga tau menau tentang dia yang dateng kerumah.
Karena posisinya aku udah balik kerja, aku tau beritanya malam, Kak Rara yang kasih tau. Kebetulan aku bisa nelfon bentar.
Tapi, Kak Rara ga ngasih tau apa tujuan dia kerumah, ya aku pikir cuma pergi silaturrahmi karena udah lama ga ketemu.
Ternyata aku salah, Adsel punya niat lain, yang aku tau baru 1 minggu kemaren.
Itupun yang ngasih tau Kak Rara juga, dan sukses bikin aku malam itu ngambil penerbangan karena aku lagi di Brazil.
Izin ke kantor pusat karena hal yang mendesak, alhamdulillah dikasih izin sama kantor pusat.
Bayangin aja kalo ga dikasih izin, aku ga tau harus ngomong apalagi.
Paginya aku sampe dibandara Kak Rara sama Kak Darel udah nunggu dan langsung aku giring ke cafe di bandara.
"Jadi maksud kamu apaan Kak?" tanyaku, sebenarnya aku pengen istirahat dulu, tapi nanti aja.
"Bukannya udah jelas banget Kakak bilang? Iya, Adsel ngelamar kamu." aku menghela nafas.
"Dia ngelamar aku tanpa ada orangnya dirumah? Gimana caranya?" tanyaku menatap Kak Rara.
"Ya Kakak juga ga tau, intinya dia udah manggil satu keluarga." aku menundukkan kepalaku dalam.
"Aku ga mau." jawabku.
"Alasan apa lo ga mau nerima Adsel?" aku menatap Kak Darel.
"Gue ga bisa ngasih alasan, tapi gue ga mau!" jawabku tegas.
Aku tau semua keluarga udah dipihak Adsel, ga tau Adsel ngomong apa sama mereka.
"Lo ga tau? Adsel udah berubah banget, bahkan didepan kita semua dia baca surat Ar-rahman Wa!" aku menggeleng.
"Gue, ga bisa baca buku untuk kedua kalinya. Sekalinya gue kesel sama ending-nya gue ga bakal ngulang lagi!" jawabku menatap Kak Darel.
"Lo ga tau berapa banyak nasib buruk yang dikasih Adsel sama gue, lo ga bakal pernah ngerasainnya, gue selama ini hidup di bawah trauma cuma gara-gara pacar Adsel." ucapku lirih.
Ya, trauma itu ga pernah hilang dari diriku. Selalu jadi bayangan setiap tidur.
"Mau gimanapun kalian ngebujuk gue, gue ga bakal pernah terima lamaran itu." ucapku kemudian ngambil handphone.
"Halo Kak, bisa minta tolong?"
"Apa Wa?"
__ADS_1
"Cariin aku tiket balik ke Bra- Maksud lo apa?!" tanyaku menatap Kak Darel.
Kak Darel tiba-tiba mutusin sambungan secara sepihak.
"Lo harus pulang dulu!" aku menggeleng.
"Gue ga akan pernah pulang lagi kalo Adsel masih tetap ngelamar gue!" ucapku, kemudian berdiri kembali masuk beli tiket.
Aku harus balik ke Brazil, aku ga suka kebodohan ini.
"WAFAA!" aku menoleh menatap orang yang berada sekitar 7 meter dari ku.
"Dengerin gue dulu!!" aku menatap Adsel geram, iya dia Adsel.
Setelah Adsel sampai didepan ku dia menatap ku sebentar.
"Gue tau gue salah, tapi lo ga mau ngasih gue kesempatan kedua kalinya?" aku menggeleng.
"Kalo lo bilang kesempatan kedua, kesempatan kedua itu udah habis, bahkan kesempatan ketiga, keempat dan seterusnya." ucapku menatap Adsel serius.
"Atau gue perlu jelasin kenapa kesempatan-kesempatan itu habis? Gue yakin ga perlu, karena lo tau sendiri akan hal itu."
"Gue bilang sama lo, lebih baik lo nikahin Cindy, Tasya ata Vanny dari pada lo ngemis-ngemis gini sama gue." ucapku lancar.
"Gue orangnya ga mudah maafin orang, gue bakal nerima lo kalau trauma gue hilang."
"Ayo, kita terapi!" aku menggeleng.
Terkadang ada hal yang tidak perlu untuk di ulang kembali, kita semua punya jalan masing-masing menentukan hidup kita.
Jangan dengarkan orang lain, tapi jangan sampai egois juga.
"Awa!!" aku menatap Kak Rara yang menahan tanganku.
"Terkadang Kak, ga semua orang bisa mengikhlaskan masa lalunya. Dan aku termasuk orang yang terkadang itu," ucapku menatap Kak Rara.
"Kalau aku balik lagi kesini dalam seminggu, berarti aku udah maafin Adsel dan semua orang. Tapi, kalau aku belum balik, berarti aku mutusin buat pergi jauh dari semua orang."
Aku tersenyum menatap Kak Rara, ini sudah jadi keputusanku sendiri.
"Wa, kamu beneran?" Kak Rara menatapku berkaca-kaca.
"Hahah aku becanda Kak!" aku tertawa bahagia, aku ga sebodoh itu.
"Aku ga sebodoh itu Kak, Astaghfirullah. Kalau masalah pernikahan aku emang harus mikir dulu tapi ga sampai se drama ini." aku tertawa bahagia menatap Adsel dan Kak Darel.
Ekspresi mereka, maafkan aku yang durhaka ini.
"Kamu gila!" aku kembali tertawa.
__ADS_1
"Ayo ayo duduk lagi, lucu banget sih kalian." aku menggandeng tangan Kak Rara balik.
"Wah bahaya lo! Gue kira beneran tadi!" aku tertawa menatap Kak Darel, bener-bener drama deh.
"Ayo Sel sini, ga usah takut gue tolak." ucapku melambaikan tangan kearah Adsel.
Setelah duduk kembali di cafe, Kak Rara memukul kepala ku.
"Durhaka ya kamu sama Kakak! Kakak kira beneran! Udah mau copot jantung gue!" aku tertawa.
Senang saat Kak Rara sudah memanggil dirinya sendiri dengan kata 'gue'.
"Adsel udah mau bunuh diri gara-gara lo tolak!" aku kembali tertawa, ya Allah hiburan sekali.
"Gue bakal pikirin lamaran lo kok, tapi jangan berharap banget ya, soalnya gue maunya sama Kak Dylan," ucapku pd.
"Wah gila lo, udah mau panik gue. Beberapa tahun terakhir kaya orang gila cari lo dimana-mana mau minta maaf dan balik lagi sama gue." aku menatap Adsel tersenyum.
"Panik kan lo." ucapku.
"Lo jadi artis sinetron aja deh!"
"Kasih gue waktu sampai besok buat mikirin lamaran lo, tenang gue ga bakal lari kok," ucapku tertawa.
~~
Itulah kira-kira drama dibandara yang aku buat sendiri, hal yang sangat berkesan sebelum akhirnya.
Aku nikah hari ini dengan Adsel. Adsel Cirrilo Alexi. Seorang yang sempat menjadi tunanganku selama 4 tahun dan berakhir putus hubungan.
Namun, takdir berkata lain. Aku kembali bersama Adsel dengan status yang lebih direstui Allah.
"Wa?" aku menatap Adsel sambil tersenyum, ini lagi resepsi, tamu udah makin sepi karena udah malam.
"Kenapa?" tanya Adsel sambil memegang jidat ku.
"Ga papa, cuma bengong sebentar." jawabku santai.
"Kalau capek masuk aja yuk, lagian tamunya juga ga ada, udah sepi." aku menggeleng.
Adsel itu romantis kok, tapi ga kelihatan aja dulu.
"Kamu beneran ga papa kan? Kalo ga kuat ga papa ayo." aku mengelus tangan Adsel.
"Aku ga papa, cuma flashback sebentar doang," ucapku.
Itulah akhir dari perjalanan ku, perjalanan seorang Ercilia Wafaa Tensee.
Perjalanan yang panjang, yang tidak akan mudah dilakukan.
__ADS_1
Thank you udah baca cerita aku, makasih atas support kalian>_<¦¦¦ Love you All💕💛